
Yoana tidak menyangka tanggapan Alexander begitu kesal mendengar tentang dia mencoba mencari seorang wanita untuknya.
Dia tahu kalau Alexander memiliki sikap yang sensitif pada saat dia berada di dunia novel, karena dia pria penyendiri dan tidak begitu di sukai banyak orang.
Tapi di dunia nyata ini, dia belum mengenal Alexander seperti apa orangnya, karena mereka baru bertemu.
Apakah kira-kira sama juga seperti di dunia novel yang di masukinya?
Kalau memang sama, berarti dia seharusnya tadi tidak menyinggung soal mencarikan soal wanita lain, karena memang pada akhirnya kemudian mereka saling mencintai satu sama lain.
Yoana mendorong kursinya kebelakang, dan kemudian berdiri dari duduknya.
Tindakan Yoana itu, sontak membuat Alexander menoleh memandang Yoana.
"Mau kemana?" tanya Alexander dengan nada panik, sepertinya dia menyesali tindakannya barusan.
Sudut bibir Yoana tersenyum lucu melihat Alexander yang panik, dia merasa lucu melihat tingkah Alexander.
Seperti anak kecil yang merajuk, terlihat begitu imut.
Alexander menatap Yoana menunggu jawaban gadis itu.
Yoana menunjukkan senyum manisnya pada Alexander, lalu kemudian mengerlingkan matanya satu pada Alexander.
Alexander terpaku menatap Yoana yang menggodanya, jantungnya berdegup kencang melihat gadis itu menunjukkan sisi genitnya kepada dirinya.
Dan itu, sangat cantik sekali, Yoana terlihat begitu menggemaskan.
Gadis itu menyingkirkan kursinya lebih jauh lagi, lalu memutar kursi Alexander menghadap padanya.
"Sayang..." bisik Yoana menundukkan wajahnya ke wajah Alexander.
Wajah Alexander sontak merona mendengar panggilan Yoana padanya, itu sama persis saat gadis itu menolongnya, dia dengan jelas mendengar Yoana berbisik memanggilnya.
Tapi karena tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali, dia hanya diam saja tidak bisa menanggapi panggilan Yoana.
__ADS_1
Perlahan tangan Yoana mengelus pipinya, sembari masih terus menatap mata Alexander.
"Kalau orang lain lagi bercerita dengarkan sampai selesai, jangan di potong, bisa jadi salah paham" bisik Yoana semakin mendekatkan wajahnya pada Alexander.
Satu kecupan di daratkan Yoana pada bibir Alexander, dan membuat hati Alexander berdesir bahagia.
"Apakah kau mau mendengarkan lagi kelanjutan ceritaku? mengenai hubungan kita di dunia kertas?" tanya Yoana.
"Ya!" jawab Alexander, "Aku tidak akan menyela lagi!"
"Baik!" jawab Yoana, "Bagaimana dengan tubuhmu? apakah sudah agak baikan?" tanya Yoana lagi.
"Iya, sudah lumayan, sudah seperti biasanya, normal!" jawab Alexander.
"Baguslah!"
Yoana meletakkan bokongnya ke paha Alexander, dan gadis itu pun duduk di sana.
Lalu meraih ke dua tangan Alexander untuk melingkar di sekitar pinggangnya.
"Pada dasarnya, aku memang berniat untuk mencari gadis yang tulus mencintaimu di sana agar pemeran utama pria tidak mati mengenaskan di tangan pemeran utama wanita, tapi seraya waktu berjalan, ternyata kita saling jatuh cinta, dan tidak ingin berpisah!" kata Yoana melanjutkan ceritanya.
Ya, dia juga mengalami hal yang sama, Alexander membenarkan semua cerita Yoana itu, sama persis seperti apa yang di alaminya.
Alexander meremas pinggang Yoana merasa takjub dengan cerita Yoana, sungguh tidak di sangka mereka mengalami hal yang luar biasa.
"Sampai kau akhirnya melamar ku, dan ingin menikah denganku, dan sampai tragedi itu datang, sebuah mobil begitu kencang ingin menabrakmu, mereka terus berupaya tidak ingin berhenti untuk melenyapkanmu, dan tujuanku memang ingin menyelamatkan mu, akhirnya aku mengorbankan diri ku, rasanya sakit sekali saat mobil itu menabrak ku, tubuhku terasa remuk, tulang-tulangku patah di remukkan ban mobil tersebut!"
"Sudah! cukup! jangan lanjutkan lagi!" Alexander memeluk Yoana dengan erat, bagaimana tidak, dia ingat betul kejadian itu, seperti baru saja melihat tubuh sekarat Yoana.
Alexander tidak ingin mengalami kejadian tragis lagi memisahkan mereka.
Mereka saling berpelukan dengan erat, kembali meluapkan rasa rindu mereka.
Tok! tok! tok!
__ADS_1
"Yoana..!" terdengar suara panggilan dan ketukan di pintu kamarnya.
Belum sempat Yoana turun dari pangkuan Alexander, pintu kamar tiba-tiba saja terbuka.
Masuklah kakaknya Hendrik ke dalam kamar Yoana.
Yoana dan Alexander yang sedang berpelukan, dan Yoana masih di atas pangkuan Alexander, menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Yoana!" seru Hendrik kaget melihat adiknya bersama seorang pria di kamarnya.
Perlahan Yoana turun dari pangkuan Alexander, lalu berdiri di samping pria itu dengan tenang dan santai.
"Kak, kenalkan ini kekasihku!" sahut Yoana mengenalkan.
"A..apa?!" mata Hendrik terbelalak tidak percaya dengan apa yang dikatakan adiknya itu.
Tunggu dulu, perasaan dia mengenal lelaki yang di kenalkan Yoana tersebut.
"Bukankah anda pelanggan kami di cafe?" tanya Hendrik pada Alexander.
"Benar kak!" jawab Alexander, lalu berdiri dari duduknya.
Tangannya kemudian merangkul bahu Yoana.
Apa? dia memanggilku dengan sebutan kakak? pipi Hendrik terasa sedikit merona.
"Sejak kapan kalian pacaran, dan kenapa bisa anda di kamar adikku?" tanya Hendrik dengan nada tajam.
"Kak, panjang ceritanya, nanti kami akan ceritakan, tadi Alexander mengalami penculikan!" sahut Yoana.
"A..apa?!" kembali Hendrik terkejut dengan apa yang dikatakan adiknya.
Penculikan? pria sebesar ini di culik? tidak masuk akal! pikir Hendrik tidak mempercayai apa yang dikatakan adiknya itu.
Bersambung.....
__ADS_1