
Hari-hariku kembali sibuk berkutat dengan pekerjaan. Kubiarkan istriku bersenang-senang beberapa hari bersama sahabatnya. Dan aku bisa bernafas lebih tenang dalam beberapa hari.
"Bagaimana sahabatmu itu, yang? Udah dapet tempat yang dia cari?" tanyaku pada Ranti.
Ranti tersenyum menggeleng. Ia menarik nafas panjang.
"Ternyata susah ya, cari rumah atau kontrakan yang bisa sesuai keinginan Vika, mas!" Aku balas tersenyum. Aku sudah menduga. Ranti saja yang sudah 3 tahun berteman dan bersahabat dengan Vika sulit mengerti dan memahami kemauan perempuan itu. Apalagi aku.
"Masih terus mencari dong?"
"Yaaa gitu deh! Rencana besok jam 9 kami ketemuan lagi yang! Ga apa ya, 4 hari ini aku keluar terus bawa Jingga."
"Ya gimana lagi. Tapi kamu juga harus fokus sama Jingga. Jangan sampe melalaikan jam makan dan jam tidur putri kesayanganku. Awas aja, kalo kamu sampe terlalu ga enak hati sama sahabat kamu tapi kurang peduli sama anak."
"Iya, mas! Vika juga ga mau sampe aku begitu. Bisa-bisa aku ga lagi diizinin ketemu sama Ranti dan Jingga kalo sampe terjadi sesuatu sama kalian, itu katanya mas!"
Ranti tertawa kecil, tapi aku hanya diam. Aku ga rela lah, menukar kebahagiaannya dengan kesusahan pada anak istriku. Enak saja!
"Aku juga belakangan ini sibuk banget, yang! Banyak kerjaan numpuk juga beberapa kontrak perjanjian yang di proses ulang. Jadi mungkin kadang bisa pulang maleman."
"Iya, yang penting tetep jaga kesehatan mas. Makan siang jangan lupa. Terus vitamin yang aku taruh ditas kerja kamu masih ada atau ngga'? Jangan lupa harus diminum, mas! Jangan sampe terlalu fokus sama kerjaan sampe lupa sama diri sendiri."
"Iya. Semua ini demi kalian, yang! Terutama untuk Jingga!"
"Aku tau. Aku sayang kamu mas! Bangga punya suami kamu. Mmm, kamu tau ga yang.... sampe si Vika becandain kamu, kalau aku punya uang 5 miliar...boleh ga tukeran sama suami kamu? Katanya...aku sangat beruntung memiliki kamu."
"Cewe gila! Jangan terlalu akrab sama dia yang! Jujur, sebenarnya aku ga suka kamu terlalu manis sama dia. Kamu itu terlalu polos. Sedang dia,... aku ga tau deh." Ranti mencubit lenganku. Menggandengnya mesra hingga membuat dadanya menempel dilenganku.
"Malam ini sengaja ya, mancing aku nih..."
"Hihihihi... mas nih, ga boleh ditempel dikit langsung panas. Gimana kalo liat Vika mas? Bodinya lebih aduhai khan? Liat dia aku jadi minder lho!"
"Hei! Ga pantes kamu bandingin dia sama kamu, yang! Kamu lebih segala-galanya bagi aku dari dia maupun dari perempuan lainnya dimuka bumi ini. Sekali lagi ngomong gitu, aku bisa marah besar sama kamu. Mau dia punya badan aduhai kek, mau dia lebih bohay kek... Dimataku, kamu istriku paling sempurna. Ya aku normal lah.... masih bisa liat juga. Tapi jangan samakan dengan pria lain diluar sana yang jelalatan."
"Aku khan cuma ngomong gitu doang, mas! Jangan marah dong, sayang!"
"Asal kamu tau, aku genit cuma sama kamu. Aku manja cuma sama kamu. Aku juga cuma ingin bercinta sama kamu. Biarpun tubuh perempuan lain lebih menggoda. Tapi cuma kamu yang ada difikiranku. Setiap tetes keringatku, setiap untai doaku. Cuma buat kamu dan Jingga!" Ranti memelukku. Mencium bibirku hingga aku tak lagi berkata-kata.
"Please, yang! Jangan lagi berkata begitu ya? Itu menyakiti perasaanku."
"Maaf, mas! Maaf yaa....?"
Aku tidur memeluk Ranti. Wanita ini kadang memang membuatku jengkel dengan perkataannya. Tapi aku tahu, sebenarnya Ranti kadang tidak percaya diri dengan cintaku. Apalagi kini Vika nyaris terus berputar dikehidupan kami. Andai ia tahu aku juga merahasiakan beberapa kali pertemuanku dengan Vika. Hhhh.... aku hanya menarik nafas.
Bukan aku tak tertarik dengan Vika. Bukan juga aku lelaki suci yang sudah tertutup keindahan dunianya. Bukan. Toh kadang jiwa kelelakianku bergejolak ketika Vika merajukku dengan tatapan matanya, gestur tubuhnya yang indah memang. Tapi aku tidak ingin menjadi lelaki bodoh yang terhanyut hingga dengan mudah menjatuhkan harga diri dan martabatnya hanya karena kenikmatan sesat.
__ADS_1
Kadang aku juga memikirkan Vika yang sudah beberapa hari tak datang mengirim makan siangku. Tak datang menggerecoki waktu jam pulang kerjaku. Tak datang walau hanya menggodaku dengan rayuan picisnya yang kadang membuatku marah padanya.
Bahkan kini aku sedang bermain api karena menyimpan korek dibelakang Ranti. Aku tidak terbuka menceritakan bahwa kedekatanku dengan Vika lebih dari yang dia tahu. Hhhh... Lagi-lagi helaan nafas panjangku.
Esok pagi tiba-tiba seorang Notaris menelponku. Memberitahukanku jadwal pertemuan kami dengan artis yang berniat membeli rumah Vika ternyata dipercepat. Sungguh diluar dugaan, semua berjalan lebih mulus dari yang kubayangkan. Mereka meminta Vika mempercepat kepindahannya dan membersihkan rumah beserta furniture yang telah disepakati bersama. Karena artis itu ingin ketika menandatangani perjanjian nanti semua urusan sudah beres dan rumah juga sudah dalam kondisi bersih.
Aku diam sesaat setelah menutup telepon. Vika belum memiliki hp sampai saat ini. Agak sulit untuk menghubunginya. Untuk meminta Ranti menyuruhnya ke kantorku sepertinya tidak mungkin. Karena rahasia bisnis kami bisa ketauan.
Masih ada waktu beberapa hari lagi. Seminggu lagi tepatnya. Aku memijit pelipisku memutar otak. Hhh...., biar nanti kufikir lagi cara agar kami bisa saling terhubung.
Jam makan siang aku bergegas meninggalkan kantor. Mencari beberapa resto kecil disekitaran gedung Graha mencari menu baru agar selera makan kembali tergugah. Cecillia ternyata memintaku ikut dengannya karena ada lelaki yang sedang ia hindari selalu mengganggunya akhir-akhir ini.
"Hadeuh Cecil,... Kamu ini mau nyewa aku jadi bodyguard kamu ya?"
"Tolong, pak! Soalnya kalo saya bersama laki-laki pasti dia ga berani ganggu saya."
"Kamu dapet pelecehan ga? Kalo dia udah melebihi batas wajar, kamu bisa laporin ke sekuriti sekitar. Atau kalo perlu lapor kantor polisi sekalian!"
"Ga segitunya juga sih, Pak! Tapi dia udah stalkingin saya terus sampe tau tempat makan siang saya, terus nimbrung ikutan makan siang dimeja saya. Bikin nafsu makan saya turun!" Aku terkekeh mendengar Cecillia bercerita.
"Kamu ga bilang, kalo kamu punya pacar?"
"Udah. Malah saya bilang sudah tunangan. Malah ngeyel bilang, yang udah nikah aja bisa cerai...apalagi baru tunangan. Ngeselin banget khan, pak! Hadeeeuh...!"
"Hahaha.... cinta berat rupanya. Ya udah. Hayo deh, aku ikut. Tapi kita mau makan siang dimana?"
"Lha, emang kamu udah pisah rumah sama ibu?"
"Iya. Udah 4 bulan belajar mandiri. Beli rumah tipe 21 diperumahan Griya, pak! Rumah kecil makanya lumayan murah cicilannya. Jadi saya berani ambil."
"Waaah, hebat kamu! Oke, siap kita meluncur."
"Maaf ya, Pak. Bikin repot." Cecillia tersenyum malu.
"Memang bikin repot!" timpalku membuat Cecill garuk-garuk kepala tak enak. Aku tertawa lepas.
Ternyata perumahan Griya itu adalah perumahan baru dibilangan wilayah ini. Rumahnya hanya 75 meter saja. Tapi halamannya cukup luas depan dan belakang. Aku berkeliling sekitar rumah Cecil. Lumayan juga, gumamku.
"Disini masih banyak rumah kosong, Cil?" tanyaku pada Cecil.
"Ada, pak! Cukup banyak peminatnya kata pengembangnya. Apalagi nanti didepan itu bakalan dibangun mall kecil dan tempat olahraga perumahan katanya. Mungkin 2-3 tahun ini semua rampung."
"Boleh juga nih!"
"Boleh, pak! Buat nambah properti lagi."
__ADS_1
"Bukan buat aku, Cil! Tau khan perempuan yang waktu itu ikut kita dari Batam? Dia lagi cari rumah. Kayaknya bisa nih, buat dia." Cecil termangu. Ia pasti kaget kalau ternyata hubunganku dengan Vika masih berlanjut.
"Hati-hati, Pak! Nanti dilabrak ibu, lho!" sarannya sambil becanda.
"Justru ini perintah ibu!"
"Haah?!?!" Cecil bingung aku senang. Aku menertawakan kebingungan Cecil, asistenku.
Kutelpon Ranti. Menanyakan apa Vika sudah mendapatkan rumah yang sesuai keinginannya. Ternyata Ranti bilang, Vika tidak datang kerumah. Mungkin ada urusan lain, tebak Ranti. Akupun mengakhiri bincangku dengan istriku.
Hhh.... Memang susah, bila ingin komunikasi tanpa alatnya. Seperti Vika yang saat ini tidak memiliki handphone. Hanya bisa menunggu.
Aku dan Cecil kembali ke kantor setelah dari rumah Cecil dan makan siang disekitar perumahan itu.
"Aku bawa makan siang mas, tapi kata mas OB mas-nya ga ada ditempat. Aku jadi penasaran nunggu diparkiran." Vika langsung menyapaku setelah melihatku turun dari mobil dengan Cecil. Wajahnya terlihat sedih membuatku kaget bukan kepalang.
Cecil memberi salam dan menjabat tangan Vika. Setelah itu ia minta izin kembali kekantor lebih dulu.
"Kamu?" tanyaku agak riskan didepan Cecil tadi.
"Aku pikir mas pasti kangen masakanku. Soalnya udah beberapa hari aku sibuk sama Ranti cari rumah." Kata Vika pelan dengan wajah tertunduk. Ada kekecewaan dibola matanya.
Kamu, yaaa.... Istriku nungguin kamu dirumah dari tadi. Bilang dong harusnya kemarin kalau kalian ga bisa ketemuan." semprotku membuatnya terlihat makin sedih.
"Maaf mas! Aku lupa. Aku cuma ingat kamu. Aku lupa bilang Ranti kalau hari ini aku ga bisa minta antar dia cari rumah."
"Hadeeuh...! Untung janjiannya bukan dijalan. Kalo dijalan, pasti anak istriku kepanasan nunggu kamu. Dewasalah dikit, Vika!" Aku memarahinya. Airmatanya tumpah mengalir dipipinya. Aku kejam memang. Tak peduli padanya. Tapi omonganku benar khan! Bisa kubayangkan istriku yang menunggunya dipinggir jalan, dengan menggendong putri kami. Menunggu lama dirinya yang ternyata tak kunjung datang. Malah sibuk dengan urusan lain tanpa memikirkan apakah orang yang menunggunya kesal, capek atau lapar.
Aku berjalan meninggalkan Vika. Ternyata perempuan itu bergegas mengikuti langkahku.
"Mau kemana kamu? Aku mau kerja lagi!" tanyaku ketus. Matanya masih basah.
"Ini gimana masakanku, mas?" jawabnya terbata-bata.
"Ya sudah, bawa lagi. Aku udah makan bareng Cecil!"
"Mas!" Vika mengiba memegang lenganku. Matanya menatap lekat mataku. Ada kesedihan mendalam diriak matanya.
"Oiya, tunggu saja nanti pulang jam kantor. Kita harus bicara!" kataku ketus membuatnya menelan ludah takut.
"Hapus airmatamu. Nanti orang lihat, menyangka aku berbuat jahat padamu. Aku harus kembali ke kantor. Jam istirahat sudah habis!" Vika buru-buru menyusut airmatanya. Memaksa bibirnya tersenyum.
"Aku tunggu jam pulang ya, mas!" katanya lebih terdengar ceria. Ia melambaikan tangannya melihatku berlalu masuk gedung Graha.
Aku menyadari betapa kejamnya perilakuku padanya. Hhh.... Bagaimana kalau nanti Vika membalasnya ketika ia sudah menerima uang miliaran itu dan bertindak semena-mena padaku. Agak ciut juga nyaliku.
__ADS_1
Hhh.... Sepertinya aku bakalan tidak lepas dari cengkeraman kekuasaannya nanti. Aku harus bersiap dengan yang terburuk.
Bersambung-