AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
SESEORANG ITU SIAPAMU, RANTI?


__ADS_3

Hari demi hari kembali bergulir. Dengan terseok-seok aku berusaha melupakan semuanya terutama cinta. Cinta tak selamanya harus memiliki bukan? Cukup kusimpan cintaku dengan rapi dilipatan relung hati. Bila kurindu masa lalu, cukup kubuka lembar kenangannya. Hanya akan kulihat dan kuingat yang manisnya saja. Yang pahit, biarlah menjadi obat penanda bahwa aku pernah salah dan khilaf. Jadi takkan lagi kumakan pil pahit kehidupan itu lagi. Stop sampai disini aku mempermainkan cinta dan cinta mempersulit hidupku. Kupercaya, ada cinta lain yang lebih berharga yakni cinta pada Pencipta.


Aku, masih tetap berusaha mengembangkan usahaku menjadi penjual dan penyalur sempol. Alhamdulillah, dibalik kepedihan hidupku Allah memberiku nikmat lain dengan bertambahnya pundi-pundi uang kedalam sakuku.


Bahkan Mul pun sudah lebih percaya diri membawa seorang gadis kekontrakan dan mengenalkanku sebagai kakaknya. Aku senang, ia mulai belajar memulai rencana kedepan. Pemuda jaman sekarang memang kadang lebih berani dan tak piki-piki.


Aku hanya bisa membimbing Mul dan Jabrik kearah yang lebih baik. Menjadi lelaki yang baik untuk pasangannya nanti. Baik lewat moriil maupun materiil. Paling tidak, jangan sampai mereka seperti aku. Itu harapanku.


Ini sudah masuk musim penghujan. Biasanya musim ini sedikit rawan untuk para usahawan kecil seperti kami. Karena hujan yang terus menerus membuat orang malas untuk keluar rumah, juga karena Jakarta memang sudah terbiasa langganan banjir hingga membuat tertutup semua akses. Otomatis, pendapatan berkurang.


Aku tetap tak patah semangat karena ada semangat-semangat lain dibelakangku yang mensupportku. Mul dan Jabrik memang masih bekerja di percetakan sablon, tapi ada adik-adik Mul dan beberapa ibu rumah tangga dan para anak muda putus sekolah yang menggantungkan penghasilannya dari orderan sempolku. Mereka bisa ambil dagangan berikut bumbu pelengkapnya dan bayar kemudian setelah habis terjual.


Ada telpon masuk ke handphoneku. Nomor baru. Dan aku segera mengangkatnya. Karena rezeki tak boleh dilewatkan.


"Assalamualaikuum..."


Walaikumsalam... mas Dika ya?


"Iya saya sendiri. Ada apa ya mas?"


Saya Sofyan Ali, mas! Boleh ga saya ketemuan ngobrol sama mas Dika? Terserah mas, waktu dan tempatnya. Bisa mas?


Aku terdiam berfikir sesaat.


"Maaf, ada perlu apa ya mas dengan saya?"


Ada yang mau saya diskusikan sama mas Dika. Saya, ....teman dekatnya Ranti! Boleh ya mas?

__ADS_1


Deg. Seketika detak jantungku mengencang. Teman dekat Ranti? Teman dekat mantan istriku? Ada apa? Kenapa mau diskusi denganku? Seketika fikiranku kosong.


"Saya coba cari waktu ya mas Sofyan Ali! Nanti saya kabari lagi ya? Maaf, saya sedang berdagang!"


Maaf saya ganggu mas! Tapi gimana kalo saya yang datang menemui mas? Boleh? Saya minta alamat mas dagang ya?


Aku menarik nafas. Agak cemas. Tapi akhirnya kukirimi dia alamat percetakan sablon bos Akung tempatku dagang.


Seperti yang ia janjikan. Lelaki itu kini ada didepanku. Masih muda sepertinya seusia Ranti. Tampan dan juga bersih. Penampilannya sederhana tapi enak dipandang mata. Tanpa sadar aku telah menilainya.


Sofyan Ali menjabat tanganku erat. Senyumnya mengembang sepertinya tulus. Dan aku tak ingin lebih menjatuhkan harga diriku dihadapan lelaki ini. Maka segera kututup terpal digerobakku.


"Kita cari tempat ya disekitaran sini!" ajakku berusaha sopan. Dan ia lagi-lagi hanya tersenyum. Mmmmh... Sepertinya senyum itu yang berhasil memikat mantan istriku, Ranti.


Kami masuk kesebuah coffe shop. Memesan dua cangkir kopi dan sepiring masing-masing satu ceik keju kesukaanku.


"Maaf ya mas! Saya ganggu mas!" lelaki itu membuka pembicaraan setelah meneguk sedikit kopi dicangkirnya. Aku tahu, ia gugup. Karena mata legamku sesekali melihatnya, memperhatikan dengan seksama.


"Saya sudah setahun ini kenal dengan Ranti. Dan beberapa bulan ini saya memberanikan diri untuk lebih dekat lagi. Saya tahu saya lancang! Ranti bilang, sebelum saya meminta hubungan yang lebih jauh,... saya harus memperkenalkan diri saya pada mas. Papanya Jingga. Saya menghormatinya dan saya serius ingin menjalin hubungan lebih dekat lagi dengan maksud melamarnya menjadi istri saya!"


Aku hanya terdiam. Menahan nafas yang membuat dadaku semakin sesak. Gentle-nya pemuda ini.


"Boleh saya bertanya sebelumnya?" tanyaku membuat Sofyan mengangguk agak lama.


"Berapa umur mas? Apakah mas sudah pernah menikah sebelumnya?Dan apa pekerjaan mas?" tanyaku seolah aku adalah ayah dari seorang gadis yang dipinang seorang pemuda. Hhhh...


"Umur saya 32 tahun. Memang lebih muda 3 tahun dari Ranti. Tapi saya sudah siap semua itu, insyaAllah lahir batin. Saya bujang, mas! Meskipun saya hanya seorang wirausaha biasa, tapi saya percaya...saya bisa membahagiakan Ranti juga Jingga!"

__ADS_1


Woow...bravo, Dika! Seorang pria lebih muda 10 tahun darimu begitu gagahnya meminta mantan istrimu dengan tegas secara jantan berbicara 4 mata. Waaah, hebaaat!! Kamu K.O telak, Dika!....


Lama aku terdiam. Hanya bengong dengan tangan memainkan letak cangkir kiri dan kanan. Apa yang harus aku katakan, bila mantan istriku mendapatkan yang lebih baik dariku? Senang atau sedihkah? Bukankah Al-Qur'an sendiri menerangkan wanita baik-baik untuk lelaki baik-baik? Bukankah selama ini aku juga selalu mendoakan kebahagiaan yang tulus untuk Ranti dan juga anakku Jingga? Tapi aku sedih,.... aku tenggelam semakin dalam dilautan kehampaan. Hanya kosong. Kekosongan yang begitu mencekam menguasai hati dan batinku.


"Ranti adalah wanita yang baik. Saya sudah bersamanya hampir 7 tahun dalam mahligai rumah tangga. Saya kenal Ranti hampir 10 tahun. Dan saya sudah gagal menjaga dan mengasihinya setulus hati. Dia benar-benar istri idaman setiap pria..."


"Saya sudah lama memperhatikannya, mas! Bahkan orangtua saya begitu respek dengan Ranti dan mendukung saya sepenuhnya. Awal saya kenal Ranti adalah karena dia adalah pelanggan tetap konveksi mamah saya dan saya adalah karyawan pemasarannya mamah. Seiring waktu kami sering bertemu. Bernego, berdiskusi tentang usaha kami. Saya kagum dengan cara pandang dan pemikirannya, mas! Saya juga respek dengan caranya merawat dan mendidik Jingga. Saya jatuh cinta padanya, mas!"


Aku bisa merasakan perasaannya lewat binar matanya ketika menceritakan Ranti. Ia begitu mengagungkan Ranti dari cara bicaranya. Aku malu. Aku kecewa sekali lagi pada diriku sendiri yang teramat bodoh ini.


"Saya senang sekali kalau Ranti dan Jingga bahagia. Itu harapan dan doa saya selama ini. Saya cuma mantan istri Ranti, meskipun saya tidak akan pernah jadi mantan papanya Jingga. Saya senang, mas mendatangi saya secara jantan dan dewasa. Saya tidak bisa melarang apalagi menghalangi kebahagiaan Ranti. Semua saya kembalikan padanya. Dia yang lebih berhak memutuskan semuanya dalam hidupnya. Saya hanyalah masa lalu baginya kini. Tapi saya mendukung niat baik mas Sofyan. Dengan catatan, mas berjanji pada saya, tidak akan membuat Ranti sedih apalagi menderita. Tidak akan pernah menyakitinya baik fisik maupun perasaannya. Mas mau pegang janji saya?"


"Iya, mas Dika. Saya berani berjanji! Walau saya tidak berani berjanji untuk memberinya kemewahan, tapi saya pastikan... Ranti dan Jingga akan selalu saya bahagiakan."


Kamipun saling berjabat tangan dengan hati dan fikiran masing-masing. Sofyan Ali dengan senyum bahagia sementara aku dengan senyum getir. Hhhh...


"Terima kasih mas, atas kebaikannya. Kita pasti akan sering bertemu nantinya apalagi setelah kami jadi satu keluarga nantinya."


"Iya."


Aku kembali ke gerobak daganganku dengan hati hancur porak poranda. Seperti cermin yang telah hancur berkeping-keping. Teramat sulit merangkainya lagi meskipun direkatkan lem penguat. Seoerti itulah hatiku kini.


Aku tidak meneruskan usaha dagangku. Aku ingin pulang. Tidur untuk menghilangkan kepenatanku.


Sempol ayamku masih banyak. Akhirnya kubagikan secara gratis kepada para karyawan bos Akung, para pedagang disekitaranku dan juga para anak-anak pengamen jalanan yang kebetulan nongkrong didepan lapakku.


Aku membawa motor maticku perlahan menyusuri jalan Jembatan Merah, membelok pulang ke arah Gunung Sahari tempatku mengontrak.

__ADS_1


Aku lagi-lagi melemah. Ya Allah, tolong kuatkan aku! Kuatkan hatiku. Jangan Kau biarkan aku menjadi orang yang tak beriman dengan mencaci-Mu karena nasibku yang tak karuan. Aku lelah ya Allah! Tolong sangga aku dengan sayap-sayap kasih sayang-Mu! Tolong jaga fikiranku agar tetap waras. Aku ini hanyalah ciptaan-Mu yang lemah tak berdaya selain mendapat kekuatan dari-Mu! Hhh... aku hanya bisa berdoa dalam hati.


Bersambung-


__ADS_2