
Tubuh Yoana yang gemetar, semakin gemetar melihat siapa pria yang akan di tolongnya itu.
Tangannya gemetar untuk memastikan, apakah benar adanya pria itu adalah Alexander yang dia kenal di dunia kertas.
Tangan Yoana perlahan menyentuh wajah di sebelah pelipis pria itu.
Jemarinya gemetar menyentuh wajah pria yang mirip Alexander tersebut, meraba sisi wajah bagian pelipis dekat telinga.
Jemari Yoana merasakan ada luka memanjang yang terasa samar di sentuhnya, dan agak sedikit menonjol karena bekas luka lama, seperti yang dia ketahui mengenai luka yang ada pada Alexander di dunia novel.
Tubuh Yoana bergetar merasakan jemarinya menyentuh bekas luka itu, air matanya pun keluar tanpa bisa ditahannya.
Yoana langsung memeluk tubuh yang pingsan itu, mendekap kepala pria itu dengan eratnya.
"Alex...!" tangis Yoana pun meledak.
Ini adalah kekasihnya, tidak salah lagi! pria itu lelaki yang telah mencuri hatinya, perasaannya dan keceriaannya.
Kenapa bisa Alexander ada di dunia nyata? sepintas pertanyaan melintas di pikiran Yoana.
Jadi siapa pria yang mirip Alexander, yang selalu minum kopi ke cafe Ayahnya? Apakah Alexander kembar? pikir Yoana.
Banyak pertanyaan yang akan Yoana cari jawabannya.
Sekarang dia akan menyelamatkan kesayangannya dulu. Harus pergi dari gedung itu, sebelum para lelaki yang di pukul Yoana siuman.
Masih dengan air mata yang terus mengalir, Yoana berusaha menarik tubuh Alexander untuk turun dari lantai tiga tersebut.
Tubuh Alexander begitu berat, membuat Yoana begitu sulit untuk membawanya.
Tubuhnya yang kecil tidak memungkinkan dia untuk menarik Alexander dari sana.
Satu-satunya cara harus menyadarkan Alexander dari pingsannya.
Tapi, bagaimana caranya? pikir Yoana bingung.
Oh, aku harus memanggil namanya, dan menepuk-nepuk pipinya, semoga saja dia sadar! pikir Yoana mendapat ide.
"Alex! Alex! bangun sayang!" bisik Yoana di telinga Alexander, lalu menepuk-nepuk pipi pria itu.
Berulang kali Yoana melakukannya, tidak ada respon dari Alexander.
Yoana jadi gelisah dan ketakutan, Alexander belum sadar juga.
Yoana sudah menghabiskan waktu sepuluh menit untuk membangunkan Alexander, tetapi pria itu tidak ada menunjukkan tanda-tanda siuman.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga, Yoana memapah Alexander, mengaitkan lengan Alexander melingkar ke lehernya.
Dia harus cepat pergi dari sana, pasti sebentar lagi keempat lelaki yang dipukulnya tadi akan segera siuman.
Dengan terseok-seok Yoana membawa tubuh Alexander turun dari lantai tiga.
Semoga mereka jangan cepat siuman, semoga saja! bisik hati Yoana dengan penuh harap.
Dengan susah payah Yoana membawa tubuh besar Alexander, sampai kaki pria itu terseret-seret karena tidak berdiri dengan benar.
"Ku mohon Alex, bangunlah! Ayo sayang, bangun!" bisik Yoana hampir putus asa, dia sudah mulai waspada. Ketiga lelaki yang di pukulnya pingsan itu pasti sebentar lagi akan siuman.
Air mata Yoana masih saja terus mengalir, dia sangat sedih memikirkan kalau Alexander akhirnya tertangkap lagi.
Sudah susah payah dia menyelamatkan, akhirnya tertangkap lagi, Yoana tidak terima, dan tidak rela.
Yoana terus berbisik sembari membawa tubuh Alexander yang seperti agar-agar, tidak merespon apa pun yang di bisikkannya ke telinga pria bertubuh besar dan tinggi itu.
Nafas Yoana sudah tersengal-sengal, gadis itu sudah mulai kelelahan, tenaganya sudah mulai berkurang.
Tubuh mungil itu mulai gemetaran karena kelelahan, membawa Alexander turun ke lantai dasar.
"Engg..." terdengar suara lemah dari bibir Alexander.
"Alex...Alex, kau sudah sadar? Ayo cepat bangun, kita harus pergi dari sini!" bisik Yoana dengan sedikit kencang.
Gadis itu sangat gembira sekali, hingga tanpa sadar tenaganya kembali datang lagi.
Tubuhnya yang tadi lemas, jadi kembali bersemangat.
Sekarang mereka sudah berada di lantai bawah.
Yoana tidak melepaskan Alexander walaupun sudah sedikit siuman, setidaknya tubuh Alexander tidak seberat tadi lagi.
Dengan semangat, Yoana membawa tubuh Alexander yang agak sedikit ringan.
"Enggh..." kembali terdengar suara gumaman lemah dari bibir Alexander.
Yoana semakin bersemangat membawa tubuh Alexander, terlihat senyumannya semakin merekah karena senang.
"Ayo bangun Alex, Ayo sayang! kita harus pergi secepatnya dari sini, mereka nanti keburu siuman!" kata Yoana tanpa berbisik lagi.
Sekarang Yoana sudah berhasil membawa Alexander keluar dari bangunan yang belum selesai tersebut.
Setelah di luar, Yoana bingung, bagaimana caranya membawa Alexander pergi dari sana.
__ADS_1
Yoana berpikir sebentar mencari ide, untuk membawa tubuh Alexander yang masih lemah.
"Bagaimana ini?" gumam Yoana kebingungan.
Tanpa pikir panjang, Yoana bergegas membawa tubuh Alexander yang sudah mulai sadar menuju sepeda motornya.
"Engg..." kembali Alexander bergumam dengan lemah, tubuhnya mulai bergerak.
Kaki Alexander tidak terseret lagi seperti tadi, walau masih lemah, tapi sudah bisa berjalan dengan terseok-seok.
Keringat membasahi tubuh Yoana, pakaiannya terasa lengket oleh keringat.
Yoana akhirnya berhasil membawa Alexander ke sepeda motornya.
"Alex..!" panggil Yoana, lalu menepuk-nepuk pipi Alexander agar pria itu sadar secepatnya.
"Enggg..." terdengar jawaban lemah dari Alexander.
"Ayo bangun sayang, kita naik sepeda motor, kau harus duduk dengan benar, Ayo cepat!" ujar Yoana dengan nafas yang tersengal-sengal.
Perlahan kepala pria itu terangkat, dan mulai membuka matanya.
"Ayo, naik ke sepeda motor!" sahut Yoana mulai tidak sabaran.
Yoana mendekatkan Alexander ke sepeda motornya, lalu mendudukkan bokong pria itu ke bantalan tempat duduk sepeda motornya.
Dengan susah payah, Yoana menaikkan satu kaki Alexander ke sisi sepeda motornya ke sebelah sisi satu lagi.
Setelah posisi Alexander benar, Yoana pun naik ke sepeda motornya.
Ke dua lengan Alexander, ditarik Yoana melingkar ke seputar pinggangnya.
Dan menyandarkan kepala Alexander ke bahunya.
Yoana dengan cepat memakai helmnya, lalu bersiap membawa sepeda motornya dari sana.
Yoana merasakan tubuh Alexander mulai sadar sepenuhnya, tangan Alexander yang ditaruh Yoana melingkar di pinggangnya, terasa mulai ada respon.
Pria itu memeluk pinggang Yoana dengan sedikit erat.
Bagus! bisik hati Yoana merasa senang.
Yoana pun membawa sepeda motornya pergi dari sana.
Bersambung.....
__ADS_1