Aku Ada Untukmu

Aku Ada Untukmu
38. Bukti yang membuat panik.


__ADS_3

Yoana memberi isyarat pada Nick.


Melihat kode dari Yoana, pengawal Alexander tersebut mengerti apa yang diinginkan Yoana.


Nick bergegas keluar dari ruangan itu untuk mengerjakan apa yang diinginkan Yoana.


"Anda menginginkan bukti, baiklah Nyonya, akan ku tunjukkan bukti apa yang telah ku dapat untuk meyakinkan anda, mengenai siapa mereka berdua sebenarnya!" kata Yoana dengan tenangnya.


"Jangan dengarkan dia Tante, dia pembohong! dia telah mencuci otak Alexander agar dapat mengendalikan Alexander!" sahut sepupu Alexander terlihat panik.


"Tutup mulutmu! Yoana tidak berbohong, dan juga tidak menghasut ku! semua apa yang dikatakan nya benar, dan aku hampir saja terjebak dengan rencana jahat wanita itu!" sahut Alexander tegas, dan menunjuk ke arah Lili.


Ibu Alexander spontan menoleh ke arah Lili.


Dan, sontak wanita itu terlihat panik, dengan cepat raut wajahnya dia buat setenang mungkin.


"Tidak Nyonya! putra anda telah di hasut pembantu pribadinya!" sahutnya dengan cepat.


"Bukankah kau yang berencana ingin menggoda Alexander agar bisa mengendalikan Alexander?" tanya Yoana dengan senyum menyindir.


"Tidak! bohong! itu tidak benar, kau memfitnah ku! aku bagian asisten koki, bagaimana aku bisa mendekati Tuan Alexander, kau yang selalu dekat dengannya! jadi hanya kau yang bisa mencoba untuk mendekatinya!" sahut Lili dengan kencang.


"Wah, pandai juga kau berbohong ya! siapa yang selama ini mencoba mengambil tugasku agar bisa dekat dengan Alexander, dan mencoba berbagai trik agar Alexander tergugah oleh pesona mu? dasar wanita murahan! padahal kau sudah memiliki kekasih, tapi karena kau ingin menaklukkan Alexander, karena punya perjanjian dengan dia!" sahut Yoana dengan kencang juga seraya menunjuk sepupu Alexander.


Wajah sepupu Alexander tampak terkejut mendengar perkataan Yoana, bagaimana dia tahu? pikirnya pucat.


"I..itu tidak benar! bohong! kau memfitnah ku!" teriak Lili panik.


"Oh ya, benarkah! bukankah kalian berencana ingin melenyapkan hidup Alexander agar dapat menguasai hartanya!" sahut Yoana lagi dengan senyuman menyeringai.


Sepupu Alexander dan Lili menatap Yoana terbelalak, seolah melihat hantu.


Dari mana dia bisa tahu? pikir mereka semakin panik.

__ADS_1


Ibu Alexander juga terkejut dengan apa yang dikatakan Yoana.


"A..apa?" tanyanya tidak percaya, dengan lemas tubuhnya yang sudah tua terduduk dengan lemas ke sofa.


"Dia bohong Tante! jangan percaya apa pun yang dikatakannya, aku tidak mungkin sejahat itu ingin membunuh saudaraku sendiri!" sahut sepupu Alexander bergegas melangkah dengan cepat ke hadapan Ibu Alexander.


Lalu berlutut di depan wanita paruh baya itu dengan wajah yang memelas, meyakinkan Ibu Alexander bahwa apa yang dikatakannya benar.


"Dia hanya orang lain dan hanya seorang pembantu, aku keluarga mu Tante, mana mungkin aku mencelakai keluarga ku sendiri!" sahut sepupu Alexander dengan nada yang begitu sedih.


Lili di tempatnya tidak bergerak, ternyata Yoana seseorang yang tidak terduga, seorang pembantu yang dapat mengetahui niat mereka mendekati Alexander.


Siapa dia sebenarnya? pikir Lili gemetar.


Nick tidak berapa lama kemudian datang kembali masuk ke dalam ruangan tersebut, dan di tangannya memegang sesuatu.


"Ini bukti yang dapat membuktikan kalau mereka memang berniat jahat pada Alexander!" kata Yoana mengacungkan sebuah amplop berkas pada Ibu Alexander.


"Cepat berikan buktinya!" kata Ibu Alexander setengah ragu, karena ada perasaan bimbang dengan apa yang dikatakan keponakannya tersebut.


"Baik!" sahut Yoana.


Sepupu Alexander memberi kode pada Lili tanpa ada yang menyadari, dan wanita itu tiba-tiba berlari ke arah Alexander.


"Tuan, ku mohon jangan seperti ini, aku mengaku salah, aku tidak akan lancang lagi memasak makanan anda!" sahut Lili berlutut dihadapan Alexander, dan mencoba memegang kaki Alexander.


Dengan cepat Alexander mundur dua langkah, dan memandang Lili dengan tatapan marah.


"Dasar perempuan aneh! dasar pembohong! mau mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, agar bukti yang ada tidak diberikan pada Mama ku kan!" sahut Alexander dengan tatapan tajam, dan merasa jijik dengan Lili yang mencoba ingin menyentuhnya.


"Bu..bukan seperti itu, aku tidak ada mencoba mencegah bukti yang ada agar diperlihatkan pada Nyonya besar, karena semua bukti yang ada, semuanya itu palsu!" sahut Lili dengan nada yang kasihan.


"Nick, panggil petugas keamanan, cepat!" teriak Alexander dengan nada marah.

__ADS_1


"Baik Tuan!"


Dengan cepat Nick bergegas keluar dari ruangan tersebut, dan tidak berapa lama kemudian dia kembali dengan tiga orang petugas keamanan.


"Singkirkan dia dari hadapanku!" sahut Alexander memerintah kan sekuriti untuk menarik Lili.


"Tidak! Tuan, tolong! maafkan aku!" teriak Lili berontak dari pegangan tangan sekuriti yang berupaya menariknya keluar dari ruangan tersebut.


"Alexander! kau sungguh kejam, dia hanya seorang wanita! kau tidak punya perasaan sama sekali pada seorang wanita, karena itulah kau tidak akan pernah memiliki seorang kekasih, kau sangat kejam!" teriak sepupu Alexander.


"Diam kau! jangan membuat aku marah, kalian yang kejam! mau mencoba memprovokasi ku! jangan pernah mimpi! aku tahu apa yang telah kulakukan!" sahut Alexander dengan suara keras.


"Alexander, kau sudah berubah, Mama tidak menyangka kau bisa seperti ini, kau bukan seperti Alexander putraku yang penurut dan tidak kasar, kau sudah di pengaruhi gadis itu!" sahut Ibu Alexander dengan suara bergetar dengan perasaan yang terlihat lemah.


"Terserah Mama mau bicara apa, lihat dulu bukti yang ada baru Mama bicara seperti itu padaku!" kata Alexander kecewa, dia tidak menyangka Ibunya lebih mempercayai perkataan orang lain, dari pada putranya sendiri.


Yoana meletakkan bukti yang ada ditangannya ke atas meja, dihadapan Ibu Alexander.


"Nyonya lihat sendiri bukti yang ada didalam amplop itu, baru setelah itu baru bicara!" kata Yoana.


Ibu Alexander mengulurkan tangannya meraih amplop tersebut.


Tapi, belum sempat tangannya meraih amplop itu, sepupu Alexander dengan cepat meraih amplop tersebut.


Lalu, dengan cepat amplop tersebut dia robek menjadi serpihan kecil.


"Jangan percaya Tante, ini hanya bukti palsu yang direkayasa gadis itu!" kata sepupu Alexander, lalu membuang berkas yang telah dia robek ke dalam tong sampah.


Ibu Alexander terkejut dengan tindakan keponakannya tersebut, dia tidak menyangka keponakannya itu terlihat begitu panik dan merobek berkas tersebut.


Alexander dan Yoana juga terkejut melihat tindakan sepupu Alexander itu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2