Aku Ada Untukmu

Aku Ada Untukmu
54. Yoana yang berani.


__ADS_3

"Menyebalkan!" gumam Yoana seraya membawa sepeda motornya meluncur ke jalan raya.


"Lain kali kalau dia memprovokasi ku lagi, akan ku tinju wajahnya itu, seenaknya saja tiba-tiba memarahi orang, bikin kaget saja!" gumam Yoana lagi dengan kesal sambil menyetir sepeda motornya.


Sepanjang jalan Yoana melihat jalan, tetapi pikirannya tidak fokus melihat sekelilingnya.


Perasaan Yoana terasa hampa dan kosong, dia merasa sangat sepi dan sedih.


Pikirannya kembali teringat dengan Alexander, kekasihnya dalam novel yang menjadi favoritnya.


Tanpa sadar air matanya mengalir di sudut matanya, hatinya sangat sedih memikirkan cintanya berada di dunia kertas.


Siapapun akan menertawakannya, kalau seandainya dia menceritakan, bahwa dirinya pernah masuk ke dalam dunia novel.


Karena pikiran Yoana yang tidak fokus dengan jalan yang dia lihat, tanpa sadar Yoana membawa sepeda motornya ke pinggiran kota.


Jalanan terlihat sepi dan sedikit temaram, karena lampu jalan di sana tidak terlalu banyak di pasang.


Pinggiran kota yang tengah di bangun proyek pertokoan dan gedung Apartemen yang belum selesai.


Lokasi itu terasa sunyi.


Yoana baru tersadar setelah melihat sekelilingnya, karena perasaannya tadi begitu hampa, hingga tanpa sadar mengendarai sepeda motornya begitu saja tidak perduli ke arah mana dia pergi.


Sekarang Yoana memusatkan perhatiannya pada jalan yang ada di sekelilingnya, mencari jalan putar untuk kembali menuju rumahnya.


Di pinggiran bangunan yang belum selesai, Yoana melihat sebuah mobil berhenti.


Mata Yoana tajam melihat mobil tersebut, dia merasa heran di jam segini ada mobil mewah yang datang memantau bangunan yang belum selesai itu.


Karena merasa heran, hingga tanpa sadar mata Yoana jadi begitu fokus melihat ada beberapa orang lelaki keluar dari dalam mobil.


Dan, melihat ada seorang pria mereka tarik paksa dari dalam mobil.


Otomatis Yoana spontan mengerem sepeda motornya, merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Pria yang di tarik itu di bawa masuk ke dalam salah satu bangunan yang belum jadi itu, tubuh pria itu setengah di seret karena sepertinya pria itu tidak sadarkan diri.


Jantung Yoana berdegup kencang melihat kejadian itu, pria tersebut sepertinya akan di bunuh atau di aniaya beberapa pria itu.


Yoana mematikan sepeda motornya, dan mendorongnya menuju tempat yang sepi dan gelap.

__ADS_1


Di sana dia memperhatikan beberapa pria itu, yang sudah masuk ke dalam salah satu bangunan yang belum selesai tersebut.


"Aku harus bagaimana?" gumam Yoana begitu gelisah di tempatnya.


Kalau mau minta tolong pasti tidak sempat lagi, lokasi ini terlalu jauh dari kota, dan pasti tidak keburu menunggu seseorang datang untuk menolong.


Sebelum pertolongan datang, jangan-jangan pria itu sudah di bunuh oleh para lelaki tersebut.


Dia sudah melihat tindak kejahatan, tidak mungkin dia pergi begitu saja membiarkan pria itu dibunuh oleh beberapa pria tersebut.


Besok akan ada berita tentang kematian seseorang, dan dia melihat lelaki itu tanpa menolongnya.


Dia pasti akan merasa bersalah, begitu membaca berita kematian pria itu, yang bisa saja selamat kalau dia menolong, atau mencari bantuan.


Pasti hati nuraninya akan terganggu setiap hari memikirkan kematian pria itu.


Yoana menggigit ujung jarinya kebingungan, otaknya berputar untuk menolong lelaki yang di seret tersebut.


Tanpa berpikir lagi, Yoana bergegas dengan langkah hati-hati pergi ke arah bangunan yang di masuki beberapa pria itu.


Yoana mengendap-endap masuk kedalam bangunan, terdengar suara para pria itu sangat jelas.


"Cepatlah! tarik dia ke lantai atas, kita harus mendorongnya jatuh dari lantai atas, sesuai perintah dari Nona!" sahut salah satu pria itu dengan kesal.


"Iya, aku tahu! tapi tubuhnya begitu berat, kau bantulah kami, jangan hanya merepet saja!" sahut pria yang lain.


"Aih! hanya mengangkat tubuh satu orang saja kalian tidak bisa, badan saja yang kekar, tenaga tidak ada, menjengkelkan!" sahut pria pertama yang berbicara tadi.


"Huh! cobalah sendiri, kalau kau merasa punya tenaga yang kuat!" sahut yang lain.


"Baik, baik! aku akan angkat!"


Pria itu mengambil alih untuk menarik pria yang pingsan tersebut.


"Bagaimana?" tanya yang lain, melihat pria itu sepertinya kesusahan manarik tubuh pria yang pingsan.


"Huh! iya benar, berat! tubuhnya ternyata begitu berat!"


"Nah, sudah tahu kan, jadi jangan asik merepet saja!" sahut pria yang lain.


Mereka pun bersusah payah menarik pria yang pingsan tersebut.

__ADS_1


Yoana dengan pelan mengendap-endap menuju tangga yang di pergunakan para pria itu naik ke lantai atas.


"Kasihan si cacat ini, hidupnya sangat miris, karena harta warisan, dia harus dilenyapkan!" sahut salah seorang pria itu.


Cacat? pria yang mereka bawa itu cacat? bisik hati Yoana terkejut, sungguh keterlaluan! mereka tidak punya rasa kemanusiaan! ingin membunuh seseorang yang mereka anggap tidak penting!


Yoana mengepalkan tangannya, merasa tidak terima seseorang di perlakukan tidak adil.


Dia akan menolong pria yang tidak berdaya itu, bagaimana pun dia harus menggagalkan rencana beberapa pria itu.


Bangunan yang belum jadi itu, terlihat masih berantakan.


Segala kayu dan papan masih bertebaran di berbagai tempat, bahkan sisa kaleng cat tembok masih ada tertinggal di lantai.


Beberapa pria itu berhasil membawa lelaki yang pingsan itu ke lantai dua, dan sekarang mereka akan membawanya lagi ke lantai tiga.


Yoana melihat sekitar tempat dia mengendap-endap, ada beberapa papan dan sisa kaleng cat.


Tubuh mungil Yoana menempel ke sisi tempat yang gelap agar tidak terlihat oleh para lelaki itu.


Yoana melihat ada empat pria yang membawa pria yang pingsan tersebut.


Gadis itu melihat ada batu bata tergeletak di lantai, bergegas dia memungut batu bata tersebut.


Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, Yoana melemperkan batu itu ke arah salah satu pria yang berada paling belakang.


Bukk!


Luar biasa! Yoana melemper batu itu tepat di bagian tengkuk pria itu.


Brukk!


Tubuh pria itu ambruk ke lantai.


"Hei! kenapa kau! jalan saja tidak becus, bikin kaget saja!" teriak pria yang memimpin mereka.


Mereka pikir teman mereka tersandung sesuatu saat berjalan, karena gedung terlihat gelap, hanya cahaya bulan dari luar yang menerangi langkah mereka melalui jendela yang belum memakai daun jendala.


Di tempatnya Yoana gemetar, dia harus waspada merapat bersembunyi di pilar gedung, agar tudak ketahuan.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2