
Hari ini aku sudah merencanakan akan ziarah ke makam ibu di Karet Bivak Tengsin, Tanah Abang. Aku ingin bercerita pada ibu bahwa hubunganku dengan ayah sudah membaik. Kami kini bisa mengobrol, bercanda seperti dulu lagi. Aku tahu, meskipun ibu sudah tidak bersama kami didunia ini, tapi beliau selalu ada dihati kami. Begitupun ibu, yang tetap bisa melihat kami dialam barzakhnya. Wallahu a'lam bisshowaf!
Aku bahagia sekali dengan semua yang Allah beri dihidupku. Aku bahagia dilahirkan sebagai Dika Dewantara. Aku bersyukur sekali, ya Allah! Meski kadang cobaan datang menghantamku hingga nyaris hancur, terberai berkeping-keping. Tapi perlahan serpihan itu kembali bersatu dan terhubung meski tak sempurna.
Setelah dari makam ibu, aku langsung kereta distasiun Tanah Abang menuju Bojong Gede. Bapak Ranti, mertuaku dimakamkan disana. Tak jauh dari tempat tinggal Ranti. Aku bisa sekalian menengok Jingga. Hampir 6 bulan tak berjumpa. pasti gadis kecilku itu semakin dewasa dan pastinya makin pintar.
Aku lebih dulu kemakam bapak. Membaca doa ziarah kubur dan surat Al-Fatihah. Aku hanya bisa melakukan itu saja. Kami kini tak lagi berada didunia yang sama. Hanya doa dari anak yang sholeh lah yang bisa membuatnya tenang di alam barzakh. Aamiin ya robbal'alamiin!
Hari sudah sore ketika aku melangkahkan kaki menuju rumah Ranti. Entah bagaimana kabar dan keadaannya kini. Apakah telah menikah dengan Sofyan Ali, ataukah sedang sibuk mempersiapkannya..., aku tidak tahu. Yang pasti aku akan mendoakan kebahagiaannya dengan tulus kini. Aku siap melangkah pergi dari kehidupannya. Dan hanya akan melihat anakku sesekali saja. Itu janjiku dalam hati. Karena aku tak ingin ada kesalahfahaman lagi dengannya dan juga suaminya nanti.
Suasana rumahnya terlihat sepi. Jendelanya pun tertutup rapi dilapisi tirai gorden hingga aku tak bisa mengintipnya.
Beberapa kali kuucapkan salam, tapi tak terdengar jawaban. Apa Ranti sudah pindah dari sini? Tapi sepertinya tidak. Karena teras rumahnya rapi seperti biasa. Juga letak tanaman hiasnya, terlihat asri dan indah karena Ranti selalu menatanya dengan telaten dan penuh kasih.
Kuketuk lagi pintu rumahnya agak keras supaya terdengar jika memang Ranti ada didalam. Hhhh... Tak ada jawaban. Hampir setengah jam aku berdiam diri didepan pintu rumah Ranti. Mungkin aku tidak akan bergeming jika tak mendengar suara gaduh dari rumah sebelah rumahnya Ranti.
Aku menoleh, berjalan sedikit mendekati rumah yang posisinya tepat disamping rumah Ranti.
"Bu Hafsah?" tanyaku pada seorang ibu yang tengah ribut berselisih faham dengan dua orang lelaki bertubuh kekar. Lelaki itu membentak dengan suara keras menyuruh bu Hafsah keluar rumahnya. Spontan aku berjalan cepat berusaha menghalau. Secara seorang ibu berusia lebih 50 tahun dimaki dengan kata-kata kasar oleh dua orang lelaki kurang lebih berumur 35-40 tahun rasanya tidaklah sopan.
"Maaf, ada apa ini?" tanyaku segera menengahi dan berusaha melindungi bu Hafsah tetangga Ranti.
"Maaf, bung! Urusan saya dengan ibu ini, bukan dengan anda! Ibu, kami kasih waktu satu minggu untuk membereskan semua masalah ibu dengan boss kami. Ingat ya, apabila dalam satu minggu urusan ibu belum diselesaikan, jangan salahkan kami berbuat kasar."
Dua lelaki itu pergi meninggalkan kami. Aku hanya diam mematung mendengar perkataan mereka yang benar-benar kurang sopan.
"Bu Hafsah sedang ada masalah dengan mereka?" tanyaku membuat bu Hafsah tersentak dan memandangku.
__ADS_1
"Papanya Jingga ya?" Aku mengangguk sambil tersenyum. Kami memang pernah mengobrol akrab ketika bapak Ranti meninggal dunia. Beliaulah yang sering membantu Ranti mengurus penganan dan cemilan untuk para tamu yang mengikuti tahlilan saat itu.
"Saya kemari mau tengok Jingga, bu! Ternyata rumah Ranti kosong. Sepertinya sedang pergi, ya?!" kataku menjelaskan maksud kedatanganku pada bu Hafsah.
"Oh iya, tadi siang Ranti sama Jingga pergi ke Depok. Anaknya mbak Gina ulang tahun. Kalo gak salah, mereka nginap disana dan baru pulang besok." Cerita bu Hafsah.
"O begitu, bu! Terima kasih banyak ya bu, udah kasih tahu saya! Kalau begitu, saya pamit! Assalamualaikum!"
"Alaikumsalam!"
Mataku melirik tulisan besar didepan tembok rumah bu Hafsah "RUMAH INI MAU DIJUAL, HUB. NO.******"
Aku berhenti kembali menoleh bu Hafsah yang masih berdiri didepan pintu rumahnya.
"Rumah bu Hafsah mau dijual?" tanyaku kembali pada bu Hafsah.
"Iya, mas! Kami mau pindah ke Subang."
"Berapa ibu mau lepas?" tanyaku lagi. Sepertinya ia baru menyadari kalau pertanyaanku serius. Ia mengajakku duduk dikursi teras rumahnya. Aku menurut dan membuka sepatu kets-ku lalu duduk dikursi bambu teras rumahnya.
"Sebenarnya anak ibu sedang ada masalah keuangan, mas! Makanya rumah ini ibu mau jual untuk menutupi hutang-hutangnya. Daripada harus diambil paksa oleh rentenir itu. Ibu inisiatif menjualnya dulu supaya tidak terlalu merugi."
"Kalau rumah ini dijual, ibu tinggal dimana nanti?"
"Ibu punya rumah warisan orangtua di Subang. Kami ada rencana pindah disana."
"Berapa ibu lepas rumah ini?"
__ADS_1
"Maunya sih 150, mas! Tapi kalau mentok yaa...120 pun tak apa. Asal cepat terjual, mas! Ini rumah peninggalan almarhum suami ibu. Banyak kenangan manis disini. Walau rumah tua dan sederhana, tapi rumah inilah aset berharga kami."
"Surat-suratnya lengkap?"
"Iya, mas. Sudah sertifikat."
"Kenapa ibu ga jadikan jaminan pinjaman saja ke bank pemerintah? Lebih aman koq daripada rentenir." kataku.
"Itulah, mas! Kesalahan anak ibu. Tadinya dipikir kalo ngurus pinjaman ke bank lama cair. Jadi dia pilih jalan cepat supaya cepat terima uang. Hhhh... Nasi sudah jadi bubur, mas!"
Aku terdiam memikirkan masalah bu Hafsah. Aku punya ide membeli rumah ini, tapi uangku semua ada di aset perusahaan yang kini dikelola Rosa. Tapi aku juga takut, bila aku membeli rumah ini berimbas pada hubunganku dengan Ranti. Kemungkinan akan semakin buruk. Ranti pasti akan semakin membenciku.
Tapi kupikir tak ada salahnya aku membeli rumah. Aku memang belum memilikinya. Daripada anjuran Rosa membeli kendaraan, lebih baik rumah tempatku tinggal. Tak mungkin aku akan terus-terusan mengontrak bareng Jabrik juga. Seiring waktu Jabrik akan memiliki kehidupan sendiri. Aku harus siap untuk hidup mandiri.
"Sebentar ya, bu! Siapa tahu kawan saya berminat dengan rumah ini. Saya minta nomor ibu, boleh? Saya hubungi besok kalau sudah ada kabar dari teman saya." kataku membuat mata bu Hafsah berbinar-binar.
"Untuk mas, papanya Jingga, ibu lepas 120 saja. Terima kasih sekali sebelumnya!" katanya sambil menjabat tanganku hangat.
"Semoga ada jodohnya ya, bu! Saya permisi dulu. Saya akan hubungi teman saya dulu!"
Aku pamit sekali lagi. Meninggalkan bu Hafsah yang terlihat senang dengan ucapanku.
Aku harus menemui mas Anang dan Rosa. Meminta pendapat dan masukannya soal rumah bu Hafsah. Aku ingin sekali membelinya. Aku ingin bisa dekat dengan anakku. Aku ingin Jingga bisa lebih mengenalku sebagai papanya. Demi Allah bukan niat mengganggu Ranti lagi! Aku tidak akan mengusik kehidupannya lagi. Meskipun Ranti telah menikah, aku tidak akan memutus hubungan darahku dengan Jingga. Aku juga tak ingin merusak hubungan Ranti dan suaminya nanti bila memang Ranti telah menikah. Aku sudah mengikhlaskannya. Aku sudah mengubur dalam-dalam keinginanku untuk rujuk dengannya. Biarlah Ranti memilih kebahagiaannya sendiri. Aku akan turut gembira melihat kebahagiaannya yang pastinya jugs untuk kebahagiaan anakku.
Aku menelfon Rosa. Menanyakan apakah aku akan mengganggu istirahat malamnya dengan mas Anang jika aku sowan kerumahnya. Masalah uang 120 juta bukanlah obrolan sepele yang bisa disampaikan lewat hape. Aku harus punya adab. Terlebih mas Anang suaminya Rosa begitu baik dan pengertian padaku, padahal aku lebih sering mengganggu mereka. Meminta tolong terus padanya dan Rosa. Kalau aku mengobrol langsung dengan mereka rasanya lebih afdol.
Rosa menyuruhku mendatangi kediamannya di Petojo Utara daerah Gambir Jakarta Pusat.
__ADS_1
Aku lalu bergegas kembali kestasiun kereta bojong gede untuk turun di stasiun Gambir. Maghrib telah datang ketika aku menjejakkan kaki turun dari kereta distasiun Gambir. Aku mampir dulu ke Istiqlal untuk menunaikan sholat maghrib sebelum naik ojek online menuju rumah Rosa. Memohon pada Allah agar Rosa dapat memenuhi permintaannya meminjam uang 120 juta untuk membeli rumah bu Hafsah. Aamiin....
Bersambung-