
Aku baru tiba dirumah kontrakan pukul 6 kurang. Jabrik dan Mul memelukku tapi kutepis karena merasa malu dengan tubuhku yang bau tujuh rupa.
"Bang, dari mana lu bang? Bang?... Sadar, bang!" Mul terus mengguncang tubuhku berkali-kali. Jabrik memegang tanganku kencang. Sepertinya ia begitu takut aku kabur lagi.
"Aku mau mandi dulu, Mul! Badanku bau!" jawabku membuat Mul dan Jabrik sontak menyebut hamdalah bersamaan.
"Mau pake aer anget bang?" tanya Jabrik kujawab dengan gelengan kepala.
Mul menyiapkan handuk dan pakaian ganti untukku. Ia masuk kamarku sambil menutup hidung. Kamar ini sudah beberapa hari kututup rapat dan mengeram disana.
"Biar, Mul... Habis mandi nanti aku yang bersihkan!" Mul hanya tersenyum dengan gayanya yang lucu.
"Maaf ya, beberapa hari ini aku terserang gila! Kalian pasti khawatir ya sama aku!"
"Iya, kena penyakit gila cinta. Ya Allah, bang! Gue sih ogah mesti kek gitu gegara cinta. Masih banyak cewek lain diluaran sana, brow! Idih.... amit-amit gue liat tingkah lu kayak bocah 15 tahun yang patah hati!" gerutu Mul membuatku menunduk menitikkan airmata. Aku terharu pada mereka. Mereka bukan saudaraku, bukan siapa-siapaku. Tapi mereka sangat peduli padaku. Terima kasih ya Allah!
Jabrik memukul bahu Mul melihatku yang terlihat sedih.
"Ya udah, abang mandi dulu! Kita beli sarapan nasi uduk dulu bang?" Jabrik menarik tangan Mul. Terdengar samar kalau ia memarahi Mul yang tidak tepat bercandanya kepadaku. Mul hanya meringis sambil tersenyum lebar.
Selesai mandi aku duduk bersama Mul dan Jabrik. Menikmati sepiring nasi uduk, lengkap dengan balado telur, kentang bumbu kacang dan mie ditaburi bawang goreng dan kerupuk warna-warni.
Perutku yang keroncongan membuat makan pagiku ini begitu lahap hingga tak bersisa. Mul dan Jabrik tersenyum senang.
"Abang mau ke kantor bareng?" tanya Jabrik. Mul dan Jabrik kini memang sekantor denganku. Mereka punya jabatan dan pekerjaan masing-masing.
"Mungkin nanti siang, Brik! Aku harus bersih-bersih dulu kamarku. Tolong sampein pesanku juga pada bu Rosa dan pak Anang ya, siang selepas Zuhur aku mungkin baru datang?!"
"Hp abang mati kehabisan batrei tuh... Udah di cas belum?" tegur Mul membuatku berdiri mencari dua benda kecil tapi penting itu disudut kamarku yang bau pesing. Ketemu! Aku bergegas mencharger keduanya distop kontak dekat pintu kamar.
"Janganlah abang kayak gitu lagi, bang! Perusahaan abang baru mau berkembang. Banyak pesanan hampir kita gagalin kalo aja bu Rosa sama pak Anang ga turun tangan! Kita juga bingung, ga bisa komunikasi sama abang. Abang punya kita, jangan takut sendirian. Abang mau ngajak kita nangis berjama'ah juga hayu! Kita pasti ikut abang!Sedih abang, sedih kita juga. Derita abang, derita kita juga! Jangan merasa abang sendirian disini, bang! Kita semua sayang abang! Kalo mau abang belek nih dada pake pedang, dihati kita penuh suara abang, nasehat-nasehat abang. Abang yang angkat kita dari kubangan kotor. Masa abang sendirian maen becekan dikubangan lebih kotor. Jangan gitu lagi ye bang!"
Aku lagi-lagi menunduk dan menangis. Merasakan betapa tulusnya Mul dan Jabrik menyayangiku. Aku beneran bodoh dan gila bila tak lagi peduli pada diriku sendiri dan mereka. Tapi aku rapuh. Saat ini aku beneran rapuh, Mul, Jabrik!.... Aku hanya butuh pegangan dan sandaran yang kuat. Agar bisa menopang tubuh lemahku berdiri menghadapi kalian.
Jabrik kembali memukul Mul.
"Maafin abang ya? Maaf....!"
__ADS_1
"Ga apa-apa, bang! Kita yang harusnya minta maaf. Kita ga bisa mengerti perasaan abang! Maafin kita ya bang!" Jabrik menggantikan posisi Mul berbicara.
Aku mengambil air seember dan juga pembersih lantai serta sikatnya. Kamarku benar-benar bau karena delapan hari aku seperti kehilangan akal sehat berbuat semaunya seperti manusia bar-bar.
Kuangkat kasur dan menjemurnya diluar dengan bantuan meja.
Jabrik dan Mul pamit pergi kerja. Mereka kini sudah punya kendaraan bermotor sendiri-sendiri. Walaupun masih kreditan, tapi aku bangga melihat kegigihan hidup keduanya.
Aku melanjutkan pekerjaanku membersihkan kamarku. Kusikat hampir keseluruhan tembok kamar hingga basah semua. Bau pesing kini berganti menjadi harum semerbak setelah kuguyur dengan banyaknya karbol pembersih lantai. Kugunakan fiber pembersih air dilantai. Mengeruknya hingga teras. Hari ini tenagaku banyak terkuras. Setelah hampir 8 hari hanya tapa geni tanpa minum dan makan.
Aku merasakan kesegaran dengan keringat bercucuran. Aku kembali ingat bang Sobri. Aku akan mengunjunginya setelah kamarku sudah bersih dan kering kembali agar kasurku bisa kurapikan lagi dengan kuganti sprei yang baru dicuci.
Kutengok jam didinding jam 10 lebih. Selesai dan kamarku kembali bersih dan wangi. Aku berganti pakaian, menstater motor maticku dan berjalan menuju rutan.
Aku menangis memeluk bang Sobri. Menceritakan semua kesedihan hatiku sampai hal terkecil sekalipun. Aku terisak dibawah kakinya. Hanya bang Sobrilah orang yang mampu kulimpahkan semua penderitaanku. Sesekali ia menunduk juga menitikkan airmata. Hanya dialah yang bisa kuandalkan menerima setiap keluh kesahku. Lama aku menangis disimpuh kakinya. Hingga kami akhirnya lesehan dikolong meja ruang pertemuan khusus keluarga dan tahanan.
Bang Sobri memukul pipiku keras.
"Masih untung mantan istrimu tidak membunuhmu yang tak tahu malu ini!" katanya sambil menyeringai.
"Kamu lupa, apa kasusku sampe dipenjara begini?... Aku menghilangkan 5 nyawa sekaligus, Dik! Istriku, anak sulungku, kedua mertuaku dan satu lagi, selingkuhan istriku. Paham ceritaku sampai disini?... Itu kulakukan karena aku kalap gelap mata. Aku marah pada mereka. Aku marah pada kedua mertuaku karena dia melihat kelakuan anaknya tapi tidak menegurnya. Aku juga marah pada anak sulungku, padahal dia sudah dewasa dan tahu kelakuan bejad ibunya, tapi masih membiarkannya. Aku lebih marah pada istriku dan selingkuhannya yang sangat santainya mereka meskipun dihadapan orangtua dan anak-anakku. Gimana pendapatmu? Hebat khan aku?... Jadi posisimu itu kurang lebih sama dengan istriku. Tahu? Makanya harusnya kamu tahu diri dan berfikir lebih jernih untuk tidak menyakiti Ranti lebih dalam dan sakit lagi."
Semua yang diucapkan bang Sobri semakin menyadarkanku. Semakin membuka mataku.
"Aku pernah berpesan diakhir kita ketemu. Rendahkan selalu hatimu, Dika! Jika kau lagi-lagi salah melangkah, cepatlah sadar lalu kembali kepada-Nya. Meminta maaf kepada Penciptamu! Hanya Allahlah tempat kita meminta, Dika! Seburuk dan sesakit apapun itu, kembalikan saja kepada-Nya. Ia pasti akan menggantikannya dengan nikmat-Nya yang tak kau duga-duga." Aku memeluk rapat tubuh bang Sobri. Malu rasanya aku dihadapannya. Padahal aku baru ingat kasusnya juga berawal dari perselingkuhan, dimana bang Sobri awalnya adalah korban hingga menjadi terdakwa.
"Itulah perempuan. Sangat sulit kita mengerti! Padahal kita berjuang untuk mereka. Kita berusaha membahagiakan mereka, meskipun berat dan penuh perjuangan. Tapi sekali kita buat noda dihatinya, ia akan selalu mengingat dan menunjuk kesalahan kita yang setitik itu. Ia lupa berapa banyak lubang-lubang besar dihati kita yang kita korbankan untuk membahagiakannya. Hhhh.... Tapi aku tidak menyalahkan Ranti dan semua tindakannya. Justru aku salut pada mantan perempuanmu itu. Andai aku masih muda, aku ingin sekali cari lagi satu perempuan seperti mantan istrimu itu! Atau kalau boleh, aku mau juga mencari perhatiannya agar bisa menikah dengannya. Hahahaha...!!! Kamu benar-benar lelaki bodoh, Dika! Kamu tertipu dengan kilauan imitasi yang kau temukan dikolong batu hingga melempar intan murnimu yang tercebur lumpur hitam. Bodoh! Hahaha...."
Bang Sobri tertawa keras sambil menepuk-nepuk pundakku.
"Andaikan kita bisa bertukar tempat, bang! Aku ingin menggantikanmu diam dipenjara ini!" kataku asal bicara.
"Bocah dungu!... Bisa-bisanya kamu mau tinggal lagi disini. Mau kugebukin biar otak warasmu kembali normal?... Kamu bisa dihajar napi selapas kalo kedengeran mereka. Kamu tahu, berapa banyak napi disini yang kepingin cepat-cepat keluar sampai nekad kabur melarikan diri yang imbasnya justru menambah masa tahanan? Stres lu, Dika!"
"Aku seperti mati rasa dan fikiran, bang! Aku ingin pergi dari dunia ini kalau tak takut dosa. Aku sudah tak punya harga diri dan juga kebanggaan lagi, bang! Meski kini aku punya harta dan uang....semuanya tak bisa menolongku dari rasa sakit ini. Tolong aku, bang! Tolong kasih aku saran, agar aku tetap bisa sadar dan istikomah dengan hidupku ini bang!"
"Lalu apa maumu sekarang?"
__ADS_1
"Aku tak tahu, bang!"
"Edan, ya udah mati aja lu sana!"
"Aku mau mati bang, andai bunuh diri ga dosa. Aku lebih baik mati daripada hidup seperti ini."
"Gebleg!!!"
Aku terus menangis. Seperti iba melihat bocah cilik yang tersesat, bang Sobri hanya menatapku. Lama.
"Maukah kamu menuruti permintaanku?"
"Apa, bang?"
"Pergilah ke kampung Cilempung di Cilamaya."
"Dimana itu, bang?"
"Letaknya ada diperbatasan Cikampek dan Cirebon. Temuilah bapak Kardi dan istrinya mbok Sartijah. Mereka tinggal diarea pemakaman umum dan memang bekerja sebagai penggali kubur. Tinggallah dengan mereka untuk beberapa waktu terserah kamu. Kamu bisa belajar memahami arti hidup yang sesungguhnya. Bersama mereka, kamu bisa lihat, betapa Allah sangat menyayangimu, Dika!"
"Mereka orangtua abang?"
"Bukan. Merekalah yang mengurus dan memakamkan istri, anak dan kedua mertuaku ketika orang-orang sekampung tak mau peduli padaku dan keluargaku. Apa kamu mau kesana?"
"Mau, bang! Mau sekali!"
"Baiklah... Akan kutulis alamat lengkapnya. Bilang saja kalau kau teman aku. Mereka pasti akan menerimamu dengan baik selama kau baik dengan mereka."
"Baik, bang! Aku akan pergi kesana. Mungkin malam ini atau subuh nanti dengan kereta api!"
"Urus dulu semua urusanmu disini! Jangan jadi pecundang yang melarikan diri dengan meninggalkan banyak beban pada orang sekitar!"
"Baik, bang! Terima kasih banyak atas pencerahan abang! Aku akan menemui abang lagi jika kembali nanti!"
"Sebutlah nama Allah dan minta keberkahannya dari setiap langkahmu! Aku turut mendoakan kebaikan untukmu, Dika!"
Kucium punggung tangannya lama sekali. Menyusut air mata yang masih tersisa. Memaksakan tersenyum dan mendoakan kesehatan untuknya. Aku akan berjalan, meskipun diatas hembusan angin.
__ADS_1
Bersambung-