
Yoana membawa sepeda motornya sambil memperhatikan posisi letak duduk Alexander, jangan sampai oleng ke samping.
Karena tubuh lelaki itu masih lemah, dan bisa saja tanpa sadar melepaskan rangkulannya dari pinggang Yoana.
Untuk sementara Yoana tidak ingin membawa Alexander pulang ke rumah pria itu, dan tidak mau bertanya di mana alamat Alexander.
Yoana merasa, Alexander tidak akan aman kalau malam ini pulang ke rumahnya.
Sepeda motor melaju menuju rumah Yoana, dia akan membawa Alexander ke rumahnya untuk sementara.
Rumahnya tempat yang aman untuk Alexander di sembunyikan, dan beristirahat sampai tubuh Alexander kembali pulih.
Rumah Yoana masih sepi, Ayah dan Kakaknya masih di cafe.
Sementara Ibunya pada jam segini, pasti sudah berada di dapur, bersama Bibi dan asisten rumah tangga mereka yang lainnya, mempersiapkan bahan-bahan membuat dessert untuk di bawa besok hari ke cafe.
Yoana membawa Alexander masuk ke dalam kamarnya.
Tubuh pria itu masih lemah walau sudah mulai siuman sepenuhnya, dan matanya sudah terbuka.
Pria itu sedari tadi terus saja menatap Yoana tidak berkedip, dan saat dalam boncengan Yoana tadi, pelukan Alexander di pinggang Yoana terasa lama kelamaan semakin erat.
"Ayo masuk, malam ini istirahat di rumahku dulu, jangan pulang dulu, takutnya mereka akan mencelakaimu lagi!" kata Yoana.
Yoana mengunci pintu kamarnya, lalu memapah Alexander untuk duduk ke tepi tempat tidurnya.
"Apa yang terjadi padaku?" tanya Alexander dengan suara lemah, tubuhnya masih terasa lemas.
"Kau di bius, dan akan di lemparkan dari gedung berlantai lima, untung aku melihat mereka menyeretmu masuk ke dalam bangunan yang belum selesai itu, kalau tidak kau sudah...!" Yoana tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
Tubuhnya kembali gemetar, dia kembali ingat perjuangannya tadi untuk menyelamatkan Alexander.
Hidup Alexander di dunia nyata, sama seperti di dunia novel yang dimasukinya beberapa hari yang lalu.
Alexander memegang kepalanya yang terasa masih pusing, dan merasakan tubuhnya masih lemas.
Dia mencoba mengingat apa yang terjadi terakhir kali dia lakukan dan alami.
"Setelah aku pulang dari cafe, aku kembali ke kantor, lalu...!"
"Tunggu!" sahut Yoana memotong perkataan Alexander, saat mendengar Alexander menyebut cafe.
Pria itu menatap Yoana heran.
"Apa barusan yang kau katakan?" tanya Yoana menatap mata Alexander dengan tajam.
"Setelah pulang dari cafe...!"
__ADS_1
"Cafe?" tanya Yoana dengan cepat, kembali memotong perkataan Alexander.
Yoana semakin bingung dan masih tidak percaya dengan perkataan Alexander.
"Iya, tadi siang kita bertemu di cafe keluarga mu, aku memesan kopi buatanmu" kata Alexander dengan suara yang masih lemah.
Yoana sontak terduduk di lantai mendengar penjelasan dari Alexander, jadi pria itu memang Alexander.
Bukan kembarannya.
Tapi yang ditemuinya di cafe tidak memiliki cacat sedikitpun.
"Yoana..." Alexander mengulurkan tangannya meraih Yoana yang terduduk di lantai.
Tubuh Alexander yang masih lemah, merosot jatuh ke lantai dan terduduk.
"Kau...yang memesan kopi?" tanya Yoana menatap Alexander dengan nada kecewa.
"Iya" jawab Alexander.
Yoana sontak mundur, menjauh dari Alexander.
Melihat Yoana menjauh, wajah Alexander langsung berubah, Dia terlihat merasa terluka dengan sikap Yoana yang tiba-tiba berubah.
"Yoana..!" panggil Alexander mengulurkan tangannya untuk meraih Yoana.
"Tidak! kau bukan dia, aku telah salah mengenal orang!" ujar Yoana kecewa semakin mundur menjauhi Alexander.
"Bukan, kau bukan dia, kau berbohong!" sahut Yoana menggelengkan kepalanya
"Aku sudah begitu lama mencarimu Yoana!"
Seketika wajah Yoana terlihat kaget mendengar perkataan Alexander, 'sudah lama?'
"Apa maksudmu, kau pembohong!" sahut Yoana bergetar, dia teringat perkataan Lili.
Alexander dan Lili sudah bertunangan.
"Aku tidak bohong, kau gadis yang selalu datang ke dalam mimpi ku, kau begitu nyata saat hadir di dalam mimpiku, sampai aku rasanya tidak ingin bangun, agar kita selalu bersama!" kata Alexander dengan nada yang lirih.
Yoana terdiam ditempatnya mendengar apa yang dikatakan Alexander.
Gadis itu tidak berkedip menatap Alexander, dalam mimpi? apa maksudnya? pikir Yoana.
"Suatu hari aku mencicipi kopi di cafe keluarga mu, dan aku sangat terkejut, karena kopi buatan gadis yang ada di dalam mimpi ku hampir sama dengan kopi buatan di cafe milik keluarga mu, dan aku selalu datang ke sana hanya untuk mencicipi kopi buatan keluarga mu!"
Yoana masih terpaku menatap Alexander, masih bingung dengan apa yang dikatakan pria itu.
__ADS_1
"Akhir-akhir ini, aku tidak pernah memimpikan gadis itu lagi, aku sangat sedih dan merasa begitu kehilangan, dia adalah kekasihku di dalam mimpi, sampai tidak terduga aku memesan kopi buatanmu, aku sungguh terkejut, sampai aku ingin meledak begitu bahagianya!" kata Alexander menatap mata Yoana dengan lekat.
"Tapi pria yang kutemui di cafe, tidak memiliki bekas luka!" sahut Yoana dengan nada getir.
"Aku memakai filter silikon wajah, dan menyamarkannya dengan foundation agar lukanya tidak kelihatan!" jawab Alexander dengan nada getir juga, sama seperti Yoana.
Mereka sama-sama saling terluka dengan sikap mereka, yang tidak mereka sadari kalau mereka saling salah paham.
"Tadi aku mendengar kau memanggilku sayang, apakah kau sudah mengenalku sebelumnya, dan diam-diam menyukaiku?" tanya Alexander dengan tatapan penuh harap.
"Ti..tidak, mana mungkin!" ujar Yoana berbohong, matanya menghindari tatapan mata Alexander.
"Aku begitu jelas mendengar kau memanggilku dengan sebutan sayang"
"Kau salah dengar, mana mungkin aku menyukai seorang pria yang sudah memiliki tunangan!" sahut Yoana dengan nada getir.
"Tunangan?"
"Ya, kau kan sudah bertunangan!"
"Siapa yang mengatakannya?" tanya Alexander dengan kening berkerut.
Yoana tidak menjawab, gadis itu buang muka tidak ingin menatap mata Alexander.
"Yoana, kau salah paham, aku belum bertunangan!"
Yoana spontan menoleh memandang Alexander, dia menatap Alexander tidak percaya.
"Wanita cantik bernama Lili itu, bukakah dia tunangan mu?" tanya Yoana dengan nada sinis.
Mata Alexander terbelalak mendengar Yoana menyebutkan nama Lili.
"Kau berbohong padaku Yoana, kau sudah mengenalku, kenapa kau bisa tahu Asisten ku bernama Lili!"
"I..itu, aku...!" Yoana tidak bisa melanjutkan perkataannya.
Perlahan Alexander mendekati Yoana, dan meraih tangan gadis itu.
"Aku belum bertunangan dengan siapapun, jangan dengarkan perkataan orang lain yang mengatakan tentang diriku dekat dengan seorang perempuan, aku hanya menyukai gadis yang selalu ada dalam mimpi ku!" kata Alexander menggenggam tangan Yoana dengan lembut.
Yoana diam saja tangannya di pegang Alexander, diam-diam perasaannya senang mendengar Alexander tidak punya hubungan dengan Lili.
"Aku begitu senang, ternyata gadis dalam mimpiku itu bukan halusinasi saja, ternyata ada di dunia nyata" kata Alexander membawa jemari Yoana ke pipinya.
Wajah Yoana langsung bersemu merah, merasakan pipi Alexander dalam telapak tangannya.
Yoana menatap Alexander dengan lekat, dia juga senang bisa bertemu dengan pria yang dia pikir hanya halusinasi dalam dunia kertas saja.
__ADS_1
Ternyata pria yang sudah mencuri hatinya, ada di dunia nyata, dan sekarang mereka sedang berhadap-hadapan mengungkapkan perasaan mereka.
Bersambung.....