Aku Ada Untukmu

Aku Ada Untukmu
53. Aku tidak kenal.


__ADS_3

Yoana menghentikan tangannya saat akan membuat kopi, perlahan kepalanya menoleh ke arah pria yang mirip dengan Alexander tersebut.


Memandang pria itu masih berdiri didepan meja bar, bersama dengan kekasihnya yang mirip dengan Lili pemeran utama wanita.


"Apakah kopinya akan dibawa pulang atau minum di sini Tuan?" tanya Yoana merasa heran dengan pria itu yang tidak beranjak dari tempatnya.


"Apakah saya boleh minum di sini saja?" tanyanya sambil menunjuk meja bar.


Kening Yoana sesaat mengerut melihat pria itu, sepertinya pria itu ingin melihat cara dia membuat kopi.


"Silahkan, di mana saja tidak masalah!" sahut Yoana dengan nada biasa saja.


Yoana merasa bingung dengan pria itu, apakah jangan-jangan pria itu mengenal dirinya.


Tapi, itu kan tidak mungkin! tapi kenapa dia begitu mirip dengan Alexander? pikir Yoana bingung.


Dan wanita itu, kekasihnya itu sangat mirip dengan Lili si pemeran utama wanita dalam novel yang sering dibacanya.


Yoana menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa penasarannya, dan tidak mau perduli kepada dua orang yang terlihat mirip dengan Alexander dan Lili si pemeran utama.


Yoana memfokuskan dirinya untuk membuat pesanan para pelanggan, dan menghilangkan bayangan Alexander di kepalanya.


Dan tiba giliran Yoana membuat kopi pesanan pria itu beserta Dessert nya.


"Silahkan Tuan!" ujar Yoana meletakkan pesanan kopi Pria itu ke meja bar, beserta Dessert nya.


Yoana tidak melihat wanita yang mirip dengan Lili itu berdiri disamping pria tersebut.


"Apakah anda memesan satu cangkir saja? bukankah tadi kekasih anda berdiri disamping anda tadi, ingin secangkir kopi juga?" tanya Yoana tanpa sadar dengan santainya menanya tentang Lili si pemeran utama wanita.


"Dia sudah pulang, dan dia bukan...."


"Yoana!" tiba-tiba seseorang berteriak memanggil nama Yoana memotong perkataan lelaki itu.


Seorang pria tampan memasuki cafe, dan langsung berjalan cepat menuju dapur cafe di belakang meja bar.


Pria itu langsung memeluk Yoana tanpa sungkan di depan pria yang mirip dengan Alexander tersebut.


"Apa kabarmu Yoana, lama kita tidak ketemu, aku rindu padamu!" sahut pria yang memeluk Yoana dengan erat.


"Hei! kalau ingin bertemu dengan Yoana dirumah saja, disini tempat kerja, sana pergi!" Hendrik menarik kerah kemeja pria yang memeluk Yoana.

__ADS_1


"Aku kebetulan lewat, jadi mampir untuk menyapa Yoana, ternyata dia sudah besar, dan cantik lagi!" ujar pria itu.


"Sudah, sana pergi! lihat pelanggan kami masih banyak yang mau dilayani!" Hendrik mendorong pria itu agar pergi.


"Baiklah! nanti malam aku akan datang kerumah, mau ajak Yoana nonton film!" sahut pria itu sambil tersenyum lebar, "Aku pergi dulu, bye Yoana!"


Sementara itu, pria yang sedang menikmati kopinya di meja bar, tampak menunjukkan wajah yang sulit di artikan.


Yoana kembali melanjutkan pekerjaannya membuat kopi, pesanan masih banyak mengantri.


Diam-diam Yoana melirik pria yang mirip dengan Alexander tersebut.


Pria itu masih saja memandang ke arahnya sambil sesekali menyeruput kopinya.


Perasaan Yoana jadi campur aduk melihat pria itu masih terus memandang ke arahnya.


Jujur di dasar hati Yoana, kalau dia merasa gugup di pandang lelaki itu dari tadi.


Perasaan Yoana semakin yakin kalau pria itu mengenalnya, karena matanya terus saja menatap ke arahnya.


Tangan Yoana tiba-tiba gemetar memikirkan, kalau benar pria itu Alexander yang ada didalam novel yang dibacanya.


Tapi, dia tidak memiliki luka diwajahnya, jadi Yoana sedikit bimbang kurang yakin.


Akhirnya Yoana tidak tahan juga, dia pun memandang pada pria itu, menatap matanya dengan lekat.


"Sepertinya anda ingin bicara dengan saya, apakah ada yang ingin anda tanyakan Tuan?" tanya Yoana.


"Apakah aku mengganggu?" pria itu malah bertanya balik pada Yoana.


"Ya, sangat mengganggu, membuat saya tidak nyaman untuk bekerja!" jawab Yoana dengan tegas.


"Maaf, kalau membuat Nona tidak nyaman, tapi Nona mengingatkan aku pada seseorang, apakah Nona mau setiap hari mengantarkan kopi ke kantorku?" tanya pria itu.


Permintaan yang aneh, tentu saja Yoana merasa tidak senang dengan permintaan pelanggan mereka tersebut.


"Baik, tapi saya seorang Barista, jadi tidak bisa mengantar kopi pesanan anda, salah satu Karyawan kami akan mengirimnya ke kantor anda!" jawab Yoana dengan tenang.


"Tapi aku maunya kau yang mengantar!" sahut pria itu tanpa rasa sungkan dan malu sedikitpun.


Dan itu, membuat Yoana merasa pria itu seperti lelaki sombong dan angkuh, permintaan nya benar-benar sangat aneh dan tidak masuk akal.

__ADS_1


"Maaf, saya tidak bisa, saya tidak bisa setiap hari membawa pesanan pelanggan ke kantor mereka!" jawab Yoana dengan tegas.


Yoana kembali membuat pesanan kopi pelanggan yang masih mengantri, dia tidak ingin meladeni pria itu lagi.


Karena Yoana mengabaikannya, akhirnya pria itu pergi setelah membayar kopi dan Dessert nya.


Yoana menghela nafasnya dengan panjang, dadanya terasa sesak memikirkan pria itu sangat mirip sekali dengan Alexander.


Suara, matanya, gestur tubuhnya, dan juga nada bicaranya yang suka memaksa, walau akhirnya menarik kembali kata-katanya yang memaksa.


Yoana bekerja membantu Ayah mereka sampai jam enam malam, selanjutnya Ayahnya dan kakaknya Hendrik yang bertugas sampai jam sebelas malam.


"Aku pulang kak!" sahut Yoana setelah selesai berganti pakaian.


"Hati-hati di jalan!" sahut Hendrik.


"Iya kak!" jawab Yoana.


Yoana keluar dari cafe, sebentar lagi Ayahnya akan datang membantu kakaknya Hendrik.


Malam sudah datang, matahari terlihat sudah turun ke barat meninggalkan cahaya jingga yang begitu indah.


Yoana berjalan menuju sepeda motornya yang terparkir di area parkir, tidak jauh dari pelataran cafe mereka.


"Hei! tunggu!" terdengar suara seorang wanita yang terdengar begitu kasar.


Yoana menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah suara tersebut.


Tampak Lili berjalan menghampiri nya, dan tentu saja Yoana jadi terpaku ditempatnya berdiri.


Lili datang mendekat padanya, tampak wajah wanita itu sepertinya tidak senang.


"Hei, kau! dengar ya, ku peringatkan kau! jangan coba-coba menggoda Alexander, dia adalah tunangan ku, sebentar lagi kami akan menikah, kau hanya seorang pelayan cafe, lancang sekali kau menggoda tunangan ku!" sahut Lili tanpa basa-basi, langsung memarahi Yoana dengan nada sarkas.


Wajah Yoana langsung memerah merasa tidak senang dengan perkataan wanita itu, yang menurutnya sangat tidak punya sopan santun sedikitpun.


"Siapa situ ya! aku tidak kenal denganmu, dan siapa itu Alexander, aku juga tidak kenal!" ujar Yoana dengan tatapan tidak senang memandang Lili.


"Ka..kau!" Lili jadi malu dengan ucapannya sendiri.


"Permisi! saya mau pulang, saya tidak kenal dengan anda!" sahut Yoana dengan cueknya, lalu kembali berjalan menuju sepeda motornya.

__ADS_1


Lili hanya bisa terbengong berdiri di tempatnya memandang Yoana yang pergi, dia tampak mengepalkan tangannya dengan erat.


Bersambung.....


__ADS_2