
"Ranti!... Aku ingin mengajak Jingga ke Seaworld hari minggu nanti. Boleh ya?" tanyaku meminta izin pada Ranti sewaktu pulang dari kerja dan melihat Ranti tengah duduk santai diterasnya.
Ranti menatapku dengan pandangan sendu. Sepertinya ia memiliki rencana lain. Kemungkinan izinku agak bermasalah kali ini.
Ranti menunduk seraya menghela nafas.
"Kalau kamu sudah punya rencana lain, tidak apa-apa Ranti! Aku bisa mengajak Jingga dilain kesempatan. Maaf!"
"Mas!"
"Ya?"
"Apa aku tidak lagi menarik dimatamu?" Aku terkejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba seperti itu. Aku diam hanya menelan ludah.
Kata siapa, Ranti? Kau selalu pandai menarik perhatianku. Kau selalu berputar-putar diotakku. Menggelitik hatiku yang kadang rindu ingin memandang wajahmu meski dari kejauhan. Meski harus dengan diam-diam.
"Kamu sepertinya tidak ingin pergi denganku. Kamu hanya ingin pergi dengan Jingga saja." Ranti kembali menangis membuatku tambah diam membatu. Aku lagi-lagi membuat airmatamu jatuh, Ranti! Maaf...... maafkan aku!
Aku sedang terpuruk Ranti! Aku sedang diambang kematian. Aku mungkin menjenuhkan bagimu karena tidak lagi bernafsu ingin memilikimu. Aku tidak ingin memanfaatkanmu lagi seperti dulu.
Jangan pandangi aku terus, Ranti! Aku kuatir kamu akan kembali jatuh kepelukanku hanya karena rasa ibamu yang mendalam. Jika itu terjadi, maka semua kisah kita kembali seperti masa lalu. Dan aku hanya akan menyusahkanmu dengan penyakitku.
Iya. Aku butuh kamu. Aku butuh Jingga. Aku butuh seseorang yang mampu menyemangati hidupku agar terus fight dan tak patah semangat. Tapi betapa jahatnya aku jika aku akan lagi memanfaatkanmu hanya agar ada yang bisa mengurusku ditengah kesusahanku dengan rasa sakit yang menyiksaku.
Aku tak ingin terus menerus menyiksamu. Menyusahkanmu apalagi membuatmu kembali menangis karena memikirkan diriku yang hampir mati ini.
__ADS_1
Lihatlah dunia luar, Ranti! Mentari pagi yang hangat masih bersinar dengan malu-malu dan semburatnya masih memukau banyak orang. Banyak orang menyayangimu. Banyak pria baik diluar sana yang memperhatikanmu. Move on lah! Berbahagialah! Ceriakanlah harimu Ranti!
Tuhan! Mungkin aku salah telah mengambil keputusan untuk tinggal berdekatan denganmu. Mungkin aku hanya akan membuat luka hatimu semakin dalam. Padahal demi Tuhan, aku tak ada sedikitpun niatan seperti itu. Maafkan aku, Ranti!
Aku hanya diam tak bisa memberimu jawaban apalagi penjelasan. Hhhh.... Maaf Ranti!
Mungkin pembaca ikut sedih dan terhanyut akan ceritaku. Terima kasih. Aku memang pria setengah tua yang cengeng. Ditambah lagi ternyata pengaruh obat juga rupanya berperan besar kepada psikologiku yang naik turun dan menjadi labil bahkan lebih kearah kesedihan. Untuk itu aku butuh support dan semangat kalian sama seperti saat kalian menghujat dan memarahiku ketika aku tercebur kedalam kemaksiatan.
Aku butuh suntikan semangat. Aku beruntung dua sahabat rusuh yang telah kuanggap adik itu mau tinggal denganku walau hanya beberapa hari saja setiap minggunya.
Hera memaksaku untuk segera operasi. Berarti aku harus memberitahukan kondisiku pada Rosa dan mas Anjar. Secara otomatis aku akan mengambil cuti kerja hingga 3 minggu kedepan.
Rosa shock mendengar ceritaku dan mas Anang yang tertunduk lesu diatas meja kerjanya.
"Ayolaaah.... semangati aku! Kalau kalian bersedih, hatiku lebih sedih lagi! Aku minta izin cuti kurang lebih satu bulan untuk operasi dan masa penyembuhan. Pleaseeee....!!! Aku akan kembali lagi bersama kalian!" Aku berusaha menghibur mereka padahal sebenarnya aku hanya sedang menghibur diriku sendiri.
"Hebat khan aku? Hihihihi.... cerita hidupku udah seperti sinetron bermini seri yang penuh misteri dan tragedi. Jiaaaaah..... hahahaha... ayo Ros! Kita bikin film kalau pabrik kita sukses nanti!"
"Orangtua gila, sinting, miring!!!"
"Naaaah gitu dong! Ayo, keluarkan amarahmu untuk membakar semangatku!" Rosa tersenyum kesal tapi pasrah karena aku yang selalu ngeyel dan bahkan sengaja membangkitkan kekesalannya.
Ayo, ayo, ayo! Semangat!!!!
Semangaaaaaaat!!!!!!!
__ADS_1
....
πAGUSTUSAN DULUπ
"Papaaaaa..... Jingga udah daftar mau ikutan lomba agustusan di rumah pak RT!"
"Waaah, hebat anak papa! Ikut lomba apa, nak?"
"Makan kerupuk."
"Kereeeen....ntar semangat yaaa lombanya!"
"Oke!!! Pah.... Kenapa sih tiap agustusan selalu ada lomba dirumah pak RT????" tanya Jingga dengan polosnya.
"Lomba itu, diadakan untuk memeriahkan hari Kemerdekaan Negara kita tercinta, sayang! Negara Republik Indonesia!"
"Ooooh gituuuuu.... Emangnya waktu jaman perang sama Belanda sama Jepang, kita kalah lomba terus ya pah sama mereka? Makanya tiap tahun harus latihan lomba, jadi kalau ada perang lomba lagi, Indonesia pasti menang!!! Yeeeey.... Jingga harus menang ya pah!!!! Semangaaaaat!!!"
π ππππ
"Bukan begitu, Jingga sayaaaaang!!!!"
Hadeeeeuh, bingung nih jelasinnya sama bocah umur 5 tahun. Sok atuh, yang punya saran... atau masukan, gimana caranya jelasin ke Jinggaku para pembaca yang budiman!!!
See you next time....π€ππ
__ADS_1
Bersambung-