
Alexander menarik Yoana semakin merapat padanya, tangannya dengan perlahan mengelus punggung polos gadis itu.
"Yoana, maukah kau menikah dengan ku, aku hanya menginginkan dirimu menjadi istriku" kata Alexander di antara ciumannya di dada Yoana.
Yoana mendongakkan wajahnya merasakan bibir Alexander yang panas menyesap ujung dadanya.
Yoana tidak tahu entah kenapa, tubuhnya pasrah saja disentuh dan dicium Alexander.
Rasa sayang pada pemeran utama yang dirasakan Yoana, seperti sesuatu yang membuatnya rela menyerahkan tubuh dan hatinya pada Alexander.
Apakah dia mulai mencintai Alexander?
Pikiran Yoana berkecamuk, memikirkan perasaannya pada Alexander.
Jujur di dasar hatinya yang paling dalam, Yoana tidak ingin berpisah dari Alexander, dia ingin tetap berada disamping pria itu.
Karena dia merasakan apa yang dilakukan Alexander padanya, terasa begitu nyaman, dan Yoana menyukainya.
Tangan Yoana perlahan bergerak merayap ke tengkuk Alexander.
Jemarinya dengan perlahan meremas rambut di tengkuk Alexander, memasukkan jemarinya ke antara rambut tipis Alexander tersebut.
Jemari Yoana tidak berhenti membelai tengkuk Alexander, membiarkan Alexander memperdalam ciumannya di dadanya yang lembut.
Apa yang telah kulakukan? pikir Yoana bingung dengan dirinya, dia begitu menikmati apa yang dilakukan Alexander pada tubuhnya.
"Sayangku Yoana, tubuhmu begitu lembut, aku bisa gila sayang, ini sangat menyenangkan" gumam Alexander semakin dalam menyesap dada Yoana yang lembut.
Sampai terdengar suara berdecak dari bibir panas Alexander yang tengah menyesap dada itu.
"Alexander" gumam Yoana parau, tubuhnya terasa lemas merasakan tindakan Alexander tersebut.
"Ya, sayang" gumam Alexander yang terdengar parau juga.
"A..aku juga mencintaimu" gumam Yoana tanpa sadar, perkataan nya itu keluar dari mulutnya dengan lancar tanpa ada beban ataupun paksaan.
Bukan karena kasihan, atau karena mengagumi Alexander sebagai pemeran utama pria yang malang.
Itu murni keluar dari lubuk hatinya yang dalam, dan tulus.
Alexander menghentikan bibirnya menyesap ujung dada Yoana, dia merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Yoana" gumam Alexander seperti orang bodoh.
"Hemm" gumam Yoana menjawab Alexander, tubuh Yoana masih menunggu ciuman dari Alexander lagi.
Dengan tatapan rasa sayang, Yoana menatap mata Alexander yang terkejut.
"A..apa aku tidak salah dengar? barusan kau mengatakan apa sayang?" tanya Alexander menatap mata Yoana dengan lekat.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu" gumam Yoana sembari tersenyum manis.
Wajah Alexander langsung berbinar mendengar kembali apa yang dikatakan Yoana.
Tubuh Yoana dengan cepat didekap Alexander dengan erat, dia begitu bahagia mendengar pengakuan cinta dari Yoana.
"Sayangku Yoana, terimakasih sudah mencintaiku, aku bahagia sekali mendengarnya, aku akan melamar mu, aku tidak ingin berlama-lama berpacaran, aku tidak ingin kau berubah pikiran nantinya!" ucap Alexander dengan bahagianya.
Mata Alexander terasa panas, dia sangat terharu karena cintanya di balas Yoana.
"Aku tidak akan berubah pikiran, aku akan selalu mencintaimu Alex" Yoana mengelus wajah Alexander yang terlihat begitu senang sekali.
"Terimakasih sayang" Alexander kembali memeluk tubuh Yoana dengan erat.
"Kenapa kau berterimakasih, aku tulus mencintaimu Alex" ujar Yoana membalas pelukan Alexander.
"A..aku merasa bersyukur cintaku akhirnya kau balas, apa kau tidak tahu perasaan ku selama ini, merasa merana memikirkan kondisi fisik ku yang tidak disukai oleh siapapun!" kata Alexander melepaskan pelukannya.
"Alex..." Yoana tentu saja tahu apa yang dialami Alexander.
"Mereka hanya berpura-pura ramah didepan ku, tapi kenyataan nya mereka begitu bergidik kalau berdekatan denganku, apalagi melihat wajahku yang cacat, mereka hanya melihat harta dan posisiku sebagai ahli waris yang sah karena memiliki kekayaan dari Papaku dan Kakekku!"
"Alex..." Yoana merasakan matanya panas.
Tentu saja aku tahu semuanya Alex, bisik hati Yoana ikut merasakan betapa kesepiannya Alexander selama ini.
Kembali air mata Alexander mengalir.
"Maukah kau menikah dengan ku Yoana?" tanya Alexander dengan hati-hati, dan penuh harap.
"Iya, aku mau!" jawab Yoana menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Yoana, sayangku...aku senang sekali!" Alexander semakin erat memeluk tubuh Yoana.
Yoana juga meneteskan air matanya, dia ikut merasa bahagia.
Dia tidak perduli lagi kalau tetap selamanya terjebak di dunia kertas ini, dia ingin selalu berada disamping Alexander.
Mencintai Alexander adalah kebahagiaan nya.
"Ayo, selesaikan mandinya, tubuhmu nanti bisa kedinginan Alex!" kata Yoana menepuk dengan lembut punggung polos Alexander, lalu menarik tubuhnya dari pelukan Alexander.
"Aku belum puas, sebentar!" Alexander menarik tengkuk Yoana, lalu mencium bibir Yoana dengan lembut.
Mengulum bibir itu dengan penuh perasaan, Alexander ingin memuaskan rasa bahagianya.
Tanpa sadar air mata Alexander terus saja mengalir dari sudut matanya, pria bertubuh tinggi itu menangis begitu bahagianya.
Bahagia menemukan gadis yang mencintainya apa adanya, dan gadis yang sangat peduli padanya.
__ADS_1
Sampai Yoana kehabisan nafas, barulah Alexander melepaskan ciumannya.
Wajah Yoana tampak memerah, dan bibirnya terlihat membengkak.
Alexander tersenyum senang diantara air matanya yang mengalir, menatap penampilan Yoana yang menggairahkan.
"Alex..." Yoana tertegun menatap Alexander yang menangis bahagia, sama seperti dirinya.
Jemari Yoana mengelap air mata Alexander dengan lembut, lalu kemudian kembali memeluk Alexander dengan erat.
Yoana begitu bahagia melihat Alexander yang bahagia, karena membalas cinta pria itu.
Mereka saling berpelukan seperti itu beberapa saat, merasa begitu senang karena mereka akhirnya saling mencintai.
"Aku akan mengatur hari pernikahan kita sayang, katakan saja mau seperti apa pernikahan yang kau inginkan" kata Alexander mengelus rambut Yoana yang sudah basah.
"Terserah padamu saja" kata Yoana tersenyum senang, gadis itu memejamkan matanya menikmati belaian tangan Alexander pada rambutnya.
"Baiklah" kata Alexander begitu senangnya.
Mereka pun kemudian membersihkan diri.
Dan, malam harinya karena Alexander tidak mau ikut dengan Ibunya menghadiri undangan makan malam mantan rekan bisnis Ayahnya, Angeline, Ibunya Alexander akhirnya memutuskan tidak pergi memenuhi undangan tersebut.
Di sini, di meja makan, mereka bertiga tampak duduk untuk makan malam bersama diruang makan.
Wajah Angeline terlihat ditekuk, tidak senang melihat Yoana duduk diantara mereka berdua.
Alexander tahu Ibunya tidak senang melihat Yoana makan satu meja dengan Ibunya tersebut.
"Kalau Mama merasa tidak senang dengan Yoana, kami makan di luar saja, Mama makanlah sendiri!" sahut Alexander seraya bangkit dari duduknya.
"Alexander! kau jadi semakin tidak sopan pada Mama semenjak perempuan ini menjadi asisten pribadi mu!" ujar Angeline dengan marah.
Brakk!
Wanita paruh baya itu memukul meja makan dengan tangannya merasa sangat kesal.
"Mama! cukup! Yoana calon istriku, tentu saja dia boleh makan sama dengan kita, dia calon menantu Mama!" sahut Alexander dengan kesalnya.
"Aku tidak sudi!" teriak Angeline menatap tajam Alexander.
Ruang makan terasa mencekam.
Yoana menghela nafas dengan panjang, dia merasa dilema.
Ternyata Ibunya Alexander benar-benar membenci dirinya.
Bersambung.....
__ADS_1