AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
KU AKAN GAPAI HATIMU LAGI


__ADS_3

Alhamdulillah. Setelah sehari semalam Jingga hanya terlelap tak berdaya membuatku dan Ranti dihantui kegelisahan, akhirnya putri cantik kami itu bangun dari tidurnya.


Ia menangis sebentar karena merasakan rasa sakit disekitar perutnya karena luka kecelakaan. Ranti dengan sigap mendekap dan mengangkat tubuh Jingga kepangkuannya dengan sangat hati-hati.


Aku juga berusaha membuat Jingga tenang dengan mengajaknya mengobrol dan bercanda.


"Hai sayaaang, timun masnya papah! Hebat deh, Jingga! Jagoannya papah Dika niiih! Jingga kuat yaa..., ga nangis waktu dioperasi. Tau ga, mamah waktu lahirin kamu, nangis pas dioperasi. Iya khan mah?"


Jingga terdiam memandangku dan Ranti bergantian. Ranti tersenyum manis sekali sambil mengangguk pada Jingga.


"Iya. Dokter juga kasih dua jempol buat Jingga lho!" Ranti ikutan bicara.


"Jingga mau apa, Nak? Mau ini? Biskuit kesukaan Jingga, apa ini? Susu favorit Jingga? mmmh? Yang mana sayang?" Aku menawarkan biskuit dan susu kotak dikiri dan kanan tanganku.


"Waaah, Jingga mau dua-duanya, sayang? Hebat anak papah! Biar cepat sembuh ya, jadi mau keduanya!"


"Satu-satu dulu, Nak! Sini, mama bantu Jingga bukain kemasannya. Mau yang mana dulu? Oh ini, biskuit?"


Jingga menggerakkan tangannya yang terpasang selang infusan.


"Iya sayang, Jingga harus dipasang ini biar cepat sembuh. Tahan ya sayang, anak mamah khan anak baik! Jangan ditarik ya, nak! Nanti kalo ditarik darahnya keluar." Ranti agak panik ketika Jingga terlihat tidak suka dengan alat-alat yang menempel ditangannya.


"Engga dong, mah! Jingga khan anak papa mama yang super keren ya, Nak! Pasti ga ditarik ya sayang! Ayo, makan biskuitnya sayang... pintaaaar! Hebat mah, Jingga!"


Kami berdua berebut memberi Jingga perhatian. Selain untuk membuatnya nyaman dengan keadaannya yang menyakitkan, aku kuatir bila Jingga sering menangis akan membuat luka diperutnya sobek lagi.


Aku dan Ranti berusaha berperan semanis mungkin untuk Jingga. Walaupun mata kami sembab dan bengkak karena seharian kemarin menangis mengkhawatirkan keadaan anak semata wayang kami.


Jingga pun sudah mulai bisa berkompromi dengan keadaannya meskipun terkadang gadisku itu meringis merasa sakit.


"Kenapa sayang? Sakit? Mana yang sakit, nak? Sini, sini...papa tiupin! Jangan, sayang... jangan dipegang dulu. Biar papa tiup, jampe-jampe biar ga sakit lagi!"


Kami bergantian menjaga Jingga. Ternyata ada kebahagiaan juga dibalik kesedihan ini. Aku merasakan hubungan kami seperti kembali seperti dulu, ketika kami masih bersama dalam naungan rumah tangga. Hangat dan mesra. Dilubuk hatiku terdalam, semoga kehangatan ini terus dan terus..bahkan semoga Allah meridhoiku lagi untuk bersanding lagi secara halal dengan Ranti.

__ADS_1


Dokter yang menangani Jingga akhirnya mengizinkan Jingga untuk pindah ruangan. Alhamdulillah. Kini hanya selang infusan saja yang masih menempel ditangan Jingga. Alat-alat lain sudah mereka lepas dari tubuh anakku.


Ranti duduk dikursi roda memangku Jingga yang begitu tenang meski kutahu rasanya tidak nyaman dengan luka diperut dan selang infusan ditangan. Hebatnya putriku! Seorang perawat pria mendorong mereka menuju kamar baru Jingga. Aku sengaja menempatkan Jingga di kamar kelas 1 VIP. Agar anakku nyaman dan betah meskipun harus berlama-lama dirumah sakit.


Sungguh aku terlihat kejam karena hatiku gembira berbunga-bunga dengan kesempatan berharga ini 24 jam lebih bersama Ranti dan Jingga. Terlihat seperti keluarga kecil yang begitu harmonis. Kami bercanda, tertawa bersama-sama. Bahkan aku bernyanyi, dan ketika salah Ranti yang membenarkan dengan nyanyian juga. Hingga Jingga ikut tertawa lalu meringis menangis kesakitan. Aah..., kami pun berebut menggendong Jingga memberinya penuh perhatian agar kembali tenang dan senang.


Aku juga membeli buku-buku cerita bergambar untuk Jingga ditoserba tak jauh dari rumah sakit, membacakannya juga untuk Jingga.


"Papah! Jingga mau liat ikan besar! Mau liat kura-kura besar!" ujar Jingga setelah selesai mendengar ceritaku.


"Iya, sayang! Nanti kita pergi ke Dufan sama-sama. Kalau Jingga udah sembuh dan pulang dari rumah sakit, kita ke Seaworld. Disana ada ikan paus...."


"Ikan hiu!"timpal Jingga membuat Ranti yang duduk disampingnya tertawa.


"Iya, ikan hiu! Ikan lumba-lumba..."


"Ikan mas! Ikaaan....teri ada mah?" lagi-lagi Jinggaku yang polos membuat Ranti tertawa.


"Ikan teri ada sayang!" kata Ranti membelai rambut Jingga lembut.


"Jingga, papa, mama.... Kita bertiga ke Seaworld nanti. Kita liat semua ikan! Jingga mau?"


"Mauu! Ada buaya, pah?"


"Buaya? Ada ga ya diseaworld? Coba tanya mamah, papah lupa sayang!"


"Kalo buaya adanya dikebun binatang, nak!" Ranti menjelaskan pada Jingga.


"Kebun binatang siwod?"


"Bukan sayang, kebun binatang ada di Ragunan."


"Oooh iya! Yang waktu itu Abi ceritain ya mah? Abi kapan kesini, mah? Ko abi ga jenguk Jingga sih kesini?"

__ADS_1


"Abi sibuk sayang! Tapi abi selalu doain Jingga cepet sembuh."


"Iya, mah? Nanti abi ajak Jingga ke kebun binatang ya mah?"


"Iya, Jingga sayang!"


Aku tercekat. Mendengar perkataan yang meluncur dari bibir mungil Jingga. Aku sedikit bisa mengerti arah pembicaraan mereka.


Abi? Anakku tersayang ternyata sudah memanggil bocah ingusan itu abi? Waaah.. Tak kusangka! Ternyata hubungan mereka sudah sedekat ini. Bahkan dari bibir mungil Jingga terdengar sekali kalau gadis kecilku itu sudah begitu akrab dengan pacarnya Ranti hingga terlihat antusias ingin pergi bersama Sofyan Ali ke ragunan. Sialan bocah itu! Ternyata aku tak boleh menganggap enteng lelaki itu. Dia punya cara jitu rupanya memenangkan hati Ranti terlebih Jingga. Hhhh.... Lagi-lagi dadaku terasa panas. Kobaran api kembali membesar membuat hatiku kembali menghitam.


Tapi buru-buru kuguyur kobaran api itu mengingat aku justru harus lebih manis untuk mengambil hati Ranti dan Jingga.


"Nanti kita ke Dufan, kita liat lumba-lumba joget. Jingga mau, sayang?" kataku berusaha mengalihkan fikiran Jingga dari si Sofyan Ali.


"Memangnya lumba-lumba bisa joget, pah?"


"Bisa dong! Bisa terbang! Bisa cium Jingga juga. Nanti Jingga pasti suka dicium lumba-lumba. Geli-geli gimana gitu!"


"Kayak dicium abi ya, mah? Kena kumis abi, getek!" Aku memerah seketika.


Anakku dicium lelaki sialan itu? *******! Berani betul dia menggoda gadis cilikku dengan ciuman nakalnya. Aku berkobar seketika. Amarah menggelora menguasai hati dan jiwaku.


Sungguh teledor Ranti membiarkan lelaki asing mendekat pada Jingga. Membiarkan gadis kecilku dijamah dan disentuh lelaki lain meskipun ia adalah pacarmu, Ranti!


Aku spontan memandang marah Ranti. Tapi yang kupandangi hanya melengos. Menghindar dari tatapan mataku yang tajam. Aku ingin sekali menegur Ranti, tapi urung karena bisa merusak suasana yang sudah mencair.


Aku menyesal, terlambat mengejar Ranti. Terlalu lama kubiarkan Ranti dengan Jingga dikesendiriannya hingga ada celah untuk orang lain masuk dan mengisi kekosongan itu.


Tapi tidakkah Ranti berfikir. Jaman ini adalah jaman gila sekelas jahiliyah. Bagaimana Ranti bisa dengan mudahnya membiarkan Jingga berdekatan, bersentuhan dengan Sofyan? Jingga itu anak perempuan. Suatu saat akan tumbuh dewasa, berkembang dengan seiring waktu mengalami perubahan bentuk tubuhnya. Dan Sofyan Ali, tidak berhak dan tidak boleh seenaknya menyentuh anakku. Hhh.... Lagi-lagi emosi menguasaiku.


Padahal Ranti kini lebih agamis. Lebih paham hukumnya bagaimana baik dan tidaknya, boleh atau tidaknya,... aku jadi tak habis fikir.


Ternyata sangatlah tidak enak merasakan sakit cemburu yang mendalam. Fikiran jadi kacau karena setan-setan bergentayangan ikut mengomentari bahkan menambah bara api yang menyala semakin berkobar membesar. Dasar setan!!! Aku menelan ludah menahan kesal.

__ADS_1


Bersambung-


__ADS_2