AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
KAPAN EPISODE INI BERAKHIR?


__ADS_3

Aku lagi-lagi menghujam dadamu dengan perkataan kasarku, Ranti! Aku memang lelaki jahat! Baru kini kau sadar bukan? Kalau kau menyesal telah mengawini pria yang salah. Ya! Aku memang jahat dan kejam. Aku selalu kasar dan membuat hati terluka lagi, lagi dan lebih dalam lagi. Aku pun tak tahu kenapa aku harus melakukan itu padamu, Ranti! Padahal aku sudah berjanji dalam hati, tak kan pernah menyalahkanmu atas apa yang telah terjadi pada kita. Ini salahku! Murni kesalahanku karena aku tidak kuat iman dan tahan godaan. Aku lemah hingga setan berpesta pora merayakan kegagalanku menjaga kesetiaan dan janji suci pernikahan. Tapi aku juga manusia hina yang tak kuat menanggung kesedihan karena terus-terusan disudutkan olehmu dan semua orang.


Semua orang membenciku, mencibirku. Mengatakan aku sampah. Menyumpahi aku tenggelam terus dalam neraka. Aku tahu, aku menerima itu! Karena meskipun aku membela diri tetap aku salah! Aku yang salah!


Kalian para istri, selalu benar dan selalu menjadi korban kenistaan para lelaki yang kalian nikahi. Kalian adalah dewi keindahan dan kebenaran. Kalian adalah lambang kesucian dan kami kaum pria adalah lambang kucing liar yang sukanya mencuri ikan busuk meskipun pemiliknya memberi makan salmon dan makanan mahal supermarket. Intinya tetap kami kaum pria yang lebih banyak salah.


Tidakkah kalian berfikir, bagaimana suami-suami kalian bekerja mencari nafkah agar bisa pulang membawa uang untuk kalian? Tidakkah kalian bisa rasakan keberkahan uang nafkah yang dihasilkan dari tiap tetesan keringatnya? Tidakkah kalian sadari, berapa banyak pengorbanan yang suami kalian lalui hanya untuk segenggam uang yang kalian teriaki "mana cukup uang segini?". Bisa jadi suamimu melaluinya dengan menjual harga dirinya karena itu hasil kerjanya setelah ditunjuk-tunjuk dan dimaki-maki bos-nya bila kerjaannya salah. Bisa jadi uang nafkahnya itu ia dapatkan dari hasil rebutan dengan teman-teman pria sekerjanya yang saling sikut, saling berebut tempat dan perhatian bosnya.


Dan kalian para istri dengan sangat entengnya memarahi lagi suami kalian yang tak becus mencari uang. Yang tak mampu membawa hasil lebih untuk menutupi kebutuhan kalian. Dan kalian para istri juga lebih suka bermain perasaan menganggap suami kalian cuek, tak peduli padahal ekonomi menuntut untuk biaya anak, biaya ini, biaya itu. Tidakkah kalian dengar suara hati suami kalian yang juga ingin menyenangkan kalian. Suara hati suami kalian, yang juga iri melihat teman sesama prianya bisa memberikan uang, pakaian dan perhiasan pada pasangannya dan berharap dirinya juga bisa memberikan hal yang sama pada pasangannya juga.


Lalu kalian juga berfikiran sempit, ketika suami kalian pulang kerumah setelah seharian bekerja dengan muka masam dan kusut tak enak dilihat. Kalian berasumsi suami kalian benci pulang. Suami kalian menyebalkan. Padahal kalian para istri dirumah juga sibuk seharian mengurus pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya dan juga pusing mengatur keuangan yang tak sesuai dengan kebutuhan yang harus kalian penuhi. Lalu kalian menanam biji kedongkolan yang menghasilkan buah kekecewaan dengan rasa suami yang tak mampu membuat kalian bahagia. Tapi tidakkah kalian sadari, apa yang sebenarnya suami kalian lalui ditempat kerjanya? Kebahagiaankah? Atau kesedihankah, yang membuat mukanya masam dengan wajah ditekuk menyebalkan. Sudahkah kalian menghibur hatinya dengan kata-kata penghiburan kalian sebelum kalian mendongkol dan berpendapat kalian juga capek mengurus rumah tangga. Sudahkah itu kalian lakukan????


Kalian hanya menuntut dan bersedih. Merasa terpuruk dan terdzolimi karena sikap dan perlakuan suami kalian yang berubah tidak lagi seromantis masa pacaran.


Apa yang harus kami para suami lakukan?? Memberikan kata cinta setiap hari pagi, siang dan petang? Sedangkan otak kami dipenuhi kemumetan bagaimana besok mencari uang. Daripada kita bisa dapat tambahan uang? Bagaimana caranya kita bisa ikut lemburan agar dapat bonus uang? Dan istri kita dirumah tersenyum puas dan senang ketika penghasilan hari ini, bulan ini melebihi target yang kalian harapkan.


Hhhh.... Kapan episode ini selesai... Hhh... Aku capek ya Allah!


Pukul 2 malam aku mandi untuk mendinginkan kepalaku yang panas mengebul karena emosi. Karena emosi ini juga aku menyakiti Ranti lagi dengan kata-kata. Juga menyakiti kalian, para pembaca.

__ADS_1


Aku hanya bisa menangis disela-sela guyuran air yang menerpa wajah dan tubuhku. Aku pasrahkan semuanya pada Kehendak Allah saja. Ranti pasti lebih membenciku juga kalian semakin membenciku karena ucapanku. Hhhh.... Biarlah Tuhan yang menghukumku!


Aku merasakan dadaku panas dan tubuhku dingin seketika. Aku mendadak sesak tak bisa bernafas. Segera kuambil handuk untuk menutupi tubuhku. Berjalan perlahan sambil memegang dadaku yang sakit. Mencari-cari pakaian dan segera mengenakannya.


Aku hanya bisa membaringkan tubuhku diatas kasur busa dengan mata terpejam dan bibir menahan sakitnya nyeri didada.


Setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku.


Yang kurasakan tiba-tiba aku sudah berbaring diranjang kamar bercat putih dan bau obat yang menyengat.


Ada selang infusan ditanganku. Juga mulutku yang dipasang alat bantu pernafasan.


"Mas? Kamu sudah siuman?" Ranti tiba-tiba masuk ruanganku. Ia lalu kembali pergi memanggil dokter agar memeriksa kondisiku.


Ranti menyelamatkanku? Ranti yang membawa tubuhku kerumah sakit ini?


Ya Allah!! Betapa mulianya hatinya sesuai namanya RANTI MULIA. padahal semalam aku menunjuk dan menyalahkannya dengan sangat marahnya. Ya Allah!!! Tidak dia pedulikan rasa sakit dihatinya karena ucapanku demi untuk menyelamatkan nyawaku, lelaki hina yang selalu menyiksa bathinnya. Ya Allaah.....! Airmataku meleleh mendapatkan kasih sayangnya padaku.


Aku ini hanyalah manusia rendahan yang selalu bergelimang dosa. Yang tak bisa membalas semua kebaikan dan ketulusan hatinya padaku. Padahal ia bisa saja memilih kebahagiaannya sendiri tanpa mempedulikan hidupku lagi.

__ADS_1


"Maaf, mas! Waktu subuh, aku, warga dan pak RT mendobrak rumahmu karena kamu tidak juga bangun ketika kami membangunkanmu sahur. Ternyata kamu pingsan dengan mulut dan hidung penuh darah, mas! Pak RT yang menelpon ambulan membawamu kerumah sakit ini!"


"Terima kasih Ranti! Maafkan aku, selalu menyusahkanmu!"


Ranti diam. Wajahnya hanya menunduk.


"Pulanglah! Aku sudah tidak apa-apa! Aku titip Jingga, ya!" kataku membuatnya menangis tergugu. Ia memegang tanganku dan menjatuhkan wajahnya dibahuku. Tangisnya pecah diatas tanganku. Hingga airmatanya membasahi seluruh lengan dan jemariku.


"Kenapa kita jadi seperti ini, mas???Maafkan kesalahanku, mas!! Maafkan aku, mas!"


"Aku yang harusnya minta maaf, Ranti! Aku yang salah! Pulanglah! Kasihan Jingga terlalu lama kamu tinggal. Anak kita pasti masih trauma karena kejadian kemarin!"


"Mas,... semangatlah! Cepatlah sembuh! Jingga membutuhkanmu!"


"Iya, Ranti! Terima kasih!"


Ranti pergi setelah menyeka airmatanya. Aku hanya menarik nafas panjang. Apa yang tengah terjadi pada diriku? Episode apa lagi? Apakah episode ini episode terakhirku? Aku merasakan kalau inilah akhir dari hidupku. Aku berfirasat umurku tak kan lama lagi karena rasa sakit yang akhir-akhir ini menyerang dadaku.


Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2