
Setelah seminggu penuh aku tidak bekerja karena mengurus pemakaman dan tahlilan ayah, senin ini aku kembali melakukan aktivitas.
Aku kembali bekerja di kantor pusat di Cikini bersama Rosa dan mas Anang. Entah bagaimana jadinya kalau aku tidak dibantu sepenuhnya oleh Rosa dan mas Anang. Mereka benar-benar sahabat yang baik. Aku bersyukur selalu didukung dan disupport oleh pasangan suami istri yang solid itu. Dari mereka aku banyak belajar melihat hidup dan arti cinta yang sesungguhnya. Juga belajar membedakan urusan pribadi maupun urusan pekerjaan. Mereka benar-benar profesional dalam bidangnya.
Selesai sholat Zuhur aku kembali melanjutkan pekerjaanku yang masih menumpuk. Karena ini bulan puasa, aku mempercepat waktu istirahatku dan kembali berkutat dengan laptop, kalkulator, buku besar dan juga ballpointku.
Hapeku berdering. Nomor tak dikenal.
"Hallo, dengan Dika Dewantara disini. Ada yang bisa saya bantu?"
"Maaas.... Ini aku, Ranti! Jingga dibawa Vika, mas! Jingga, mas!..."
"Haaah???? Ranti, bicara yang jelas! Jingga dibawa siapa?" aku setengah membentak.
"Jingga! Pulang sekolah kata gurunya dijemput perempuan yang mengaku bernama "Vika" tantenya Jingga katanya! Mas! Cari Jingga, mas!"
Suara Ranti terdengar panik dan terisak.
Jingga dibawa Vika???? Mau apa perempuan itu membawa anakku?? Ya Allah!
Spontan aku bangun berdiri dengan emosi tinggi. Ya Allah! Apa yang harus kulakukan? Anakku diculik Vika!!
Setan alas, setan dajjal, kuntilanak,... semua setan sepertinya sudah menyatu ditubuh dan hati Vika! Untuk apa dia menculik anakku???? ******* perempuan sialan itu!
Aku berlari tak tahu arah. Aku histeris mencari Rosa dan mas Anang, hingga beberapa karyawan memperhatikanku yang lepas kendali.
"Rosaa! Mas Anang!!!!... Anakku diculik perempuan sundal itu!... Aku harus bagaimana?"
__ADS_1
Rosa dan mas Anang ikut panik seketika.
"Lapor polisi segera!" kata mas Anang.
"Kantor polisi yang mana?" tanyaku kesal dengan suara keras. Aku bingung. Aku tak tahu dimana si Vika sialan itu tinggal. Aku harus lapor kekepolisian mana?
Hhhhh..... Ya Allah, tolong hamba-Mu ini ya Allah! Tolong selamatkan anakku, ya Allah! Hanya Engkaulah yang bisa menyelamatkan anakku dari kebusukan hati dan tindakan gila perempuan tak punya otak itu. Ya Allah!
Mas Anang membawa kami ke Bojong. Mencari kantor kepolisian wilayah Bojong. Tapi aku juga bingung menuliskan laporannya. Secara Jingga belum menghilang 1x24 jam sehingga kami tidak bisa buat laporan. Aku menelpon Ranti, memintanya menemui kami dikantor Polisi untuk menambah bukti dan juga keterangan tambahan. Alhamdulillah pihak polisi cukup kooperatif menangani pengaduan kami.
Aku tiba-tiba teringat Arif. Aku menelponnya meminta bantuannya mencari Jingga dan Vika. Arif punya banyak kenalan dan relasi orang kepolisian. Semoga bisa membantu.
Aku juga menelpon Hera. Menanyakan apakah ada Vika datang membawa Jingga. Kupesankan pada Hera jika nanti Vika datang, ia harus menahannya disana. Siapa tahu perempuan gila itu datang kerumah almarhum ayahku. Semoga saja, itu harapanku.
Aargh!!! Kepalaku rasanya mau pecah. Belum usai kesedihanku karena kepergian ayah. Ada lagi kejadian seperti ini, ya Allah! Aku ingin menangis, teriak sekuat-kuatnya mengutarakan lelah hatiku pada Pemilik jiwa ragaku. Kenapa cobaanku tak henti dan bertubi-tubi ya Allah!
Kami mendatangi beberapa kantor polisi wilayah Bojong. Ranti tak henti-henti menangis dan teriak. Membuatku semakin merasakan salah yang teramat banyak. Ya Allah!
Aku tidak tahu lagi dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu pihak kepolisian bergerak. Tapi kenapa harus menunggu? Kenapa tidak bisa mengambil tindakan? Tapi tindakan apa yang harus kujalankan saat ini? Aku pusing!
Aku berinisiatif memisahkan diri dengan mereka. Aku harus mencari Vika dan Jingga meski tak tahu dimana kini keberadaan mereka.
Aku menyusuri jalanan dengan kepala mendongak kesana-kemari. Memicingkan mata menegaskan penglihatan siapa tahu mereka ada dijalanan.
Aku juga mendatangi stasiun kereta, berharap Vika dan Jingga ada disana. Cuaca sangat panas seolah menjelaskan hati dan jiwaku saat ini. Sudah jam 3 menjelang sore.
Jingga! Kamu dimana, nak? Jingga sayang! Kirimkan telepatimu untuk papa, sayang! Papa mencarimu, nak! Papa dan mama mencemaskanmu! Anakku, jika kamu melewati kerumunan orang, teriaklah. Menangislah sekeras-kerasnya, nak! Katakan kalau kamu ingin pulang ke mamah juga papa! Katakan, nak! Lakukan itu, sayang! Lakukan agar kita bisa bersama lagi, Jingga!... Jingga, papa mohon, nak!
__ADS_1
Vika sialan! Lihat saja apa yang akan kulakukan padamu, perempuan dajjal! Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri karena telah membawa putriku pergi. Aku akan mencekikmu sampai mati bila kumenemukanmu nanti! Aku tidak takut harus masuk penjara lagi. Aku tidak peduli! Aku baru puas jika melakukan itu karena kau telah menarik serta anakku kedalam penderitaan! Lihat saja nanti, Vika sialan!
Aku terus berlarian kesana kemari mencari sosok mungil Jingga anakku. Tapi hasilnya nihil.
Kami bertemu lagi distasiun Cilebut. Aku berharap bisa menemukan Vika jika menaiki kereta hingga stasiun berikutnya. Tapi tetap tak ada.
Ranti masih terus menangis histeris bahkan kini menyudutkanku.
"Andai saja kamu menerimanya kembali, Jingga tidak mungkin dibawa kabur Vika!" teriaknya membuatku ikut histeris dan marah padanya.
"Kau fikir aku tahu kalau sahabatmu itu akan sejahat itu? Kau fikir aku lebih mengenalnya dibanding kau teman semakan dan seminumnya? Aku tidak tahu kalau perempuan sialan itu mengincar anakku! Dan kau tidak berhak mengatur hidupku, Ranti meskipun kau telah menikah dengan si Abi-mu!"
"Aku tidak menikah dengan Abi! Aku tidak menikah dengan siapapun karena aku lebih ingin mengurus anakku satu-satunya!"
"Jingga juga anakku! Bukan anakmu saja! Aku juga kuatir kalau sampai terjadi sesuatu pada Jingga!" Kami saling teriak satu sama lain karena suasana panas yang mencekam. Aku tak peduli lagi pandangan benci, jijik dan hina Ranti padaku. Aku tak peduli!
Yang aku pikirkan adalah keselamatan anakku, Jingga! Dimana sekarang Jingga berada! Apa Vika mengurusnya dengan baik? Apa Vika memberinya makan? Anakku harus tidur siang untuk perkembangan tubuhnya. Apakah Vika memperhatikan itu???? Aaaaargh, *******! Perempuan setan! Iblis betina! Dajjal sialan!!!
"Berhenti kalian! Ini bukan saatnya kalian saling menyalahkan!! Pikir pakai otak, bukan dengan otot dan dengkulmu yang peyot, Dika!" Rosa berteriak menengahi pertengkaran kami.
Mas Anang membawaku keruangan lebih terbuka. Menepuk-nepuk punggungku membuatku menangis dibahunya. Aku bingung! Aku tidak bisa berfikir! Sungguh semua ini membuatku limpung dan putus asa! Aku harus apa? Harus bagaimana?
Aku pamit lagi ingin kembali berjalan mencari Jingga. Menyusuri semua jalan untuk menemukan anakku tersayang. Wajah imut Jingga membayang diotak dan fikiranku.
Anakku sayang! Dimana kau, Nak? Dimana kau Jingga? Larilah, Nak! Cari pak satpam berseragam lalu bilang kalau kau ingin pulang, nak! Lakukan itu sayang! Kamu anak pintar! Papa percaya kamu anak hebat! Anakku tahan banting meskipun segala cobaan berat selalu menimpanya! Anakku kuat! Anakku mampu melewati semua ini!
Aku mengusap airmataku membuat mataku berkabut. Tak kuhiraukan tatapan-tatapan aneh padaku yang setengah histeris mencari Jingga disetiap kerumunan disepanjang jalan.
__ADS_1
Ya Allah! Kembalikan Jingga padaku ya Allah! Ampuni dosa-dosaku ya Allah! Jangan Kau hukum anakku juga! Kau adalah Zat yang Maha Suci. Allah yang mengatur semuanya menjadi teratur dengan segala aturan-Mu! Aku percaya kekuatan-Mu! Aku percaya Engkau tidak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan ummat-Mu! Tolong aku ya Allah!
Bersambung-