
Aku sudah bertekad menguatkan hati untuk sementara tetirah disini. Digubug mbah Kardi ditengah pemukiman padatnya makam-makam dingin dan suram.
Tapi ternyata hatiku tak sekuat itu juga. Baru saja malam menjelang, aura gelapnya membuat merinding bulu roma. Hadeeeuh.... sungguh cerita hidup yang paling enggan kulalui. Menderita ketakutan.
"Mbah, ga ada aliran listrik kah disini?" tanyaku setelah malam semakin gelap.
"Beberapa tahun pernah dipasang dari surau yang tadi, tp kabelnya sering putus mas. Daripada berbahaya kena anak-anak yang lewat kabel putusnya, ya si mbah cabut lagi."
"Jadi kalau malam si mbah sama si mbok gelap-gelapan begini?"
"Ya paling kita pasang klenting, lampu pelita aja mas! Tapi kelamaan terbiasa juga."
O my God! ... Diantara ribuan makam, didalam gubug kecil yang sudah usang, hanya lampu pelita kecil yang cahaya apinya kadang meliuk-liuk karena hembusan angin yang datang lewat celah-celah bilik yang bolong-bolong. Ya Allah! Kenapa aku bisa seperti ini? Bisa sampai kesini? Cari apa aku ini? Hhhh... Sungguh jalan hidup manusia tak bisa ditebak.
Padahal kehidupanku dikota Jakarta tidaklah terlalu sulit. Padahal keadaanku meski dikota belantara dan berjuluk kota ibu tiri tapi tidak terlalu merana.
Tapi kini aku disini. Diantara si mbah dan si mbok yang sudah tua. Melihat dan menyaksikan sendiri kehidupan mereka yang bahkan belum sehari aku disini sepertinya aku akan melambaikan tangan untuk menyerah. Hhh... Inilah rasa syukur yang harusnya aku ucapkan kepada Allah SWT karena Dialah Sang Maha Pencipta yang lebih tahu batas kemampuan semua umat ciptaannya. Subhanallah.
Buluku kembali meremang mendengar suara-suara aneh diluar gubug. Sebenarnya aku tak ingin menceritakan fase ini, secara cerita hidupku ini bukan cerita horor tapi apadaya karena memang begini adanya. Aku ketakutan juga menjalani hariku disini.
"Mbah, aku tidur ditengah-tengah kalian boleh?" kataku pelan berusaha menelisak masuk diantara dua orangtua baik hati itu.
"Kenapa, bocah lanang? Hehehehe...takut ya? Abaikan saja! Mereka cuma kepingin kenalan lee!" si mbah menggodaku membuat nyaliku makin ciut.
"Mbah, jangan ngomong gitu dong! Aku beneran takut." Aku masuk kedalam tubuh renta si mbah. Menenggelamkan wajahku disamping dadanya. Aisssh...! Sial! Aku lelaki berumur 42 tahun, tapi bertingkah seperti bocah 4 tahun. Hhhh, malu aku!
__ADS_1
"Dunia ini penuh dengan misteri mas! Jangan saling mengganggu dan mencoba bersekutu dengan makhluk yang namanya setan. Tapi juga jangan takut karena kita punya Allah. Masalah nasib, kita tentukan sendiri mau kearah mana kita pilih. Dengan berpegangan teguh terus dengan nama Allah. Insya Allah kita tidak akan tersesat dan disesatkan para setan terutama penggoda iman. Bismillah, dengan nama Allah kita berlindung dari godaan syetan yang terkutuk."
Subhanallah. Selepas mbah Kardi berucap. Tiba-tiba kurasakan aura hangat. Rasa sepi, suara-suara mencekam yang menakutkan hilang seketika berganti hati yang tenang. Membuat perlahan kantukku datang hingga terlelap disamping si mbah dan si mbok.
Aku kaget ketika si mbah menarik jempol kakiku.
"Subuh, mas! Yuk, bangun!"
Alhamdulillah... Aku bisa tidur tanpa mimpi. Aku merasakan tubuhku agak pegal karena tak terbiasa tidur ditepas bambu tanpa kasur juga bantal.
Ya Allah! Terima kasih atas nikmat hidup yang Kau berikan pada kami hari ini ya Allah! Semoga hari esok akupun masih bisa bersyukur atas karunia-Mu padaku. Aamiin.
Kami kesurau menyusuri jalan kecil setapak, galengan sawah. Suasana masih gelap tapi tak licin karena sekarang masuk musim kemarau. Tak terbayang bila di musim penghujan, si mbah berjalan sendirian kesurau dengan jalan berlumpur. Masya Allah!
"Mbah, tidak punya keinginan untuk merubah hidup? Merubah nasib?"
Aku terharu akan ucapan manis Si mbah. Sangat sederhana tapi romantis. Mungkin ini yang dinamakan cinta diusia senja. Bukan melulu memikirkan nafsu. Bukan lagi mencari kenikmatan duniawi. Apalagi jelalatan liar mencari yang seksi-seksi.
Tapi dikota besar lebih sering kulihat wajah lelaki tua bertubuh renta, tapi masih suka wara-wiri mencari keindahan sesaat. Belum lagi wanita-wanita setengah baya, yang sibuk menangis karena dikecewakan sang pujangga lalu menjadi iblis betina hanya untuk mendapatkan kepuasan diri sendiri. Memang mungkin itu pilihan mereka. Seperti kita. Seperti Ranti. Seperti aku juga. Terserah apapun pilihannya. Semuanya kembali kepada jalan mana yang kita pilih.
Pagi ini kami hanya sarapan sepiring tiwul dimakan bertiga. Ya Allah, miris memang. Tapi ternyata tiwul lumayan mengenyangkan. Minumnya teh asli buatan si mbok dengan gula aren yang sedap juga asli buatan si mbah.
Ternyata dibalik tubuh tua si mbah, masih tersimpan tenaga yang hebat. Si mbah masih sigap menaiki pohon kelapa. Pohon kelapa! Ya Allah....! Aku saja yang sudah setua ini tidak bisa dan tidak pernah naik pohon kelapa. Ini si mbah? Dengan gesitnya sebelah tangan memegang golok tajam membuatku berdebar menyaksikannya dibawah. Si mbah bilang, ini kerjaan setiap harinya. Mengambil air nira.
Bisa 3 sampai 5 pohon si mbah taiki setiap hari jika tidak sedang hujan. Setelah itu baru air niranya dimasak si mbok ditungku hawu kayu bakar dibelakang gubug hingga menjadi adonan gula merah yang sedap dan nikmat. Gula yang sudah jadi bila banyak, si mbok tukar diwarung terdekat dengan sembako. Subhanallah!
__ADS_1
Sesekali si mbah juga ikut nandur di sawah milik warga. Tapi setahun belakangan ini sudah tidak lagi karena punggungnya yang suka nyeri jika terlalu lama membungkuk untuk menanam padi.
Kalau ada yang meninggal, si mbah dan beberapa warga menggali tanah untuk kubur jenazah. Dari situlah kadang si mbah bisa punya uang atau beras dari upah menggali kubur.
Hhhh.... Mengikuti hari-hari si mbah Kardi dan si mbok Sartijah disini adalah pengalaman hidupku paling berharga. Tak pernah kurasakan hidup sesusah ini.
Dulu aku selalu menangis merutuki nasib karena dilahirkan ditengah-tengah keluarga miskin. Diantara banyaknya masalah keluarga. Aku hanya tenggelam dalam kekecewaan. Benar ucapan Ranti, aku terlalu sibuk meratapi nasib sedihku hingga aku haus kasih sayang dan hanya memikirkan diri sendiri. Aku sibuk mencari cinta dan kebahagiaanku saja. Aku selalu berlindung pada topeng kesedihan memancing orang untuk iba dan kasihan. Tapi aku lupa, aku juga harus bisa melihat sisi orang lain juga. Meskipun aku baik, tapi ternyata selama ini kebaikanku kamuflase saja. Aku memang ingin imbalan dari kebaikanku itu. Di alam bawah sadarku, itu yang Ranti maksud. Kini aku tahu.
Kini aku sadari setelah melihat kehidupan mbah Kardi. Kebaikan yang tulus tanpa pamrih dan tidak memikirkan apalagi mengharapkan imbalan, ternyata lebih berperan besar akan datangnya ketenangan yang membawa kebahagiaan. Semua telah Allah atur sedemikian hebatnya. Subhanallah! Maha Suci Allah dengan segala aturan dan pengaturannya.
Alhamdulillah, aku cukup betah tinggal digubug si mbah. Meski diawal begitu berat, tapi setelah kujalani hidup ternyata terasa singkat. Jauh dari keramaian dan kebisingan kota besar yang hingar bingar. Jauh dari rasa keinginan yang kuat untuk menjadi besar dan menjadi orang yang tak lagi dipandang sebelah mata. Kini aku lebih santai dan tenang menjalani nasib. Aku tetap berjyang hidup tapi tidak terlalu ngoyo membuat hati kecewa bila tak tercapai keinginan.
Sesekali aku membantu si mbah bila ada yang meninggal. Ikut menjadi penggali kubur. Si mbah banyak memberiku masukan dan nasehat tata cara menggali yang baik dan benar. Karena hakekatnya manusia mati bukan hanya sekedar bangkai. Tapi ada caranya yang diwajibkan Allah sebagai penghormatan bagi si mayyit.
Aku juga suka duduk tafakur disurau bersama anak-anak. Belajar lagi mengaji dan mengkaji kehidupan. Betapa Allah Sungguh Maha Besar.
Kadang aku belajar membenahi gubug si mbah yang reot itu. Membeli beberapa pohon warga untuk mengganti kayu gubug si mbah yang sudah rapuh. Sesekali aku juga pergi kejalanan kota sekedar menarik uang diATM yang tersedia diminimarket. Membeli peralatan seperti gergaji, palu juga paku untuk membetulkan gubug si mbah.
Aku kini rajin puasa senin kamis bersama dua orangtuaku ini. Ternyata mereka sudah menjalaninya berpuluh-puluh tahun lamanya. Subhanallah!
Rambut gondrong dan kumis serta jenggotku, ditambah berat badanku yang menyusut banyak membuatku seperti pertapa digua. Hhhh..., tak lagi sibuk mematut diri. Disini tak ada satupun cermin untuk sekedar berkaca bagaimana rupaku kini.
Tak terasa aku sudah berhasil melewati lebih dari 5 bulan bersama si mbah dan si mbok. Lusa sudah mau masuk bulan Ramadhan. Si mbah menegurku untuk segera pulang. Aku masih ingin disini. Menikmati hidup bersantai tanpa banyak fikiran. Tapi si mbah bilang, aku kurang sayang pada ayahku karena luka hatiku masih berbekas.
Aku hanya termenung. Aku tidak merasa punya dendam pada Ayah. Aku hanya selalu ingat kata-kata ayah, kalau lelaki itu harus kuat. Karena suatu saat akan jadi pemimpin keluarga. Mencari nafkah untuk anak istri. Tapi ayah lupa, anak bukan hanya butuh makan, sandang dan pakaian. Anak juga butuh kasih sayang, penghiburan dan juga kata-kata kebanggaan. Anak juga butuh bahu dan rentangan orangtuanya meskipun sudah besar. Anak juga kadang ingin menangis dipelukan orangtuanya yang memberinya perlindungan meskipun si anak sudah dewasa. Itu saja. Karena aku tidak pernah mendapatkan itu dari ayah.
__ADS_1
Ayah memang selalu mensupportku, mendukung dan mendoakanku sukses mencapai target kehidupanku. Tapi ayah hanya diam bahkan marah ketika aku tengah down dan menangis sendirian. Itu saja kekecewaanku pada ayah. Lainnya tidak. Justru aku belajar dari ayah bagaimana caranya menjadi suami yang baik, menjadi orang yang selalu semangat.
Bersambung-