AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
KAPAL KAMI BERLAYAR


__ADS_3

Aku menepati janjiku masuk ruang operasi. Aku berpasrah pada-Nya dengan segala Kuasa dan Kehendak-Nya. Aku tidak ingin menjadi manusia yang sombong dan egois dengan memohon Allah mengabulkan semua doaku. Terserah pada-Nya saja. Apapun yang terbaik untukku. Aku terima.


Aku bersyukur Allah kembali menghangatkan hatiku dengan cinta yang manis. Cinta yang indah merekah memenuhi ruang hatiku yang sempat hampa.


Aku percaya, Allah sudah mengaturnya sedemikian hebatnya untukku dan orang-orang terkasihku.


Aku percayakan tubuhku pada tim medis para ahli onkologi yang siap membedah mengangkat penyakitku.


Setelah berminggu-minggu menjalani pengobatan dengan segala treatment juga metode, alhamdulillah...dokter memberiku kabar bahagia, kalau operasiku berhasil dan sel kanker yang pernah bersarang diparu-paruku kini bersih sampai akarnya.


Meski begitu, aku masih diwajibkan untuk ceck up kontrol setiap minggu dan masih harus mengkonsumsi beberapa obat pendetox juga vitamin-vitamin guna memperkuat jaringan sel ketahanan tubuhku setelah melakukan operasi dan juga pengobatan lainnya.


Aku semangat mengingat setelah semua ini selesai, aku dan Ranti akan ijab kabul. Walimahan lagi mengucap kembali janji suci yang pernah kukoyakkan. Aku hanya memohon Allah memberi kebahagiaan pada orang-orang terkasihku. Orang-orang yang selalu menyayangiku, mendukung dan mensupportku hingga aku bisa melewati semua ini.


Handphone memang sengaja kunon-aktifkan selama proses penyembuhanku. Karena radiasinya yang cukup tinggi juga karena aku ingin fokus menjalani pengobatan.


Itu sebabnya baik Hera maupun Ranti, termasuk Rosa dan Mas Anang tidak tahu sama sekali kabar beritaku dan waktu kepulanganku.


Aku pulang tapi langsung kerumah Hardi, adiknya Ranti. Aku mengutarakan niatku menikahi Ranti lagi padanya. Dan juga mengabari kalau Ranti pun menyetujuinya. Aku memintanya bersedia menjadi wali nikah Ranti nanti. Hardi dan Gina menangis. Mereka ikut senang jika kakak tercinta mereka bahagia. Aku bahagia, Hardi dan Gina tak lagi mempermasalahkan masa laluku yang kejam terhadap Ranti. Aku memintanya lagi untuk mengurus semua persiapannya termasuk mengurus surat-surat dokumen sebagai syarat pernikahan yang harus kami penuhi. Hardi dan Gina bersedia membantu kami. Aku menunduk terharu. Aku tak bisa mengucap banyak janji pada mereka. Tapi aku ingin mereka tahu, betapa aku ingin membahagiakan Ranti dan Jingga selamanya. Selama nafas ini masih berhembus dan tubuh ini masih berjiwa, aku akan melakukan apapun demi mereka.


Aku pulang disambut deraian airmata Ranti. Ia sepertinya ingin memelukku tapi hanya berdiri terpaku mengingat kita masih belum bisa bersentuhan dulu.


"Aku sembuh, Ranti! Will you marry me?" Aku mengeluarkan sebuah kotak cincin yang kubeli tempo hari dan belum sempat kusematkan.


"Cincin murah, jangan dilihat dari harganya ya!" bisikku padanya setelah Ranti mengangguk dan menerimaku memasangkan cincin berbatu safir biru yang mungil.


Jingga juga menatapku yang terlihat mesra dengan Ranti. Aku tersenyum, seperti bisa membaca isi hati putri tercintaku. Aku berjongkok padanya, mengambil satu kotak kecil lain lagi disaku jas semiku.


"Ini untuk Jingga!" Jingga terbelalak dengan mulut terbuka. Ia berjingkrak kesenangan. Satu set kalung dan gelang dengan liontin batu permata berwarna jingga sesuai dengan namanya. Aku memakaikannya pada Jingga yang terlihat begitu antusias dengan wajah bersinar bahagia.


"Jangan marah ya, Ranti! Aku membelikan Jingga lebih banyak darimu!" bisikku pada Ranti membuat Ranti tersenyum malu langsung mengecup pipi Jingga.


Aku dan Ranti menikah seminggu kemudian setelah semua berkas persyaratan pernikahan lengkap. Kami melakukan semuanya dengan sederhana saja. Diadakan dirumah Ranti dengan disaksikan keluarga-keluarga kecil kami. Rosa dan mas Anang juga Arif dan Nana ikut menghadiri momen bahagia kami. Ada Mul dan Jabrik, Hana dan Lina. Ada juga pak RT dan beberapa warga tetangga yang turut kami undang. Alhamdulillah.... Terima kasih ya Allah!

__ADS_1


Setelah begitu besarnya badai menerjang, hingga kapal kami karam ditengah jalan. Kini kami berusaha membuat kapal baru dan perlahan kembali berlayar. Alhamdulillaah...!


Arif memberitahukanku kalau Vika telah meninggal dunia 3 hari yang lalu di RS Sumber Waras. Vika menggantung dirinya diatas ranjang kamarnya.


Aku dan Ranti hanya bisa berpandangan. Mengeratkan genggaman tangan kami dan berharap tidak ada Vika-Vika lain yang mengganggu hubungan kami.


Yang aku sesalkan Vika tidak bisa mengambil kesempatan yang Allah berikan padanya selama ini. Akhirnya ia hanya terpuruk dan benar-benar tenggelam atas semua sikap dan perbuatannya dimasa lalu. Tanpa bisa merasakan kebahagiaan dan rasa syukur betapa Allah menyayanginya dengan semua cobaan kehidupan untuk menjadi lebih baik. Aku menghela nafas mengucap istighfar dalam hati. Aku tak boleh sombong dan jumawa seolah aku lebih baik darinya.


Setiap manusia sudah Allah atur jalan hidupnya. Allah Yang Lebih Tahu dan Maha Tahu. Laa haula wala quwata illabilla hil'ali hil'adzim....


...


"Maaas.... Kamu sedang apa?" Ranti terkejut melihatku. Aku hanya tersenyum menatap wajah polosnya yang cantik dipagi hari. Subhanallah!! Kucium keningnya lalu menuntunnya duduk dikursi makan. Nasi goreng ala kadarnya buatanku sudah tersedia untuk Ranti dan Jingga.


"Duduk manis ya, sarapan dulu! Aku lanjut dulu ya, sebentar!... Eit...jangan jalan dulu, lantainya licin, Ranti!" kataku berbisik ditelinganya sambil mengedipkan mata dan kembali kerja.


Aku kembali mengepel lantai. Mengeringkannya segera dengan lap kering dan bergegas menjemur pakaian.


"Maaas....ini tugasku, mas!"


"Maaf, mas! Aku bangun kesiangan tak sholat subuh karena sedang menstruasi."


Aku hanya tersenyum menggodanya dengan kedipan mata. Ranti menghambur kearahku. Memeluk erat tubuhku bertubi-tubi menciumi wajahku. Aku membalas ciumannya dengan lebih ganas. Aku tahu dia malu karena aku mengambil bagiannya mengurus rumah. Aku sudah terbiasa selama menduda. Mengurus diri sendiri dan mengerjakan semuanya semampu yang kubisa.


"Jangan goda aku disaat kamu belum bisa memberiku 'itu', Ranti!" Aku suka sekali menggodanya. Melihat semburat merah jambu diwajahnya. Melihat senyum manisnya yang tertahan dibalik bibirnya. Aku sangat suka!


Ranti kembali ke meja makan dengan senyum malu-malu. Jingga juga telah bangun dan berdiri dipintu kamar dengan memandang kami bingung.


Aku menggendong tubuh mungil Jingga dan memberikannya pada Ranti.


"Papa buatin nasi goreng. Sarapan dulu ya sayang!"


"Papa koq ada disini?" tanyanya polos sekali. Membuatku dan Ranti tersipu malu.

__ADS_1


"Memang papa nginap ya ma?" Jingga bertanya lagi pada Ranti.


"Sekarang papa tinggal sama kita, sayang!" Ranti menerangkan dengan suara lembutnya.


"Kemaren-kemaren papa ga pernah nginap! Sekarang boleh tinggal sama kita?"


"Ini khan rumah papa juga, nak!" kata Ranti lagi.


"Rumah yang papa tempatin punya om Arif sama tante Nana ya?"


"Iya, Nak!"


"Papa diusir, mah? Jadi nginap disini?"


"Bukan sayang!.." Ranti bingung bagaimana lagi menjelaskannya pada Jingga. Sementara aku hanya senyum-senyum saja menyaksikan dua wanita cantik dihidupku itu bercengkrama.


"Mama sama papa sekarang sudah suami istri sayang, jadi boleh tinggal bersama. Jingga senang ga, papa tinggal bareng kalian?" akhirnya aku ikut bersuara. Jingga menatapku dengan bibir tersenyum lebar.


"Kayak bunda sama ayahnya Elin ya pa?"


"Iya. Pintar, Jingga!"


Aku menggenggam jemari Ranti dan Jingga. Mengecupnya dan juga mengecup kening mereka satu persatu.


"Sekarang mama sama Jingga sarapan. Papa mandi dulu, terus Jingga juga mandi. Kita kepasar, mau?"


"Okeeeee.....!!!"


Aku tersenyum menyaksikan kegembiraan anakku dan istriku kini.


"Bilang apa sama papa yang udah susah payah buatin kita sarapan?" tutur Ranti pada Jingga.


"Terima kasih, papa!"

__ADS_1


"Sama-sama, Jingga!"


Bersambung-


__ADS_2