AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
AKU DAN DIA


__ADS_3

Ini kali kedua aku mengunjungi Jingga di rumah Ranti. Pagi tadi aku sudah mengabarkan Ranti kalau sore ini aku akan menengok mereka. Ranti mengiyakan tanda setuju.


Pertemuan kami kini terlihat lebih santai. Jingga juga semakin intens berbincang denganku. Sungguh aku bangga memiliki anak sepintar Jingga. Padahal ia baru 4 tahun, tapi cara berfikir dan daya tangkapnya sangat luar biasa. Membuat aku kadang kaget dan exaited dengan kata-kata yang spontan keluar dari bibir mungilnya. Membuat kami bisa tertawa terbahak-bahak jadinya.


Aah.... Suasana yang selalu kurindukan.


"Papah, kenapa ga mau nginep sini? Bosnya galak ya?" kata Jingga membuatku dan Ranti terbelalak. Ranti menahan tawa menutupi mulutnya. Terlihat manis sekali.


"Aku ga pernah ajarin Jingga ngomong gitu lho, mas!" ujarnya berusaha mengajukan pembelaan mendengar pertanyaan Jingga yang begitu menggemaskan.


"Habis, papa selalu sebentar mainnya sama Jingga. Habis magrib langsung pulang. Pasti bosnya galak. Iya khan?" Jingga lagi-lagi berargumen seperti itu membuat kami tertawa lagi. Jingga tidak cadel seperti kebanyakan anak seusianya.


"Papanya Elin juga bosnya galak, kata Elin, mah!" kata Jingga lagi. Ternyata ia tahu dari cerita temannya. Hehehe...sweet sekali anakku ini! Aku hanya bisa memeluknya. Terharu.


"Nanti kalo Jingga sudah lebih besar,..papa ajak Jingga liat kerja papa. Mau?"tanyaku membuat mata Jingga berbinar.


"Boleh, pah? Nanti bosnya marah ga?"


"Sekarang papah ga punya bos. Papah dagang sempol ayam. Nanti kalo papah kesini lagi, papah bawain deh buat Jingga. Mau?"


"Mau, mau, mau!"


Jingga berjingkrak kegirangan. Membuatku semakin gemas dengannya dan menciumi pipinya kiri kanan.


Ranti memberikan secangkir kopi padaku. Duduk manis disamping aku dan Jingga.


"Gimana usahamu mas? Lancar?"


"Alhamdulillah, berkat doamu!"


"Alhamdulillah...."


"O iya.. Ini untuk biaya Jingga. Maaf hanya segini, Ranti! Aku juga mau minta tolong titip satu amplop lagi untuk ayahku. Tolong ya? Mungkin Hera bisa mengambilnya kesini. Aku ga berani pulang kerumahnya. Ayah pasti masih marah."


Ranti tersenyum, mengambil dua amplop dariku.


"InsyaAllah, amanatmu kusampaikan!"


"Terima kasih, Ranti!"


"Sama-sama, mas! Bagaimana kabar Vika? Pasti kalian sekarang sudah bisa kontekan khan?" Pertanyaan Ranti membuatku bingung menjawabnya. Aku menggelengkan kepala dengan senyuman kecil.


"Kemungkinan beberapa bulan lagi Vika pulang ya, mas? Paling engga', dia akan merawatmu setelah ini. Kalian bisa memulai kehidupan baru!"


Aku tak merespon ucapan Ranti. Hanya senyum dan menelan ludah getir karena hingga saat ini masih belum menemukan kejelasan dari Vika.


"Bagaimana bisnis butik onlinemu, Ran?"


"Alhamdulillah... Semua baik-baik saja!"


"Syukurlah!"

__ADS_1


Aku diam. Berusaha mencari topik obrolan yang sekiranya menyenangkan untuk kami berbincang. Tapi fikiran ini seperti buntu.


Hingga magrib tiba dan aku bergegas ke masjid terdekat dari rumah Ranti. Aku merasa sedih bila pertanyaan Ranti hanya seputar Vika dan Vika. Aku ingin bisa ngobrol banyak tentang apapun dengannya. Karena bila ada topik Vika yang dibahasnya, aku menjadi ngedrop dan down untuk berkata-kata lagi. Hhh. .


"Ranti! Aku pamit pulang ya.. Terima kasih atas jamuannya. Titip salam buat Jingga! Sun sayang dari papanya!"


Aku pergi setelah magriban. Seperti kata Jingga tadi. Tapi sebenarnya demi mengejar kereta jurusan Jakarta. Dan aku bisa cepat sampai kontrakan untuk membuat adonan sempol.


Jingga sedang pergi mengaji dirumah pak ustad yang tak jauh dari rumah Ranti. Makanya setiap pulang, aku tidak bisa berpamitan dengan Jingga dengan benar.


Aku merasakan moodku yang turun. Malas dan lemas pulang kerumah. Tapi harus kupaksakan untuk menjalani lagi kehidupanku selanjutnya. Mencari nafkah sesuap nasi dan sebongkah harapan. Bisa membangun lagi jati diri yang telah hilang dan juga menemukan kejayaan dimasa lalu.


Malam kian larut. Setelah beberapa jam berkutat dengan tepung, daging ayam giling dan bumbu-bumbu penyedap, aku masih harus sibuk mencetak adonan tersebut menjadi sempol mentah lalu dikukus lagi hingga matang.


Hpku berdering beberapa kali. Kembali berdering membuatku segera mencuci tangan dan memeriksa siapa yang menghubungiku ditengah malam ini.


Nomor tak dikenal. Aku hanya mengingat-ngingat, pada siapa hari ini aku memberi nomor pribadiku. Atau mungkin pelanggan baru yang ingin memesan sempolku.


Aku segera mengangkatnya setelah berdering lagi.


"Ya, hallo.. assalamualaikum!"


Alaikumsalam... Mas? Mas Dika?


Jantungku berdetak cepat. Suara ini.... aku mengenalnya.


Maaas ini aku, Vika! Apa kabarmu mas?


Aku baik juga, mas!


"Kapan kamu pulang, honey? Aku kangen!"


Mas!... Maaf,... aku...mmm...aku, memperpanjang lagi kontrakku 2 tahun lagi.


"Bukankah masa kerjamu sudah mau habis bulan-bulan ini?"


Iya. Tapi aku terpaksa memperpanjangnya. Tabunganku belum cukup untuk pulang. Maaf mas!


Aku terdiam cukup lama mengatasi kekecewaan dalam hatiku. Vika...., setelah akhirnya semua ending terbuka untuk kita. Kamu dengan begitu saja melepaskanku juga?


"Vika! Apakah tidak lebih baik kamu pulang, honey? Kita bekerja dinegeri sendiri saja. Bagaimana?... Aku juga udah mulai buka usaha sendiri, Vika! Kita bisa belajar dari awal semuanya. Okey?"


Maaf, mas! Aku rasa.... hhhh.... hubungan jarak jauh kita tidak berjalan dengan baik. Aku juga disini bekerja keras sendiri membuat kehidupanku lebih baik lagi dari hari kehari. Kuharap mas mengerti!


"Maksudnya apa? Hubungan kita tidak berjalan dengan baik? Itu benar, Vika! Pulanglah, kita perbaiki semuanya!"


Aku ga bisa mas! Aku disini cukup baik. Dan mumpung juga kinerjaku sedang bagus-bagusnya, aku ga bisa lepasin semuanya disini begitu saja. Kumohon pengertian mas! Untuk saat ini,.... mari kita jalani hidup kita masing-masing. Saling mendoakan kebaikan yang terbaik.


Hhhh.... Aku baru sadar arah pembicaraan Vika. Ia ingin melepaskan hubungan ini. Ingin berpisah dari aku seutuhnya.


Mas?? Mas Dika?

__ADS_1


"Iya, Vika! Itukah maumu Vika? Hhhh...."


Mas, kumohon jangan marah!


"Aku tidak marah. Tidak bisa marah padamu, Vika! Yah, kalau itu kemauanmu....baiklah! Aku tahu, saat ini aku ga berhak mengatur hidupmu. Aku juga sekarang belum bisa menjanjikan apa-apa padamu. Maaf, kalau aku buat kamu kecewa, Vika!"


Aku yang minta maaf, mas! Setelah sejauh ini pengorbanan kita,.... aku, tidak mampu bertahan lagi. Aku menyerah dengan hubungan kita yang jauh. Maaf, mas!


"Okey, never mine! Jaga dirimu baik-baik, Vika! Jangan lupa selalu berdoa pada Allah moga kamu selalu bahagia. Aku selalu mendoakanmu dari sini!"


Kembalilah pada Ranti, mas! Tolong sampaikan maafku padanya.


"Kami sudah resmi bercerai Vika! Ya sudah, aku tutup telfonnya ya! Wasalamualaikum!"


Tuut tuut tuut.. .


Aku hanya terpaku dengan tangan menggenggam kuat handphoneku. pikiranku serasa beku. Hatiku kini benar-benar telah mati.


Pertama Ranti, sekarang Vika. Dua wanita yang dulu begitu mendambaku satu persatu meninggalkanku sendirian. Tanpa ampunan.


Bagaimana aku?


Hei kalian! Apakah tidak kalian fikirkan perasaanku saat ini? Apakah kalian bersekongkol mempermainkanku? Mempermainkan hidup dan cintaku? Apakah kalian sungguh bersenang-senang saat ini?


Seketika setan dan iblis merasuk jiwaku. Merobek-robek hatiku. Menabur garam dilukaku. Aku menangis masuk kamar. Tak menghiraukan Jabrik yang berkali-kali menanyakan keadaanku.


Aku seperti pemuda 15 tahun yang patah hati. Galau sejadi-jadinya. Menangis sekeras-kerasnya membuat Jabrik menggedor-gedor pintu kamarku.


Aku tak peduli lagi. Aku hanya ingin meluapkan emosiku. Aku ingin menuangkan amarahku.


Bahkan hujan deras seketika ikut mengiringi nyanyian kepiluanku. Aku sungguh tenggelam pada kekecewaan. Betapa cinta kejam padaku. Membuaiku hingga terbang ke awan lalu menjatuhkanku dari ketinggian tanpa ampunan.


Ya Allah.... Sakit rasanya hati ini. Pedih rasanya batin ini. Apakah cinta sungguh tak berpihak kepadaku ya Allah? Sejak kecil hingga kini, kenapa cinta selalu jauh dari aku? Kenapa ya Allah.....


Hanya cucuran airmata membanjiri bantal tempatku telungkup diatas kasur.


Lelah yang teramat membuatku tertidur tanpa ingat apa-apa lagi. Hingga pukul 2 malam aku tersadar dan terbangun.


Mataku sembab karena airmata yang banyak keluar. Bergegas kekamar mandi nongkrong lama di wc.


Setelah lama tersadar aku keluar memeriksa kerjaan yang belum terselesaikan tadi. Kulihat Jabrik meringkuk di atas karpet permadani dengan berselimut sarung. Kompor gas sudah dimatikan Jabrik rupanya. Begitu juga sempol ayam yang tadi berserakan. Kini telah berpindah kedalam frezeer. Pasti Jabrik juga yang membereskannya. Maaf Jabrik! Sesaat aku gila karena cinta. Hhh....masyaAllah! Aku berdecak malu pada diriku sendiri.


Aku kembali kekamar mandi. Mengambil air wudhu mensucikan hadas kecil. Aku ingin mengadu pada-Nya saja. Saat ini hanya Dialah tempatku bercerita. Dari dalam hati yang paling dasar. Allah Maha Tahu segalanya. Kesakitanku, kejelekanku dan juga keinginanku.


Ranti, Vika....maaf! Aku sempat marah pada kalian. Aku sempat mengumpat dan membenci kalian. Hanya karena aku tidak lagi ada diantara kalian. Mungkin dulu aku terlalu jumawa. Angkuh dan sombong. Hingga Allah mencabut semua kenikmatan cinta dari diriku. Aku harus legowo. Menerima takdir Tuhan. Karena marah pun tak ada gunanya selain semakin membuat kotor diri ini saja karena perkataan kasar. Itu juga membuat tumbuh penyakit baru didiriku yaitu penyakit hati. Aku tak mau mengidap itu. Aku tak ingin, ya Allah! Cukup stroke saja yang pernah menyerangku beberapa waktu lalu. Aku tidak mau ya Allah!


Malam bergulir perlahan seiring tenangnya lagi jiwaku.


Kuselimuti Jabrik yang tertidur dengan pulasnya. Anak ini baru 24 tahun. Dia juga punya banyak kisah sedih dihidupnya. Tapi tetap semangat menjalani hidup. Masa' aku harus kalah dengan anak muda yang baru tumbuh dewasa ini! Padahal Allah telah menggodokku dengan kepahitan hidup sejak lama, sejak kukecil. Cemen sekali aku yang sudah mau 42 tahun ini bisa kalah dari dia! Batinku bergolak. Kembali kunyalakan api semangat.


Bismillah... Aku siap kembali bertarung dengan diriku sendiri ya Allah!

__ADS_1


Bersambung-


__ADS_2