
Yoana memandang Alexander dengan lekat, menatap setiap inci wajahnya.
Lelaki yang tampan dan akan sempurna ketampanan nya jika luka diwajahnya tidak ada.
Alexander seorang pewaris dari kalangan orang kaya nomor satu di kota ini, pasti banyak wanita yang akan mengejarnya,
Tapi karena cacat wajahnya, dan trauma yang pernah di alaminya, membuat banyak wanita jadi berpikir dulu untuk mendekati Alexander.
Tangan Yoana perlahan mengelus pipi Alexander, kenapa pemeran utama dalam plot cerita aslinya harus memiliki kehidupan yang sangat menyedihkan.
Yoana merasa tidak senang dan sangat kesal dengan penulis novel aslinya, sepertinya penulis itu ada semacam dendam pada seorang pria.
Alexander tersenyum menatap Yoana, perlahan tangannya memegang jemari Yoana yang mengelus pipinya.
"Aku akan selalu ada di sisimu, dan akan menjagamu dari orang-orang yang akan mencelakai mu!" kata Yoana dengan nada perhatian.
"Terimakasih Yoana, seharusnya kata-kata itu yang akan ku ucapkan padamu!" kata Alexander tersenyum senang.
Perlahan wajahnya menunduk, menarik tengkuk Yoana dan mendaratkan ciumannya ke bibir Yoana.
"Aku mencintaimu Yoana" gumam Alexander diantara ciumannya.
Sudah yang kesekian kali Alexander mengucapkan kata cinta pada Yoana, itu membuat hati Yoana semakin terharu.
Yoana menyambut ciuman Alexander, membalas mengulum bibir Alexander, dan membiarkan Alexander menyusupkan lidahnya mencari lidahnya.
Mereka saling mengulum dengan perlahan.
Deburan ombak menyentuh kaki mereka yang tidak memakai alas kaki, dan angin laut menerpa tubuh mereka yang saling berpelukan menikmati kemesraan mereka.
Yoana sampai kehabisan nafas, barulah Alexander melepaskan ciumannya.
Wajah mereka terlihat memerah.
__ADS_1
Mereka saling menatap dengan tatapan gairah yang masih tertinggal.
"Sudah mulai larut malam, sebaiknya kita pulang!" kata Yoana sembari mengelap bibir Alexander yang basah dengan jemarinya.
"Ya, kau benar, mari kita pulang!" ucap Alexander tersenyum bahagia, lalu mengecup jemari Yoana yang mengelap bibirnya.
Alexander meraih sepatu mereka berdua yang mereka lepaskan tidak jauh dari pantai, dan menentengnya di kedua tangannya.
Yoana menyelipkan tangannya merangkul lengan Alexander.
Alexander tersenyum senang melihat Yoana merangkulnya, perasaannya begitu bahagia Yoana begitu suka menempel padanya.
Mereka kembali naik dengan taksi yang sama, yang sedari tadi menunggu mereka.
Tidak lama kemudian Alexander dan Yoana sampai di Mansion.
Di ruang utama Ibu Alexander ternyata masih menunggu mereka pulang, dan tidak sendirian.
Tampak sepupu Alexander ada juga diruang utama tersebut, bersama seorang wanita, Lili!
Kenapa perempuan jahat ini masih ada di sini? bukankah dia sudah dipecat dan diusir? pikir Yoana terkejut melihat Lili ada juga di ruang utama menunggu mereka.
"Kenapa mereka ada di sini!" sahut Alexander marah, dia tidak memperdulikan pertanyaan Ibunya.
"Aku yang memanggil mereka!" kata Ibu Alexander.
"Kenapa Mama memanggil mereka, apa Mama tidak tahu betapa jahatnya mereka ini!" sahut Alexander dengan nada keras.
"Alexander! tutup mulutmu! jangan menuduh orang sembarangan, dari mana kau tahu mereka jahat, mereka di fitnah seseorang agar kau membenci mereka!" sahut Ibu Alexander dengan suara keras juga.
"Aku tidak mau mereka ada disini, Nick suruh mereka pergi!" sahut Alexander menoleh pada Nick yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Baik Tuan!" kata Nick.
__ADS_1
"Tahan! jangan menyuruh mereka pergi!" sahut Ibu Alexander dengan cepat berdiri dari sofa.
"Mama!" teriak Alexander marah.
"Kau telah di hasut oleh pembantu pribadimu, semua apa yang dikatakannya bohong, kau sungguh bodoh Alexander!" sahut Ibu Alexander berteriak marah.
Yoana memandang Lili yang diam-diam tersenyum sinis membalas tatapan Yoana, wanita jahat itu menyeringai mengejek Yoana.
Pasti mereka telah menghasut Mamanya Alexander! pikir Yoana memandang wajah Lili yang terlihat senang.
Kau pikir bisa memprovokasi ku ya! bisik hati Yoana panas, dia akan membuat Lili keluar dari Mansion itu.
"Siapa yang mengatakan aku menghasut mereka Nyonya, apakah ada buktinya?" tanya Yoana buka suara.
"Kau sudah menghasut sepupu Alexander tukang foya-foya, dan mengatakan Lili berusaha ingin mencelakai Alexander!" sahut Ibu Alexander dengan nada tidak senang.
"Memang benar!" jawab Yoana dengan cepat.
"Tidak ku sangka, kau ternyata sungguh lancang, apa kau punya bukti nya?" tanya Ibu Alexander dengan nada yang keras.
"Ya, aku punya buktinya!" jawab Yoana dengan tenang.
Jawaban Yoana itu, sontak membuat sepupu Alexander dan Lili terkejut.
Wajah mereka langsung terlihat berubah panik.
Ibu Alexander juga sama terkejutnya, dia tidak menyangka Yoana punya bukti.
Wanita paruh baya itu jadi terdiam ditempatnya. Dia jadi ragu untuk mempercayai antara siapa yang berkata jujur.
Kalau Yoana mempunyai bukti, berarti dia telah dibohongi dua orang yang duduk di sofa bersamanya itu.
Bersambung....
__ADS_1