
Aku tidak pulang kerumah ayah. Tapi mengantar Vika hingga depan jalan raya.
"Pulanglah! Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Aku tak ingin ada urusan lagi denganmu!" katanya datar.
"Mas! Apakah kamu harus bersikap seperti ini? Tidak bisakah kita berbicara lebih santai terlebih dahulu? Aku udah ada disini, mas! Didekatmu!"
Hhhh.... Aku menarik nafas panjang. Sakit kepalaku berlama-lama berbicara denganmu, Vika!
"Kamu dan aku berbeda dunia. Aku tidak punya apa-apa lagi dan bukan siapa-siapa lagi, Vika! Aku tidak punya rumah, tidak punya kerjaan, juga tidak punya uang! Aku cuma pedagang sempol ayam dipinggir jalan. Sedangkan kamu,... lihat dirimu. Lihat high heelmu! Tasmu, bajumu, aksesoris yang kamu pakai, semuanya kalau ditotal lebih dari 10 juta! Kamu mau hidup denganku yang miskin ini? Kamu mau ngadonin sempol ayam tiap hari bersamaku? Kamu mau?" tanyaku berusaha mendokrinnya.
Vika diam menunduk. Sesekali matanya memandang kearahku.
"Kamu sudah ga kerja di gedung Graha lagi, mas?"
"Kamu khan tahu, aku dipecat secara tidak hormat karena tindakan asusilaku mencoreng nama baik perusahaan. Aku seperti ini sekarang! Luntang-lantung ga karuan! Kamu mau menjamin hidupku, Vika? Mari kita lanjutkan kalau itu maumu!" kataku sedikit menggertaknya. Setidaknya kini aku tahu sifat aslinya. Aku melihat topeng dibalik wajah cantiknya.
Vika termenung dengan wajah tertunduk.
Tiba-tiba aku terkejut melihat Ranti yang masuk kedalam gang dan kini berdiri dihadapanku dan Vika.
Kenapa aku harus terus berada diantara kau dan dia, Ranti? Kenapa kita bertiga seperti dipertemukan Allah dengan cara-Nya yang tidak bisa kupikirkan dengan nalar yang biasa? Lagi-lagi, aku diantara kau dan dia, Ranti!
Sorot mata Ranti yang tajam menghujam jantung. Membuat dadaku berdenyut kencang. Ia melengos pergi setelah seperkian detik menyadari posisi kami. Hhhh....
"Kamu dan Ranti sudah bercerai, mas?" tanya Vika setelah Ranti berlalu.
__ADS_1
"Ranti sudah menikah lagi. Dia kini bahagia! Jangan kau usik dan hancurkan lagi! Kuperingatkan padamu, Vika!"
Aku baru saja melangkah untuk pergi meninggalkan Vika didepan jalan. Tapi lagi-lagi Vika menarik lengan bajuku membuatku kembali memandangnya dengan kesal.
"Aku juga sebenarnya telah menikah lagi, mas!" ceritanya membuatku bersorak senang. Akhirnya wanita ini membuka topengnya sendiri. Haha!
"Alhamdulillaah! Semoga Allah mengampunimu dan memberimu ketenangan dalam rumahtanggamu yang baru." Aku menyelamatinya dengan doa.
"Tapi aku masih sering merindukanmu, mas!"
Aku tertawa. Aku hanya bisa tertawa juga dalam hati. Masya Allah! Perempuan ini! Inikah perempuan cantik yang dulu membuatku hancur berantakan? Bahkan sampai kini pun hidupku masih berantakan.
Dasar anjing, kau Dika! Kamu lebih suka makan kotoranmu sendiri dibanding makanan sehat yang majikanmu berikan. Hhhh...!! Aku hanya bisa merutuki diriku sendiri.
"Ini kartu namaku, mas! Hubungi aku jika kamu sudah lebih fight dan ingin bersamaku!" katanya dengan tidak tahu malunya.
Astaghfirullahal'adziim... Ya Allah! Ampuni segala dosa-dosaku ya Allah! Aku tak berhak men-judge-nya. Apalagi memaki dan menghinanya. Aku kurang lebih sama buruknya dengannya. Hanya karena kini aku berusaha mendekatkan diri pada Allah. Hanya Dia-lah yang berhak menilai dan memberikan hukuman yang setimpal. Dia-lah Allah yang Maha Memberi Hukuman dan Hidayah pada siapa pun yang Dia Kehendaki. Sombongnya aku bila saat ini aku memakinya bahkan bila dengan kata-kata kotor karena sifat dan wataknya yang seperti itu.
Ya Allah! Aku hanya menarik nafas panjang. Berusaha berdoa pada-Mu semoga hidayah Kau turunkan padanya, pada Vika.
Aku pergi tanpa mempedulikan Vika lagi. Jalan kami berbeda. Meskipun kami dicap orang sama-sama sampah. Tapi aku ingin pergi dari kubangan kotor pembuangannya. Sampah bisa direcycle bukan? Dengan pencucian beberapa kali, bisakah aku lebih bermanfaat meskipun untuk diriku sendiri? Hhh.. Biarlah Allah yang mengatur hidupku saja!
Aku masuk kedalam rumah ayah yang ramai tamu yang datang melayat. Aku melihat Ranti dan Hera yang tengah menangis berpelukan. Lagi-lagi airmataku jatuh mengingat ayah. Hhhh....
Aku hanya duduk dipojokan setengah meringkuk diatas kursi kesukaan ayah. Biarlah mas Wawan yang mengatasi semua urusan. Aku tidak ada tenaga untuk melakukan apapun.
__ADS_1
Aku tidak peduli orang lain. Aku juga tidak peduli pada diriku sendiri. Tapi aku peduli pada ayah! Astaghfirullaah....! Aku bangkit dari dudukku. Mengusap airmataku. Aku pergi kedapur mengambil segelas air. Lalu aku pergi berwudhu. Aku lupa, hanya doa anak yang sholeh lah yang bisa meringankan dosa kedua orangtuaku. Aku pergi kekamar ayah. Mengambil kitab suci Al-Qur'an dan membuka surat Yaasin.
Bismillaah.. Ayah, ibu.... kalianlah awal mula aku ada didunia. Kalianlah yang telah menjadikanku manusia dimuka bumi ini. Hanya kalianlah yang mampu menarikku kembali ke jalan yang lurus karena kalian kini lebih dekat dengan Sang Kholiq, sudah barang tentu lebih bisa mengambil hati-Nya untuk memberiku kehidupan yang baik. Aamiin...
Aku keluar kamar ayah setelah adzan Ashar. Suasana rumah sudah terlihat lebih tenang karena tak seramai tadi pagi hingga siang. Tamu-tamu sudah mulai berpamitan pulang. Dan kurasa Ranti pun sudah kembali kerumahnya. Aku cukup respek padanya padahal pagi tadi ia baru saja melangsungkan ijab kabulnya. Tapi dia datang untuk memberikan penghormatan terakhirnya pada ayah. Terima kasih, Ranti! Aku hanya bisa mengucapkannya dalam hati bahkan disaat orangnya sudah pergi.
Aku pergi ke masjid. Melebur bersama warga yang juga melaksanakan sholat Ashar disana.
Ini hari Sabtu. Jadi aku masih punya waktu menghibur diriku mengobati luka hatiku dengan mengasuh anak Intan yang masih berumur 8 bulan. Aku ingat Jingga. Anakku sangat manis ketika usianya sebesar Bilqis. Aku sedikit banyak terobati dengan kelucuan Bilqis.
Bilqis anak bungsu Intan adikku yang paling kecil. Intan ikut suaminya Kiyoshi yang keturunan Jepang bekerja diperairan lepas wilayah Tohoku dekat pulau Honshu Jepang. Mereka menetap disana setelah memiliki satu anak dan kini anak mereka sudah 3 orang.
Diana adalah kakakku. Umur kami hanya terpaut satu tahun setengah. Sejak kecil Diana sering sakit-sakitan hingga badannya lebih kecil dariku dan hampir semua orang menyangka akulah kakaknya. Dan karena aku anak laki-laki satu-satunya dikeluargaku, membuat ayah dan ibu memfokuskan aku untuk lebih bertanggung jawab menjadi yang terdepan menjaga kakak dan adik-adikku. Diana juga ikut suaminya hijrah ke Papua. Mereka kini sudah punya 4 anak. Makanya Intan dan Diana sangat jarang bersama kami.
Anak ayah yang sedikit memprihatinkan mungkin aku dan Hera. Kami kakak beradik janda dan duda. Hera belum dikaruniai anak membuat suaminya ingin menikah lagi. Itu sebabnya mereka cerai. Hhhh... Aku sangat menyesal membuat Hera adikku ikut terseret langsung menerima karma karena perbuatanku. Andai aku bisa memilih..., cukup aku saja yang Allah hukum dan siksa atas semua dosa dan kesalahanku. Cukup aku saja, ya Allah!
Tidak ada orang yang ingin bercerai ketika berumah tangga. Tapi tidak ada yang tahu batu sebesar apa yang menghadang ditengah jalan yang menjadi sandungan. Semua orang menikah ingin bahagia hingga akhir, bukan? Tidak ada orang yang ingin menderita selama hidupnya, seumur hidupnya. Bahkan seorang pendosa sepertiku sekalipun.
Aku menghela nafas. Dadaku terasa sakit ketika aku menarik udara masuk lewat pernafasan dan berakhir diparu-paruku. Hhh... Mungkin masuk angin. Aku tidak terlalu memusingkannya mengingat usiaku yang tak lagi muda. Wajar saja semua penyakit menyerang karena daya tahan tubuh sudah tak lagi sama seperti waktu muda dulu.
Ayah kami tahlilkan hanya hingga tujuh hari. Mengingat anak-anaknya yang harus kembali menjalani rutinitas kehidupannya masing-masing. Kami sepakat menyodakohkannya dimasjid tiap malam Jum'at untuk seterusnya nanti hingga 40 hari kedepan. Kami mempercayakannya sepenuhnya pada Hera.
Diana dan Intan bersama keluarganya kembali ketempat mereka masing-masing. Hanya doa yang menguatkan kami, kakak beradik. Meski kami terpisah jauh, hati kami tetaplah dekat karena kami satu ayah satu ibu. Bahkan Intan menggodaku untuk ikut dia pindah ke Jepang, siapa tahu jodohku kini ada di Jepang katanya. Diana juga tak kalah mempromosikan daerahnya. Meskipun terpencil tapi Papua memiliki pesona dan gadis-gadis luar biasa. Hehehe... aku hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka yang sepertinya kasihan melihat mas-nya yang sudah tua tapi masih merana ini.
Alhamdulillah! Aku bersyukur memiliki saudara-saudara yang menyayangiku. Hera pura-pura ngambek karena tidak ada yang peduli mencarikan jodoh untuknya. Hahahaha... Hera, Hera! Padahal diam-diam aku tahu kamu kini sedang dekat dengan seorang duda yang ditinggal meninggal istrinya. Hhhhh... Aku turut senang jika kamu bahagia. Aku hanya bisa mendoakan adik-adik dan kakakku kebahagiaan yang banyak dan panjang. Juga selalu mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Aamiin ya Allah!
__ADS_1
Bersambung-