Aku Ada Untukmu

Aku Ada Untukmu
71. Bagaimana caranya dia membeli...


__ADS_3

Alexander menarik tubuh Yoana ke atas pangkuannya, lalu menghirup aroma tubuh Yoana yang terasa menggodanya.


Aroma yang lembut dan menggairahkan.


"Ayo kita mandi, ini sudah siang!" ujar Yoana.


"Sebentar sayang, aku ingin mengecup mu lagi" gumam Alexander mencium leher Yoana, "Kau tahu tidak sayang, tadi malam seseorang mengatakan padaku, ada seseorang yang ingin bicara padaku mengetahui tentang rahasia mu, dia mengatakan kalau orang itu menunggu aku di lantai lima dengan nomor kamar seratus lima!"


"Apakah kau kenal dengan orang itu? yang berbicara denganmu?" tanya Yoana sembari mendesah tanpa sadar, karena bibir Alexander yang menjalar semakin turun ke bawah.


"Aku tidak kenal!" gumam Alexander semakin turun ke bawah, mengecup dada lembut Yoana.


"Jangan-jangan di kamar itu telah menunggu seorang wanita untuk menjebak mu!" ujar Yoana serak, tangannya meremas dengan lembut rambut Alexander yang mengecup dadanya.


"Iya, bisa jadi sayang, tapi untung lah kau datang, akhirnya aku terselamatkan, terimakasih sayang, aku semakin mencintaimu" gumam Alexander di sela-sela ciumannya pada dada Yoana.


Gairah Alexander kembali lagi ingin merasakan Yoana, dia sadar kalau mereka seharusnya melakukan ini saat mereka sudah sah menikah.


Tapi hati nurani Alexander tidak tahan kalau tidak menyentuh Yoana, rasa cintanya yang begitu dalam membuat dia menginginkan Yoana.


Karena seseorang melakukan hal yang jahat padanya, akhirnya mereka berdua melakukan malam pertama mereka lebih awal.


Dan, karena ini yang pertama kali bagi mereka berdua, Alexander merasa jadi ketagihan.


"Kamar nomor seratus lima, cepat perintahkan Nick memeriksa kamar tersebut, periksa cctv yang ada di sana untuk melihat siapa yang memasuki kamar tersebut!" sahut Yoana dengan nada serak, ia merasakan bibir Alexander menyesap ujung dadanya.


Alexander menghentikan apa yang dilakukannya pada dada Yoana tersebut, dan menimbulkan bunyi suara, saat Alexander melepaskan bibirnya dari sana.


Dan membuat tubuh Yoana meremang akibat ulah Alexander tersebut.


Lengan panjang Alexander meraih ponselnya, lalu menelepon Nick.


"Nick, periksa kamar nomor seratus lima, jangan ada yang terlewat sedikitpun!" ujar Alexander di ponselnya setelah Nick mengangkat teleponnya.


"Sudah sayang!" ujar Alexander meletakkan kembali ponselnya ke atas meja kecil di samping tempat tidurnya.


"Bagus, sekarang mari kita mandi, aku sudah mulai lapar!" ujar Yoana.

__ADS_1


"Baik, Ayo!"


Alexander perlahan menurunkan kakinya ke lantai, sementara Yoana tidak di lepaskannya.


"Pasti masih sakit, jangan jalan dulu!" ucap Alexander membopong Yoana masuk ke dalam kamar mandi.


Dengan lembut, Alexander meletakkan Yoana ke dalam bathtub, lalu mengisi bathtub dengan air hangat.


Alexander mengambil sabun, lalu masuk ke dalam bathtub.


Alexander menyabuni tubuh Yoana yang penuh dengan tanda merah hasil perbuatannya.


Alexander kembali merasakan ereksi melihat penampilan Yoana, membuat tubuhnya ingin merasakan Yoana lagi.


Tapi Alexander mencoba untuk menahannya, dia harus bisa menahan diri, itu akan mereka lakukan lagi nanti kalau sudah menikah.


Tidak berapa lama, merekapun selesai mandi.


Alexander mengambil handuk untuk dirinya, setelah itu mengambil satu lagi untuk Yoana.


"Duduk di sini dulu, aku akan memesan sarapan untuk di bawa ke kamar!" sahut Alexander, lalu berjalan ke interkom.


Yoana mengedarkan pandangannya ke seputar kamar Alexander, ini baru diperhatikan Yoana ruangan kamar Alexander.


Susunan dan dekorasi kamar Alexander, ternyata masih sama seperti terakhir kali Yoana masuk ke dalam dunia novel.


Hanya saja kurang rapi, karena Alexander tidak memperbolehkan siapapun masuk ke dalam kamarnya.


Setelah selesai memberitahu pelayan untuk membawa sarapan ke kamar Alexander, pria itu masuk kedalam walk in closet.


Sementara Yoana yang duduk di sofa, tidak tahan ingin merapikan kamar Alexander.


Masih mengenakan handuk melilit tubuhnya, Yoana mulai merapikan kamar Alexander.


Terasa ngilu di daerah selangkangannya saat Yoana bergerak melangkah.


Tapi Yoana menahannya agar kamar Alexander terlihat rapi, dia terus saja merapikan kamar Alexander.

__ADS_1


Menarik kain sprei yang terkena noda darahnya, lalu menyingkirkan nya ke keranjang tempat pakaian kotor.


"Apa yang kau lakukan sayang?" Alexander keluar dari walk in closet, dan terkejut melihat Yoana merapikan kamarnya.


"Aku merapikan kamarmu, sangat berantakan!" ujar Yoana berjalan menuju walk in closet.


Tapi, tangan Alexander langsung menahan tubuh Yoana yang akan masuk ke dalam walk in closet.


"Duduk saja di sofa, biarkan aku yang mengerjakannya!" kata Alexander lalu mengangkat tubuh Yoana, dan membawanya kembali ke sofa.


"Duduk di sini, jangan berjalan dulu, itu pasti masih sakit!" ujar Alexander dengan nada marah, karena Yoana turun dari sofa.


Alexander meletakkan pakaian yang sedari tadi sudah di pegangnya saat keluar dari walk in closet.


Alexander membuka handuk Yoana, lalu memakai bra pada Yoana.


Yoana merasa heran, kenapa Alexander memiliki bra dan pakaian dalam di walk in closet.


"Ini bra siapa?" tanya Yoana dengan nada penuh curiga.


"Tentu saja bra mu sayang, aku sengaja membelinya karena mirip dengan bra yang kau pakai saat aku bertemu dengan mu didalam mimpi ku!" ujar Alexander tersenyum senang.


Yoana terdiam ditempatnya, dan saat Alexander memakai kan baju kepadanya, Yoana diam saja.


Yoana berpikir, bagaimana caranya Alexander membeli pakaian dalam wanita, apakah dia menyuruh karyawan wanita di kantornya? pikir Yoana.


Dan, beberapa detik kemudian, terdengar suara ketukan di pintu kamar.


"Sarapan kita sudah datang!" ujar Alexander, lalu melangkah ke pintu kamar.


Alexander membuka pintu, lalu menerima nampan berisi dua roti isi dan satu teko kecil teh panas serta dua cangkir teh kosong.


Alexander kembali menutup pintu kamar, dan membawa sarapan ke meja sofa.


Yoana sudah selesai berpakaian, kemudian mereka pun sarapan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2