Aku Ada Untukmu

Aku Ada Untukmu
62. Bagaikan pilot dan copilot.


__ADS_3

Hendrik hanya bisa terbengong-bengong mendengarkan penjelasan adiknya itu, menceritakan bagaimana dia menolong Alexander dari empat orang pria yang akan membunuh Alexander.


Hendrik merasa kalau adiknya itu sedang menceritakan sebuh flim action, yang pemeran utama nya seorang wanita berani.


Dia tidak mempercayai kalau Yoana bisa menyelamatkan Alexander, itu sangat mustahil.


Yoana bertubuh mungil, yang tingginya hanya 155cm, dan ramping lagi, bagaimana mungkin bisa memukul seorang pria dengan memakai balok kayu.


"Aku hanya memikirkan, jangan sampai Alexander di lempar dari lantai lima, jadi apa yang kulakukan itu membuatku jadi kuat!" sahut Yoana.


"Iya benar kak!" sahut Alexander meyakinkan cerita Yoana.


"Kenapa anda harus di culik?" tanya Hendrik.


"Alexander Ceo Alva Group!" Yoana yang menjawab pertanyaan Hendrik.


"Apa?" Hendrik terkejut.


Tentu saja dia kenal Alva Group, ternyata lelaki yang di samping adiknya itu seorang Ceo.


Hendrik menelan ludahnya tanpa sadar, adiknya kekasih orang penting di kota mereka.


"Ke..kenapa kalian bisa saling kenal?" tanya Hendrik gugup, dia harus merubah sikapnya.


Adiknya mendapat jackpot, pria terkaya di kota mereka, walau memiliki luka cacat diwajahmu, itu tidak penting.


Yang penting, Ceo Alva Group menyukai adiknya, pria itu harus di dapatkan.


Hendrik tahu adiknya tidak banyak mengenal lelaki, dan tidak pernah jalan dengan lelaki mana pun.


Jadi ini berita yang sangat luar biasa, tidak di sangka sekali dapat kekasih, adiknya langsung mendapatkan bibit unggul.


"Jadi malam ini, Alexander akan menginap di sini untuk memulihkan diri dulu, besok baru kembali lagi ke rumahnya!" sahut Yoana.


"Ah, iya...enggak apa-apa, menginap saja beberapa hari tidak masalah, ini sudah terlalu malam, kalian istirahatlah, mari piring kotornya aku bawa pergi!" ujar Hendrik melangkah untuk mengambil wadah dan piring bekas makan malam Yoana dan Alexander.


Hendrik membawa nampan berisi piring kotor, dan bergegas keluar dari kamar tersebut.


Alexander dan Yoana terbengong melihat tingkah Hendrik yang sedikit aneh, sikap Hendrik yang tiba-tiba ramah membuat Yoana curiga.

__ADS_1


Sementara itu Alexander merasa bahagia, ternyata calon kakak iparnya menyukai dirinya.


Sudut bibir Alexander menyunggingkan senyuman bahagia, kakak Yoana membiarkan dia malam ini beristirahat dengan Yoana.


Mata Alexander terlihat berbinar-binar.


"Ayo kita istirahat, sudah malam! besok pagi aku sudah harus bangun cepat untuk pergi ke kantor!" sahut Alexander menarik tangan Yoana menuju tempat tidur.


Karena masih terbengong dengan sikap Hendrik, gadis itu diam saja di tarik Alexander naik ke tempat tidur.


Alexander menepuk-nepuk sebentar bantal untuk Yoana, lalu menarik Yoana untuk berbaring.


"Kak Hendrik sepertinya tidak marah ya, apa kira-kira dia akan berituhakan pada Papa soal hubungan kita ya?" gumam Yoana sambil berpikir.


Alexander tidak menanggapi perkataan Yoana, dia terlalu senang, karena bisa tidur satu tempat tidur lagi dengan Yoana.


Menarik gadis itu merapat padanya, dan memeluk pinggang ramping Yoana.


Rindu Alexander terbayarkan sekarang, dia tidak akan kehilangan Yoana lagi.


"Tidur sayang" bisik Alexander di telinga Yoana.


Niat tidur terpisah, akhirnya jadi tidur bersama di tempat tidur.


"Alex..!" panggil Yoana.


"Hemm!" jawab Alexander yang telah memejamkan mata.


"Aku tidur di sofa saja!"


"Tidak, di tempat tidur saja!" Alexander semakin mempererat pelukannya.


Yoana terpaksa mengalah, dia mau berontak untuk keluar dari dekapan Alexander juga tidak tega.


Yoana yang pengagum Alexander, paling lemah untuk menyakiti Alexander.


Alexander juga tidak melakukan hal yang kurang ajar pada Yoana, jadi tidak ada alasan untuk mendorong tubuh Alexander agar mereka jaga jarak.


Pria itu tersenyum senang merasakan Yoana tidak berusaha untuk mendorong tubuhnya.

__ADS_1


Kemudian mereka pun tertidur.


Esok harinya, terlihat Yoana dan Alexander di ruang makan keluarga Yoana, duduk diam mematung tidak berani bergerak.


Empat pasang mata memandang mereka tidak berkedip, terlihat sangat menegangkan.


Sementara Hendrik yang sudah tahu mengenai Alexander, terlihat tenang saja.


Alexander menelan ludahnya karena gugup, Ayah Yoana menatapnya dengan tajam.


"Pa...Ayolah, jangan seram begitu!" sahut Hendrik mencoba menenangkan Ayahnya yang terlihat marah.


"Sejak kapan kau berani tidur di kamar yang sama dengan seorang pria Yoana?" tanya Ayah Yoana dengan suara galak.


"Tuan Alexander hampir kena culik, Yoana menyelamatkannya, jadi di bawa ke rumah kita untuk sembunyi!" sahut Hendrik menjelaskan pada Ayahnya.


"Diam Hendrik! bukan kau yang ku tanya!" sahut Ayahnya melotot pada Hendrik.


"Baiklah" ucap Hendrik pelan, "Tapi jangan marah-marah Pa, Tuan Alexander...."


"Kenapa dari tadi kau asik memanggilnya Tuan Alexander, bukankah dia itu kekasih adikmu?" tanya Ayahnya galak.


"I..iya, benar Papa mertua, kak Hendrik jangan panggil aku Tuan!" sahut Alexander mengangguk, membenarkan pertanyaan Ayah Yoana.


Spontan Hendrik dan Ayahnya memandang Alexander, mereka kaget Alexander memanggil Ayah Yoana dengan sebutan 'Papa mertua'.


"Kenapa Mama tidak tahu tadi malam kalau kau pulang dengan seorang lelaki?" tanya Mama Yoana.


"Eng..itu, aku memang tidak mau kasih tahu dulu, Alexander masih lemah, aku mau urus dia dulu karena pengaruh obat bius di tubuhnya belum hilang!" sahut Yoana dengan tenang.


Alexander menganggukkan kepalanya membenarkan penjelasan Yoana.


Tiga orang yang memandang mereka, menatap mereka dengan lekat.


Mereka terlihat seperti pasangan yang kompak, bagaikan 'pilot dan copilot'.


Sama-sama sepemikiran, dan sepertinya mereka sudah lama menjalin hubungan.


Rasanya tiga anggota keluarga Yoana seperti orang asing di antara mereka berdua.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2