
Kata siapa aku tak tergoda wanita lain. Ketika Vika memakai daster harian Ranti sempat menggoyahkan imanku. Lekuk tubuhnya lebih tergambar jelas dibanding lekuk tubuh istriku. Vika memang memiliki bodi yang lebih aduhai dengan payudara dan bokong lebih berisi dari Ranti.
"Kenapa sih, harus pakai baju kamu yang?!" gerutuku pada Ranti dikamar setelah makan malam bersama tadi.
"Masa' aku kasih pinjem baju kamu, mas!" jawaban Ranti yang ngasal bikin aku garuk-garuk kepala.
Ranti cuek melihat aku uring-uringan sakit kepala. Ia masih mendekap Jingga yang tengah menyusu padanya. Usia putri kecil kami sebentar lagi dua tahun. Tapi hingga kini Jingga masih menyusu ASI Ranti dan belum disapih.
"Mas, berusahalah ramah sedikit pada Vika. Biarpun begitu, Vika udah seperti saudara sendiri bagiku. Dia banyak berjasa padaku dulu, mas! Vika itu sahabat yang baik. Tapi sayang, nasibnya kurang beruntung. Makanya aku kasian banget liat dia terpuruk begitu sekarang ini."
"Membantu sahabat itu ga salah, Yang! Tapi semua itu harus sesuai porsinya juga. Kalau kamu terlalu berlebihan membantunya, justru kamu tanpa sadar menjerumuskan sahabatmu sendiri. Dia jadi tidak mandiri dan selalu bergantung sama kamu. Biar dia belajar dewasa, memilah mana yang harus ia ambil dan jalan mana yang bisa ia lewati. Cukup nasehat dan saran supaya ga salah jalan atau jatuh ke lobang. Itu saja porsi kita!"
"Vika itu beda dengan kita mas! Dia terbiasa hidup senang. Ada yang membantu dan melayaninya. Pasti ia tertekan banget karena hidupnya yang sekarang. Ga ada seorangpun mau menerimanya karena ia ga seperti dulu. Yang tajir dan royal. Bahkan aku sempet kaget juga, selama dia di Jakarta dia sama sekali ga pegang ponsel. Dulu dia itu hp mania banget. Tiap 3-4 bulan sekali ganti hp keluaran model baru. Selalu full pulsa sama kuota. Anak medsos banget. Ga ketinggalan update. Banyak teman nyata maupun dunia maya."
Aku mendengus dengan senyum sinis. Ya iyaaa..., dia ga punya uang buat beli hp baru. Kalau ada, pasti udah dia beli yang model barunya. Aku hanya bergumam dalam hati. Meringkuk disamping Ranti seperti bocah kecil yang sedang kesal dengan ibunya. Aku juga agak kesal melihat Vika.
Entah kenapa aku seperti merasa Vika seperti acuh cuek padaku. Dia hanya mengobrol dan tertawa pada Ranti saja. Padahal sebelum ini ia selalu mengintil dibelakangnya. Minta tolong ini, minta tolong itu. Mas ini lah, mas itu lah.... cuma mas yang ada dipikiranku untuk dimintai tolong. Hhhh...., tapi hanya selang beberapa jam, wanita itu sudah berubah wujud aslinya. Terlihat elegan dan santui dihadapan Ranti. Tak terlihat bahwa ia membutuhkan bantuanku. Dan tak juga ia tampilkan kemanjaannya. Membuat aku bete' beneran.
Aku jadi susah tidur nyenyak. Sudah berapa kali kuputar bantal supaya posisi tidurku menjadi nyaman. Ranti dan Jingga sudah terlelap pulas diranjang tempat tidur.
Haus membuatku beranjak bangun dan bergegas keluar kamar menuju dapur. Membuka pintu kulkas lalu meraih botol air putih. Dahagaku hilang setelah beberapa teguk meluncur melewati kerongkonganku yang kering.
Aku kaget melihat sesosok bayangan tengah duduk diruang tamu. Kuhampiri perlahan. Ternyata Vika sedang duduk termenung dengan wajah menunduk. Terlihat butiran-butiran jatuh dipangkuannya. Ia menangis sendirian.
"Vika? Kenapa belum tidur? Ini udah jam 11 malam"
"Ah, mas... maaf! Aku insomnia sejak mulai kenal dunia malam. Jadi begini, susah tidur cepat!" jawabnya seraya menghapus airmatanya cepat-cepat.
"Nyalakan saja tv nya. Kamu bisa nonton tv kalau jenuh."
"Ga apa, mas! Kuatir Jingga terbangun gara-gara suara tv malam-malam."
"Ya sudah. Mending baringan dikamar saja!"
"Iya, mas! Aku mau duduk disini dulu sebentar. Nanti kalo udah ngantuk aku masuk kamar."
__ADS_1
Aku ikut duduk seraya memantik korek dan menyulutkan api kerokok yang ada diujung bibirku.
"Kamu ngeroko' juga?" Vika menggeleng sambil senyum. Matanya memandangku terus hingga membuatku sedikit salah tingkah.
"Kenapa?" tanyaku membuatnya tersadar dan tersipu malu.
"Kamu pria dingin yang membakar hatiku."
Aku tersekat mendengar jawaban Vika yang pelan tapi jelas terngiang ditelingaku. Vika menunduk.
Aku tak bisa menimpali perkataannya. Hanya terdiam dengan menghisap rokokku dalam-dalam. Menikmati sensasi bersama sedikit khayalan nakal akan omongan Vika.
"Kamu terbiasa merayu karena kerjaanmu di club malam. Jangan terlalu diumbar begitu. Orang bisa salah paham menilai dirimu yang sesungguhnya!" kataku seolah menamparnya. Pipi Vika merah padam. Tapi kepalanya mengangguk seperti mengiyakan.
"Mas punya indera keenam ya? Kenapa semua perkataan mas walau pedas tapi benar. Dan itu tak bisa kusangkal. Mungkin orang lain bisa menilai aku perempuan murahan."
"Iya. Aku pun bisa saja salah faham. Apalagi kamu dengan berani bilang seperti itu dirumahku dan bisa saja didengar istriku." Vika terdiam. Ia hanya bisa memainkan jari-jari tangannya yang agak basah berkeringat.
"Maaf mas, aku lepas kontrol ga bisa menguasai emosi labilku."
"Kamu harus bisa melepas image mu yang dulu, Vika! Kamu adalah perempuan baik-baik sebelum itu. Dan kamu bisa kembali jadi perempuan baik-baik. Lupakan masa lalu yang buruk. Tutup dan jangan diingat lagi. Buka lembaran baru, berharap semua akan kembali indah seperti harapanmu dulu."
"Kata siapa?"
"Kataku lah, mas!"
Aku tersenyum kecil. Membuat Vika kembali berani menatap wajahku.
"Kamu salah. Lembaran itu selalu ada, selama rohmu masih diraga. Selama nafasmu masih berhembus. Tuhan selalu memberi kita buku kosong untuk kita isi. Terserah mau kita tulis apa, dengan tinta apa.Itu disebut tulisan nasib. Nasib masih bisa kita ubah. Kita perjuangkan untuk mendapat kehidupan yang lebih baik. Kecuali takdir. Kodo dan kodar semua sudah suratan Allah. Seperti kematian yang datang. Tidak bisa kita tangguhkan apalagi kita tolak."
"Mas kuliah filsafat juga?" Vika juga tertawa melihatku tertawa.
"Aku kuliah di manajemen keuangan."
"Tapi mas sangat pandai berfilsafat. Tidak sebanding dengan umur mas yang baru 39 tahun."
__ADS_1
"Baru 39 katamu? Hehehehe....Vika, Vika. Aku ini memang dewasa karena banyaknya tempaan dan cobaan. Makanya mungkin orang bilang, aku ini matang sebelum waktunya. Karena pahit getirnya kehidupan yang membuatku begini. Cobaanmu bagiku hanya seujung kuku saja. Makanya kamu harus lebih pandai bersyukur, karena sebenarnya diluaran sana...masih banyak orang yang lebih susah dari kamu."
"Iya, mas! Terima kasih banyak atas semua nasehatmu."
"Kenapa? Pusing ya ngobrol sama aku?... Ya sudah, tidur sana. Istirahat! Besok kalian akan cari rumah kontrakan khan?"
"Aku seneng ngobrol sama mas! Banyak ilmu bermanfaat dari obrolan kita. Dan aku sanggup koq jabanin mas ngobrol sampe pagi sekalipun." Lagi-lagi perkataan Vika membuat darahku berdesir halus.
"Kamu tadi sama sekali ga tertarik ngobrol denganku ketika bersama istriku. Sekarang perkataanmu lain lagi." godaku membuat Vika tertawa senang.
"Ranti itu sahabat yang menyenangkan. Bersama dia, aku bisa merasakan tawa canda juga tangis sedih bersama. Kami benar-benar cocok dalam pembicaraan. Ranti itu versi ceweknya dan mas versi cowoknya. Makanya ga heran, kami bisa tetep akur sampai 3 tahun jadi teman sebangku."
"Apa tuh maksud versi-versian begitu?!"
"Yaaa itu tadi. Ngobrol antara Ranti dan mas. Makanya, kalian adalah pasangan favorit aku untuk urusan diskusi dan minta pendapat. Karena kalian punya fikiran jernih dan positif yang buat aku juga jadi orang yang baik."
"Udah ah, semakin malam obrolan kita makin manis perkataanmu. Tidur, biasakan istirahat cukup. Untuk kesehatanmu juga, Vika!"
"Mas mau tidur? Masuklah duluan. Aku masih ingin menikmati suasana nginapku dirumah yang penuh kebahagiaan ini. Sampai aku iri dan ingin rasanya tinggal disini bersama kalian."
"Ngawur!... Tidur, tidur!"
"Hehehe.... Ga apa kali' mas, anggap aku anak bungsu kalian. Atau, saudara muda kalian,... atau babysitter Jingga, atau seburuk-buruknya anggap ART pun aku mau mas, asal boleh tinggal disini." Vika mulai berani mengajakku bercanda. Aku terpancing hingga tertawa.
"No, no, no. Maaf, kami tidak mempekerjakan ART kaya raya. Sangat berbahaya karena pasti minta bayarannya selangit. Belum lagi bukan kita yang dilayani tapi malah dia yang minta diladeni. Hadeeeuh, maaf- maaf saja ya!" Vika tertawa senang mendengar jawaban guyonku padanya.
"Kamu harus sering-sering tertawa, mas! Itu akan meningkatkan kegantenganmu lebih maksimal."
"Dasar cewe gila!"
"Ga apa gila, asal bisa sering liat kamu ketawa mas!"
Kami tertawa bersama. Aku masuk kamarku dengan kepala ringan dan hati senang. Entah mengapa obrolanku dengan Vika semakin membuat kami saling goda hingga bisa menimbulkan adrenalin yang membahagiakan hatiku.
Ranti masih terlelap mendekap Jingga. Jam di dinding menunjukkan pukul 2 dini hari. Ternyata aku telah lebih 2 jam menghilangkan jam tidurku hanya dengan ngobrol ngalor ngidul dengan Vika.
__ADS_1
Hhhh.... Aku menarik nafas panjang. Tapi senang.
Bersambung-