
Alexander melihat pakaiannya sudah disediakan Yoana di tempat tidur, pria itu tersenyum sendiri melihat Yoana begitu telaten mengurus dirinya.
Alexander tahu itu tugas Yoana sebagai pembantu pribadi nya, tapi pria itu merasakan kalau Yoana sudah seperti istrinya yang begitu perhatian kepadanya.
Dengan perasaan bahagia Alexander menanggalkan topengnya, lalu membuka satu persatu pakaiannya.
Alexander melangkah masuk ke dalam kamar mandi, membiarkan pakaiannya berserakan di lantai kamar.
Perlahan Alexander membuka pintu kamar mandi, dan menutup kembali pintu kamar mandi.
Alexander melihat bathtub ternyata telah diisi Yoana dengan air hangat, dan dengan busa mandi yang menggelembung.
Wajah Alexander terlihat semakin bahagia melihat air mandi yang sudah menantinya.
Dengan cepat tangannya melepaskan pakaian terakhir yang menutupi tubuhnya, lalu kemudian perlahan memasuki bathtub dengan tubuh polosnya.
Alexander menghela nafas dengan lega, merasakan air hangat begitu terasa nyamannya menyentuh kulitnya.
Pria itu membenamkan tubuhnya sampai batas leher, lalu mulai menikmati busa sabun membersihkan tubuhnya yang terasa penat.
Lebih menyenangkan seandainya Yoana ikut mandi bersama denganku, bisik hati Alexander tersenyum sembari memejamkan matanya.
Pikiran Alexander terbayang peristiwa saat dirinya hilang kontrol karena pengaruh obat perangsang, dengan begitu agresifnya memeluk dan mencium Yoana dalam bathtub ini.
Meraba dan mengelus tubuh Yoana yang setengah polos, kulit tubuh Yoana terasa begitu lembut disentuhnya.
Tiba-tiba Alexander merasakan sesuatu pada dirinya, tubuhnya mendambakan Yoana, ingin mencium Yoana, ingin menyentuh tubuh lembut Yoana.
Wajah Alexander seketika memerah, dia begitu mesum membayangkan Yoana.
Jantung Alexander berdegup dengan kencang, tubuhnya terasa mulai panas, dan sesuatu dibawah sana bereaksi.
Astaga! bisik hati Alexander terkejut dengan reaksi tubuhnya yang tiba-tiba terangsang memikirkan Yoana.
Alexander dengan cepat membenamkan tubuhnya ke dalam air, dia sudah berpikiran vulgar membayangkan Yoana.
Dia harus mendinginkan otaknya, berendam dalam air beberapa menit pasti bisa menghilangkan rasa yang membakar tubuhnya.
Alexander menahan nafasnya, membaringkan tubuhnya didalam air, agar tubuhnya kembali normal, dan juga pikirannya.
Tubuh Alexander terasa sudah mulai normal dengan berbaring didalam air.
Menutup matanya untuk merilekskan tubuhnya yang terasa panas.
Samar-samar Alexander mendengar suara seseorang memanggilnya dengan cemas, tapi Alexander merasa itu hanya halusinasinya saja.
Dia tidak bergeming didalam bathtub, tubuhnya masih ingin rileks lebih dalam lagi.
__ADS_1
Tapi, tiba-tiba tubuhnya ditarik ke atas dengan kuat.
"Alex...!" jerit suara wanita.
Itu suara Yoana!
Alexander perlahan membuka matanya, dan tampaklah wajah cantik Yoana yang terlihat menyedihkan.
Wajah Yoana basah oleh air mata, Yoana menangis histeris memandang dirinya.
Lalu dengan kuat menarik tubuhnya masuk kedalam dekapan Yoana.
"Alexander, kau kenapa? ada apa? apa yang telah dikatakan Nyonya Angeline sehingga kau ingin bunuh diri!" isak Yoana dengan histeris.
Yoana semakin kuat memeluk tubuh polos Alexander, dan membenamkan wajahnya ke dada bidang pria itu.
"Aku ada untukmu Alex, jangan putus asa, aku tidak akan membiarkan kau mengalami sesuatu yang membuatmu meninggal, huaa...!" jerit Yoana menangis dengan histeris.
Alexander merasakan tubuh Yoana bergetar ketakutan.
Sesaat Alexander membeku ditempatnya, dia rasanya tidak percaya, Yoana begitu takut kehilangan dirinya.
"Huaaa...jangan bunuh diri Alex, aku tidak rela, huaaa....!" tangisan Yoana semakin melengking dengan sedihnya.
Perlahan Alexander membalas pelukan Yoana, mendekap tubuh Yoana yang sudah basah karena ikut masuk ke dalam bathtub.
Senyuman Alexander tersungging disudut bibirnya dengan bahagia.
Bagaimana tidak! perhatian Yoana sudah membuat dia semakin mencintai gadis itu, dan membuat dirinya semakin takut kehilangan Yoana.
"Yoana, aku tidak ada berniat untuk bunuh diri" bisik Alexander dengan lembut ditelinga Yoana.
Mendengar bisikan Alexander itu, spontan tangis Yoana berhenti.
Lalu melepaskan pelukannya, dan kemudian memandang wajah Alexander dengan lekat.
"Ta..tapi, kenapa kau ada didalam air dan tidak bergerak sedikitpun?" tanya Yoana menatap mata Alexander.
"Aku ingin merilekskan tubuhku, agar kembali normal!" kata Alexander menjelaskan.
"Memangnya kau kenapa? apakah kau demam?" tanya Yoana kembali khawatir.
Tangan Yoana menyentuh kening Alexander, dan tangan satunya lagi menyentuh keningnya sendiri.
Yoana mencocokkan suhu tubuhnya dengan suhu tubuh Alexander, terasa sama hangatnya.
Alexander semakin tersenyum melihat Yoana yang begitu khawatir padanya.
__ADS_1
Gadis itu terlihat semakin imut saja.
"Aku tidak demam" kata Alexander tersenyum.
"Tidak demam, jadi...kenapa kau masuk ke dalam air seperti orang yang ingin bunuh diri, apa yang sudah dikatakan Nyonya Angeline padamu, sehingga kau harus merilekskan diri?" tanya Yoana dengan nada prihatin, tatapan matanya terlihat cemas menatap mata Alexander.
Alexander menggelengkan kepalanya.
Wajah Alexander perlahan mendekati wajah Yoana yang terlihat masih cemas, dan menempelkan keningnya ke kening Yoana.
"Aku merilekskan tubuhku karena memikirkan dirimu Yoana" gumam Alexander dengan lembut.
Perlahan tangannya menyentuh pipi Yoana, dan membelainya dengan lembut.
"Aku membayangkan dirimu 'seandainya mandi bersama denganku didalam bathtub ini', dan itu membuat pikiranku teringat kejadian saat aku meminum obat perangsang yang di berikan Lili seminggu yang lalu" kata Alexander dengan suara yang mulai serak.
Tubuhnya yang tadi sudah normal, kembali bereaksi menceritakan apa yang terjadi pada dirinya.
Wajah Yoana sontak memerah mendengar penjelasan Alexander, dan membuat gadis itu jadi malu.
Ternyata dia salah paham pada Alexander, kesayangannya itu ternyata tidak berniat bunuh diri.
"Ja..jadi, aku yang salah paham ternyata..ma..maaf, aku terlalu khawatir dan ketakutan melihatmu tidak bergerak didalam bathtub!" ucap Yoana malu, dia ingin menyembunyikan wajahnya.
Dia terlalu berpikiran yang tidak-tidak, itu karena plot novel yang asli menceritakan kalau pemeran utama prianya meninggal.
Alexander semakin tersenyum melihat wajah malu Yoana, tampak begitu menggemaskan.
"Tubuhku semakin panas karena membayangkan kulitmu yang lembut, aku menyukainya, sehingga aku mendambakan ingin menyentuh lagi tubuhmu yang polos" bisik Alexander melanjutkan lagi penjelasannya, kenapa dirinya berendam didalam air bathtub.
Tangan Alexander perlahan turun ke leher Yoana, dan menarik kerah baju Yoana dari bahunya.
Kulit bahu Yoana terlihat jelas, dan itu membuat tubuh Alexander semakin memanas.
Perlahan wajah Alexander turun, dan mengecup bahu Yoana yang terbuka.
Yoana membeku ditempatnya merasakan bibir panas Alexander mengecup bahunya, dan membuat Yoana merasakan sesuatu yang berpendar di perutnya.
"Sekarang kau tiba-tiba datang sebelum tubuhku kembali normal, rasanya mimpiku tadi menjadi kenyataan, Yoana aku mencintaimu" bisik Alexander parau.
Tanpa sadar mata Yoana terpejam merasakan bibir panas Alexander menjalar turun ke dadanya, tubuhnya tidak bergerak merasakan tangan Alexander melepaskan bajunya.
Dan tangan Yoana pun tanpa sadar menyentuh dada Alexander yang polos.
Dada bidang Alexander terasa keras di telapak tangan Yoana.
Bersambung.....
__ADS_1