Aku Ada Untukmu

Aku Ada Untukmu
65. Tidak bisa berhenti.


__ADS_3

Karena Yoana sudah pernah menjadi asisten pribadi Alexander sebelumnya di dunia novel, gadis itu tidak perlu lagi di beri arahan oleh Alexander.


Yoana seperti biasa menyediakan kopi untuk Alexander, dan di sambut pria itu dengan senyuman senang.


Akhirnya Alexander merasakan kembali hal yang begitu dirindukannya, buatan kopi Yoana di meja kerjanya.


Dia tidak perlu pergi lagi ke cafe untuk menikmati secangkir kopi saat merindukan Yoana.


Sekarang pembuat kopinya sudah di sini bersamanya, dan sebentar lagi akan menjadi istrinya.


"Terimakasih sayang!" sahut Alexander tersenyum senang melihat cangkir kopi yang di letakkan Yoana di atas meja kerjanya.


"Iya, semoga rasanya masih tetap sama!" ujar Yoana, merasa ragu dengan hasil buatan kopi dengan peralatan di pantry kantor.


Alexander meraih gagang cangkir, lalu menyeruput sedikit kopi tersebut.


"Hemm, rasanya sama sayang, tidak ada yang berubah!" ujar Alexander begitu selesai mencicipi kopi buatan Yoana.


"Syukurlah, walau beda dapur, rasa kopinya masih tetap sama!" kata Yoana merasa lega.


Tok! tok! tok!


Terdengar ketukan di pintu kantor Alexander.


"Masuk!" sahut Alexander.


Yoana dengan cepat berdiri di samping Alexander, dan melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan kantor Alexander.


Nick!


Mata Yoana nanar menatap Nick masuk ke dalam ruang kantor Alexander.


Matanya tidak percaya melihat Nick ternyata sama seperti di dunia novel, wajah dan cara berjalannya, juga sama.


"Ada yang ingin anda sampaikan Tuan?" tanya Nick dengan nada dan sikap seperti biasanya yang Yoana tahu.


Yoana terus saja memandang Nick tidak berkedip, dia masih tidak mempercayai apa yang dilihatnya.


Nick melirik Yoana, karena pria itu merasa Yoana terus saja memandang ke arahnya.


"Anda mengganti Asisten anda Tuan?" tanya Nick.


"Iya!" jawab Alexander.


"Hai Nick, apa kabar!" sahut Yoana menyapa Nick.


"Eh!" Nick terlihat kaget mendengar Yoana memanggil namanya, di pandangnya Yoana yang terus saja menatap dirinya.


Asisten sekaligus Bodyguard Alexander itu merasa aneh melihat Yoana masih terus saja memandangnya, dan sepertinya sudah mengenal dirinya.

__ADS_1


"Tuan!" panggil Nick, tapi matanya masih terus menatap Yoana.


"Ya!" jawab Alexander.


"Anda tidak salah mengambil asisten kan?" tanya Nick, dia merasa gadis yang menjadi asisten Alexander seperti orang aneh.


"Tentu saja tidak Nick, kenapa?" tanya Alexander memandang Nick.


"Aku merasa dia sedikit ada yang beda!" sahut Nick merasa tidak nyaman di pandang terus oleh Yoana.


Alexander menoleh memandang Yoana, sekarang dia tahu kenapa Nick mengatakan Yoana terlihat beda.


Gadis itu memandang Nick tidak berkedip, karena terkejut melihat seseorang yang tadinya dilihatnya di dunia novel, sekarang ternyata ada di dunia nyata.


"Dia tidak ada yang beda Nick!" sahut Alexander tersenyum, "Dia mengenalmu, makanya dia tidak berkedip memandang mu!"


"Hah!" Nick semakin nanar memandang Yoana, dia merasa tidak mengenal Yoana.


"Sudahlah, suatu saat kau pasti akan mengetahui nya, sekarang kau harus mengurus sesuatu dulu!" sahut Alexander.


Nick memalingkan pandangannya melihat ke arah Alexander.


"Kemarin malam aku di culik seseorang saat turun dari mobil sepulang dari cafe, mereka membiusku dan di bawa ke pinggiran kota, ke sebuah proyek pembangunan gedung yang belum selesai, mereka berniat akan membunuhku dengan cara melemparkan tubuhku dari atas gedung, untung seseorang menyelematkan ku!" kata Alexander menjelaskan peristiwa dia di culik.


Tentu saja Nick terkejut mendengar perkataan Alexander tersebut, seseorang ingin membunuh Bos nya, bagaimana mungkin? siapa yang begitu kejam ingin membunuh Alexander?


"Tuan, apakah anda tidak salah bicara?" tanya Nick tidak mempercayai apa yang di dengarnya.


"Baik Tuan!" jawab Nick patuh, "Permisi Tuan!" Nick membungkukkan sedikit tubuhnya dengan sopan, setelah itu berbalik meninggalkan ruang kantor Alexander.


"Dia benar-benar Nick, aku tidak menyangka semua yang ada di sana, ternyata ada di dunia nyata juga!" sahut Yoana setelah Nick keluar dari ruang kantor Alexander.


"Aku tidak ingat mengenai siapa saja yang ada di sana, yang aku ingat hanya satu saja, hanya kau sayang!" ujar Alexander tersenyum, "Itu sudah cukup lama aku alami saat berada di dalam dunia mimpiku, mungkin satu tahun lebih yang lalu, yang ku ingat hanya kekasihku yang di tabrak mobil!"


Alexander menarik Yoana ke atas pangkuannya, hatinya kembali sedih mengingat peristiwa itu.


Di peluknya Yoana dengan erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher Yoana, dia ingin menghapus bayangan itu di kepalanya.


Sekarang Yoana sudah ada di sini bersamanya, mereka harus saling menjaga diri mulai sekarang.


Jangan lagi mengalami perpisahan, itu sangat menyakitkan.


Mereka belum memecahkan teka-teki tentang mereka berdua.


Mereka bertemu di dunia halusinasi dalam waktu rentan yang berbeda begitu jauh, tetapi bisa sama-sama mengalaminya bersama.


Yoana membalas pelukan, mengelus kepala Alexander dengan lembut, lalu mendaratkan kecupannya ke kepala kekasihnya itu.


Gadis itu merasa sangat bahagia, keinginan terakhir mereka saat berpisah sebentar lagi akan terwujud.

__ADS_1


"Nanti malam maukah kau ikut denganku ke pesta perayaan pembukaan Hotel baru rekan bisnisku?" tanya Alexander masih memeluk Yoana dalam pangkuannya.


"Iya, mau!" jawab Yoana setuju.


Alexander mengangkat wajahnya dari ceruk leher Yoana, lalu menatap wajah Yoana dengan lekat.


"Setelah pulang kerja kita langsung ke butik untuk membeli gaun untukmu!"


"Baik!" jawab Yoana patuh.


Alexander tersenyum melihat Yoana yang begitu patuh.


Alexander menundukkan wajahnya perlahan, lalu mencium bibir Yoana, dan mengulumnya dengan lembut.


Merasakan bibir Yoana pada bibir dan lidahnya, mencium bibir Yoana dengan perasaan yang bahagia.


Menarik tengkuk Yoana semakin merapat padanya, dan memasukkan lidahnya ke dalam mencari lidah Yoana.


Yoana mengalungkan lengannya ke leher Alexander, dan membalas ciuman Alexander dengan lebih dalam juga.


Mereka berciuman begitu mesra, sama-sama menikmati rasa yang di salurkan melalui bibir pasangan masing-masing.


Merasakannya setiap inci dan tektur pada bibir yang mereka cium, yang rasanya sangat menyenangkan sampai menimbulkan suara berdecak pada bibir mereka.


"Sayang" gumam Alexander di antara ciumannya, rasanya dia tidak ingin berhenti.


"Hmm" jawab Yoana di sela-sela ciumannya menjawab Alexander.


"Aku tidak bisa berhenti sayang, rasanya aku seperti melayang sekarang" gumam Alexander semakin memperdalam ciumannya, mengulum bibir Yoana dan memasukkan lidahnya untuk meraih lidah Yoana, lalu mengulumnya dan menyesapnya dengan lembut.


Sontak membuat Yoana mengeluarkan suara mendesahnya tanpa sadar, perutnya seperti di gelitik, dan ada gejolak dalam dirinya yang begitu kuat, tubuhnya ingin di sentuh oleh tangan Alexander.


Tapi karena ciuman yang begitu dalam dan lama itu, membuat mereka kehabisan nafas.


Dan, akhirnya ciuman itu terlepas.


Nafas mereka memburu, dan wajah mereka terlihat merona seperti orang mabuk oleh alkohol.


Bibir mereka basah, dan terasa membengkak.


Mereka saling menatap satu sama lain sambil menetralkan deru nafas mereka yang memburu.


Perlahan jempol Alexander mengelap bibir Yoana yang basah sambil tersenyum bahagia.


"Aku mencintaimu sayang" gumam pria itu dengan lembut pada Yoana, lalu mengecup bibir yang bengkak itu sekilas.


"Aku juga mencintaimu sayang" gumam Yoana juga, lalu mengecup bibir Alexander yang masih basah.


Mereka kemudian sama-sama saling tersenyum dengan bahagia.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2