
"Yang! Ada yang ingin aku obrolin serius sama kamu!" kataku pada Ranti sepulang kerja setelah mandi dan makan. Ranti membenarkan posisi duduknya. Matanya menatapku menunggu perkataanku selanjutnya.
Aku menarik nafas panjang. Pertemuan tadi dengan Vika sepulang kantor membuatku harus mengungkap rahasia ini pada Ranti. Aku tak ingin semakin jauh berbohong menutupi hubunganku dengan Vika walaupun bukan hubungan asmara.
"Yang....! Aku mau minta maaf sama kamu. Aku menyimpan rahasia sama kamu beberapa minggu belakangan ini." Ranti menatapku tegang. Membuatku sedikit gentar akan reaksinya nanti.
"Sebenarnya, yang aku bilang ada bisnis jual beli rumah itu adalah bisnisku dengan Vika. Aku belum bilang karena takut kamu berharap nantinya. Karena namanya bisnis jual beli rumah tidak semudah jual beli sembako. Makanya aku janji, bila nanti berhasil, baru aku cerita sama kamu. Dan alhamdulillah berkat doa kamu, rumah itu akan dibeli seorang artis terkenal yang akhir minggu ini. Itu sebabnya aku suruh Vika mencari rumah dengan minta bantuan kamu. Artis itu ingin Vika segera mengosongkan rumahnya sebelum teken kontrak karena ia ingin rumah itu bersih dan langsung direnov."
"Alhamdulillah, mas! Tapi sepertinya Vika belum dapet rumah nih!" reaksi Ranti yang senang membuatku sedikit lega.
"Iya. Tadi sore Vika datang ke kantor. Kami kebetulan ngobrol juga dengan Cecil. Ternyata Cecil juga baru 4 bulan pindah diperumahan Griya daerah Pasar Pagi. Kami meluncur kesana, survey rumah yang masih kosong. Dan ternyata Vika suka."
"Iya, mas? Alhamdulillaah...."
"Tapi kendalanya, mmmmmh.... uang muka rumah itu belum ada. Aku mau minta izin, ambil uang deposito kita yang 30 juta itu untuk uang muka rumah Vika, yang! Gimana pendapat kamu, yang?"
Ranti menatapku lekat membuatku gugup.
"Kenapa tadi Vika ga cerita ya ke aku, mas? Padahal kami tadi ngobrol lama lho, sampe sore. Vika kesini mas!" selidik Ranti nyaris membuatku tersedak.
"Aku yang larang dia ngomongin itu sama kamu. Kamu tau dia khan, yang? Kalo ngomong selalu bukan pada intinya. Kadang bikin kita salah faham nanggepinnya. Makanya aku bilang sama dia, biar aku yang sampein ke Ranti." Ranti menatapku makin lekat. Seolah mencari kebenaran disana. Tak lama bibirnya tersenyum.
"Akhirnyaaaa.....mas-ku ini berbaik hati juga pada sahabatku!" ujarnya membuatku menghela nafas lega.
"Hadeeeuh, yang! Kamu bikin aku gugup, tauuu...!" protesku membuatnya tertawa.
"Koq gugup?"
"Ya kuatir kamu marah. Ngambek sama aku karena nyembunyiin semuanya sama kamu. Terus, takut bisnisku gagal karena kamu ga setuju. Masalahnya aku kadung janji sama hatiku, niat berangkatkan umroh ayah sama bapak kalo bisnisnya goal."
Ranti memelukku erat. Mengecup pipiku manis sekali.
"Aku bangga sama kamu, mas! Aku setuju rencana kamu. Aku dukung kamu penuh 100% untuk membantu Vika. Jadi, intinya aku percaya apapun yang kamu lakukan untuk kami, itu pasti yang terbaik!" Aku balik menatap Ranti lekat. Bola matanya yang hitam pekat bersinar indah sekali. Kuraih wajahnya dengan kasih sayang. Kucium keningnya agar ia tahu isi hatiku, aku sangat beruntung beristrikan dia.
"Awalnya aku ga mau nolong dia. Aku malah suruh dia buat cari teman lain yang bisa mengurus semuanya. Karena aku hanyalah suami sahabatnya. Tapi dia nangis memohon bantuanku. Katanya, aku dan kamu udah seperti saudara sendiri baginya. Ga ada orang lain lagi yang bisa ia percaya selain kita. Bahkan ia ngomong gitu didepan Cecil."
__ADS_1
Entah setan apa yang merasukiku hingga berkata berlebihan agak melenceng pada Ranti. Padahal cerita aslinya bukan itu. Dan aku takut menceritakan yang sebenarnya tentang hubungan semrawutku dengan Vika. Karena aku merasakan getar cinta Vika yang perlahan menjeratku. Walau aku tidak merespon balik, tapi sebenarnya hubungan ini sedikit rawan bila dilanjutkan.
Tapi apa mau dikata. Untuk saat ini aku belum bisa melepaskan Vika begitu saja. Selain ada benefit disana, juga ada ketakutan moralku bila Vika sampai melakukan tindakan bodoh seperti bunuh diri.
"Yang! Kamu sebaiknya lebih sering memberinya nasehat. Ia selalu menuruti perkataan kamu. Maksudku untuk kebaikannya, yang! Kalau aku yang ngomong malah jadi riskan. Aku ga mau terlalu ikut campur urusannya. Dan satu lagi, aku mau kamu ikut menemaniku dan Vika ketika kami melakukan pertemuan tanda tangan kontrak. Ya?!?"
"Oke mas-ku tersayang!" Lagi-lagi Ranti mencium pipiku. Membuatku jadi beringas menerjangnya hingga terhempas keatas ranjang dengan empuk. Jingga sudah dipindahkan keranjangnya yang ada diseberang ranjangku. Jadi aman bila Ranti kuajak berkelana 'mendaki gunung mencari burung'. Aku sudah kadung diatas ambang nafsu. Ranti pasrah menerima segalanya dariku yang bertubi-tubi. Malam ini aku curahkan semua perasaanku padanya tanpa boleh ada Vika yang membayangiku.
Vika!....Hhhhh....., kenapa harus kusebut nama perempuan itu ketika aku sedang bercinta dengan Ranti. Tapi ternyata itu membuat nafsu libidoku semakin meninggi. Membuat Ranti kewalahan menaklukanku.
....
Setelah mendapat izin Ranti, aku lalu mencairkan depositoku untuk pembayaran uang muka rumah Vika nanti sore.
Aku sudah menyuruh Vika menyiapkan semua berkas persyaratannya termasuk juga materai yang pasti kami perlukan sebagai penguat perjanjian kredit rumah.
Alhamdulillah semua berjalan lancar dengan izin Allah. Kami kini sudah duduk diruangan manajer perumahan Griya melakukan transaksi awal kredit jangka pendek yang diambil Vika.
"Kami mohon, mbak mencantumkan nama wali/ahli waris yang juga mengetahui dan memiliki hak atas kepemilikan rumah."
"Hubungan dengan wali/ahli waris, silahkan ditulis mbak!"
"Suami. Tapi kami hanya menikah siri, jadi tidak memiliki bukti otentik. Tidak apakah?" kata Vika membuatku bagai tersengat serangga.
"Ya, tak apa mbak! Asalkan mas-nya lengkapi dengan fotokopi KTP, fotokopi NPWP, juga fotokopi slip gaji terakhirnya sebagai bukti resmi."
Vika menatapku seperti memohon memintaku melengkapi berkasnya. Aku menelan ludah. Membuka tas kerja yang selalu sedia semua surat atau fotokopi untuk urusan darurat. Tak kusangka kali ini dipakai untuk hal 'menipu'.
Urusan kami selesai. Vika tersenyum senang sambil menggenggam tanganku.
"Makasih mas!" katanya sambil bergerak seperti menari kecil, berputar dan berlari kecil menuju mobilku.
"Nanti kalo uangku cair, semua uang mas yang dulu aku pakai. Pasti kuganti." katanya setelah menoleh padaku yang masih berjalan santai dibelakangnya.
"Oiya. Aku juga mau uangku itu semua masuk rekening mas Dika. Aku takut khilaf, terus habis semua uangku karena kebodohanku, mas!"
__ADS_1
Aku hanya diam tak menanggapinya. Agak merinding juga mendengar ucapannya. Berfikir apakah ia hanya bergurau padaku. Secara Vika dengan sangat santai membicarakan uang 8 miliar untuk dititipkan direkeningku.
"Kapan kamu pindah kerumah ini?"
"Kemungkinan lusa, mas! Aku harus sortir dulu barang-barang dikamar papah."
"Oke! Yuk pulang. Aku agak kurang enak badan." Aku berusaha mengakhiri pertemuan ini.
"Mas marah ya, waktu aku bilang hubungan kita adalah suami istri? Maaf, aku hanya berfikir supaya urusan cepat selesai. Itu cuma formalitas aja khan? Hanya tulisan diatas selembar kertas. Mas ga marah khan?"
Aku mengangkat bahu lesu.
"Aku ga enak badan. Malas ah, debat! Mau pulang cepat!" Vika memegang dahiku lembut.
"Mau kupijat, mas?" tawarannya membuatku melotot. Vika hanya tertawa tahu aku kesal karena candaannya.
"Ya udah, yuk kita pulang. Kamu mau makan dulu ga?"
"Aku makan dirumah aja. Belakangan ini aku sibuk banget, selalu pulang malam. Ga sempet makan masakan Ranti." Vika terdiam. Ia menoleh padaku dengan wajah sendu tapi masih dengan senyuman.
Kuturunkan Vika didepan rumahnya. Melambaikan tangan kembali tancap gas menuju rumahku.
Vika masih diluar melihatku hingga menjauh dan hilang dari pandangan baru ia membuka pintu pagar.
Aku semakin tak tahu lagi harus berbuat apa. Aku takut tergoda kecantikan dan kelembutan Vika. Semakin hari kami semakin intens bersentuhan tangan. Akhirnya getaran itu semakin membesar menyetrum sanubariku. Aku takut jatuh cinta pada Vika.
Aku tak ingin kebahagiaan yang tumbuh subur dihidupku dengan Ranti musnah hanya karena godaan Vika yang begitu gencar.
Aku pria normal biasa. Juga bergejolak melihat keindahan terhampar jelas dihadapanku. Bahkan seolah terus mendesakku untuk terus masuk menikmati panorama indah itu. Aku bertahan selama ini dengan akal sehatku. Tapi aku juga pria biasa. Kadang memiliki pemikiran nakal untuk bertarung di alam khayal. Hhh...
Semoga setelah Vika memiliki uang, perempuan itu bisa perlahan melupakan aku. Mencari kesenangan lain, bergaul dengan banyak pria yang lebih menarik diluar sana. Aku fikir, uang pasti bisa merubah segalanya. Apalah aku dimata Vika nanti. Saat ini mungkin ia mendambaku karena memang ia hanya bisa bergantung padaku. Tapi nanti, kita lihat saja. Mungkin prediksiku benar. Artinya aku harus bersabar. Sebentar lagi semua cobaan pasti usai.
Aku agak lega setelah mengungkap rahasia pada Ranti. Walau ada sedikit kebohongan, tapi kulakukan untuk memuluskan jalan usahaku mendapat komisi penjualan rumah 15% seperti yang Vika janjikan. Untuk kebahagiaan Ranti dan Jingga juga nantinya.
Bersambung-
__ADS_1