AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
HARI KEPINDAHANKU


__ADS_3

Hari pertama puasa Ramadhan, hari pertama pula aku bekerja. Rosa benar-benar mengerjaiku hari itu. Semua tugas laporan ia berikan untuk kukaji dan kusalin rapi dibuku jurnal dan buku besar. Hhh... Aku hanya tersenyum kecut. Tapi tak berani menolak. Hanya mas Anang yang ikut tersenyum menyemangatiku diam-diam.


Untung sahur pertamaku yang rusuh dengan Mul dan Jabrik membuatku semangat makan sahur meski hanya menu ayam goreng dengan sambal jadi sachetan. Alhamdulillah juga, setidaknya cukup untuk tenaga dan stamina otakku mencerna lagi setelah berbulan-bulan vakum dari rutinitas ini.


Jam istirahat kugunakan untuk kabur sebentar kerutan salemba menengok bang Sobri. Aku hanya sebentar berbincang dengannya. Melihatnya dalam keadaan sehat sudah cukup membuatku tenang. Aku juga menceritakan keadaan mbah Kardi dan mbok Sartijah yang juga dalam keadaan sehat. Bang Sobri memelukku erat. Berterima kasih padaku karena mau menuruti perkataannya untuk tetirah dikampung halamannya. Aku juga bilang kalau makam istri, kedua mertuanya dan anak sulungnya sudah kutembok dan kupasang batu nisan meskipun sederhana. Bang Sobri tersenyum dengan nafas lega.


Aku berkata padanya Insya Allah akan kembali menengoknya sebelum hari Raya tiba. Biar bagaimanapun, aku mengetahui di hari Raya adalah hari paling menyedihkan baginya karena tidak ada seorangpun yang menyambanginya bahkan di saat Lebaran. Bang Sobri memang orang misterius yang tidak terlalu suka menceritakan kehidupannya kecuali alasan kenapa ia ada dipenjara. Itu saja. Selain itu, aku tidak tahu apa orangtuanya masih ada atau tidak, apakah ia memiliki saudara. Hhh...


Aku kembali kekantor dan terlambat 25 menit. Rosa lagi-lagi menyemprotku dengan omelannya. Mengatakan kalau aku karyawan yang paling ngeselin. Aku hanya tersenyum malu. Aku memang sangat menyebalkan baginya. Tapi anehnya aku selalu dia tarik kesana-kemari. Mengurus itu, mengurus ini. Dan hanya aku yang ia percaya selain mas Anang, suaminya. Hhh.... Rosa, Rosa!


Mas Anang mengajakku diskusi mengenai produk kami yang sedang dilirik perusahaan besar itu. Kami belum menemukan kesepakatan soal keuntungan bagi hasil.


"Mas! Apa ga sebaiknya kita buka pabrik sendiri yang lebih besar? Kita khan punya merk dagang sendiri. Kita juga udah punya surat izin dari BPOM. Produk kita bisa di ekspor. Mas khan punya banyak relasi pelanggan setia batiknya di Australia dan Amerika. Kita bisa joint sama supermarket-supermarket disana."


Rosa dan mas Anang memandangku lama.


"Pabrik kita dimana bikinnya? Harus beli dulu lahan. Belum lagi dana untuk buat pabriknya, ga cukup satu M, Dik!"


" Ros.... Kamu nih, ...! Kita ga harus punya pabrik ditanah sendiri dulu, boss! Aku pernah dengar dari rekanan kalau didaerah Citayam ada lokasi baru yang memang dibangun untuk pabrik atau kawasan industri. Masih cukup baru, jadi kemungkinan biaya sewa pertahunnya bisa kita kondisikan. Intinya kita ga harus pusing dulu mikir ngebangun. Kecuali duit modal kita memang besar dan sanggup untuk memiliki pabrik sendiri, it's okay!"


"Gimana, pih? Saran si Dika nyangkut ga diotak papih?" tanya Rosa pada suaminya yang sedang fokus sambil mengangguk-angguk.


"Sekarang kalau produk kita dijoin diperusahaan besar. Otomatis kita jadi tak berkutik. Secara kita harus ikuti aturan yang ada. Iya khan? Belum lagi urusan karyawan. Kita pasti tidak lagi punya kuasa penuh. Karena harus atas persetujuan pihak sana untuk mengambil keputusan."


"Bener, Dik! Mas setuju. Kita survey dulu tempat bangunan pabrik dan lokasinya. Bagaimana?"


"Kita cek dulu aja, mas!"


Kami setuju untuk mengecek tempat untuk pabrik sempol kami nanti. Semoga ada jalan untuk kami memajukan usaha kami lebih baik dan lebih besar lagi. Aku juga coba cari rekanan yang bisa dimintai keterangan lebih jelas lagi tentang lokasi pabrik di Citayam.


Hari pertama puasaku sudah harus berjibaku dengan urusan kantor yang mumet dengan angka-angka. Juga kembali lagi membuka laptop untuk mensearching semua bahan yang kami butuhkan untuk pabrik baru.

__ADS_1


Maghrib aku baru tiba dirumah. Makanan untuk berbuka puasa sudah tersaji diatas meja. Mul dan Jabrik yang menyiapkan semua. Aku hanya tinggal menunggu bedug dan siap santap. Hehehe.... enak juga rasanya seperti ini. Ada yang care dan melayaniku dihari pertama buka puasa.


Waktu berjalan tanpa terasa. Hari demi hari kulalui dengan kesibukan yang mampu membuatku lupa. Andai Arif tak menelfonku memberitahukan kalau bu Hafsah sudah pindah ke Subang dan menanyakan kapan aku akan pindah mengisi rumahnya.


Sabtu Minggu kantor dan pabrik kecil kami libur. Aku akan ambil salah satu dari hari itu. Aku sudah siapkan semua. Tinggal berangkat saja kapan kumau.


Aku kembali exited menunggu hari Sabtu tiba. Aku bisa bermain dengan putri kecilku hari sabtu siang setelah aku merapikan barang-barang pindahanku.


Dan hari yang kunanti akhirnya tiba juga. Dengan meminjam mobil bak pick up kantor, aku pindahan diantar Mul, Jabrik, Hana dan Lina pacarnya Mul. Kami berangkat pukul 10 pagi. Dan sampai rumah Arif pukul 12 kurang.


Suasana perumahan yang tadinya sepi mendadak riuh karena celotehan dan canda tawa anak-anak bawaanku. Hadeeuh....!


"Papaa...!" Jingga memanggilku dengamn suara cemprengnya. Anakku senang bercampur kaget karena ada mobil bak penuh muatan parkir persis didepan jalan samping rumahnya.


"Jinggaaaa!!!" Aku merangkul dan mengangkat Jingga kedalam gendonganku. Mengecup pipinya pelan sambil menurunkannya lagi.


"Mulai sekarang papa tinggal disini, nak!" kataku sembari menunjuk rumah bu Hafsah.


"Asiiiiik!"


Ranti yang baru keluar dari rumah hanya termangu memandangku dan Jingga. Aku bergegas menghampirinya.


"Maaf Ranti! Kita akan jadi tetangga selama setahun. Kawanku yang membeli rumah bu Hafsah memintaku menempatinya dulu sampai istrinya melahirkan nanti. Maaf! Tapi tolong, jangan merasa aku mengganggu kenyamananmu. Kamu bisa abaikan aku! Juga tolong sampaikan pada Sofyan Ali tentang kepindahanku kesini!" Tanpa menunggu jawabannya, aku mengangguk dan kembali kerumah Arif.


"Izin dulu sama mama kalo Jingga mau main sama papa!" bisikku pada Jingga yang tetap mengekorku.


"Maa... Jingga main dirumah papa yaaa!!" kata Jingga pada Ranti yang hanya dibalas Ranti dengan lambaian tangannya.


Hhhh... Apa aku terkesan cuek ketika berbasa-basi tadi pada Ranti? Aku tak tahu. Tak mengerti harus berkata apa. Aku hanya ingin Ranti tetap seperti biasa tak harus merasa risih ataupun kikuk karena aku kini tinggal disebelah rumahnya.


Jujur akupun merasakan rasa kurang nyaman. Bisa dibayangkan jika dua orang yang dulu berstatus pasangan suami istri lalu bercerai dan kini tinggal bersebelahan. Mungkin kisah ini hanya akan ada di drama televisi saja. Tapi ternyata aku mengalaminya. Hhhh... Entah bagaimana nanti keseharianku dan Ranti.

__ADS_1


"Bang! Lu ga ape-ape tinggal jauh gini? Secara kantor khan di Cikini, bang!" kata Mul mengingatkanku.


"Aku bisa naik kereta koq, Mul!"


"Tapi pasti butuh waktu lebih banyak pulang pergi tiap harinye!"


"Ga papa. Sabtu minggu khan libur. Bisa istirahat dirumah."


"Anak bang Dika cantik, manis, lucu! Bikin gemes Hana!" kata Hana sembari terus mencubit- cubit pipi anakku.


"Haissh...Hana! Pipi Jingga jangan dicubit-cubit gitu!" hardikku segera membuat semua menertawaiku yang sedang mode on marah.


"Ga sangka ye, bang Dika bisa galak juga!" bisik Hana pada Lina. Kami lagi-lagi tertawa. Jingga juga.


"Ga seru ah, pindah bulan puasa. Kaga disuguhin makan minum! Keliatan nih merki'nye!" lagi-lagi Mul bikin lelucon garing tapi mampu membuat suasana meriah. Tapi memang benar juga ucapannya. Aku hanya tersipu.


"Ya udah, sana kalian pada pulang! Nungguin disuguhin juga percuma, kecuali mau pulang habis maghrib. Aku mau istirahat. Mau me time sama anakku!"godaku pada mereka.


"Tuh khan! Habis manis kita dibuang!"


"Hehehe... becanda Muul...! Kalian nginap ya, disini sehari?"


"Lina ga bilang nginep, bang! Bapa ibu ntar nungguin dirumah." ujar Lina malu-malu.


"Iya juga ya. Ya udah, kalian pulang sore abis Ashar. Jadi Maghrib udah sampe rumah. Bisa teraweh juga! Abang mau laporan dulu kerumah pak RT ya? Inget, jangan terlalu berisik. Ganggu tetangga!"


"Siap boss!!"


Aku menuntun Jingga menuju rumah pak RT. Aku bersyukur sudah cukup kenal beliau, ketika mengurus pemakaman bapak Ranti tempo hari. Jadi tidak terlalu canggung menjelaskan tentang kepindahanku kewilayah kekuasaannya ini. Semoga pak RT dan warga mau mengerti diriku. Aku berjanji dalam hati, untuk tidak membuat keonaran apalagi sampai mempermalukan Ranti lagi.


Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2