
Yoana merasakan kecupan di kepalanya terasa lembut dan penuh perasaan diberikan Alexander.
Yoana tidak menyangka akan menjadi seperti ini keadaannya, sejak awal ingin membantu Alexander untuk mendapatkan jodoh yang tulus mencintainya, tapi justru Alexander yang jatuh cinta padanya.
"Lelaki itu, sepupu anda, untuk apa dia datang mencari anda Tuan? apakah ada hal yang penting yang ingin dia sampaikan? bagaimana kalau kita pergi untuk menemuinya!" Yoana melepaskan pelukannya, dia baru ingat kalau lelaki yang mencoba membela Lili tadi sepertinya ada maksud tertentu datang mengunjungi Alexander.
Alexander memandang Yoana, sepertinya dia tidak senang dengan sikap canggung Yoana yang kembali datang lagi.
"Yoana..bisakah kau jangan bicara formal lagi padaku, bicaralah seperti tadi, tidak ada pembatas antara atasan dan bawahan!" kata Alexander menatap Yoana dengan lekat.
"Oh, iya..maaf!" ucap Yoana jadi merasa bersalah, dia spontan bicara formal lagi, ini karena dia merasa canggung lagi.
"Sudahlah, aku hanya mengingatkan saja, jangan terlalu merasa tidak enak hati, Ayo kita tanya sepupuku itu mau apa dia datang menemui ku!"
Alexander menggenggam tangan Yoana dalam genggaman tangannya, lalu membawa Yoana keluar dari rumah kaca tersebut.
Yoana membiarkan saja tangannya digenggam Alexander, ada rasa tidak ingin menyakiti perasaan Alexander, karena dia juga merasa nyaman di genggam Alexander.
Sepanjang jalan Yoana berpikir.
Dalam alur cerita aslinya, sepupu Alexander bukanlah orang yang peduli pada Alexander.
Lelaki itu membenci Alexander karena sanggup menjalankan perusahaan Ayah Alexander berkembang dengan baik.
Harta warisan dari Kakek mereka yang diberikan kepada Ayah Alexander sebagai pemegang saham tertinggi, sekarang semuanya jatuh ke tangan Alexander.
Karena Ayah Alexander mengalami trauma pasca kecelakaan, dan mengasingkan diri bersama Ibu Alexander di sebuah pulau jauh dari keramaian.
__ADS_1
Jadi otomatis tidak bisa lagi menjalankan perusahaan mereka sebagaimana semestinya.
Kecemburuan diantara keluarga Alexander dengan keluarga mereka yang lain, memicu perang dingin, dan merasa tidak puas atas pembagian harta warisan.
Di karenakan Kakek mereka lebih menyayangi Ayah Alexander, dan memberikan semua sahamnya untuk Ayah Alexander.
Jadi Yoana bisa menebak kalau sepupu Alexander tersebut pasti mempunyai tujuan tertentu pada Alexander.
Setelah mereka kembali masuk ke dalam Mansion, Alexander melepaskan genggaman tangannya.
Alexander membuka ruang bacanya, dan benar saja sepupunya telah menunggunya di dalam.
"Katakan apa yang membuatmu datang ke rumahku, apakah kau membutuhkan bantuan?" tanya Alexander sembari menghempaskan bokongnya ke kursinya.
"Aku tidak menyangka setelah kau mendapat seorang asisten pribadi selain Nick, kau menjadi seorang pria arogan!" sahut sepupu Alexander tersenyum sembari menopangkan kakinya pada kaki satunya lagi.
Yoana meletakkan secangkir teh ke atas meja Alexander, lalu berjalan menghadap kepada sepupu Alexander yang duduk di sofa.
"Anda ingin minum apa, kopi, teh?" tanya Yoana dengan sedikit nada tidak begitu ramah.
"Wah, kau hebat Alexander, mendapat kaki tangan yang bicaranya bisa terasa pedas juga ya!" sahut sepupu Alexander, lalu terkekeh merasa lucu.
Yoana tetap berdiri menatap sepupu Alexander, menunggu jawaban dari pria itu, wajahnya terlihat datar.
"Kopi saja!" sahut pria itu akhirnya.
Dengan wajah datarnya Yoana bergegas berlalu dari hadapan pria itu untuk membuat kopi.
__ADS_1
"Wah, aku menyukai tempramen asisten mu, masih muda tapi bicaranya sangat tajam!" sahut sepupu Alexander masih tetap dengan yang selalu tersenyum, senyuman palsu.
"Katakan, apa mau mu! Jangan mengalihkan pembicaraan dengan cara pura-pura mengagumi Asisten pribadiku!" sahut Alexander tidak menyukai pria yang duduk di sofa tersebut terus saja membicarakan tentang Yoana.
Mereka hanya hubungan sepupu, dan jarang berkomunikasi, dan lagi pula mereka sepertinya nyaris tidak pernah bicara selama ini.
"Aku ingin kau memberikan saham Kakek yang diberikan pada Paman sebanyak 10%, karena kau tidak mungkin bisa untuk menanganinya sendirian!" sahut sepupu Alexander dengan percaya diri.
Alexander memandang sepupunya tersebut dengan kening berkerut.
"Siapa kau berhak meminta saham Kakekku seperti meminta permen padaku?" tanya Alexander dingin.
"Kau mengalami trauma, tidak mungkin selamanya bisa menangani perusahaan dengan benar!" sahut sepupu Alexander dengan percaya diri.
"Anda hanya seorang sepupu jauh, apa hak anda menginginkan saham Kakek Alexander, anda sungguh berani menginginkan warisan yang bukan milik anda!" sahut Yoana meletakkan cangkir kopi diatas meja sofa.
"Nona, Alexander mengalami pasca trauma dia akan kesulitan kedepannya untuk mengelola perusahaan Paman!"
"Itu menurut anda, tapi kenyataannya Alexander sudah melewati masa traumanya, dan Perusahaan itu sudah menjadi miliknya, sampai sekarang malah semakin berkembang, yang seharusnya anda khawatirkan adalah Perusahaan keluarga anda sendiri, sebentar lagi akan mengalami kebangkrutan karena anda terlalu berfoya-foya!" sahut Yoana memandang sepupu Alexander dengan senyuman dingin.
Wajah sepupu Alexander sontak terkejut mendengar apa yang dikatakan Yoana, dia tidak menyangka Yoana mengetahui sikapnya yang suka berpesta.
Alexander juga terkejut juga mendengar apa yang dikatakan Yoana, dia semakin penasaran dengan pribadi Yoana.
Alexander juga tahu kalau sepupunya itu memang suka berpesta, dan bermain perempuan.
Bersambung.....
__ADS_1