AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
LEMBARAN BARU


__ADS_3

Ranti menatapku dengan mata berkaca-kaca. Kedua tangannya menutup rapat bibirnya yang terlihat kaget atas apa yang kulakukan ini.


Beberapa orang melihat dan memperhatikan kami dengan senyam-senyum. Bahkan ada sekumpulan anak muda yang memberikan tepuk tangan meriah sambil berkata, "terima, terima, terima......"


Membuat wajahku semakin merah takut lagi-lagi Ranti menolak.


Hhh... Aku menunduk memikirkan hal yang paling buruk. Ditolak dua kali bahkan kini ditengah keramaian bandara Soetta. Diumurku yang 42 mau 43 tahun. O my God!!! Asli membuat nyaliku menciut kecil sekali.


Ranti tersenyum dan mengangguk. Airmatanya mengalir beberapa butir.


Yesssss!!!!!!! Alhamdulillaah...... Terima kasih ya Allah! Para pemuda itu pun bersorai lebih heboh dari aku membuat merah mukaku dua kali lipat. Hanya senyum dan mengangguk-angguk pada mereka mengucapkan terima kasih atas support dan semangatnya. Hehehe!!


"Pesawat yang akan terbang ke Kuala Lumpur 20 menit lagi berangkat, mas! Aku pamit pergi dulu, ya?"


"Ranti??? Kamu tetap akan berangkat kerja ke Selangor meski sudah bersedia menerima rujukanku kembali?" aku terkejut dengan perkataan Ranti.


"Aku ga kerja di Selangor mas! Cuma 2 hari saja disana."


"Maksudnya?"


"Aku mendapat undangan dari para pengusaha online disana. Dapat gift tiket pesawat pulang pergi juga gratis penginapan 1 malam disana. Sayang kalau aku tidak mengambil kesempatan ini, mas! Aku bisa menimba ilmu dari mereka, mas!"


"Ya Allah gustiii... alhamdulillah!"


"Memang kenapa, mas? Siapa yang bilang kalau aku mau jadi TKW di Malaysia?"


"Hahahaha... engga', Ranti! Aku berfikir kejauhan!" Aku tertawa malu.


"Mas nyesal ya, ngajak aku rujuk lagi?"


"Engga'! Bukan itu! Aku tidak menyesal meminta rujuk lagi denganmu. Hanya tadi aku takut kamu benar-benar akan pergi meninggalkanku dan Jingga pergi jauh!" Ranti tersenyum menunduk.


"Aku mengizinkan kepergianmu bila hanya dua hari dan niat menimba ilmu, sayang!"


"Mas! Jangan panggil aku sayang,... panggil saja namaku dengan penuh kasih sayang!"


Aaaaaww... Rantiiiiiiii!!! Gemes aku dengan ucapannya yang sederhana tapi dalam.


"Rantiiii...!! Cepatlah kembali! Jangan lupa, separuh hatimu ada disini!" Aku meneriakinya sambil menunjukkan emoji hati dengan tanganku didada ketika Ranti berjalan dengan melambaikan tangan dan tersenyum.

__ADS_1


Para pemuda itu tertawa terbahak-bahak melihat tingkahku pada Ranti seperti Rangga dan Cinta yang sudah kadaluarsa. Seperti Dilan dan Milea yang sudah tua. Biar sajalah mereka jijik dan illfeel dengan tingkah kita yang lupa umur. Biar saja! Aku tidak peduli!!! Yang penting hatiku penuh bunga-bunga kebahagiaan!! Terima kasih Ranti! Terima kasih ya Allah!


Aku melesat secepat kilat setelah kesadaran penuh mengisi ruang logikaku. Malu!!!


Ya Allah!! Betapa bahagianya aku! Rosa dan mas Anang hanya menggelengkan kepalanya mendengar ceritaku kalau Ranti menerima ajakanku untuk rujuk kembali.


Kami akan diskusi nanti setelah Ranti kembali dari Malaysia. Aku sangat menantikan kepulangannya dengan hati berdebar-debar.


Ranti akan pulang Sabtu siang ini. Aku menelponnya untuk menanyakannya apa aku boleh menjemputnya dibandara.


Ranti menolak. Ia hanya memintaku menjemput Jingga dirumah Hardi agar membawa pulang ke Bojong karena Ranti akan langsung meluncur pulang kerumah di Bojong. Jadilah aku dan Jingga menunggunya dirumah dengan penuh suka cita dan gembira ria.


Aku sudah mempersiapkan segalanya menyambut kepulangan Ranti. Membeli beberapa buket bunga untuk menghias meja ruang tamu dan beberapa dibagian pojok rumahnya Ranti. Aku juga membeli satu buah kue tart berbentuk hati dengan tulisan 'welcome home, mama! From papa & Jingga'. Aku juga membeli sepasang cincin pertunangan kemarin untuk kusematkan nanti dijari manis Ranti.


"Mama ulang tahun ya, pa?" tanya Jingga dengan polosnya membuatku tersenyum dan mengecup pipinya.


"Hari ini mama pulang dari Malaysia, nak! Jingga senang khan mama kita pulang! Jadi kita buat mama senang juga!" Jingga tersenyum dengan mata berbinar dan mengangguk. Pintarnya anakku!


Ranti terkesima melihat aku dan Jingga yang sudah duduk manis diteras rumahnya menunggu kedatangannya. Senyumnya mengembang seraya memeluk Jingga dan meraihnya.


"Mama kangen Jingga, sayaaaang!"


Ranti terpukau melihat bunga-bunga terhias dimeja tamu, meja makan dan juga pojokan-pojokan rumahnya. Aku memberinya sebuket tanpa suara. Hanya senyuman yang menyimpulkan bahwa betapa aku bahagia melihatnya kembali.


Ranti seperti gadis muda berusia 16 tahun. Wajahnya memerah. Menunduk tersenyum mengucapkan terima kasih seraya mencium aroma keharuman dari buket yang kuberikan. Ya Allah....!! Terasa muda kembali aliran darahku. Betapa manisnya cinta yang kini kurasa. Aku bagai pemuda tanggung 17 tahunan yang merasa gagah perkasa dan hebat karena ungkapan cintanya direspon baik dan diterima belahan jiwanya.


"Mas! Aku menerima ajakan rujukmu tempo hari, tapi dengan syarat!"


"Ada syarat? Apa syaratnya, Ranti?" tanyaku cemas.


"Kamu harus mau segera operasi. Baru kita ijab kabul lagi!"


"Iya. Aku memang sudah mengambil keputusan operasi, Ranti! Jum'at besok aku sudah dijadwalkan masuk ruang operasi untuk pengangkatan sel tumornya."


"Alhamdulillaah! Aku senang, mas fight dan semangat!"


"Karena kamu dan Jingga, aku semangat, Ranti! Tapi aku juga punya permintaan. Kumohon kamu mau menerima dan menuruti permintaanku."


"Apa, mas?"

__ADS_1


"Aku minta waktu satu bulan penuh. Aku ingin operasi dan menjalani pengobatan dan pemulihan sendiri saja tanpa ada yang mengantar apalagi mendampingiku!"


"Maksud mas?"


"Aku hanya minta waktu satu bulan. Tunggu aku, Ranti! Aku janji akan sehat dan kita bertiga kembali bersama."


"Mas! Kamu ingin sendirian menjalani pengobatan?"


"Ya."


"Tidakkah itu terlalu menyedihkan, mas? Disaat orang lain justru ingin didukung dan disupport penuh oleh orang-orang tersayangnya, justru kamu menutup akses dan sendirian menjalani semuanya? Itu keinginanmu, mas?"


"Cukup doakan aku dari rumah, Ran! Doamu mustajab! Aku sangat percaya itu! Kamulah tonggak semua keberhasilanku! Doakan aku kembali sehat dan kita bahagia. Aku juga tidak memberitahukan kalian dirumah sakit mana aku operasi. Bahkan Hera, Rosa, mas Anang sekalipun. Aku ingin doa kalian saja!"


"Mas!..."


"Aku tidak ingin terlihat lemah dan menyedihkan dimata kalian! Aku akan semangat karena doa-doa kalian! Percayalah pada Kebesaran dan Kekuasaan Allah, Ranti! Kanker paruku baru stadium 1. InsyaAllah aku bisa fight dan kembali sehat dan bebas kanker lagi!"


Airmata Ranti mengalir membuatku memandangnya dengan tatapan memohon pengertiannya. Kali ini aku berani menghapus bulir yang mengalir dipipinya.


"Aku percaya kamu selalu mendoakanku! Kamu selalu menginginkan yang terbaik untukku! Aku pun sama. Aku ingin memberikan yang terbaik juga untukmu, Ranti! Meski aku pernah sangat bersalah dan berdosa besar kepadamu, tapi aku bertekad menutup lembaran hitam itu untuk berani melangkah dengan membuka lembaran baru. Bersamamu Ranti! Dan juga Jingga buah hati kita! Terima kasih untuk semua pengorbanan dan kesetiaanmu untukku. Aku mencintaimu! Aku mencintaimu, Ranti! Bagaimana denganmu?... Aku ingin kamu juga mencintaiku. Bukan karena rasa iba dan kasihan karena kehidupanku. Tapi karena aku hanyalah hamba Allah yang penuh kekurangan! Maukah kamu mencintaiku yang seperti itu, Ranti??"


"Ya, mas! Aku mencintaimu, mas! Aku juga mencintaimu, mas! Bukan karena iba dan kasihan! Tapi karena aku memang mencintaimu setulus hatiku. Bahkan kini aku sendiri bisa melihat hatiku yang begitu putih karena cintaku padamu. Bimbing dan tuntun aku lagi, mas! Aku ingin bersamamu hingga maut memisahkan kita! Hingga kita dipertemukan lagi di jannah. Aku ingin selalu bersamamu!"


Aku menangis mendengar ucapan Ranti. Terpuruk bersujud bersimpuh dikakinya. Airmata ini begitu derasnya mengalir membuatku tak mampu lagi berkata-kata.


"Mas, bangun, mas! Jangan cium kakiku, mas! Aku yang harus bersujud nanti dikakimu ketika kita sudah sah dan halal lagi dimata Allah!" Airmataku tambah deras mengalir tak terbendung.


Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar...


"Maaas, lihat Jingga!" Ranti memekik membuatku tersentak kaget.


Anak kami tengah duduk ditengah meja makan dengan mulut belepotan penuh krim kue tart. Ya Allaah!


Aku dan Ranti tertawa menghampiri Jingga yang tetap cuek meskipun kami tertawa dan berebut mencium pipi kiri dan kanannya.


"Mama sama papa kelamaan ngobrolnya! Jingga khan lama nungguinnya! Jadi Jingga potong sendiri aja kue ulang tahunnya!!"


Jingga!!!!.... Pintar banget sih, kamu nak!

__ADS_1


Bersambung-


__ADS_2