
Aku tak tahu harus berkata apa. Aku tak tahu harus berbuat apalagi. Semua lenyap menghilang dari pandanganku. Seperti ruang kotak kosong yang besar. Hanya suara gema yang menakutkan ketika kita bicara. Seperti itulah hatiku kini.
Bahkan airmataku tak lagi mengalir. Hanya tatapan hampa kosong tak ada harapan.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Andai Allah Menghendaki, hampir saja aku mengalami kecelakaan karena beberapa kali aku menerobos lampu merah tanpa memperhatikannya. Aku bingung.
Otakku terasa tumpul sulit berpikir. Jiwaku terasa mati ibarat ditinggal pergi rohaninya.
Tuhanku, Allah Azza Wajalla.... Rasa apa ini yang meliputi seluruh tubuh, jiwa dan hatiku? Allah Penguasa Alam jagat raya, sakit apa ini yang menyerang seluruh sendi nadi perasaanku. Aku seperti ringan tanpa beban. Aku seperti kertas yang terlepas dari rim-nya. Aku sendirian. Melayang dengan kosongnya angan-angan serta keinginan.
Apalagi yang harus aku lakukan, ya Allah ya Rob! Aku seperti melihat Ranti didalam diriku. Seperti inikah perasaan Ranti ketika aku menyelingkuhinya dengan sahabat yang ia sayangi? Seperti inikah derita Ranti yang tak tahu harus berbuat apa dan berkata apa. Semua telah hilang dan mati rasa. Bahkan amarah juga airmatapun menguap entah kemana. Hanya kosong dan hampa dijiwa.
Ranti!.... Aku menancapkan pedang beracun terlalu dalam direlung hatimu. Bahkan ramu-ramuan tradisional dan obat-obatan kedokteran tak mampu menyembuhkan luka hatimu. Meskipun waktu berjalan dan masa telah berganti. Aku teramat sangat banyak menabur racun itu hingga tetap terasa meski telah bertahun lamanya.
Ranti.... Aku membenarkan ucapanmu kini. Aku baru menyadari diriku yang hanya butuh dirimu sebagai pengganjal hidupku yang timpang. Aku hanya menginginkanmu untuk melengkapi diri demi tercapai tujuan hidup penuh kebahagiaan. Tapi aku lupa, aku lupa bahwa kamu juga manusia. Sederajat denganku yang juga sama punya perasaan dan keinginan dicinta.
Aku selama ini terlalu meratapi diri dengan segala kekurangan dan kesedihan hidupku. Aku terlalu sering meminta dan meminta banyak. Padahal Allah sudah Maha Baik padaku. Allah berikan jodoh yang baik seorang Ranti yang penurut, tapi aku lupa diri dengan menyia-nyiakannya karena kekhilafanku. Aku harus menerima semua keputusan Ranti dengan lapang dada. Tanpa sakit hati dan rasa kecewa mendalam. Karena kata-kata Ranti benar, ....jika aku kecewa pada keputusan yang telah diambilnya, itu artinya aku memang tidak mencintainya sepenuh hati. Itu artinya benar aku hanya mencintai diriku sendiri. Tapi kenapa dengan diri ini? Kekecewaan terasa menyesakkan dada. Menenggelamkan semua rasa yang baik dijiwaku.
Apalagi yang harus kulakukan. Aku hanya boleh mendoakan kebahagiaannya saja. Tapi bagaimana kebahagiaanku? Ranti.... Kini aku menyadari betapa kejamnya diriku padamu. Karena rasa sakitnya begitu menyiksa. Itu yang kurasakan kini dari kekejamanmu padaku. Inikah karma untukku, Ranti?
Berhari-hari aku mengurung diri dikamar. Tak makan dan minum. Juga tak keluar kamar meskipun untuk mandi. Bahkan aku membiarkan air seni mengotori tembok kamarku ketika rasa ingin pipis tak tertahan lagi. Handphoneku berdering banyak sekali tapi tak kuhiraukan. Mul dan Jabrik membujukku tapi tak mampu membuatku menuruti mereka. Mungkinkah aku kini setengah gila? Tapi aku merasa otakku ringan tak punya beban fikiran.
Mataku sulit kupejamkan meskipun hanya sejam. Berhari-hari aku hanya duduk diam diatas pembaringan yang mulai dekil, kotor berbau karena tak kuganti spreinya dan tak kusapu lantainya.
__ADS_1
Aku sudah lupa berapa hari tingkahku jadi begini. Aku kadang mengunci diri. Tapi keluar ketika dimalam hari.
Aku berjalan disepanjang trotoar jalan raya tiap jam 12 malam. Duduk sebentar bila melewati halte bis hanya untuk menengadah kelangit menengok bulan.
Tuhan! Kenapa bulan hanya kau ciptakan satu saja, tanpa pasangan? Seperti akukah bulan itu? Merindu kekasih yang tak kunjung datang? Meringkuk sendirian bila bintang tak bermunculan. Kenapa Tuhan? Apa yang mau kau perlihatkan kepada kami? Haruskah kami kasihan pada bulan yang sendirian? Sedangkan ia begitu tinggi menjulang tak ada yang bisa menjangkau.
Aku mendengar suara jangkrik dan kodok dipinggir kali ciliwung. Suaranya sedih menyayat hati. Apakah kodok dan jangkrik itu sendirian, Tuhan? Apakah mereka itu sedang menangis karena kesepian? Dimanakah pasangan mereka berada? Apakah yang menyebabkan mereka merana ditinggal pergi kekasih hatinya? Apakah mereka seperti aku, Tuhan? Lelaki egois yang tak punya perasaan? Tuhanku..... Aku lelah! Aku berjalan tak tentu arah. Haruskah aku mati saja? Gantung diri atau meloncat kedalam kali ciliwung yang hitam dan bau? Ataukah aku lebih baik meloncat dari ketinggian? Membiarkan ragaku terbang seiring jiwaku yang melayang?...
Adzan subuh menyadarkanku dari kegalauan. Hanya aliran kecil yang merembesi pipiku yang terlihat tirus dan kisut. Airmata ini datang lagi.
Ya Allah.... Ya Robbi...! Apa yang terjadi pada diriku. Apa yang kau inginkan dengan diriku. Ya Rohman ya Rohiim.... Apa yang harus kuperbuat. Apalagi yang harus kulakukan kini?...
Berhari-hari Kau biarkan aku mengalami kesakitan yang mendalam. Hilang kesadaran padahal tidak sedang mabuk. Apakah ini yang dinamakan putus cinta? Apakah ini dikarenakan aku lemah iman?
Aku lelaki. Aku kuat dan tahan banting. Tapi aku juga rapuh bila harus hidup sendirian. Apa gunanya harta dan kekayaan jika tak diimbangi cinta dan kasih sayang. Ranti bilang kebahagiaan tak bisa dibeli dengan uang. Ranti kata, tak semua wanita suka harta.
Ya. Bisa saja aku membeli wanita yang menyukai uang. Tapi mampukah ia membahagiakan hatiku seperti Ranti yang lakukan dahulu? Aku bisa saja menyalurkan hasrat biologiku dengan uang, tapi bagaimana dengan hasrat kebahagiaan, ketulusan dan ketenangan hatiku?
Ya Allah... Tolong aku ya Allah! Tolong kuatkan lagi imanku. Tolong jaga aku dari kehancuran hatiku ya Allah! Aku tak ingin gila. Juga tak ingin hancur. Tapi tak tahu lagi caranya. Tolong tunjukkan jalanku!
Masjid itu terlihat begitu indah. Cahaya lampunya yang biru membuat siluet teduh didinding temboknya.
Aku meyakinkan diriku dalam kesadaran sepenuhnya. Kucium kiri kanan bahuku. Bau bajuku. Entah berapa hari aku tak mandi dan ganti pakaian. Aku lupa pada diriku sendiri. Aku lupa bahwa aku punya Allah, penciptaku.
__ADS_1
Aku ingin masuk bersujud dirumah Tuhanku, tapi urung karena aku merasa tubuhku penuh dengan najis kotor.
Kulangkahkan kakiku kembali menyusuri trotoar menuju jalan pulang. Hatiku berdawam asmaul husna-Mu sebagai pengganti sholatku. Bila aku bisa pulang sebelum waktu sholat subuh habis, aku akan segera melaksanakannya dirumah.
Aku benar-benar hampir gila untuk beberapa hari lamanya. Kalau saja Allah tak segera menegurku lewat panggilan sholatnya, mungkin jiwaku semakin jauh melayang tak tentu arah. Astaghfirullahal'adziim...... ya Allaah....!
Aku berjalan pulang seperti seorang bocah berusia 5 tahun yang tersesat ditengah hutan belantara. Airmataku kembali menetes seiring hatiku menyebut asma Allah.
Ya Allah, ya Rohman, ya Rohim...
Ya Karim ya Adziim....
Ya Awwalu ya Akhiru....
Bagaimana bisa aku mengingkari takdirku. Padahal itu sudah tertulis jelas sebagai rukun Iman yang ke-enam. Dimana imanku, jika aku sungguh mengingkarinya? Padahal Allah telah mengatur Qodo dan Qodhar baik buruknya datangnya dari Allah. Dan kita sebagai muslim, wajib mengimaninya. Astaghfirullaaah...... Kenapa aku nyaris bersekutu dengan setan? Gelap mata dan hampir binasakan diri sendiri.
Ya Allah.... Peluk aku dalam kasih-Mu ya Allah! Hanya Engkaulah tempatku meminta. Berikanlah aku hidup dan ketenangan! Meski tanpa Ranti dan Jingga disisiku, ya Allah! Berilah aku kekuatan! Untuk terus berjalan menerima takdirku darimu.
Manusia tempatnya khilaf dan dosa. Sudah sepantasnya memohon ampunan dan bertobat. Tapi bukan berarti dosa dan kesalahan kita dimasa lalu, membuat kita harus terpuruk dan terus terkurung dengan penyesalan tanpa penyelesaian. Memang penyesalan selalu datang diakhir. Tapi alangkah lebih baik, daripada tidak ada penyesalan sama sekali.
Kami kaum lelaki, memang selalu ingin menang sendiri. Kami kaum lelaki memang diciptakan Allah dengan keegoisan lebih tinggi. Untuk menjadi imam dimuka bumi ini. Untuk menuntun para istri belahan jiwanya dan juga keturunannya. Karena kami para lelaki, diberi kekuasaan lebih untuk mempertanggung jawabkan pasangan kami di akhirat nanti. Itu sebabnya, Allah memberi kami kekuasaan lebih banyak ketimbang para wanita. Karena hakekatnya, tanggung jawab suami, lebih berat dibanding para istri.
Bersambung-
__ADS_1