Aku Ada Untukmu

Aku Ada Untukmu
70. Menyelidiki pelakunya.


__ADS_3

Yoana mendengar suara berisik yang samar-samar, terasa jauh tapi sepertinya tidak jauh.


Perlahan dengan enggan Yoana membuka matanya, cahaya terang yang masuk ke dalam kamar membuat mata Yoana silau.


Yoana mengangkat tangannya untuk menutupi matanya yang terasa silau.


Dari sela-sela jemarinya, Yoana mengintip keadaan di sekelilingnya.


"Sudah bangun sayang!" sahut suara bariton yang terdengar di sampingnya.


Yoana reflek menoleh ke sampingnya.


Tampak Alexander duduk di sebelahnya bersandar di kepala tempat tidur tidak memakai pakaian, hanya selimut menutupi bagian pinggul sampai kakinya.


Pria itu tampak tersenyum menatap Yoana.


Yoana melirik sekelilingnya, kini dia tahu di mana dia sekarang. Di kamar Alexander.


Yoana mendengar lagi suara berisik yang terdengar samar-samar tadi, ternyata di luar pintu kamar Alexander.


"Buka pintunya Nick!" itu suara Ibu Alexander berteriak.

__ADS_1


"Maaf Nyonya, saya tidak bisa membuka pintu kamar Tuan muda, password pintunya telah di ganti Tuan muda!" jawab Nick dengan tenang.


"Kau sebagai asistennya harus mengetahui password pintu kamar Alexander, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya di dalam kamar, dan pintu kamar tidak bisa di buka, kau sebagai asisten tidak ada gunanya!" teriak Ibu Alexander.


Nick diam tidak menjawab teriakan Ibu Alexander tersebut.


"Awas! biar ku gedor pintu kamarnya, aku mau tahu, apakah dia baik-baik saja di dalam kamar!" ujar Ibu Alexander memerintahkan Nick menyingkir dari depan pintu kamar Alexander.


"Maaf Nyonya, Tuan muda masih tidur, kenapa anda terlihat begitu panik, memangnya apa yang terjadi dengan Tuan muda?" tanya Nick dengan nada curiga.


"Ti..tidak, aku hanya ingin memastikan keadaannya, tadi malam seseorang mengatakan kepada ku, kalau dia pulang lebih awal dari pesta, jadi aku khawatir dengan dirinya!" ujar Ibu Alexander sedikit gelagapan menjawab pertanyaan Nick.


"Sejak kapan anda perduli dengan Tuan muda, Nyonya?" tanya Nick mengerutkan keningnya memandang Nyonya besarnya tersebut.


"Jangan khawatir Nyonya, Tuan muda di antar pulang dengan asisten pribadinya tadi malam, Tuan muda aman, saya sendiri yang melihat dengan mata kepala saya sendiri!" ujar Nick masih dengan tenang.


"Oh, iya! asisten baru Alexander itu sepertinya sudah berbuat sesuatu kepada Alexander, wanita itu harus di pecat!" sahut Ibu Alexander lagi menyuarakan ketidak kesukaannya pada Yoana.


"Maaf Nyonya, kalau masalah asisten pribadi Tuan muda, itu hanya Tuan muda yang memutuskan sendiri, apakah asistennya mau dipecat nya atau tidak!" sahut Nick dengan tenang.


Tidak terdengar lagi suara ribut di luar kamar, hening sebentar.

__ADS_1


Yoana memandang Alexander yang terlihat tenang saja menatapnya tersenyum.


Tangan Alexander menarik Yoana mendekat padanya.


"Apakah masih sakit sayang?" tanya Alexander dengan nada khawatir.


"Apa kau tidak merasa aneh dengan perkataan Mamamu? dia memaksa Nick untuk memastikan keadaanmu, apakah dia yang melakukan itu padamu?" tanya Yoana dengan kening berkerut tidak menjawab pertanyaan Alexander.


"Lihat, pasti sakit sekali kan sayang!" sahut Alexander tidak menjawab Yoana.


Alexander melihat bercak darah yang sudah mengering di atas kain sprei, bekas pembukaan selaput Yoana.


"Sayang, kita harus secepatnya menikah!" ujar Alexander membawa Yoana ke dalam dekapannya.


Yoana tidak menjawab Alexander, dia membiarkan saja Alexander mendekap dirinya.


"Aku sudah memerintahkan Nick menyelidiki siapa yang menaruh obat perangsang ke dalam anggur yang ku minum di pesta itu, mungkin juga Mama yang melakukan nya, tapi kita perlu bukti untuk menanyakan kepada Mamaku!" ujar Alexander mengelus punggung Yoana yang polos.


"Oh!" ternyata Alexander sudah memberikan arahan pada Nick untuk menyelidiki masalah tadi malam.


Perasaan Yoana menjadi tenang, setelah penyelidikan Nick berhasil, pasti akan ada petunjuk lainnya untuk di periksa.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2