AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
KEBERSAMAANKU DAN JINGGA


__ADS_3

Jingga hampir seharian terus bersamaku. Hhh.... Aku kewalahan juga mengurus dan menjaga Jingga. Jingga berlarian kesana kemari. Bercanda dengan riangnya. Bisa kubayangkan bagaimana lelahnya Ranti selama ini dalam mengurus Jingga seorang diri. Barulah kini semakin kutahu, arti seorang ibu dalam hidup seorang anak bahkan sejak dari dalam kandungan hingga dewasa dan menikahpun terkadang masih menyusahkan ibu.


Aku agak tenang bisa ikut beristirahat ketika Jingga tertidur lelap setelah seharian bermain dan bercanda denganku, Mul, Jabrik, Hana juga Lina. Aku tersenyum melihat putri kecilku.


Aku tahu Ranti sepertinya agak gereget dengan Jingga sejak siang tadi hingga sore ini. Aku keluar dan berdiri diteras memandang pintu rumah Ranti, berharap Ranti sedang diteras juga hingga aku bisa mengatakan padanya kalau Jingga sedang tidur. Jadi dia tak harus khawatir Jingga tak mau tidur siang.


Saat ini kami memang serba salah. Tapi aku tahu, kami sedikit berebut perhatian Jingga. Aku juga tak ingin memancing kecemburuan Ranti karena saat ini Jingga tengah menikmati kebersamaannya denganku. Aku hanya punya waktu dihari libur saja. Karena sudah dipastikan hari kerjaku akan full hingga malam karena jarak tempuh yang lumayan jauh dari tempat kerjaku ke tempat tinggalku.


Jingga bangun dari tidurnya pukul 5 sore lewat. Aku membujuknya untuk pulang karena aku ingin buka puasa dimasjid saja. Selain lebih khusu', juga lebih enak karena ada beberapa warga juga yang buka bersama denganku.


Alhamdulillah Jingga menurut. Aku segera mengunci pintu dan keluar menuju mesjid. Kalau tidak gerak cepat, khawatir putri kecilku kembali lagi menemuiku membuat mamanya jadi senewen.


Adzan maghrib masih sekitar seperempat jam lagi. Aku duduk menunggu sambil mendengarkan bocah-bocah bershalawat ditoa masjid. Aku jadi ingat suasana di kampung Cilempung bersama mbah Kardi dan mbok Sartijah. Suasana suraunya yang sederhana tetapi selalu penuh orang sholat disana.


Aku membeli 20 nasi kotak diwarung Padang terdekat untuk berbagi menu buka puasa. Ada sekitaran 4 orang pria dewasa seusiaku dan juga 5 orangtua serta 3 bocah tanggung yang buka bersamaku. Membuat suasananya menjadi hangat.


Alhamdulillah waktu berbuka puasa telah tiba. Hari ini hari terbaikku karena bisa menyelesaikan puasaku hingga magrib dan juga bermain setengah harian dengan anakku. Alhamdulillah!


Aku tidak segera pulang kerumah. Aku masih tetap dimasjid hingga waktu Isya dan sholat taraweh berjama'ah. Karena kupikir masjid adalah tempat terbaik untukku. Aku bisa fokus ibadah dan juga tidak membuat Jingga jadi bolak-balik pulang pergi hanya untuk bermain denganku. Aku juga harus bisa bekerjasama dengan Ranti mendidik dan mendisiplinkan Jingga.


Pukul sembilan aku baru pulang. Ternyata benar, Jingga sedang menangis digendongan Ranti. Ia ingin tidur dirumahku malam ini katanya. Ranti tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan Jingga. Aku jadi serba salah juga dengan situasi ini.


Malam ini Jingga beneran menginap ditempatku. Ia begitu senangnya. Memintaku membacakan buku cerita sebelum tidur seperti kebiasaannya bersama Ranti. Setelah hampir setengah jam aku mendongeng, akhirnya Jingga tertidur juga. Alhamdulillah!


Ada suara pintu rumahku diketuk. Aku terkejut ternyata Ranti yang berdiri didepan pintu rumahku. Ranti memegang rantang plastik dan memberikannya padaku.


"Untuk sahur nanti, mas!" katanya pelan tapi jelas. Aku agak kikuk menerima hantaran rantangnya.


"Terima kasih. Tapi ga usah repot-repot, Ranti! Aku udah beli lauk tadi diwarung padang. Tinggal dipanaskan saja! O iya, Jingga baru saja tidur. Maaf ya, gara-gara aku Jingga jadi agak melawan sama kamu. Aku akan mencoba membuat kesepakatan nanti dengan Jingga. Dia hanya boleh menginap dimalam minggu saja karena besok libur sekolah." kataku mencoba menjelaskan.


"Ga apa mas! Aku ngerti, Jingga senang sekali bisa dekat dengan papanya!" Ranti memahami situasinya. Tapi aku merasa tak enak hati.


"Kalau Sofyan Ali kurang suka situasi ini, tolong beri dia pengertian, ya? Demi Allah aku tidak mau terjadi salah faham diantara kita.""


Ranti hanya tersenyum lalu pamit pulang. Tidak enak juga dilihat orang lewat. Takutnya menjadi gunjingan karena sekarang sudah lewat pukul 9 malam.

__ADS_1


Aku kangen masakan Ranti. Sudah berapa tahun aku tak makan makanan buatannya. Membuatku tergoda untuk segera membuka rantang plastik. Soto ayam dan tempe bacem. Aku langsung mengambil piring dan menyendok nasi dari magiccom miniku. Aku langsung makan dengan lahap. Bagai mimpi rasanya saat ini karena makan soto dan tempe bacem buatan mantan istriku. Aku makan dengan dipenuhi banyak kenangan dimemori ingatanku.


Dini hari sahurku seorang diri. Menghangatkan goreng ayam yang tadi kubeli di rumah makan Padang. Dan satu bungkus sambal terasi instant. Rasa sepi menyergapku kembali. Kemarin-kemarin aku masih bersama Jabrik juga Mul. Kini hanya sendirian.


Kulihat Jingga yang masih tertidur pulas. Pagi ini aku subuhan dirumah. Tak berani meninggalkan Jingga untuk sholat berjama'ah dimasjid. Khawatir ia bangun dan menangis histeris karena tidak ada siapa-siapa disampingnya.


Aku sudah terbiasa tidak tidur lagi setelah Subuh. Bebersih dan bebenah sudah jadi rutinitasku kini. Menyapu, lalu mengepel lantai, mencuci piring. Setelah itu mencuci pakaian. Semua kulakukan sendiri. Kecuali mencuci pakaian, ketika masih di Gunung Sahari aku sering dibantu Hana karena memang waktunya yang tidak memadai. Karena aku harus berdagang sempol di Jembatan Merah waktu itu.


"Papaaa... koq ga bangunin Jingga sahur?" protes Jingga membuatku terkejut dan tersenyum lebar. Jingga sudah bangun dari tidurnya.


"Maaf, sayang! Papa sengaja ga bangunin Jingga!"


"Jingga khan puasa juga!" anakku marah-marah dengan lucunya.


"Maafin papa ya?"


"Papa dosa lho sama Allah! Jingga mau puasa tapi ga dibangunin sahur!"


"Maafin papa Jingga, ya Allah! Maaf, maafin ya Allah!"


"Jingga mau makan??"


"Jingga mau mi goreng, pah!"


"Oke, papa buatin spesial buat Jingga!"


Aku merebus air segera. Aku memang sengaja menyetok banyak makanan siap saji termasuk mi instant baik yang rebus atau yang goreng. Hanya untuk persediaan dikala lapar menyerangku ditengah malam.


Jingga makan mi buatanku dengan lahap.


"Jingga! Mari kita buat perjanjian. Oke?"


"Perjanjian? Apa pah?"


"Jingga hanya boleh menginap sama papa malam minggu saja. Oke? Hari Minggu papa full buat Jingga. Kita main sepuasnya terserah Jingga. Tapi kalau hari biasa, Jingga harus dirumah mama."

__ADS_1


"Khan rumah papa disini!?"


"Iya. Tapi hari biasa papa kerja. Jingga juga sekolah khan?"


"Iya."


"Jingga sayang! Anak papa yang paling imut dan paling cantik! Jingga harus nurut kata mama. Jangan menangis kalau mau sesuatu event itu Jingga mau ketemu papa. Oke? Jingga sayang papa ga? Sayang mamah juga ga?"


"Jingga sayang mama, sayang papa juga!"


"Anak pintar! Jangan buat mama sedih ya, sayang?"


"Iya pah. Jingga pernah liat mama nangis waktu Jingga nangis gara-gara papa pergi waktu itu!" cerita anakku dengan polosnya.


Aku merenung memikirkan perkataan Jingga. Inilah harga yang harus kami bayar akibat buah perceraian. Hhh... Harga yang sangat mahal meskipun rasanya pahit nyelekit hati. Yang paling menjadi korban adalah anak yang masih polos, suci belum berdosa. Tapi harus menanggung semua beban karena keegoisan kami, para orangtua yang lebih memilih jalan perceraian. Hhhhh.... Aku menarik nafas panjang.


Jingga mandi sendiri setelah sarapan. Anakku itu sudah seperti pindahan juga. Semua peralatan mandinya ia bawa didalam plastik besar. Juga beberapa stel pakaian. Aku ingat Ranti yang memberikannya padaku semalam ketika Jingga menangis menungguiku pulang tarawehan. Hehehe...


Aku mengajak Jingga keliling kompleks perumahan sekitar stasiun. Kami juga mampir ke pasar tumpah disana. Jingga ingin sekali membeli ikan ketika kami melewati sebuah toko ikan hias. Akhirnya aku membeli beberapa ikan dan akuarium juga. Hanya ingin menyenangkan hati anakku. Itu saja niatku.


Kami pulang sebelum pukul sepuluh pagi.


Aku terkesiap melihat Sofyan Ali yang tengah duduk diteras rumah Ranti. Aku gugup tapi berusaha mengendalikan diri.


"Abiii....!!!" seperti biasa Jingga begitu manis sikapnya pada Sofyan. Menghambur berlari menghampiri lelaki itu. Aku bersyukur, anakku juga mendapatkan kasih sayang yang tulus dari orang itu.


Aku menghampirinya. Mengulurkan tangan untuk berjabat dengannya.


"Mas Dika?"


"Maaf, mas! Sekarang aku tinggal disini. Tapi hanya setahun koq! Demi Allah aku tidak ingin mengganggu hubungan kalian. Apalagi merusak rumah tangga kalian! Aku hanya ingin punya sedikit waktu untuk Jingga. Maafkan kelakuan burukku tempo hari ya, mas Sofyan?.. Aku permisi dulu!"


Aku masuk kerumahku dengan menjinjing akuarium dengan perasaan canggung. Aku hanya menelan ludah menarik nafas lega. Semoga Sofyan Ali tidak berfikir macam-macam tentangku yang kini jadi tetangganya. Hhh...


Ya Allah! Sungguh, perasaan ini tidak karuan. Hhh... Aku tak ingin membuat Ranti bersedih lagi. Apalagi menangis karena kelakuan jahatku!

__ADS_1


Bersambung-


__ADS_2