AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
PAMAN BERKAKI PANJANG


__ADS_3

"Apa kabar, Dika?"


"Alhamdulillah baik, Pak! Bapak juga bagaimana kabarnya?"


"Mmmh....seperti yang kamu lihat sekarang. Tinggal menunggu waktu saja!" Aku menelan ludah gugup dihadapan pak Anjar.


Sungguh ya! Orang besar itu begitu beda auranya. Terlihat elegan dan berkharisma tinggi. Hhhh... Aku dibuat tak brrkutik dihadapannya. Sementara beliau terlihat enjoy-enjoy saja.


"Kamu sepertinya kurang senang ya, bertemu lagi denganku!"


"Bukan begitu, pak! Saya hanya gugup saja!" jawaban jujurku membuat pak Anjar tersenyum kecil.


"Aku ini sudah tua, Dika! Sudah tak bertenaga lagi membesarkan perusahaan yang kubangun dari nol. Anak kandungku sendiri juga tidak ada yang berminat menekuni bidangku itu. Hhh.... so'..... I am just waiting for you!"


"Tapi ternyata....kamu juga rupanya tak begitu menyukaiku." Lanjut pak Anjar membuatku menunduk malu.


"Maaf, pak! Saya telah mengecewakan bapak. Sejujurnya saya malu pada bapak. Malu karena perbuatan saya yang mencoreng wajah bapak. Saya juga merusak citra baik perusahaan bapak dimata umum. Saya tak berani meminta maaf dengan benar pada bapak! Saya sudah menghancurkan harapan bapak. Sekali lagi maaf!" Aku hanya bisa menunduk tak berani memandang beliau.


"Aku suka pemuda-pemudi yang berfikiran maju kedepan. Semangat dan penuh kreativitas juga ide-ide brilian. Bangsa ini bisa besar bila sebagian pemuda penerus bangsanya mau berjuang keras untuk memajukan negerinya sendiri. Bukan menerima arus saja menjadi apa ataupun bagaimana tanpa berani berkomitmen mengambil resiko terbesar. Karena bila kamu fahami, justru setelah resiko besar yang kau dapatkan membuat otakmu berpacu lebih cepat dan lebih baik untuk bertahan dan berjuang lagi secara naluriah. Tapi...ada sebagian orang yang menjadi mudah putus asa dan patah semangat ketika cobaan menerpanya. Padahal kau tahu pepatah, semakin tinggi sebuah pohon menjulang, semakin kencang pula angin diatas menerjang. Itu benar, Dika!"


"Kamu kira para pengusaha sukses sekelas Bob Sadino tidak jatuh bangun bercucuran keringat, darah dan airmata untuk membangun kerajaan bisnisnya? Woooow... kamu harus sering main-main keperpustakaan atau toko buku untuk mengetahui kisah dibalik kesuksesan mereka. Aku banyak belajar dari pengalaman dan juga kisah hidup mereka."


Aku dan Rosa hari itu mendapat banyak pencerahan. Soal hidup dan kesuksesan. Sungguh pengalaman bak kelas seminar yang tak kan bisa kudapatkan dengan mudah begitu saja. Mendapat nasehat dan ceramah dari pengusaha sukses seperti pak Anjar adalah kesempatan paling berharga.


"Apa rencana kedepanmu? Apa kamu tak minat kembali bergabung denganku ditempat kamu dibesarkan dulu? Atau bagaimana keinginanmu?"


Aku tergagap disodorkan pilihan yang terasa berat bagiku.


"Saya, bukan bermaksud menolak tawaran bapak yang sangat menggiurkan. Tapi.... saya sepertinya sudah tertinggal jauh dari teman-teman sejawat diperusahaan. Andai saya ambil kesempatan itu, saya khawatir justru akan memperlambat laju perkembangan perusahaan bapak."


"Oke, argumenmu aku terima. Berarti aku fix menjual seluruh sahamku di perusahaan tempatmu bekerja, Ros!" kata pak Anjar menggoda Rosa. Dan Rosa pun gelagapan menerimanya.


"Lalu, rencanamu selanjutnya, Dika?"tanya pak Anjar lagi beralih padaku.


"Saat ini saya baru saja memulai usaha sempol ayam, pak! Masih sangat prematur, karena baru beberapa bulan saja. Masih harus banyak belajar membuka usaha ini. Tapi saya optimis, perlahan saya bisa lebih baik lagi."


"Langkah kedepanmu lalu? Ingin membuka pabrik sempol ayam dengan lisensimu sendiri?"

__ADS_1


"Hehehe.. masih sangat jauh dari pemikiran saya, pak! Terlalu jauh sepertinya!" aku tertawa malu dan hanya menunduk.


"Lalu? Cuma segitu ilusimu? Tak berani berkembang? Kendala modal?"


"Salah satunya termasuk itu, pak! Saya melangkah perlahan dulu seiring memantapkan hati membenahi diri."


"Hahahaha.. kamu patah karena cinta, Dika! Aku tahu itu! Bangkit! Bangun dari tidur panjang yang hanya membuat tubuhmu semakin lemah! Ambil kesempatan yang Tuhan berikan padamu. Ambil kokok ayam dipagi buta itu! Jangan biarkan ia yang hanya hewan kecil mematuk rezekimu! Paham maksudku?"


Aku terdiam merenungi ucapannya yang begitu mengena. Benar perkataan beliau! Aku semakin mengagumi beliau dalam-dalam.


"Kamu tahu? Aku menjual semua asset berhargaku untuk memulai bisnisku diawal. Bahkan aku ingat, istriku sendiri mengorbankan cincin kawin kami juga ketika usaha pertamaku gagal total, bangkrut tak bersisa."


Aku kembali teringat Ranti. Teringat pengorbanannya diawal-awal rumah tangga kami. Sungguh kini kusadari, keberhasilan seseorang memang berawal dari dukungan penuh orang yang berdiri tepat disampingnya. Yakni pasangannya. Dan lagi-lagi aku menyesal telah melepaskan Ranti dari hidupku.


"Ceritakan mimpimu padaku, sekarang!"


"Saya hanya ingin hidup bahagia, pak!" Pak Anjar dan Rosa tertawa berbarengan. Mereka seperti tengah menanggap seorang bocah lelaki cilik yang polos dengan keinginan sederhananya. Aku malu dan menunduk.


"Saya ingin sekali bisa membuka usaha membantu orang-orang lemah seperti saya. Yang ingin berusaha meraih kehidupan lebih baik, tapi terkendala banyak sekali rintangan salah satunya modal. Saya ingin membuat anak-anak muda putus sekolah menjadi pengusaha maju dengan membekali dan memodali mereka suatu usaha. Juga para ibu rumah tangga yang ingin punya penghasilan lain yang ingin membantu meringankan beban suaminya dalam mencari nafkah. Sedikit saya sudah memiliki beberapa dari mereka yang menjadi penyalur dan pedagang sempol saya."


Aku dan Rosa saling berpandangan. Kaget campur bingung. Terlebih lagi aku. Bak tertimpa durian runtuh. Sungguh pak Anjar adalah paman berkaki panjang bagiku.


Aku berbinar dengan mata nyaris menumpahkan airmata. Kuseruduk pak Anjar dengan menyentuh tangannya dan menciumnya. Aku menganggapnya seperti ayahku sendiri.


Berkali-kali kuucapkan terima kasih padanya. Beliau hanya tersenyum dan mengangguk. Aaah.... mimpi apa aku semalam?


Pak Anjar memberiku dan Rosa masing-masing sebuah bungkusan.


"Bukalah!"


Isinya adalah sebuah smartphone keluaran terbaru dengan desain paling mutakhir dan keunggulan paling baik. Waaah.. !


"Itu sudah kuset. Sudah berisi kartu perdana dan juga nomor-nomor kalian yang bisa kalian hubungi. Selama ini aku sulit sekali berkomunikasi dengan kalian! Eit.... ini untuk digunakan untuk bisnis kita ya Dika! Bukan untuk cinta-cintaan!"


"Ini apalagi, pak?" tanya Rosa membuatku juga ikutan memeriksa satu kotak lagi di dalam paper bag pemberiannya tadi.


"Itu hanyalah sedikit hadiah dariku atas kerja kalian selama ini yang cukup baik diperusahaanku."

__ADS_1


Kartu ATM salah satu bank swasta ternama. Waaah....! Ya Allah.. Ini orang kaya beneran bingung sepertinya buat menghambur-hamburkan uangnya! gumam hati kecilku tapi girang bukan kepala. Kulihat Rosa juga bersorak senang.


"Jangan lihat nominalnya! Justru kalau bisa, tingkatkan nominalnya lebih besar lagi dan giat menabung untuk masa depan anak-anak kalian!"


Aku dan Rosa tersenyum senang. Sangat senang. Mendapatkan berlimpah kasih sayang dan perhatian dari seorang pengusahawan bernama Anjar Pranoto. Alhamdulillaah!


Kami pun pergi meninggalkan pak Anjar yang masih akan bermalam beberapa hari lagi di villanya di Rancamaya. Aku kembali diantar Rosa ketempat asalku. Tapi aku memintanya menurunkanku di perempatan gunung sahari senen. Secara hari sudah malam.


Lagi-lagi Rosa mengingatkanku akan niat baik pak Anjar dan tak lagi membuat beliau kecewa. Dia teman yang baik mensupportku meski dengan pembawaannya yang cerewet dan kasar. Aku bersyukur memiliki teman sepertinya.


Aku berjanji akan segera merealisasikan keinginanku yang disokong penuh oleh pak Anjar dan juga support Rosa.


"Makasih banyak, Ros! Aku sangat beruntung memiliki teman sepertimu. Terima kasih! Salamku untuk mas Anang dan si kembar!"


"Oke. Jangan lupa hubungi aku bila proposalmu selesai. Aku baru akan ajukan resign setelah dapat kepastian jelas darimu!"


"Hadeeeuh.... ucapanmu seperti pemuda yang mengucapkan cinta dan minta balasan jawaban secepatnya!"


"Hei, orangtua! Aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu ya, karena aku sudah punya suami yang sangat berkompeten dalam mengagungkan cintaku. Tau?"


"Hahahha... Jangan ngegas juga lah, Ros! Aku hanya bercanda! Maaf!"


"Becandaanmu ngeselin bagi aku wanita paruh baya yang lebih mendamba keluarga bahagia! Hahahaha.... Makan tuh pencarian gara-gara kepincut wanita murahan!"


"Rosa! Ucapanmu kejam sekali!"


"Orangtua kayak kamu harus digetok kepalanya biar sadar. Jelas-jelas wanita simpananmu itu murahan! Kalau dia puya harga diri dan prinsip percintaan sejati, dia seharusnya tetap berdiri disampingmu seberat apapun rintangannya. Bukan lari setelah melihat kenyataannya kamu hancur dihadapannya jatuh dan tenggelam tanpa niatan menariknya dari kematian surimu ini."


"Hahahaha...stop, stop ceramah tak bermutumu itu Rosa!"


"Aku tahu, kamu jengah dengar ucapan pedasku! Tapi aku juga lebih tahu, kalau hatimu mengiyakan kata-kataku! Betul khan????"


"Iya Nyonya Rosa yang bijaksana, cantik, baik hati dan tidak sombong!" Aku mengalah. Karena semua ucapannya benar. Tapi aku tak ingin membahasnya lebih jauh karena itu hanya akan membuatku jadi lebih buruk dengan menyalahkan oranglain atas kesalahanku sendiri.


Kini baik Ranti maupun Vika hanyalah masa laluku. Biar bagaimanapun mereka pernah jadi bagian dari hidupku. Mengisi hari-hariku dan menghiasi perjalanan hidupku. Aku sudah berjanji untuk mengenang semua kebaikan, bukan keburukan.


Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2