
Setelah mendengar wejangan si mbah, akhirnya aku menyadari lagi satu hal. Tidak ada manusia sempurna dihidup ini. Aku tidak boleh terlalu lama menyimpan luka karena kecewa sekelumit kecil saja pada ayah. Padahal pengorbanan ayah begitu besar padaku. Semua kasih sayangnya meski tak diungkapkan secara nyata dan terbuka. Begitu ia menyayangi kami anak-anaknya terlebih aku bahkan untuk kebahagiaan agar ibu bisa hidup lebih lama lagi bersama kami, ia bekerja mati-matian untuk biaya berobat ibu. Ayah tahu, ibu lebih bisa mengungkapkan kecintaannya pada kami dibanding beliau yang kaku. Untuk itu ia terpaksa mengesampingkan kehidupan kami demi kehidupan ibu. Karena ibulah lentera bagi kami. Aku menangis semalaman memikirkan betapa jahatnya aku bila terus kecewa pada ayah.
Baiklah. Aku akan pulang. Aku juga tak ingin memendam kekecewaan semakin lama dan mengendap terus dihati ini. Aku harus meminta maaf pada ayah sekali lagi. Dengan tulus dengan membasuh kakinya yang penuh luka dan derita selama mengurus dan membesarkan kami.
Simbah bilang, berapa banyak hantu penasaran yang menjadi setan gentayangan. Itu karena memendam dendam dan juga kekecewaan yang belum hilang. Aku tak mau mati menjadi setan gentayangan. Aku harus pulang, meminta maaf pada ayah hingga kecewaku hilang terobati.
Aku pulang dengan berjuta kenangan. Bersama si mbah Kardi dan si mbok Sartijah, semua bebanku seolah terangkat. Semua kesalahanku terbaca hingga aku menyadarinya dan malu. Semua sakit hatiku juga kekecewaan dalam hidupku, seolah menguap sirna terkena hangatnya mentari pagi diarea pemakaman ini terkubur bersama jasad-jasad disini. Juga rasa cintaku yang tak terbalas, cinta yang berlebihan hingga cinta yang salah yang tidak seharusnya kulakukan, kini aku telah membersihkannya dari hatiku.
Dengan kereta pagi aku kembali ke Jakarta. Aku pamit sebelumnya pada si mbah dan si mbok dengan deraian airmata. Si mbah kata, jangan mengucap janji untuk datang lagi kemari. Bila umur panjang dan Allah meridhoi, kita bisa berjumpa dan berbincang-bincang kembali. Itu saja pesannya. Dan aku mengamininya.
Pukul 3 siang akhirnya aku sampai distasiun Senen Kramat Jakarta. Kembali melanjutkan naik ojek online kestasiun Sawah Besar untuk menemui ayah di Depok Baru. Semua rasa bercampur dihatiku jadi satu.
Ayah kaget melihat aku berdiri dipintu rumahnua. Mengucapkan salam sembari memberinya senyuman. Ayah berdiri dari duduknya. Setengah berlari memeluk erat tubuh kurusku. Matanya berlinang tak henti mengucap syukur.
"Alhamdulillaaaah.... ! Dika, anakkuuuuu! Kemana saja kamu, nak? Kamu beneran udah buang ayah? Sampe ga mau lagi liat muka ayah? Jangan, Dika! Jangan marah sama ayah. Ayah sayang kamu! Sayaaaang sekali. Apa yang pernah ayah ucap dulu sama kamu itu cuma keluar dari bibir saja, bukan dari hati. Ayah ga mau kehilangan kamu! Asal kamu tahu, Dika.... Anak yang paling ibuku sayang dan ibumu titipkan pada ayah adalah kamu, nak! Kamu anak lelaki kami satu-satunya! Ayah menyesal mengucapkan kata-kata buruk padamu, Nak! Maafkan ayah, nak! Ayah yang tak tahu diri ini... Yang tak mampu jadi ayah yang baik bagi kamu, Dika. Maafin ayah, Dikaaaa...!"
Aku dan ayah berurai airmata. Aku menangis dibahunya. Berpuluh-puluh tahun keinginanku sedari kecil adalah menangis dipelukannya. Kini terbayar sudah. Aku menangis sedih, senang dan terharu. Seketika semua rasa kekecewaanku pada ayah menghilang berganti rasa bahagia.
Terima kasih ayah! Terima kasih atas semuanya untukku. Terima kasih telah mengizinkanku menjadi anak ayah. Telah memberiku berbagai pelajaran danpengalaman hidup padaku. Meski pahit diawal, kini kurasa manis diakhir. Ayah! Maafkan anakmu yang sempat durhaka ini pada ayah. Yang selalu memendam rasa sedih dan kecewa karena tidak terima sikap ayah. Padahal ayah hanya ingin melindungiku dari rasa takutku menghadapi dunia. Ayah memang memecutku maju. Tapi ayah justru mengajarkan bahwa hidup ini keras dan kita tidak boleh lemah. Ayah! Aku menyayangimu ayah! Aku bersyukur, aku menyadarinya kini ketika ayah masih ada bersamaku didunia ini. Andai aku terlambat menyadarinya, alangkah menyesalnya aku. Terima kasih ya Allah, Kau beri aku kesempatan ini! Terima kasih si mbah Kardi, telah menjadi guru yang mengingatkanku.
Aku mencium kaki ayah. Membersihkan kedua telapak kakinya. Aku meminta maaf dan ridho Allah melaluinya. Ayah mencium keningku. Juga pipi kiri dan kananku. Memperlakukanku seperti bocah kesayangan yang masih balita. Lagi-lagi kami terisak. Menangis dalam kebahagiaan.
"Andaikan kamu tengah diuji Allah dengan kesedihan dan penderitaan, bersabarlah, nak! Tidak apa-apa kita sesekali jatuh disaat berjalan. Setelah masa itu nanti kamu lewati, kamu bisa berlari secepat yang kamu bisa. Tetap semangat dan tawakkal. Ayah mendukungmu, nak! Apapun itu, kamu adalah anak kebanggaan kami. Warsih....! Lihat anak kita ini, aku terlalu lama membiarkannya berkerja dipasar hingga ia tidak bisa melihat rasa cintaku padanya. Aku juga salah, tidak bisa mengungkapkan rasa cintaku pada anak kita, Warsih!" lagi-lagi ayah menangis. Menyebut nama ibu membuatku kembali menangis memeluk ayah.
Ayah, anakmu yang nakal ini telah pulang ayah! Marahi aku, pukul aku... Aku rindu masa-masa dulu ketika ibu teriak-teriak melerai kita yang sibuk berjibaku karena aku lebih sering berada dipasar.
Hhhhh.... Wajahku lelah kebanyakan menangis. Tapi hatiku bahagia hingga aku tertidur lelap selepas Ashar hingga azan Maghrib.
Ayah membangunkanku dari tidur. Menuntunku kekamar mandi menyuruhku mencuci muka dan berwudhu. Kami berjalan bergandengan tangan kemasjid dekat rumah ayah. Ini adalah pengalaman pertamaku digandeng ayah setelah ibu meninggal dunia.
Aku akan meminta pada Allah, agar ayah selalu diberi kesehatan dan umur panjang. Aamiin.
Aku menginap dirumah ayah. Rencanaku besok pagi akan datang ke kantor mengunjungi Rosa dan mas Anang. Sekalian juga temu kangen dengan Mul, Jabrik dan Hana. Semoga mereka semua dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali aku sudah mencukur kumis dan jenggotku. Rambut panjangku kukuncir kebelakang agar terlihat rapi. Bila ada waktu setelah itu barulah aku mampir ke barber shop untuk cukur rambut. Menatap wajah tirusku dikaca membuatku menghela nafas. Beginilah nasib menduda! Tak ada yang memperhatikan penampilanku. Bahkan yang sekedar mengingatkan pun tak ada. Hhhh... Nasib, nasib!
Rosa juga nyaris sama reaksinya seperti ayah ketika pertama kali melihatku. Terkejut dan menangis. Hingga gumpalan tissue bekas airmatanya bertebaran dimeja kantor. Mas Anang lagi-lagi harus menenangkannya.
"Aku kembali, Ros! Lihat, kondisiku baik-baik saja. Sudah, jangan nangis mulu...malu aku tuh jadinya sama mas Anang! Andai aku jadi mas Anang, aku pasti marah karena istriku begitu melow sampai menangisi lelaki lain. Bersyukur kamu punya suami mas Anang!" godaku membuatnya cemberut.
"Sialan kau memang!"
"Aku minta maaf, mas! Selalu merepotkan kalian berdua. Maaf mas!" Mas Anang mengangguk dengan tersenyum lega. Ia seperti kakak lelaki bagiku karena saking baiknya.
"Andai kamu tahu, Dik.... Betapa parnonya aku, setiap ada berita di tv, ataupun baca koran yang isinya tentang mayat lelaki tanpa identitas.... Aku langsung gemeteran cari tahu kebenaran berita itu lebih lanjut."
"Hahahaha... Rosa, sadisnya kamu memikirkan aku sampe segitunya! Kamu fikir aku mati gitu!"
"Iya. Karena aku dengar kabarnya Ranti menolakmu. Tidak ingin rujuk kembali. Makanya fikiranku jadi buruk apalagi kamu pergi tanpa tahu tujuanmu. Itu gila, namanya! Belum lagi hp mu yang mati. Pertanda kalau kamu benar-benar frustasi dan mau mati!"
"Iya, Ros! Aku sempat frustasi dan mau mati. Itu beneran. Tapi aku kembali khan? Aku masih punya hutang budi pada kalian. Aku terlalu lama mengecewakan kalian. Maaf, Ros! Sekali lagi, maaf!"
"Ya Allah, maaf mas Anang, maaf Rosa!"
"Ga apa, Dika! Kami memang punya niatan pensiun dini. Dan alhamdulillah, perusahaan kita punya prospek cerah. Kamu harus tahu, akhir bulan lalu perusahaan besar sekelas *APFA mengajak kita joint untuk produksi massal sempol dipabriknya dengan memakai nama produk mereka. Tapi kami belum deal untuk kesepakatannya."
"Waaaah ... hebaaat! Keren maas!" Aku terpukau dengan kerjasama mas Anang dan Rosa. Mereka sungguh pasangan hebat dalam segala hal.
"Tapi, Ros! Aku minta waktu dulu beberapa hari. Aku masih ingin cuti dulu sekitar 2 atau 3 hari mengurus semuanya. Aku mau ziarah kubur ibuku juga bapak mertuaku. Aku mau ketemu Jingga juga. Boleh khan?"
"Oke, waktumu 3 hari. Setelah itu, aku akan membalas kesemena-menaanmu pada kami selama ini!" ancam Rosa membuatku tertawa. Rosa hanya bercanda.
"Terima kasih Rosa! Kamu seperti ibu bagiku. Kau selalu mengerti aku!"
"Hei! Umurku sepantaran ya denganmu! Jangan anggap aku ibumu. Dasar orangtua tengik yang sok kekanak-kanakkan!" Rosa memelototiku karena ucapanku. Lagi-lagi aku dan mas Anang tertawa. Aaah... Senangnya melihat semua ini kembali dikehidupanku! Tapi aku juga senang, selama tinggal digubug mbah Kardi dan mbok Sartijah. Banyak ilmu kudapat disana. Ilmu kehidupan tentunya.
Jabrik dan Mul menangkap tubuh rampingku. Mereka berdua tertawa tapi menangis. Mereka begitu senang melihatku lagi.
__ADS_1
"Bang! Badan lu kurus banget. Tinggal kulit sama tulang. Tapi muka lu gantengan bang, apelagi rambut lu gondrong sekarang. Jadi kaya si Kevin Costner." kata Mul setelah kami temu kangen berpelukan dan bercerita panjang lebar.
"Iya. Kulit abang juga putihan. Cuman abang kurus banget! Abang abis tapa' dimana sih bang?" sela Jabrik juga. Aku hanya tertawa.
"Yang bener ah, kalian!"
"Mane, bang...katanye lu pulang mau bawa bini? Mane?"
"Belom dapet, Mul! Ga da yang mau sama gue. Gimana dong Mul!?" Kami tertawa. Senang rasanya melihat dan mendengar suara tawa mereka lagi.
"Pulang bareng kita khan, bang? Jangan kuatir... Kamar abang kita bersihin tiap hari."
"Kita? Gue kali' yang tiap hari bersihin kamar bang Dika! Elu mah kagak!" Jabrik menjewer telinga Mul membuatku ngakak terpingkal-pingkal.
"Maaf, aku masih tinggal dulu dirumah ayahku. Kasian beliau masih kangen! Nanti aku pasti pulang koq kekontrakan kita. Barang-barangku juga masih disana khan! Jangan kuatir!"
Jabrik dan Mul hanya tersenyum lesu. Tapi mereka mengerti, aku masih punya ayah, punya keluarga yang lebih utama. Tapi tetap mereka juga keluargaku. Hanya saat ini porsiku lebih banyak untuk ayahku yang selama ini kurang kuperhatikan.
"Mau cukur rambut nih, tapi belum ada waktu!"
"Jangan, bang! Kerenan gitu! Jadi keliatan lebih muda n' misterius!" larang Mul dengan argumennya membuatku tersenyum geli.
"Masa' Mul? Tar khan aku mulai lusa ngantor lagi. Kesannya kayak yang kumel ga keurus ga sih?"
"Ga! Asal jangan diriap acak-acakan, bang! Lu kurang makan ye selama ini? Badan abang ude kayak papan penggilesan nenek gue. Tipiiiis!!" lagi-lagi Mul menggodaku dengan ledekannya.
"Entar kalo kita tinggal barengan lagi, gue traktir makan deh tiap malem, bang!" katanya lagi kali ini Jabrik ikutan bicara.
"Beneran lu ye Mul, jangan asal mangap! Janji lu ama bang Dika kudu diinget tuh! Gue catet dulu di bon utang!" kata Jabrik membuatku terbatuk-batuk karena keseringan tertawa.
Terima kasih ya Allah! Kau beri aku orang-orang yang sangat baik disekelilingku. Orang-orang yang selalu memberiku kebahagiaan dengan aura positif dan sifat energik mereka. Membuatku semakin mengerti pentingnya untuk bersyukur.
Bersambung-
__ADS_1