Aku Ada Untukmu

Aku Ada Untukmu
74. Perjalanan ke pulau.


__ADS_3

Yoana mengatur detak jantungnya yang berpacu karena terkejut atas penemuan yang tidak dia sangka.


Dengan wajah yang panik dia berjalan dengan cepat ke arah Alexander.


"Alex...Alex...Alex!" sahutnya berkali-kali memanggil nama Alexander dengan suara yang terdengar seperti orang yang melihat hantu.


"Iya sayang, ada apa? kenapa denganmu?" jawab Alexander menghampiri langkah Yoana yang berjalan cepat ke arahnya.


"A..aku menemukan sesuatu yang harus kau ketahui!" Yoana memegang tangannya Alexander.


"Sesuatu apa?" tanya Alexander menatap Yoana merasa penasaran.


"Siapa yang menjebakmu tadi malam?" tanya Yoana.


"Dari hasil yang di selidiki Nick dan kamera cctv di koridor kamar hotel, pengawal Mamaku yang melakukannya!" jawab Alexander.


Tangan Yoana gemetar mendengar hasil penyelidikan Nick itu, dia tidak menyangka Ibu Alexander sendiri yang ingin mencelakai Alexander.


Apakah ada seorang Ibu ingin membunuh anak kandungnya sendiri? pikir Yoana menatap wajah Alexander, gadis itu merasa semakin menyayangi Alexander.


Pria yang malang, seorang anak yang di benci Ibunya sendiri.


Tiba-tiba Yoana merasakan lututnya lemas memikirkan itu, tubuhnya jadi limbung.


"Sayang? Kau kenapa?!" sahut Alexander panik.


"Aku mau duduk, aku mau duduk!" ujar Yoana berbalik berjalan dengan tubuh yang lemas menuju sofa.


Alexander memapah Yoana ke sofa.


Nick sangat heran dengan sikap Yoana, asisten Alexander itu merasa, kalau Yoana sepertinya mendapat petunjuk tentang siapa di balik semua kejadian yang menimpa Alexander.


"Alex, apakah kau tidak rindu pada Papamu? apakah kau tidak ada niat ingin melihat Papamu di pulau walau sekali pun?" tanya Yoana memandang Alexander dengan lekat.

__ADS_1


Firasat Yoana, Ayah Alexander tidak baik-baik saja di pulau, mereka harus pergi ke pulau untuk memastikannya.


"Kenapa kau menyinggung tentang Papaku?" tanya Alexander heran.


"Kita harus pergi untuk memastikannya, apakah kau tidak ingin mengenalkan aku pada Papamu?" tanya Yoana berdalih menuntut ingin di kenalkan pada Ayah Alexander.


Nick semakin merasakan kalau Yoana menemukan sesuatu, dari cara gadis itu bicara, sepertinya ini hal yang mendesak.


"Benar Tuan, anda sudah lama tidak bertemu dengan Tuan Besar, mari kita pergi melihatnya!" sahut Nick sependapat dengan Yoana.


Alexander memandang Nick, dia merasa dari kata-kata Yoana tadi, Nick sepertinya mengetahui arti dari permohonan Yoana untuk bertemu dengan Ayahnya.


"Baiklah, Ayo kita pergi menjenguk Papaku!" jawab Alexander.


"Ayo, sekarang kita bergegas pergi ke pulau!" sahut Yoana seraya bangkit dengan cepat dari duduknya, "Semua berkas bukti yang telah di dapat, simpan di tempat yang aman!" ujar Yoana lagi.


"Baik, aku akan meyimpannya dengan baik!" jawab Alexander.


Alexander menyimpan bukti-bukti tersebut di dalam brankas, di dalam kamarnya.


Sebelum berangkat, Alexander sudah berpesan kepada kepala pelayan, kalau Ibunya bertanya soal Alexander, pria itu mengatakan dia melakukan perjalanan bisnis untuk mengurus sebuah proyek pembangunan villa mewah.


Dan Alexander mengatakan, kalau dia pergi bersama Nick dan Yoana saja.


"Katakan sayang, apa yang membuat kau tadi begitu panik?" tanya Alexander saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Yoana ragu untuk menjawab Alexander, mata gadis itu memandang ke depan, menatap sopir Alexander dengan tatapan waspada.


"Tidak apa-apa, dia salah satu pengawal rahasiaku, begitu juga dengan di belakang kita, dia salah satu dari antara mereka, Bodyguard rahasiaku yang tidak di ketahui oleh siapapun!" ujar Alexander menjelaskan pada Yoana, mengenai sopirnya dan juga pria-pria kekar di dalam tiga mobil yang mengikuti mereka dari belakang.


Yoana merasa lega, ternyata Alexander mempunyai sekumpulan pengawal bayangan.


Di dalam novel yang dia baca, Alexander tidak di ceritakan mempunyai pengawal rahasia.

__ADS_1


"Tadi aku dengar Mamamu menelepon seseorang dengan suara yang marah, dia mengatakan untuk menahan seseorang jangan sampai melarikan diri, kalau itu terjadi, Mamamu akan membunuh mereka!" ujar Yoana menjelaskan apa yang tadi membuat dia begitu panik.


"Apa kau tidak salah dengar?" tanya Alexander merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan Yoana.


Alexander kaget juga mendengar kalau Ibunya bisa bicara seperti itu kepada seseorang, seakan Ibunya sudah terbiasa bicara kasar seperti itu, dan mengeluarkan kata-kata 'membunuh' itu sungguh tidak masuk akal.


Ibunya adalah wanita terpelajar, dan begitu menjaga cara bicaranya.


"Dan, lalu apakah kau curiga kalau Mamaku menahan Papaku?"


"Ya, aku punya firasat, kalau Papamu dalam bahaya!"


"Oh, tidak mungkin, Mamaku sangat mencintai Papaku, tidak mungkin dia menyakiti suami yang sangat di cintainya!"


"Semoga saja memang tidak terjadi apa-apa, pokoknya kita harus pergi untuk memastikan nya!"


"Baiklah!"


Perjalanan menuju pulau ternyata sangat lama, pertama mereka terlebih dahulu menuju dermaga.


Sebuah kapal ferry mewah telah menanti mereka, ferry milik pribadi keluarga Alexander.


Alvaro.


Di badan ferry tersebut terlihat jelas sekali nama belakang Alexander.


Mobil yang membawa mereka, perlahan masuk ke dalam perut ferry, dan kemudian di susul dengan tiga mobil di belakang mereka.


Setelah mobil terparkir dengan baik, Alexander kemudian keluar dari dalam mobil.


"Ayo kita naik ke atas untuk beristirahat, perjalanan masih lama, sekitar enam jam lagi, baru kita sampai ke pulau!" sahut Alexander, lalu membuka pintu mobil lebar-lebar untuk Yoana turun dari dalam mobil.


Dengan menggenggam tangan Yoana, Alexander membawa calon istrinya itu ke kabin atas untuk istirahat.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2