
Aku terkejut ketika Sofyan Ali berdiri didepan pintu rumahku dengan tersenyum setelah mengetuk pintu pelan.
"Oh, mas Sofyan! Silahkan masuk," sapaku mempersilakannya masuk dan duduk dilantai bertilam karpet karena aku tak punya kursi.
Lelaki itu duduk lesehan dengan senyumnya. Ia memberikanku surat. Seperti....surat undangan!
"Datang ya mas, kepernikahan saya minggu depan!" katanya dengan wajah sumringah. Jantungku langsung berdebar kencang. Ternyata mereka baru akan menikah minggu depan! Gumam hati kecilku. Hhh....
"Oh iya, selamat ya mas Sofyan! Semoga pernikahannya samawa. Penuh dengan keberkahan dari Allah Subhana Wa Ta'ala." Aku hanya bisa mendoakan mereka agar senantiasa bahagia, selamanya.
"Kalau gitu saya pamit dulu, mas! Mau antar surat undangan ketempat lain. Hehehe...!"
"Hehehe...semangat ya calon pengantin!"
Aku menutup pintu dan hanya terduduk diam memandangi surat undangan itu tanpa berniat membuka dan membaca isinya. Hanya lemas kurasa sekujur tubuh.
Tiba-tiba hapeku berdering. Hera menelponku.
"Assalamualaikum, ya Hera!"
"Ayah kurang enak badan, mas! Pingin ketemu mas Dika katanya!"
"Oya. Aku segera berangkat kesana. Ayah udah dibawa ke dokter, Her?"
"Udah, mas! Sudah agak mendingan, tinggal lemesnya aja karena belum mau makan!"
"Ya udah, aku jalan sekarang!"
Hhhh... Ayah sakit. Aku segera merapikan akuarium yang tadi kubeli bersama Jingga ketengah rumah. Mencabut magiccom dan juga selang tabung gas. Menyalakan semua lampu kecuali lampu kamar. Aku juga menyiapkan pakaian untuk kerja besok karena aku akan menginap dirumah ayah dan berangkat kerja dari Depok.
Aku pergi setelah mengunci rumah. Jingga sepertinya sibuk dengan Ranti dan juga Sofyan Ali, karena rumah Ranti terlihat sepi. Mereka pasti sibuk menyiapkan keperluan untuk acara minggu depan.
__ADS_1
Ayah senang melihat kedatanganku. Wajahnya terlihat pucat pias meski senyum tersungging dibibirnya.
"Kamu mulai sibuk kerja ya, Dik?"tanyanya setelah aku mencium punggung tangannya dan duduk disampingnya sambil memijat kaki ayah pelan.
"Iya ayah! Rosa dan mas Anang juga berencana memindahkan pabrik ke Citayam. Jadi Dika tidak bisa pulang pergi dari Citayam, Cikini, lalu kesini."
"Ga apa-apa. Ayah ngerti koq! Tapi kamu juga harus jaga kesehatan, Dik! Jangan lupa makan yang banyak. Ya?"
"Iya ayah. Dika makan teratur sekarang!"
"Malam ini Dika tidur disini ya, sama ayah?"
"Iya dong! Dika sengaja bawa baju salin buat besok kerja. Bisa berangkat dari sini! Ayah juga, harus banyak makan. Jangan banyak fikiran! Kalau Dika sempat, Dika pasti pulang lebih sering kesini. Ayah juga harus mau minum vitamin setiap hari. Ya ayah!"
Ayah menganggukkan kepalanya dengan tersenyum simpul. Kami kini semakin dekat dan semakin bisa mengerti watak masing-masing.
Ayah sempat menolak minum obat dengan alasan puasa. Aku pura-pura marah karena ayah tak mau menurut padaku. Akhirnya ayah mau juga mengikuti nasehatku untuk berbuka puasa dan minum obat agar cepat kembali sehat.
Setelah Subuh aku pamit pergi kerja pada ayah. Alhamdulillah wajah ayah terlihat lebih segar. Aku selalu memohon pada Allah agar ayah selalu sehat dan diberi umur panjang agar tetap bisa mendampingiku.
"Ayah, Dika minta maaf tidak bisa pulang kerumah ini untuk beberapa waktu. Kami sedang sangat sibuk minggu-minggu ini. Ayah harus minum obat tepat waktu ya? Ayah harus minum vitamin juga. Ayah harus menurut pada Hera. Ya, ayah?"
"Hehehehe.... Kamu ternyata cerewet seperti ibumu dulu, Dik! Ayah jadi kangen masa lalu!" Hhhh.... Kata-kata ayah menyentuh hatiku. Aku juga rindu masa lalu, ayah! Tapi aku masih harus berjuang dimasa kini. Untuk masa depanku.
Aku kembali sibuk dengan pekerjaanku. Kesana-kemari, wara-wiri mulai dari survey pelanggan yang mau bergabung dikios usahaku. Mengecek kepabrik pembuatan etalase. Belum lagi masih harus melobi pabrik baru yang kami rencanakan minggu lalu. Hhhh... Minggu tersibukku.
Arif menelfonku kalau nanti setelah Ashar akan ada pengajian selamatan 4 bulanan calon anaknya. Aku hanya bisa datang sekitar pukul 5 karena kemungkinan aku masih di Citayam. Syukurlah Arif memaklumi kesibukanku.
Aku menelfon Arif untuk memastikan dimana lokasi rumahnya karena aku sudah ada didepan gang menuju rumahnya. Arif memintaku menunggu. Dia akan menjemputku segera.
"Dika! Susah ya cari alamatnya?" tanyanya seraya menjabat tanganku hangat. Aku hanya tersenyum tak menjawab. Kamipun berjalan beriringan menyusuri gang menuju tempat tinggal Arif.
__ADS_1
Istrinya masih muda, usianya sekitar 25 tahunan dan tak kalah cantik dari Vika. Anak ini memang cukup bagus seleranya. Hehehe, godaku dalam hati. Tapi ternyata semakin aku perhatikan, istrinya Arif memiliki keistimewaan.
"Jangan lihat kekurangan istriku ya, Dik! Bagiku Nana sangat spesial dan aku bersyukur, bisa menjadi suaminya." Bisik Arif padaku.
Sweet-nya Arif! Istrinya memang tunarungu. Tapi ia begitu menyanjung istrinya dengan sangat baik. Aku ikut senang dan terharu menyaksikan sendiri kebahagiaan Arif.
"Kamu adalah suami dan calon ayah yang baik, Rif! Selamat ya! Moga Allah selalu melindungi kalian. Memberi kebahagiaan dan keberkahan selalu pada kalian!" ujarku sambil menepuk punggung Arif dengan hati senang penuh ketulusan. Arif mengamini doaku. Ia terlihat begitu bahagia. Aku bisa melihat dari sorot tatapan matanya yang ceria dan penuh cahaya. Alhamdulillaah!
Aku dijamu Arif dan keluarga besar istrinya dengan sangat istimewa. Mereka memperlakukan aku begitu baik. Sampai perutku kekenyangan karena disodorkan segala macam makanan setelah maghrib tiba dan kami buka puasa bersama.
"Kamu mau pulang ke Bojong, Dik?" tanya Arif.
"Sepertinya beberapa hari ini aku akan tidur di Gunza. Banyak kerjaan mengharuskan aku lembur. Aku juga takut pulang kemalaman jadi ketinggalan kereta. Mungkin lebih baik numpang tidur dirumah kontrakanku yang dulu."
"Nginap disini saja!"
"Hehehe...lain kali deh, Rif! Terima kasih tawarannya. Aku sudah merepotkanmu juga istri dan keluarganya terlalu banyak! Malu aku jadinya dengan kebaikan kalian!"
"Jangan sungkan, Dik! Kita ini khan saudara. Hehehehe...jangan bosan ya, kalau aku akan sering mengganggu kesibukanmu!" kata-kata Arif membuatku terharu. Ia menganggapku saudara. Sungguh tak kusangka kalau Arif berfikir sejauh ini padaku. Mengingat kisah hidup kita yang sempat menjadi musuh dimasa lalu. Subhanallah!
Aku pulang ke kontrakan Jabrik dan Mul. Mereka senang sekali melihatku. Kami kembali menjadi trio ikan asin seperti dulu. Kadang kepalaku sampai pusing mendengar celotehan Mul yang selalu saja ada tak habis bahan pembicaraannya. Tapi juga membuat senang hatiku setiap harinya.
Untuk beberapa hari aku tidur bersama mereka karena harus pulang kantor pukul 7 malam karena banyaknya kerjaan. Hhh... Ada rasa syukur meski hariku sangat sibuk menyita waktu dan fikiranku hingga melupakan orang-orang terkasihku seperti ayah dan juga Jingga.
Jingga mungkin saat ini juga sibuk karena mamanya akan menikah minggu ini. Hhhh.... Aku ikut senang tapi hatiku dingin seketika. Galau merana!
Aku sendiri tidak tahu sampai kapan aku menduda seperti ini. Arif dan Ranti sudah menemukan kembali pasangan hidupnya. Vika juga mungkin sudah melakukan yang sama. Tinggal aku saja yang masih diam berdiri sendirian. Aku tidak tahu sampai kapan begini. Aku tidak punya keinginan apalagi keberanian mencari cinta yang baru. Aku bukan bermaksud sombong, tapi kalau aku mau, sedikit membuka hati untuk wanita lain, mungkin aku bisa seperti Arif. Tapi sampai saat ini, belum ada seorangpun wanita yang bisa mengetuk dan membuka hatiku kembali untuk memulai melangkah dijalan yang baru. Aku hanya berfikir bagaimana caranya menyenangkan hati ayah dan juga Jingga anakku. Selebihnya hanya kupasrahkan pada Yang Maha Kuasa.
Jujur hati kecilku ingin kembali berkeluarga. Memiliki istri yang mengurus keperluanku seperti dulu. Juga untuk menyalurkan hasrat biologisku yang tentu masih normal dan sanggup melakukan itu. Tapi,.... aku hanya menarik nafas panjang dan membisu. Hanya Allah-lah yang mempunyai jawaban hidupku!
Bersambung-
__ADS_1