
Kini aku dan Arif Borne, dua orang lelaki yang pernah saling menyerang dipengadilan negeri saling berhadapan. Saling pandang dengan tatapan tajam dan wajah tegang.
"Bisa tinggalkan kami berdua, Bu Rosa?" kata Arif pada Rosa tanpa mengalihkan tatapannya dari tatapanku. Darimana ia tahu nama Rosa, entahlah...aku tak peduli. Hanya Rosa yang tersentak dan terlihat serba salah.
"Tidak apa. Sebaiknya kamu tinggalkan kami, Ros! Mungkin ada banyak yang masih ingin ia bereskan denganku!" ujarku pada Rosa sedikit menyindirnya.
"Aku pulang duluan kalau begitu. Dika! Ingat, jaga emosimu! Ini wilayah pak Anjar!" balas Rosa agak berbisik padaku. Ia pun pergi meninggalkanku yang masih berdiri tegak dihadapan Arif Borne.
"Kita cari tempat yang lebih nyaman. Bagaimana?" sarannya menanyakanku dengan suara lebih merendah.
"Oke!"
Kami berjalan beriringan meninggalkan gerbang rumah pak Anjar. Semakin jauh dari zona aman. Dan aku bersiap untuk segala kemungkinan. Bisa saja ia tiba-tiba bermain curang menghajarku dari belakang. Secara kepribadiannya tidak bisa kutebak.
Ada taman kecil dengan kursi panjang disana. Arif menunjuk kearah sana dan akupun mengikutinya dari belakang.
Ia duduk dengan tenang. Akupun menghempaskan bokongku dikursi kayu panjang duduk disebelahnya. Arif mengeluarkan sebungkus rokok lalu menyodorkannya padaku. Aku menolak dengan mengatakan kalau aku sudah berhenti merokok.
Arif mengambil sebatang, menyulutkan api lewat pemantiknya lalu menghisapnya dalam-dalam. Aku hanya diam sambil mengawasinya. Sepertinya ia tengah menyusun kata-kata dikepalanya untuk ia lontarkan padaku.
"Bagaimana kabar Vika?" tanyanya kemudian. Aku mendengus dengan sedikit menyunggingkan senyum, ternyata ia hanya kepo pada mantan istrinya itu.
"Aku tidak tahu! Kami sudah lama tidak berhubungan. Aku dan Vika tidak lagi bersama. Hanya itu saja yang ingin kau sampaikan padaku, Tuan Arif Borne? Kau ternyata lebih menyebalkan dari yang aku kira! Kau membuang waktu berhargaku!" umpatku kesal padanya.
__ADS_1
"Aku minta maaf, karena pernah menaruh dendam padamu dan bertekad menjebloskanmu kepenjara." Aku diam karena kaget akan ucapannya.
"Terima kasih! Kau telah memberiku pengalaman paling berharga dalam hidupku!"
"Aku tahu kamu masih marah dan kesal padaku. Mungkin juga masih menyimpan dendam. Aku paham dan menerima keketusanmu padaku karena kejadian itu!"
Aku diam tak berniat menjawabnya.
"Aku kesal mendapati istriku kabur dengan laki-laki lain dan kumpul kebo hingga hamil. Aku baru puas setelah melihatmu digiring paksa mendekam dipenjara." Katanya lagi membuatku menarik nafas panjang.
"Aku minta maaf untuk itu. Aku memang bersalah dan kau berhak menghukumku!"
Kami sama-sama diam. Saling berfikir dan mengingat kesalahan masa lalu yang suram.
"Ibuku adalah sekretaris papanya. Ibuku terkena bujuk rayu papanya hingga dibuat jatuh cinta tergila-gila pada papanya Vika. Saat itu usiaku 10 tahun, ketika ibuku dan ayahku bertengkar hebat karena ibu tiba-tiba meminta cerai dari ayah. Ternyata, ibu dibuai janji gombal papanya Vika yang berjanji akan menjadikannya istri. Hingga ibuku pergi dari rumah mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kecelakaan merenggut nyawanya. Aku dan ayah sangat sedih dan terpuruk. Tapi ternyata papa Vika justru membalikkan fakta dengan merusak nama baik ibuku bahkan disaat telah tiada. Ia bilang, ibuku adalah perempuan yang selalu mengejarnya karena harta, tahta dan jabatan. Padahal sebagian teman ibu tahu, bahwa lelaki itulah yang selalu menggoda dan merayu ibuku hingga berpaling dari ayahku. Aku, hanya bisa menangis sendirian... ketika melihat ayahku yang depresi berat harus dibawa kerumah sakit jiwa karena melukaiku dan orang-orang sekitar. Aku, bocah lelaki berumur 11 tahun harus menerima kenyataan keluargaku hancur karena lelaki sialan itu. Aku mungkin tidak bisa hidup seperti sekarang bila tak diangkat anak oleh pak Anjar, atasan ayahku waktu itu."
Aku menundukkan kepala tak tahu harus berkata apa mendengar cerita Arif.
"Pak Anjarlah yang menyekolahkanku hingga selesai S1. Tetapi aku memilih tinggal diasrama daripada tinggal ditengah-tengah keluarga mereka yang bahagia. Aku terus memantau keluarga Vika sejak ku masih SMP. Aku sengaja memilih sekolah yang sama dengannya. Berusaha mendekati Vika dan bermanis-manis padanya. Lalu ketika SMA, pak Anjar mengirimku sekolah diasrama putra di Semarang. Hingga aku tidak bisa meneruskan maksudku mendekati Vika. Tapi rupanya waktu berpihak padaku. Kami kembali kuliah ditempat yang sama. Aku mulai melancarkan jurus-jurusku membuat Vika jatuh cinta padaku. Aku berusaha menekan egoku agar rencanaku berhasil untuk menaklukan hati Vika. Karena aku tahu, Vika anak semata wayang kesayangannya. Sudah barang tentu, bila aku berhasil menguasai Vika, secara tidak langsung aku berhasil menguasai papanya. Setelah dengan banyaknya pengorbananku, aku berhasil menikahi Vika dan mendapat kesempatan mengurus beberapa perusahaan papanya. Aku, yang sudah begitu lama memendam dendam pada mereka, dengan sengaja membuat perusahaan mereka satu persatu jatuh dan hancur. Aku hanya memegang Vika dengan tujuan menghancurkan keluarganya tanpa tersisa. Tapi aku bersikap manis sekali pada Vika membuat Vika selalu membelaku didepan papa dan mamanya. Hingga papanya meninggal karena shock melihat kehancuran perusahaan-perusahaannya karena ulahku. Aku masih belum puas karena ternyata mamanya cukup pintar menahan kehancuran keluarga mereka. Tapi semua tak berlangsung lama. Tuhan memberiku kesempatan dengan mengabulkan semua doaku. Mama Vika meninggal seiring semakin menumpuknya hutang membuat perusahaan yang tersisa pun ikut bangkrut pailit. Aku puas sekali melihat semua itu. Aku telah berubah dari bocah kecil yang hanya bisa menangis sendirian ditengah kegelapan, menjadi iblis yang menyamar manusia. Hatiku dirasuki setan karena kesedihan dan kebencian yang mendalam menjadi dendam kesumat yang menyala-nyala seumur hidupku."
Arif menangis. Menutup wajahnya yang memerah dan basah airmata. Aku terpaku menatapnya.
"Aku sempat berfikir kembali menjadi diriku sendiri karena kasihan dengan Vika. Kami dua insan manusia yang sama-sama sendiri, terluka dan tak punya siapa-siapa. Aku lalu membawa Vika pindah ke Batam untuk memulai hidup baru. Membuka lembaran baru untuk bersama-sama menggapai bahagia. Itu harapanku. Berbekal uang dari pak Anjar, aku memulai lagi semuanya sendiri dari awal. Tapi ternyata Vika kadung membenciku dan mengataiku kalau aku adalah benalu keluarganya yang tak tahu malu dan tak punya harga diri. Ia merusak usahaku dengan segala usahanya. Bahkan ia juga merayu rekanan bisnisku dengan mengajaknya menikah siri karena rekananku itu memiliki bisnis kafe hiburan dilokasi strategis ditengah kota Batam. Aku sampai khilaf memukulinya dan menonjok wajahnya karena ia menawarkan dirinya menjadi teman tidur bila ada yang berani membayarnya dengan harga tinggi. Aku menangis menyesali klimaks kelakuanku yang memang sudah seperti setan itu pada Vika dirumah kecil kami. Berharap ia pulang kerumah, dan aku akan bersujud meminta maaf dikakinya seraya mengobati luka diwajahnya. Aku sungguh menyesal melakukan kekerasan padanya. Itu pertama kali aku memukulnya dan kedua kali aku menamparnya setelah dicafe bandara. Selama ini aku tidak pernah sekalipun membentaknya, memarahinya apalagi memukulnya. Demi Tuhan, tidak pernah melakukan sebelumnya!"
__ADS_1
Arif menelan ludahnya sesaat menghapus airmata yang bercucuran. Aku tetap diam
mendengar ceritanya. Aku melihat ketulusan dibinar matanya yang redup dan kosong. Ceritanya bukan rekayasa. Dan aku melihat sisi lain dirinya yang sakit dan terluka teramat parah hingga membuatnya begitu rapuh.
"Aku kehilangan Vika untuk beberapa saat. Lalu darahku kembali mendidih ketika bertemu dengannya disebuah supermarket kota Jakarta ketika aku sedang ada perjanjian bisnis disebuah cafe dekat supermarket itu. Vika meludahi wajahku dan bilang kalau sekarang hidupnya sudah enak karena telah menemukan lelaki yang mencintainya. Aku kembali dengan kepribadianku yang membencinya dan keluarganya. Aku sakit hati. Padahal saat itu aku ingin membuka lagi hubungan kami dengan baik-baik. Tapi ternyata kesombongan papanya seperti berpindah pada dirinya kini membuat lukaku makin besar dan menganga. Aku menghancurkannya sekali lagi. Juga menghancurkanmu. Aku bahkan mendakwamu dengan 10 tahun penjara kalau saja istrimu tidak mendatangiku dan memohon belas kasihan padaku."
"Ranti? Ranti datang menemuimu?"
"Iya. Saat itu dia menangis sambil menggendong balita perempuan manis. Itu pasti anak kalian bukan? Ia memohon padaku untuk tidak memberinya dakwaan yang terlalu berat karena sejatinya kamu tidak sepenuhnya bersalah. Itu katanya, dan aku masih ingat betul semua perkataannya hingga saat ini. Ia juga bersedia bersaksi dipihakku agar aku tidak memberinya hukuman penjara diatas 5 tahun. Karena ia tak ingin anaknya tidak kenal lagi papanya karena terlalu lama dipenjara. Aku mengakui kegigihannya dan akhirnya vonis hakim hanya jatuh 2 tahun saja padamu."
Aku baru tahu, kalau Ranti juga berjuang untukku. Selama ini kupikir Ranti tidak peduli padaku karena benci atas perlakuan tak bermoralku yang mencabik-cabik hati dan perasaannya. Hingga tak pernah sekalipun Ranti menjengukku di rutan. Tak pernah sekalipun menerima ucapan maafku apalagi kata penghiburan.
Ranti! Betapa kamu adalah istriku yang begitu setia tulus mencintaiku. Ranti!!! Airmataku jatuh bercucuran membuatku tertunduk malu.
Aku dan Arif sama-sama menangis, tapi dengan penyesalan yang berbeda. Mengapa misteri hidup kami begitu pahit. Membuat kami dua orang lelaki dewasa yang masih gagah perkasa menangis terisak menyerah kalah.
Ya Allah! Kenapa semua ini terjadi pada kami? Apakah kisah ini adalah untuk menempa kami menjadi pribadi yang lebih baik lagi? Tapi kenapa pil pahit kehidupan ini begitu sulit hilang meskipun buah kesuksesan telah kami makan? Ya Allah....cucuran airmataku semakin deras seiring janjiku dalam hati.
Ranti! Aku akan berjuang kembali merebut hatimu lagi. Aku tidak rela membiarkanmu dimiliki orang lain. Aku akan berusaha keras membuatmu kembali lagi padaku karena kini kutahu hatimu hanya untukku. Dan aku adalah lelaki bodoh yang teramat bodoh jika sampai membiarkanmu semakin jauh dan menjauhiku karena kini kuyakin, takdirku adalah bersamamu.
Ya Allah... kumohon kabulkan keinginanku!
Bersambung-
__ADS_1