AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
MEMULAI AWAL YANG BARU


__ADS_3

Ini hari terakhirku berdagang didepan toko sablon bos Akung. Setelah akhirnya ada orang yang mau meneruskan lapak usahaku berdagang sempol ayam dan es thaican. Yaitu anak bu Darni yang berdagang gado-gado disamping gerobakku. Aku pamitan pada bos Akung, berterima kasih atas bantuannya selama ini padaku. Dan kunego juga untuk membayar uang kontrakan gerobak karena masih akan ada yang berdagang sempol ditempatku. Bos Akung menyetujui dan kamipun berjabatan tangan dengan senyuman mengembang.


Aku sudah punya rencana untuk beberapa hari kedepan. Aku akan kembali memulai awal yang baru. Dengan harapan baru dan semangat yang baru.


Seperti yang telah kurencanakan. Hari ini hari Rabu pagi aku sudah bertekad akan pulang kerumah ayah di beji Depok Baru. Aku pergi dengan niat meminta maaf dan meminta doa restu ayah.


Ayah memang tidak terlihat gembira melihat kedatanganku. Tetapi ia juga tak ada niatan mengusirku. Aku kembali meminta maaf padanya seperti niat awalku. Aku juga memohon ridhonya untuk usahaku kedepannya.


Beliau hanya diam tak menjawab. Tapi aku tahu ia mendoakanku dari relung hati terdalamnya. Aku bisa fighting selama ini juga pasti karena doa dan harapan yang selalu ia untaikan disepanjang sujudnya.


Kutitipkan amplop berisi uang 10 juta pada adikku Hera. Ia yang mengurus ayah dan berjasa menjaga orangtuaku yang masih tersisa. Kukatakan itu untuk semua keperluan yang dibutuhkan ayah dan juga Hera serta dua anaknya.


Aku hanya berdoa Allah memberikan ayah kesehatan. Aku ingin mempersembahkannya kebahagiaan lagi lewat prestasi yang dulu pernah ia banggakan. Walau usiaku sudah tak lagi muda, namun kuyakin dengan tekad kuat dan dukungan orang-orang hebat disampingku. Aku bisa survive.


Aku juga menjenguk bang Sobri di rutan Salemba. Aku memang teramat sibuk setelah keluar dari sana. Tapi aku tak pernah sekalipun melupakannya. Semua nasehat dan wejangannya, begitu merubah jalan fikiranku yang sempat sempit dan buntu.


Aku hanya mampu memberinya semangat. Juga sedikit janji bila umur kita panjang, aku akan merawatnya dimasa tuanya. Bang Sobri menangis memelukku. Ini kali pertamanya ia mengumbar airmatanya dihadapanku. Ia juga senang menerima amplop berisi sedikit uang jajan untuknya dariku. Lagi-lagi ia menangis.


"Ini airmata kegembiraan, monyong!" tukasnya membela diri ketika kugoda kalau ia begitu imut ketika menangis.


"Abang selalu mendoakanmu, Dika!.. Teruslah melangkah. Rendahkan hatimu selalu! Jika kau merasa salah dalam melangkah, lekaslah kembali dan meminta maaf pada Penciptamu. Karena Allahlah sebaik-baik tempatmu meminta. Itu saja sedikit nasehat dariku!"


Aku memeluknya lagi sebelum meninggalkannya ditempat itu. Seperti harapannya dulu, aku juga ingin bertemu lagi dengannya dilain tempat. Tempat yang bersih, suci dan penuh doa-doa. Bukan tempat berkumpulnya semua setan bermaksiat dan berpesta pora dengan segala tingkahnya yang buruk.

__ADS_1


Aku juga mampir ke masjid depan rutan dimana seorang marbot muda memberiku sepasang pakaian baru.


Ia tidak ingat padaku. Bahkan ia bilang, ini pertama kalinya ia melihatku. Tak apa. Aku hanya tertawa senang karena ia tak ingat jasanya dan kebaikannya padaku. InsyaAllah kupercaya wangi bunga kasturi di jannahnya Allah bisa ia hirup.


Aku memberinya dua amplop berisi uang. Satu untuknya dan satu lagi sodakohku untuk masjid. Ia menerimanya dengan hati senang karena senyum manisnya menghiasi bibir bahkan sampai aku pergi jauh dari pandangannya.


Ya Allah... Aku mohon keridhoan-Mu untukku. Aku kembali menyusuri jalan dengan langkah kaki penuh pengharapan.


Tempat terakhirku adalah pemakaman umum Karet Bivak tengsin di Tanah Abang. Tempat almarhumah ibuku dikebumikan. Sudah lama sekali aku tak menemuinya disini. Hampir 4 tahun lamanya aku tak kesini. Aku menemui pengurus makam dan berbincang ringan dengannya seputar pemakaman. Aku menanyakan masalah biaya yang sudah lama tidak aku keluarkan untuk perawatan dan lain-lain. Ternyata bapak itu mengatakan kalau semua telah diurus oleh seseorang. Mungkin ayah. Betapa kutahu cintanya begitu besar pada ibu. Bahkan dikala saat ini ia hanya sendiri menjalani takdir hidupnya sendiri tanpa mencari pendamping lain.


Aku ucapkan banyak terima kasih dan sedikit uang dalam amplop sebagai ucapan terima kasihku karena beliau mengurus makam ibuku dengan baik sekali.


Aku pun pulang kembali kekontrakan dengan diiringi adzan magrib dari masjid sekitar. Aku, manusia biasa yang berusaha sekuat tenaga, mencoba membangun pilar-pilar kerja kerasku lewat pondasi doa dan dukungan orang-orang yang menyayangi.


Kini kusadar. Aku dikelilingi orang-orang yang baik. Aku sangat mensyukuri itu.


Hhh.... Hari-hari berat dan melelahkan akan segera datang. Aku harus mempersiapkan mental dan juga fisik yang kuat. Setelah semuanya clear, baru aku menyusun semua proposal untuk kuberikan pada pak Anjar. Aku begitu exited sekali kembali memulai awal yang baru.


Aku ingat, aku juga perlu refreshing. Aku butuh hiburan. Dan jalan yang kupilih adalah piknik bersama keluarga Mul dan Jabrik ke Pelabuhan. Kita ambil hari Minggu untuk mantai.


"Bang! Aku ajak Lina ya, boleh?" tanya Mul menggodaku dengan kedipan. Lina itu perempuan yang tempo hari ia bawa dan kenalkan sebagai pacar.


"Sori, brow! Ini acara keluarga inti. Tidak boleh bawa pacar maupun gebetan. Okey?"jawabanku membuat Mul cemberut.

__ADS_1


"Nanti kalau kamu udah sah suami istri, abang hadiahin bulan madu plesiran dipantai 2 hari dua malam." Ucapanku kali ini membuat Mul kembali berbinar. Senang.


"Bukan apa-apa, Mul! Kita semua senang-senang, lu ntar malah asik pacaran! Mengurangi kesenangan kita terutama gue ama Jabrik yang masih jomblo tulen!"


"Bener banget tuh, bang!" Jabrik memberiku lima jari. Kami tos bercanda membuli Mulyadi yang semakin terpojok dan hanya ngikik sendiri.


"Cari makanye, broooo....!" Aku dan Jabrik menjitak kening Mul bersamaan. Hanya tawa yang membuat kami kembali akur satu sama lain.


Aku merental sebuah mobil minibus yang bisa mengangkut kami semua pergi ke Pelabuhan. Walau riuh dan ramai, semua itu sangat membuat semangat hidupku semakin full terpacu.


Sangat senang rasanya bisa membahagiakan orang lain. Apalagi melihat tawa gembira dan candaan renyah mereka sepanjang perjalanan. Semua ceria, semua bahagia. Termasuk nenek Mulyadi yang hampir tak pernah pergi jalan-jalan jauh.


Sesungguhnya aku ingat Ranti dan Jingga. Andai bisa kuajak mereka serta. Pasti lengkap sudah kebahagiaanku ini. Tapi aku manusia biasa. Tak bisa sempurna dan tak boleh serakah. Mungkin saja saat ini mantan istriku juga tengah berbahagia bercanda dengan kekasihnya yang manis itu. Aku tak boleh egois dengan merusak kebahagiaan Ranti kini. Hhh...


Hidupku memang berat tanpa Ranti. Sangat berat karena selama kami berumah tangga, nyaris semua urusanku dan printilan sekecil apapun ia yang menyiapkan. Makanya ketika kami piknik ke pantai. Aku terpaksa membeli pakaian baru karena lupa tidak membawa pakaian ganti. Hhh... Kembali kecewa dengan keteledoranku.


Sekali lagi mengenang semuanya dengan kesedihan. Dan sepenggal lagu "bahwa kau baru menyadarinya setelah semuanya tak lagi ada digenggaman", itu kenyataan. Dan aku mengakui semua itu benar.


Pantai memang tempat terbaik membuang semua kenangan buruk. Aku memisahkan diri sendiri memandang keriaan mereka dari kejauhan.


"Bang, jangan jauh-jauh dari kita!" nasehat Jabrik membuatku tersenyum mengangguk.


"Biarin... Die lagi cari janda Pelabuhan!" timpal Mul membuatku tertawa ngakak. Anak itu paling bisa bikin lawakan. Bisa membuat suasana hatiku yang mengharu biru menjadi merah segar sesegar darah.

__ADS_1


Merekalah keluargaku kini. Bukan maksud membuang keluarga asliku sendiri. Tapi kini suasananya tak lagi sama seperti dulu. Aku berjanji dalam hati, suatu saat nanti..aku pun akan membawa keluargaku sendiri menikmati kebahagiaan bersama ke pantai ini. Semoga Allah mengabulkannya. Aamiin!


Bersambung-


__ADS_2