Aku Ada Untukmu

Aku Ada Untukmu
48. Kembali ke rumah.


__ADS_3

Dok! dok! dok!


Suara itu berulang kali terdengar, membuat suasana yang sepi jadi terasa berisik sekali.


Dok! dok! dok!


Kembali suara itu terdengar lagi dengan berisiknya.


"Yoana! Yoana! buka pintu, ada apa denganmu! buka pintu nya! ini sudah siang, Yoana!" suara teriakan terdengar dari luar pintu.


"Ada apa Ma?" terdengar suara seorang pria.


"Adikmu, dari tadi tidak mau buka pintu, Mama khawatir terjadi sesuatu padanya, sudah setengah jam Mama gedor pintunya, tidak ada tanggapan dari dalam!"


Di dalam kamar tubuh seorang gadis tergeletak di lantai kamar dekat meja belajar, dan pelipisnya mengeluarkan darah.


Sepertinya dia terjatuh.


Sayup-sayup dia mendengar suara yang begitu berisik tersebut, membuat kepalanya semakin sakit berdenyut.


"Sini, biar aku dobrak saja pintunya!" terdengar suara pria tersebut berbicara.


Brakkk!


Pintu kamar pun terbuka.


"Yoana! kau kenapa nak...oh, putriku! kau kenapa nakk?" jerit wanita yang sedari tadi menggedor pintu, dan langsung menghambur ke dalam kamar begitu melihat tubuh putrinya tergeletak di lantai kamar.


"Yoana! kenapa kau sayang!" wanita itu meraih tubuh Yoana dari lantai, dan membawanya ke pangkuannya.


"Hah! darah! Hendrik adikmu berdarah!" jerit wanita itu histeris.


"Hemm..." terdengar suara lirih dari Yoana, dan perlahan matanya terbuka.


"Yoana?" serentak kedua orang itu memanggil namanya.


"Yoana, keningmu berdarah!" sahut pria yang bernama Hendrik.


Mendengar suara Ibunya dan pria itu, sontak mata Yoana terbuka dengan lebar.


Dan langsung duduk dengan tegak, lalu memandang sekelilingnya.


Ini kamarnya.


A..aku kembali? pikir Yoana seperti orang linglung.

__ADS_1


Dia ingat tadi tertabrak mobil, tubuhnya terasa masih sakit, dan kepalanya juga sakit, terasa berdenyut.


Mungkin saking nyenyak nya tidur, jadi tanpa sadar terjatuh dari kursi, membuat sekujur tubuh Yoana jadi sakit.


Dan kepalanya terbentur lantai, karena itulah pelipisnya berdarah.


"Kau berdarah Yoana!" sahut suara pria.


Yoana menoleh memandang pria itu.


Itu kakak lelakinya, Hendrik.


Yoana mengangkat tangannya untuk meraba keningnya. Darah! ternyata benar kepalanya berdarah.


Dan Yoana merasakan kalau wajahnya juga basah, tangannya dengan cepat mengelap wajahnya.


Ini air matanya, tadi dia menangis.


Alexander.


Yoana langsung teringat, dia masuk ke dalam novel yang selalu dibacanya, dan sekarang dia kembali lagi ke dunia yang sebenarnya.


Perasaan sedihnya datang lagi, tangisan dan jeritan Alexander memanggil namanya masih terasa sekali di rasakan Yoana.


Yoana menekan dadanya yang terasa sesak, tanpa sadar air matanya mengalir lagi.


Ternyata kematian di dunia kertas, bisa membuat Yoana bisa kembali lagi ke dunia yang sebenarnya.


Yoana kemudian meraba daerah keningnya, dan kemudian melihat tangannya yang basah.


Iya, darah!


"Kau kenapa nak?" tanya wanita itu lagi, yang ternyata adalah Ibu Yoana, wanita itu memandang Yoana yang seperti orang kebingungan.


"Aku ketiduran, tadi aku baca novel, mungkin karena terlalu nyenyak...aku jadi terjatuh!" kata Yoana menjelaskan mengingat terakhir kali sebelum dia masuk ke dalam novel yang selalu di bacanya.


"Untung kau tidak kenapa-kenapa, Mama dari tadi menggedor pintu kamar mu, dan kebetulan kakakmu pulang, akhirnya pintu kamar mu bisa dibuka!" ujar Ibu Yoana.


"Coba sini ku periksa lukamu!" sahut Kakak lelaki Yoana, lelaki itu membawa kotak P3K.


"Novel apa memangnya yang kau baca, sampai matamu bengkak begini karena menangis!" sahut Hendrik mulai mengelap luka di pelipis Yoana.


Lalu menempelkan plester luka di pelipis Yoana, setelah darahnya di bersihkan.


"Eh, itu..." Yoana malu untuk mengatakannya pada kakaknya tersebut.

__ADS_1


Yoana berdiri dari lantai kamar, lalu melihat ke atas meja belajarnya, untuk menyembunyikan novel yang selalu dia baca.


Dia malu kalau judul novelnya di lihat oleh Hendrik, novel Romansa yang sentimental.


Yoana tidak melihat novel tersebut di atas meja belajarnya.


"Mana...??" Yoana kebingungan, novel itu tidak ada di sana.


Yoana mencari di antara buku yang ada di meja tersebut, tapi novel itu tidak terlihat.


"Eh, ke nama perginya?" gumam Yoana kebingungan.


Hendrik mendekati Yoana yang sibuk mencari novel yang dimaksudkan adiknya itu.


"Novel apa sih kau baca?" tanyanya penasaran.


"Eh, kayaknya aku lupa kak, mungkin sudah ku kembalikan!" kata Yoana berbohong.


"Ya sudah kalau begitu, Ayo makan siang, setelah itu baru ke cafe!" sahut Hendrik seraya berjalan ke pintu kamar Yoana.


"Iya nak, tubuhmu pasti lemas, lain kali kalau mengantuk, tidurlah ke atas tempat tidurmu!" kata Ibu Yoana.


"Iya Ma!"


"Kami tunggu diruang makan ya!" sahut wanita itu, lalu menutup pintu kamar Yoana dengan pelan.


Tubuh Yoana langsung merosot kembali ke lantai, setelah pintu kamar tertutup.


Yoana kembali menangis, perasaannya begitu terasa nyata dengan kejadian yang bagaikan mimpi tadi.


Alexander, pemeran utama pria yang dicintainya dalam novel yang dibacanya, apakah dia bisa bertemu lagi dengan pria itu?


Yoana semakin menangis memikirkan Alexander, pria yang tidak ada di dunia nyata.


Ini benar-benar menyakitkan, dia mencintai pria di dalam dunia kertas, dan sepertinya dia tidak akan pernah lagi masuk ke dalam novel 'Aku Ada Untukmu'.


Mata Yoana kembali semakin membengkak, bayangan wajah Alexander masih nyata terbayang dalam ingatannya.


"Alex..." gumam Yoana dengan perasaan sedih, air matanya terus saja mengalir membasahi pipinya.


Merasa terlalu lama di kamar, Yoana bergegas bangkit dari lantai, dan mengelap air matanya.


Dia tidak ingin Ibu dan Kakaknya naik lagi memanggilnya untuk makan siang.


Yoana kemudian bergegas turun untuk makan siang.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2