
"Mas,... Besok aku ikut antar Vika pindahan ya?" kata Ranti meminta izin sebelum pergi tidur.
"Oke!"
"Nanti jemput aku ya, diperumahannya Vika kalo udah pulang kerja."
"Aku jemputnya dirumah Vika nih!"
"Hehehehe... kata Vika, mas kalo ga diakalin kek gitu mana mau maen kerumahnya."
"Oalaaaa.... sekarang ceritanya nurutin akalannya si Vika yaa, buat ngerjain aku."
"Abis, mas khan begitu. Bawaannya jutek mulu sama si Vika. Makanya kita pake cara gitu. Hihihihi...!"
"Iya, okeee... Dua lawan satu. Ngalah deh akuu!"
Aku hanya tersenyum pasrah memandang Ranti. Mencium keningnya dan juga kening Jingga.
Berdoa dalam hati semoga Allah selalu menjaga kami, dalam tidur dan dalam mimpi kami.
....
Aku pergi kekantor seperti biasa. Kembali berkutat dengan berkas-berkas laporan keuangan perusahaan tempatku bekerja. Membuatku lupa kalau hari ini adalah hari pindahnya Vika kerumah barunya.
Hampir setengah jam aku menunggu hantaran makan siangku buatan Vika. Aku sudah terbiasa dan tak lagi komplen padanya. Justru terkadang menunggunya dengan perasaan berdebar.
Tiba-tiba Ranti video call handphone-ku.
"Hai, sayaaang! Kalian dimana ituuu?" tanyaku melihat Ranti dan Jingga sedang bermain bersama.
"Paaaa, kami dirumah anti Vika! Papa nanti jemput kami ya kalo udah pulang kantor." Aku mengangguk sembari senyum. Bahagia rasanya melihat tawa dan polah Jingga yang begitu menggemaskan. Aku ikut tertawa.
"Papa Dikaaa....! Nanti jangan lupa yaaa, kesiniii.....! Kerumah mama Vikaaa!" Tiba-tiba Vika muncul dibelakang Jingga langsung memeluk dan menggendong Jingga hingga anakku itu menangis kaget. Sontak aku marah.
"Vika! Itu anakku kamu apain sampe nangis gitu? Sayang, ambil cepat anak kita! Jingga itu ga bisa dikagetin kayak gitu!" teriakku cemas dibalik hp.
Mereka panik sementara Ranti langsung mengambil Jingga dari tangan Vika. Aku diam memandangnya marah.
"Mas, udah dulu ya mas! Aku tutup teleponnya. Nanti kemari ya! Dag papaaah! Assalamualaikuum!" Ranti menutup handphonenya.
Aku menarik nafas panjang. Pergi turun makan siang karena perutku yang keroncongan.
Hari ini Vika pindah rumah. Aku memikirkan apakah uang satu juta yang kuberi tempo hari akan cukup hingga hari ini ia pindahan. Butuh lebih banyak uang untuk menyewa kendaraan mengangkat barang-barangnya dari rumah lama kerumah baru.
Semoga saja Vika tidak kesulitan keuangan saat ini. Karena perjanjian jual beli baru akan terjadi tiga hari lagi.
Sepiring ketoprak cukup mengisi lambungku yang kosong. Maklum, tanggung bulan. Ditambah uang sakuku bulan ini juga tinggal sedikit karena sudah dua juta kukucurkan pada Vika. Makanya aku harus irit.
Sejak mengenal Vika, pengeluaran hidupku membengkak dua kali lipat. Ranti sama sekali tidak mengetahui hal itu. Untungnya kami sudah tidak lagi memiliki cicilan karena sudah lunas semuanya. Tetapi seharusnya aku bisa menabung setiap bulannya paling sedikit 1 - 1,2 juta rupiah perbulan untuk masa depan kami. Tapi justru tabunganku yang sebelumnya ikut tersedot untuk membantu Vika. Kuharap setelah dapat hasil komisi 2% dari penjualan rumahnya nanti, tabunganku kembali stabil.
Uang memang memegang kendali kehidupan. Aku sudah pernah merasakan hidup susah sebelumnya. Jadi aku berdoa, semoga anakku tidak mengalami nasib seperti aku. Untuk itulah aku selalu menuntut Ranti mengikat pinggang demi untuk menabung sedikit demi sedikit.
Aku rela bekerja keras siang malam. Agar orang-orang yang kukasihi tidak kekurangan seperti aku dulu. Mungkin aku terkesan terlalu ngotot berambisi mencari uang. Karena semua itu sudah kurencanakan jauh sebelum menikah. Hingga alhamdulillah pencapaianku berbuah manis bahkan diusiaku yang masih terbilang cukup muda untuk menyandang jabatan manajer pemasaran.
Aku meluncur kerumah baru Vika seperti permintaan Ranti untuk menjemputnya dan putri kami. Hatiku berdesir pelan. Ada getar-getar halus direlung hatiku. Entah kutak dapat menafsirkannya.
Aku mengetuk pintu rumah Vika. Dan tak lama Vika memperlihatkan wajah manisnya lengkap dengan senyum.
Vika memakai dres putih selutut tanpa lengan. Aku mengakui ucapan Ranti tempo hari. Cantik dan elegan.
__ADS_1
"Mas Dikaaa! Masuk, mas!" katanya sembari membuka pintu rumahnya untukku.
Rumah itu terlihat luas karena hanya sedikit perabot yang dibawa Vika. Memang beberapa furniture antik sudah masuk perjanjian dalam jual beli rumahnya yang tidak bisa ia bawa.
"Ranti dan Jingga mana?" tanyaku.
"Tadi sore Ranti dapet telfon. Katanya bapak sama adiknya main kerumah. Jadi izin pulang duluan tadi." Jawab Vika membuatku bengong.
"Kenapa ga kabarin aku sih?" Kali ini Vika hanya mengangkat bahu.
"Makan dulu, mas! Cobain soto buatanku deh!"
"Makasih. Tapi aku pulang aja deh, Vik! Lain kali aku main kesini lagi." Aku bangkit dari sofa yang kududuki. Vika memegang lenganku.
"Nantilah dulu, mas! Kamu juga khan baru tiba. Istirahatlah dulu! Makan dulu. Ya??"
Aku menghela nafas. Mengambil hp lalu mencoba menelpon Ranti.
"Maaf, mas! Aku kelupaan nelpon kamu kalo udah pulang kerumah. Tadi bapak sama Hardi telfon kalo udah ada didepan rumah kita. Kamu udah ada dirumah Vika?"
"Iya nih! Aku pulang deh kalo gitu!"
"Mas! Ga enak sama yang punya rumah. Icip-icip dulu, mas! Tadi Vika masak soto mantep banget lho! Cobain deh!" kata Ranti di telepon.
"Kamu nih! Aku makan dirumah aja!"
"Aku ga masak, mas! Maaf!"
"Ya udah. Aku tutup teleponnya ya yang!"
tut tut tut tut
Vika berdiri dihadapanku dengan membawa semangkuk soto.
"Soto apa, Vik?"
"Daging sapi, mas! Cobain dulu. Ranti bilang, kamu itu penggemar berat soto. Moga kamu suka soto buatanku ini!"
Aku kembali duduk. Mencium aroma soto yang menggoda membuatku lapar. Ranti juga memberiku sepiring nasi putih hangat.
Kuucapkan terima kasih sembari langsung sibuk dengan hidangan yang Vika sajikan. Memang benar. Soto buatan Vika sangat lezat.
"Mmmm...boleh minta tambah sotonya, ngga'?" pintaku agak malu. Vika tertawa senang. Ia pergi ke dapur mengambil soto lagi. Kembali menatapku dengan mata berbinar, karena apresiasiku pada masakannya.
"Uang yang tempo hari memang cukup buat beli daging, ya? Terus, tapi sewa kendaraan untuk angkut barang gimana?" tanyaku kembali mengingat keuangan Vika.
"Semalam aku khan bongkar kamar papa. Ternyata, dilemari tua ada laci. Dan dilaci itu, aku liat ada 5 bungkus emas batangan masing-masing 5 gram. Aku jual satu bungkus, mas! Lumayan, dapat 5 juta mas!" Ranti bercerita dengan semangat membuatku ikut tersenyum senang. Ia tak ubahnya gadis cilik 12 tahun yang begitu antusias dengan sesuatu yang baru menurutnya.
"Alhamdulillah."
"Aku boleh beli hp ya, mas?" tanyanya malu-malu sambil memegang jemariku perlahan.
"Tadi pagi aku udah niat beli hp pas jual emas itu dipasar. Tapi urung, aku harus izin mas Dika dulu!" Aku termenung mendengar ucapan Vika. Begitu polos. Begitu takutnya dia pada diriku hingga untuk membeli sesuatu yang sebenarnya adalah urusannya pun harus meminta izin padaku.
"Belilah. Itu uang kamu, Vika! Kamu berhak atas uang kamu sendiri. Ga perlu izin dariku."
"Mmmh...besok siang, antar aku cari handphone ya mas! Jam makan istirahat. Mau ya?" rajuknya dengan harap-harap cemas.
"Aku banyak kerjaan besok. Maaf! Mau ada tamu dari Taiwan. Kemungkinan kami harus menjamu makan siang juga. Kamu ga apa ya, beli sendiri? Terserah kamu, Vika. Model dan merk kesukaan kamu. Pilih yang benar-benar sesuai kebutuhan kamu. Aku percaya koq, urusan fashion apapun, kamu yang terbaik!"
__ADS_1
Ranti menundukkan kepala sedih. Memilin-milin ujung gaunnya dengan jemari lentiknya.
"Aku harap kamu ngertiin aku, Vika! Aku juga punya tanggung jawab besar diperusahaan tempatku kerja. Ga bisa seenaknya begitu. Kamu faham khan, yaa?!?" Aku memperlunak intonasi suaraku. Berusaha membuatnya mengerti. Dan memang aku tidak bohong.
"Iya, mas! Aku faham. Maaf ya, kalo aku kekanak-kanakan." Ranti menarik tanganku. Memegangnya dengan lembut membuat hatiku bergetar. Aku berusaha melepas pegangan tangannya. Khawatir dengan perasaanku sendiri.
"Masakan kamu enak. Makasih ya! Aku pamit pulang. Jangan lupa kunci pintu rumah! Periksa sebelum tidur. Juga jendelanya. Jangan lupa juga periksa kompor sebelum tidur! Aku kadang mikirin, takutnya kamu teledor." Vika tersenyum manis mendengar nasehatku.
"Mas harus nginap disini biar tau, seteledor apa aku!" godanya membuatku melotot. Pura-pura marah.
"Aku takut kamu perkosa!" bisikku agak nakal balik menggodanya. Aku saja kaget menyadari kalimat yang terlontar spontan itu dari bibirku.
"Hahahaha....maaas! Padahal kamu mau tuuuh, diperkosa aku!" Vika menyerang menggodaku lagi. Tangannya nakal menggelitik pinggangku. Membuatku menggeliat menghindarinya. Tapi ia tak gentar mengejarku.
"Jangaaan.... Aku masih kecil, baru 14 tahun!" jawabku membuat Vika makin terkekeh.
"Sini sama tante, dek! Tante baik koq, ga gigit. Biar tante ajarin kamu permainan yang menyenangkan!" Vika ternyata lebih gila lagi bercandanya membuatku tertawa terpingkal-pingkal.
"Jangan, tanteee! Jangaan....! Nanti aku kena pukul mama kalo kelamaan main sama tante!"
"Hahahaha.... Mas Dikaaaa!"
Kami tertawa bersama. Hingga waktu terlewat begitu saja. Dan aku lupa dengan niatku tadi, pulang kerumah secepatnya.
Kami duduk berdekatan. Hingga kulit tanganku dan kulit tangan Vika saling bergesekan. Menimbulkan getar-getar yang mendebarkan.
"Seumur hidup aku baru merasakan kebahagiaan seperti ini mas! Aku merasa auraku begitu terang bersinar ketika bersama mas! Bahkan untuk cintaku dulu pada Arif. Ga sebesar perasaanku pada mas yang meluap!" Ranti melontarkan kata-kata yang mencengangkan.
Jujur aku bahagia. Bisa terlihat dari semburat merat dan butiran keringat diwajahku yang gugup dengan pernyataan cintanya. Aku, seorang pria 39 tahun, diperlakukan sebegitunya oleh seorang wanita. Yang begitu gencar menembakkan panah asmaranya. Hari demi hari dengan segala daya pikatnya. Jujur hatiku luluh. Meleleh.
Tapi tak bisa. Ada Ranti, juga Jingga.
"Kamu hanya terbawa perasaan saja, Vika. Kamu sebenarnya hanya kagum padaku. Bukan cinta. Karena kamu baru mengenalku. Bahkan belum genap 3 bulan kita kenal. Setelah kamu punya uang nanti,... kamu pasti bisa mendapatkan suami yang lebih baik dari Arif. Yang menyayangimu dengan tulus. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu!"
"Aku tau, kamu ga percaya pada perasaanku, mas! Aku bisa mengerti itu. Biarlah waktu yang membuktikannya!"
Kenapa aku sedih mendengar ucapan Vika. Mungkin benar aku tidak percaya. Aku tidak percaya diri. Karena aku tau diriku. Aku hanyalah pria beruntung yang Allah pilih hingga bisa menikmati kehidupan yang lebih baik dari masa laluku.
Jam tanganku menunjukkan pukul 10 malam kurang.
"Kamu udah mau pulang, mas?" tanyanya kujawab dengan anggukan.
"Ini untukmu, mas! Aku tau, pasti uang gajimu sudah habis karena sudah beberapa kali kamu berikan padaku. Emas ini bisa mas jual untuk tambahan uang saku sehari-hari. Maaf, mas... Mungkin tak sebanding dengan banyaknya pengorbananmu padaku." Vika memasukkan sesuatu kekantong kemejaku. Aku merogohnya. 2 bungkus emas murni asli. Aku memberikannya kembali ke Vika.
"Kalo mas ga mau terima, aku akan merusak rumah tangga mas dengan Ranti. Aku bisa hasut dia, biar dia marah sama mas!" ancam Vika membuatku menelan ludah. Vika sepertinya kembali gila. Ini yang kutakutkan terjadi. Aku masukkan kembali emas itu kesaku kemejaku.
"Aku pulang, ya?"
"Hati-hati dijalan, mas!"
Aku berjalan keluar rumah. Tapi seperti ada ganjalan dihatiku. Aku kembali menemui Vika lagi.
"Vika! Aku merasa harga diriku terinjak-injak! Aku merasa seperti seorang ****** yang menerima upah dari hasil jerih payahnya menyenangkan hati nona besar."
Vika merengkuhku dengan dekapan mesranya.
"Jangan bilang begitu mas! Aku jadi sedih! Aku ga suka ******. Aku juga ga bermaksud menginjak-injak harga dirimu, mas!... Mas sungguh orang yang sangat baik. Bahkan dengan tulus ikhlas membantuku tanpa memikirkan balas budi. Berapa banyak uang mas habis untuk biaya hidupku. Apa ada ****** yang mau berkorban seperti itu?"
Aku tercekat. Kata-kata Vika menggugah perasaanku. Kukecup keningnya seraya melepaskan dekapannya. Tanpa banyak kata, aku keluar menuju mobilku yang terparkir didepan rumah. Aku tak sadar dengan apa yang kulakukan. Mengecup kening perempuan lain didepan jalan yang mungkin dilihat orang yang lalu lalang.
__ADS_1
Vika pun seperti terkejut dengan tindakanku. Ia tidak berkata-kata. Hanya lambaian tangannya mengiringiku pergi beranjak meninggalkan pelataran itu.
Bersambung-