AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
SERASA MENDAPAT DURIAN RUNTUH


__ADS_3

Aku menginap 3 hari 3 malam dikediaman Ranti. Membantu mengurus tahlilan bapak hingga hari ketiga. Memang tidak wajib. Tapi aku merasa perlu melakukannya agar suasana rumah keluarga yang berduka selalu hangat dan ramai orang berdoa. Membuat keluarga yang ditinggalkanpun tidak semakin terlarut dalam kesedihan. Biarlah, yang penting hati kami melakukan tahlilan ini bukan untuk keriyaan atau bahagia padahal ditinggal dalam kematian. Hanya sekedar penghormatan dengan berdoa bersama berharap kita semua mendapat manfaat dan safa'atnya karena suatu hari nanti kita pun akan dijemput Sang Empunya. Penguasa Jagat Raya dan Alam sekitarnya. Dialah Allah, Tuhan Yang Maha Esa.


Aku pulang kembali ke kontrakanku setelah 3 hari berlalu. Menitip semuanya pada Hardi, adik lelaki Ranti agar mengurus tahlilan bapak hingga tujuh hari. Karena aku kemungkinan tidak bisa mendampingi dan membantunya lagi. Secara selain tak enak hati, juga karena aku harus kembali kekehidupan nyataku. Karena dirumah Ranti, aku kadang halusinasi mengenang status kami ketika berumah tangga dulu.


Aku pun kembali keduniaku. Dunia seorang pria paruh baya yang sibuk mengadon sempol ayam. Aku juga mulai berani berinovasi membuat variant rasa baru agar pelanggan sempolku tidak lari karena bosan dengan rasa yang original.


Sebenarnya kalau kupikir-pikir pekerjaanku saat ini jauh dari pendidikan yang kutempuh. Aku adalah magister jurusan Manajemen Pemasaran, tapi malah berkutat dengan tepung terigu dan tepung kanji membaluri gilingan daging ayam dan beberapa penyedap rasa. Sangat jauh bukan? Hhh... Itulah, aku sendiri tak mengerti dan hanya bisa senyum sendiri mengingat nasib ini.


Aku bisa membuat sempol berkat mondok di rutan selama hampir 1 tahun 6 bulan. Pertama kali aku buat, para kawan dan sipir langsung memuji karena rasanya yang lezat. Bahkan sempolku adalah camilan yang paling direquest untuk menu tambahan di rutan bila ada acara besar atau ada tamu dari luar.


Itulah sebabnya aku begitu percaya diri membuat sempol ayam dan berinisiatif membuka usaha dagang.


Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Bisnis usahaku pun seiring waktu mulai terbuka. Juga aku sudah mulai menyusun proposal yang akan kuajukan pada pak Anjar.


Aku juga sudah menemukan rekanan partner yang pas untuk usaha kami nanti.


Minggu pagi ini aku dan Rosa sudah menentukan pertemuan dengan pak Anjar dikediamannya di Serpong Tangerang. Rosa akan menjemputku dijalan raya Gunung Sahari.


Seperti yang sudah disepakati, kami meluncur ke rumah besar pak Anjar. Berbincang santai sembari menikmati makan siang yang sudah istri beliau sediakan. Sungguh suasana yang santai padahal hal serius.


"Ini sertifikat villa kami yang di Mega Mendung, Puncak! Pergunakanlah dengan baik. Terserah kamu, mau dijual atau dijadikan jaminan. Aku menghibahkannya untuk usaha kalian! Masalah notaris, minggu depan semua akan diurus pergantian namanya!" perkataan pak Anjar membuatku dan Rosa terhentak kaget. Agak kurang mengerti.


"Maksud bapak?"


"Aku sudah tua. Sudah waktunya mendekatkan diri pada Tuhanku. Kalau aku membuat perjanjian usaha dengan kalian, aku khawatir mati ditengah jalan... dan itu bisa jadi hambatan kemajuan usaha kalian. Dan aku tidak menginginkan itu! Aku tidak perlu kalian pusingkan lagi dengan laporan-laporan keuangan! Jadi, ....aku menyerahkan kalian mengatur sepenuhnya!"

__ADS_1


Sungguh aku masih belum faham tindakannya. Memberi kami surat sertifikat villanya untuk kami gunakan sebagai modal memulai usaha yang telah disepakati? Memberikan cuma-cuma tanpa ada perjanjian tertulis dan penandatanganan tanda resmi kesepakatan pinjaman?


"Anak-anakku sudah mendapatkan bagiannya masing-masing. Mereka juga mengerti apa yang kulakukan dan aku juga sudah berdiskusi dengan istriku. Kami menghibahkan untuk usahamu yang kulihat lebih banyak sosialnya, Dika! Gunakan dengan sebaik-baiknya. Bekerjasamalah dengan Rosa dan minta bantuan suaminya juga!"


Aku menatap pak Anjar dengan mata berkaca-kaca. Seperti tak percaya dengan apa yang kudengar dan apa yang kulihat. Aku seperti mimpi indah disiang bolong.


"Aku berbaik hati, karena usaha yang kamu geluti nanti bukanlah usaha komersil. Dan akan membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Makanya, daripada aku senewen menunggumu mengembalikan uang sedang umur hidupku tinggal sedikit lagi. Aku tak mau mati penasaran karena perjanjian utang piutang denganmu!" pak Anjar bercanda melihat responku yang sangat terharu akan kebaikannya.


"Belajarlah menjadi pengusaha profesional, Dika, Rosa! Dalam istilah bisnis, kumpulkanlah keuntungan sebanyak-banyaknya dengan jeli melihat peluang yang ada. Tapi dalam dunia nyata, tebarkanlah keuntungan itu untuk kebaikan dan perbaikan dunia. Dan jangan khawatir akan imbalan jasa dari kebaikanmu itu. Karena setiap perbuatan akan ada ganjaran. Baik itu perbuatan terpuji maupun perbuatan tidak terpuji. Orang menyebutnya dengan karma."


Sungguh suatu kebahagiaan yang tak terkira. Aku benar-benar seperti mendapat durian runtuh. Betapa Allah sangat menyayangi orang-orang seperti pak Anjar. Andaikan dunia ini dipenuhi orang-orang sukses dan hebat berhati mulia seperti beliau. Maka aman dan sentosalah seluruh negeri. Tiada kemiskinan apalagi kemelaratan. Semua rata hidup senang, damai, makmur sentosa.


Tiba-tiba seorang asisten rumah tangga beliau memberitahu pak Anjar kalau ada tamu yang juga menunggu beliau diteras rumah. Beliau meminta tamu itu masuk dan bergabung dengan kami.


Arif Borne? Mantan istri Vika?....


Bukan hanya aku saja yang kaget bukan kepalang. Tapi Rosa juga. Karena Rosa juga tahu siapa Arif Borne dan permasalahanku dengan pria dingin yang menjebloskanku ke penjara karena urusanku dengan Vika.


Raut wajah pak Anjar terlihat cerah. Ia mengenalkan Arif kepadaku dan Rosa. Dan kami bermain peran seolah kami tidak saling kenal satu sama lain. Semua kami lakukan agar pak Anjar tidak tahu permasalahan kami yang lalu.


"Maaf, Dika, Rosa... ada sedikit urusanku dengan Arif. Maukah kalian menunggu sebentar sambil minum kopi?" pinta pak Anjar pada kami.


"Ah, pak, mohon maaf! Kami rasa urusan kami sudah selesai, kami mohon pamit saja. Kami akan segera mengabari bapak secepatnya setelah semuanya sudah beres dan siap untuk launching!" Rosa berusaha meminta izin karena ia mulai sedikit gelisah dan selalu melirikku khawatir mungkin aku akan buat keributan.


"Minggu depan notaris siap, akan aku kabari kalian!" jawab pak Anjar.

__ADS_1


"Siap, pak! Kami mohon maaf. Sekali lagi terima kasih atas bantuan bapak. Juga terima kasih sekali atas jamuannya. Masakan ibu sangat enak, kami sangat tersanjung bisa mencicipi masakan beliau. Tolong sampaikan rasa terima kasih kami pada ibu!" Rosa mencoba menengahi dengan kata-kata manisnya. Sepertinya ia benar-benar khawatir aku hilang kendali dan berubah menjadi macan. Hehehehe....Rosa, Rosa! Padahal aku hanya tersenyum dalam hati. Walaupun menyimpan dendam dan amarah dengan orang yang bernama Arif Borne itu, aku masih waras untuk menjaga sikapku didepan paman berkaki panjangku.


Kami pamit bersalaman. Rosa tergesa-gesa menarik tanganku keluar rumah besar pak Anjar. Wajahnya tegang dengan butiran keringat perlahan menetes dikeningnya. Aku hanya bisa tertawa dalam hati melihat tingkah Rosa.


Tiba-tiba seseorang memanggil namaku. Membuat aku dan Rosa menoleh berbarengan. Arif Borne memanggilku? Mau apa? Mau mengajak tanding satu lawan satu denganku? Atau mau memperpanjang lagi urusannya yang sudah basi itu?


"Ada yang ingin saya bicarakan! Bisa khan tunggu saya sekitar 20 menitan?" katanya membuatku menelan ludah dan Rosa belingsatan.


Akhirnya aku mengangguk. Aku tidak takut padamu, hai bocah ingusan! Mau kau ajak aku ke ring tinju ataupun lapangan sepakbola, akan aku jabani. Gerutu hatiku kesal.


Arif kembali kedalam rumah pak Anjar. Melanjutkan urusannya yang belum selesai.


Sementara Rosa melotot memukul bahuku kesal. Ia begitu emosional melihat aku meladeni tantangan Arif Borne.


"Mau apalagi sih? Ngapain juga kamu setujui ucapannya? Hadeeeuh, Dika! Kita ini masih mengurus proposal dengan pak Anjar. Dan sekarang, kamu malah buat keributan dikediaman beliau! Aduuuuh, ampun deh ah! Bikin aku stress jadinya! Please deh,...jaga sikapmu! Uang modal belum lagi cair, kamu malah bikin masalah yang ga penting!"


"Hehehehe..... santui aja bu boss Rosa! Kita liat dulu, maunya apa itu si Arif Borne sama aku. Kalau dia masih mengibarkan bendera perang padaku, aku siap koq secara jantan meladeninya."


"Ya Allah ya Tuhankuuuuuu!!! Aku mesti gimana Dikaaa? Kalau aku tinggal kamu, takut kamu lepas kontrol tak ada yang menyadarkan. Tapi kalau aku tetap disini nemenin kamu, haduuuuh.... aku takut dua lelaki gila ini bringas gontok-gontokan!"


Aku tertawa melihat Rosa dengan tingkahnya yang panik tapi lucu. Aku juga sebenarnya gugup, tapi tidak sepanik Rosa. Jantungku berdetak cepat dari biasanya, tapi kututupi dengan senyum dan tawa guna menenangkan Rosa.


"Tenang, Ros! Kita ini dua orang dewasa yang sudah bangkotan. Aku rasa si Arif Borne juga tidak akan berani bertindak lebih dihadapan pak Anjar. Santai sajalah!"


Rosa akhirnya memanyunkan bibirnya berusaha meredam emosinya yang agak berlebihan. Fikiran jernihnya kembali menyebar seiring setelah ia menarik nafas panjang. Dan kami pun menunggu Arif di teras parkiran rumah pak Anjar.

__ADS_1


Bersambung-


__ADS_2