
Ketiga pria yang membawa pria pingsan tersebut, melanjutkan kembali langkah mereka untuk naik ke lantai tiga.
Yoana dengan cepat, berjalan di antara kegelapan dengan hati-hati, agar langkahnya tidak terdengar oleh ketiga pria itu.
Sekarang Yoana sudah dekat dengan salah satu pria yang berjalan paling belakang, dan ini kesempatan dia untuk memukul pria itu.
Yoana meraih sepotong kayu balok yang kebetulan ada di dekat kakinya, dan dengan erat Yoana menggenggam kayu balok itu.
Yoana menghitung dalam hati untuk memulai memukul pria itu, satu! dua! tiga!
Dengan mengerahkan kekuatan yang dimilikinya, Yoana mengayunkan kayu balok tersebut ke punggung lelaki yang berjalan paling belakang itu.
Dan, Brukk!
Lelaki itu terjatuh ke depan dan mengenai pinggiran kaki tangga.
Kepalanya tepat terbentur ke kaki tangga, dan lelaki itu pun terkapar pingsan dalam sekejap.
"Hei! kalau jalan, perhatikan jalanmu, bikin kaget saja!" teriak lelaki yang berjalan terlebih dahulu ke atas tangga.
"Belum makan Bos, jadi bawaan lemes, tidak ada tenaga!"
"Selesaikan dulu pekerjaan ini, baru kita bisa makan enak setelah ini!" sahut lelaki yang memimpin mereka.
"Baiklah!"
Mereka tidak menyadari, kalau dua teman mereka sudah pingsan di lantai dua.
Sementara Yoana bersembunyi di bawah tangga dengan tubuh gemetar, keringat dingin sudah mengucur di punggungnya.
Dia tidak bisa membayangkan kalau dia ketahuan, tamatlah riwayatnya, dia pasti akan di lukai oleh ke dua pria itu.
Mereka sudah berhasil membawa tubuh pria yang pingsan itu ke lantai tiga, dan itu membuat Yoana semakin cemas.
Gadis itu tidak tahu di lantai berapa mereka akan melemparkan tubuh pria yang pingsan itu, dia harus cepat-cepat menyelamatkan pria itu, tidak boleh terlambat sedikitpun.
Yoana perlahan menaiki tangga, dengan langkah kaki seringan mungkin, Yoana berusaha agar langkah kakinya tidak terdengar sama sekali.
"Lantai berapa kita akan lempar si cacat ini Bos!" sahut salah satu pria itu.
__ADS_1
"Lantai lima kayaknya sudah bisa, tubuhnya pasti langsung remuk kalau di lemparkan ke bawah!" sahut si Bos.
"Dua lantai lagi!"
"Iya!" sahut si Bos.
Yoana yang mendengarkan pembicaraan mereka, merasakan tubuhnya semakin gemetar, dia harus menolong pria itu sebelum lantai berikutnya.
"Bagaimana ini?" pikir Yoana, otaknya berputar untuk menyingkirkan ke dua pria itu.
Dia hanya seorang wanita, kalau ketahuan bahwa ke dua temannya tidak ada di antara mereka lagi, habislah dia!
Tinggal dua orang lagi, sepertinya aku bisa mengatasinya, aku harus bisa! pikir Yoana membuang rasa takutnya.
Tubuh kecilnya perlahan melangkah ke antara tempat yang gelap, dan mencoba untuk mendekati pria yang memegang pria yang pingsan tersebut.
"Bos, perasaan kenapa cuman aku saja yang menarik si cacat ini!" sahut pria yang menarik pria yang pingsan tersebut.
Bukk!
Brukk!
Yoana langsung berlari ke tempat yang gelap agar tidak bisa di lihat Bos ketiga pria yang sudah di pukulnya pingsan.
"Hei! kenapa kau!" teriak si Bos.
Lelaki itu melihat temannya sudah tergeletak di lantai, wajahnya langsung berubah melihat temannya hanya tinggal satu saja, dan sudah tergeletak di lantai bersama pria yang pingsan tersebut.
"Hei!!" teriak pria itu seraya memandang sekelilingnya.
Gedung terasa hening, tidak ada suara sama sekali.
Lelaki itu langsung mengerti ada yang tidak beres, sudah berlangsung dari tadi, dan dia tidak menyadarinya.
Pria itu terlihat mulai waspada, dan mulai memperhatikan sekelilingnya untuk mencari seseorang yang sudah diam-diam mengikuti mereka tanpa mereka sadari.
Lelaki itu mencoba untuk mencari sesuatu untuk di jadikannya senjata, mencari di sekitar tempatnya berdiri.
Pria itu melihat sebuah papan panjang, lalu bergegas mengambil papan tersebut.
__ADS_1
Dan, sangat beruntung sekali, entah apa ini kebetulan atau memang keberuntungan Yoana, pria itu mengambil papan di dekat Yoana bersembunyi.
Saat lelaki itu membungkuk untuk mengambil papan tersebut, dengan kekuatan penuh Yoana mengayunkan kayu balok yang sedari tadi di pegangnya ke tengkuk pria itu.
Bukk!
Brukkk!
Pria itu pun ambruk ke lantai, dan kembali Yoana mengayunkan kayu balok yang di pegangnya ke tengkuk pria itu.
Pria itu pun tidak bergerak sama sekali.
Nafas Yoana tersengal-sengal telah mengeluarkan begitu banyak tenaganya, tubuhnya langsung terduduk lemas.
Keringat mengucur di kening dan punggungnya, tubuhnya gemetar dengan hebatnya.
Yoana tidak menyangka bisa melakukan hal di luar dugaannya, ini sungguh menakutkan dan menguras tenaga.
Dengan tubuh yang masih gemetar, Yoana bangkit dari duduknya dengan perlahan.
Yoana menghampiri tubuh pria yang masih pingsan dari tadi, yang di seret ke empat pria itu.
Tubuh Yoana yang masih gemetar, perlahan membungkuk mengangkat tubuh pria itu.
Tubuh itu seperti orang mati, sepertinya di beri obat bius.
Astaga! mereka sangat mengerikan! bisik hati Yoana, merasa kasihan pada pria yang jadi korban tersebut.
Yoana membalikkan tubuh pria itu.
Dan, sontak membuat tubuh Yoana membeku di tempatnya.
Gadis itu merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia seperti bermimpi.
"Alexander!" gumam Yoana dengan mata terbelalak.
Cahaya dari luar jendela yang terbuka sangat jelas memperlihatkan wajah pria yang pingsan tersebut, wajah seorang pria yang sangat di kenal Yoana.
Bersambung......
__ADS_1