AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
APAKAH HATI INI MASIH ADA DIANTARA KAU DAN DIA?


__ADS_3

Hari-hari di rutan Salemba ternyata lebih berat dari hariku di sel tahanan kepolisian. Disini kami terdiri beberapa orang dalam satu lapak. Bahkan hari pertamaku aku mendapat sambutan bogem mentah tepat dimata kiriku karena mereka ternyata tahu kasusku menghamili istri orang.


Untung aku pernah juga beberapa bulan belajar silat di Badak Putih sewaktu SMP dulu. Setidaknya hari-hariku selanjutnya tidak jadi bulan-bulanan para napi yang memandang hina kasusku. Karena di sini ternyata ada klaster-klasternya disesuaikan dengan kasus yang menjerat mereka hingga mereka "mendapat gift" menginap di hotel prodeo.


Sungguh awal yang teramat berat bagiku. Terlebih psikisku yang juga down karena tak ada orang yang berdiri disampingku, menemani apalagi membelaku.


Bahkan Vika pun hanya sebulan sekali menjengukku dengan alasan ia tak punya uang sangu untuk menengokku di sini. Hhh... Sungguh kejamnya dunia ini bagiku! Bahkan sanak keluargaku pun tak pernah sekalipun datang melihatku. Aku tak mengerti, apakah memang ayah dan saudara-saudaraku yang hanya tiga orang itu tidak mengetahui kabarku selanjutnya atau memang mereka sudah 'membuangku' dari daftar keluarganya. Hhhh..... Aku hanya bisa menatap sedih jeruji penjara yang kusam dan kotor banyak upil dari napi-napi disini.


Sebulan serasa setahun bagiku. Jam dinding bergerak begitu lambat untuk mengganti malam menjadi siang. Aku kesepian.


Aku mulai belajar hal-hal buruk. Main gapleh, main koprok, bahkan kadang bila disel ada kawan napi yang sedang 'kaya' karena kiriman atau punya bisnis terselubung, kami ramai-ramai dapat mencicipi rokok gele' untuk meringankan beban pikiran dan jiwa kami yang terkoyak. Bahkan kadang ada sabu juga. Waah..!!!


Aku baru tahu, ternyata sel juga punya dunia malam yang gemerlap. Terlebih jika kita memiliki uang dan kekuasaan. Hidup terpuruk disini bisa juga membeli sedikit kemewahan dan kemanjaan. Aiiissh....! Aku terbawa dan hanyut dalam ketidak-baiknya kehidupan.


Aku terlena dengan rayuan dan bujukan teman-teman seperjuangan disini. Aku melangkah kekiri. Tanpa ada yang menasehati apalagi memberiku kehangatan keluarga.


Padahal dulu sejak kecil aku sudah terjebak dikehidupan kerasnya pasar. Diantara preman-preman dan para pemalak liar. Juga penjudi dan pemabuk. Tapi tak sekalipun terbersit untukku terbuai ikut aliran sesat mereka. Aku hanya fokus mencari uang disela-sela jam sekolahku. Aku pernah menjual kresek, kuli panggung, bahkan kerja part-time ditoko sembako sekitar pasar. Aku menjalani kehidupanku dengan benar. Aku hatam Qur'an setiap bulan Ramadhan. Sudah barang tentu puasa wajibku tak pernah kulalaikan. Begitu juga sholat lima waktu.


Aku yang dulu... kini hilang terbuang. Aku malas melaksanakan kewajibanku sebagai seorang yang beriman. Jiwaku benar-benar tergantikan!


Vika, Ranti, Jingga..... Bagaimana kabar kalian? Semoga kalian baik-baik saja diluar sana. Semoga kalian bahagia menjalani hidup walau tanpa aku. Jingga! Maafkan papa,Nak! Papa mencap wajahmu menjadi anak napi karena kesalahan papa! Maaf, beribu-ribu maaf!


Airmataku telah habis terkuras hingga mata ini begitu kuyu dan tak lagi bersinar. Aku kangen anak istriku! Aku kangen wanita simpananku. Bahkan kini aku kangen asisten cantikku yang muda dan sopan, Cecillia. Aaah....!


Kami disini memiliki juga sisi positif. Ada tempat-tempat untuk kami menyalurkan bakat dan hobi kami. Ada mesin bubut, mesin jahit, bahkan mesin pembuat asesoris cinderamata pun ada. Kami mendapat jadwal setelah masing menjalankan tugas yang sudah diatur kepala sipir.


Aku suka dibagian dapur. Memasak dan kadang membuat makanan ringan untuk menyenangkan cacing-cacing diperut para sipir yang kelaparan.


Kadang aku juga nongkrong dibengkel cinderamata. Membuat beberapa souvenir yang hasilnya disalurkan ke panti-panti sosial untuk dijual dan hasilnya disumbangkan.


....


Ranti, Vika..... Ini malam ke-200 aku disel tahanan ini. Dilapas pengap yang bau air seni dan juga kotoran-kotoran yang mengerak. Yang diisi 12 napi dari bermacam kasus. Dan untungnya, kami kini mulai akrab satu sama lain dilapas ini.

__ADS_1


Apakah hatiku ini masih ada diantara kalian? Apakah cintaku ini masih tersimpan manis disanubari kalian? Apakah raga ini masih teringat dipikiran kalian?... Lagi-lagi aku hanya meneteskan airmata.


Ranti tak pernah sekalipun menjengukku. Sementara Vika, sudah hampir 3 bulan tak lagi menyambangiku. Aku benar-benar miskin harta dan kasih sayang. Hhh....


Aku kangen pijitan tangan Ranti yang enak. Aku juga rindu masakan Vika yang nikmat. Dimana kalian? Ingatkah kalian padaku? Rindukah kalian padaku juga?... Aku adalah lelaki kalian sanjung dan banggakan dulu. Aku adalah lelaki hebat yang ingin kalian miliki bahkan sebesar apapun kekuranganku. Itu dulu bukan? Bagaimana dengan sekarang? Ranti? Vika?.... Kumohon..., dengarkan tangisan pilu hatiku ini.


Aku tidur seharian. Karena hari ini aku sedang galau segalau-galaunya. Bahkan seorang sipir hampir saja kena jotosku karena menegurku yang sedang bermalasan berlesehan dilantai kusam dingin beralas kasur lantai tipis.


"Jangan, Badik! Inget, kelakuan buruk bisa menambah masa tahananmu!" hardik seorang kawan napiku membuatku tersadar.


Akhirnya Karet beralibi kalau aku sedang sakit kepala makanya hanya tiduran saja hingga membuat sipir itu mengantarkan parasetamol dan analgesik untukku.


'Badik' adalah nama bekenku di sel. Disini kami punya nama lain selain nomor tahanan dan nama asli.


Setelah menelan masing-masing satu butir, aku benar-benar terlelap dikasur lantai berbau tujuh rupa itu. Aku akhirnya terlupa akan kesedihanku mengingat Ranti dan Vika. Aku bisa nyenyak hingga beberapa jam kedepan.


Tiba-tiba aku terbangun setelah kurasakan ada pukulan keras menghantam punggungku. Aku bangkit duduk. Merasakan nyeri yang teramat dibagian bahu dan punggungku.


Ah!... Aku tersentak. Tangan kiriku lunglai, tak bisa kugerakkan. Begitu juga kaki kiriku. Lemas tak bisa kurasakan. Aku teriak sekencang-kencangnya membuat beberapa kawan napiku menghampiriku bahkan ada yang menoyor kepalaku.


Aku teriak lagi. Kurasakan sebelah mata kiriku sulit kubuka. Aku menggigil ketakutan.


Aku tidak merasakan 'rasa' disebagian tubuhku!


"Coba liat muka gue!" teriakku kencang setengah membentak.


"Ngape muka lu??"


"Eh, Badik! Muka lu turun sebelah! Itu mata ama bibir lu kenape?"


"Tangan sama kaki gue juga, Juk!" kataku lagi gemetar.


Mereka segera melapor pada sipir yang bertugas. Aku dibopong keruang UKS. Diperiksa oleh dokter tahanan. Dan divonis stroke sedang. Sebelah tubuhku mati rasa dan tak bisa kugerakkan.

__ADS_1


Ya Tuhaaaan!! Hukuman apa lagi yang kau berikan padaku??? Ya Allah ya Tuhanku!!!


....


Aku meraung, menangis sejadi-jadinya. Aku yang pesakitan sebagai narapidana kini ditambah pesakitan dalam arti sebenarnya. Padahal masa tahananku baru setengah jalan. Baru 7 bulan aku mendekam. Masih untuk jangka yang lama bisa menghirup udara kebebasan. Tuhaaaaan!!!!


Atas saran dokter dan kebaikan kepala sipir karena aku selalu berkelakuan baik, aku dipindahkan ketahanan yang sedikit lebih bagus dari tempatku dulu. Lebih bersih dan lebih terang pencahayaannya. Aku dipindahkan kelapas depan sebelah mesjid.


Lagi-lagi penerimaan tak baik harus kualami lagi. Padahal saat ini aku benar-benar terpuruk karena penyakit sialan ini hingga nyaris tak bisa melawan tindakan kawan-kawan napi dilapas baruku. Aku hanya bisa pasrah menerima tamparan demi tamparan sebagai 'salam pertemanan' dari mereka.


"Jangan pukul dia lagi!" ujar seseorang dengan suara tegas dan lantang. Seorang bapak seumuran ayahku menolongku. Membantuku berjalan yang terseret-seret kalian sebelah kakiku yang lumpuh. Anehnya semua diam tak lagi membullyku.


Tapi tiba-tiba bapak itu menghajarku dengan keras hingga aku jatuh tersungkur dengan bibir sebelah kiriku sobek dan berdarah. Bapak itu hanya menyeringai puas.


"Bagaimana rasanya aku cium dengan kasih sayang?" tanyanya seraya mendekatkan wajahnya yang terkesan lemah kewajahku membuatku menelan ludah. Gugup.


"Bangun! Mandi sekarang! Sebentar lagi azan Zuhur!Bersihkan tubuhmu yang kotor itu!... Dan kalian, biar anak muda ini jadi urusanku. Setuju?" katanya penuh intimidasi. Yang lain mengangguk senyum penuh kemenangan.


Aku menangis meratapi nasib disela-sela mandiku yang hanya berhalang selembar karung beras yang kusam ditempel di tiang kusen yang tua. Aku tak leluasa dengan keadaan tubuhku yang sekarang. Pergerakanku pun sungguh terbatas hingga aku sangat bersusah payah melakukan kegiatan walaupun hanya sekedar mengenakan pakaian.


"Mungkin dilapasmu terdahulu kamu terlalu enak yaa.. sampai bisa jadi seperti ini!" ledek bapak itu membuatku pecah menahan tangis yang sedari tadi. Ia memecutku dengan dua batang sapu lidi hitam hingga pahaku langsung berbekas merah.


"Dasar anak cengeng! Kukira 7 bulan mendekam disini membuatmu sudah seperti jagoan! Ternyata cemen, cuma segitu aja kehebatanmu! Hahahaha...."


Aku menggigit bibir bawahku. Berusaha menahan kesedihan dan juga airmataku.


"Bangun! Ayo jalan ke mesjid! Kalau kamu membangkang, aku ga akan segan menjejak kakimu yang pengkor itu!"


Aku menuruti perintahnya. Dengan sekuat tenaga berjalan menyeret satu kakiku yang terasa begitu berat. Beberapa napi tertawa terkekeh melihat penderitaanku. Sungguh hidup bagaikan dijaman penjajahan! Bathinku menangis pilu.


Kami masuk masjid yang ternyata begitu luas dalamnya. Selama aku masuk bui disini, belum sekalipun aku menjejakkan kaki dimasjid ini. Selain jaraknya yang jauh dari lapas terdahuluku, juga aku yang telah malas berjumpa Penciptaku.


Bapak itu langsung berdiri didepan mimbar. Menyalakan mic dan pengeras suara masjid. Lalu mengumandangkan adzan yang terdengar syahdu ditelingaku. Airmataku mengalir tanpa berhenti. Terus dan terus menetes tak tertahankan.

__ADS_1


Ya Allah, inikah cara-Mu mencintaiku?... Aku tertunduk berurai airmata hingga lantunan adzan Zuhur bapak yang belum kuketahui namanya itu berakhir.


Bersambung-


__ADS_2