
Aku mengirimi Arif pesan kalau aku pulang lebih dulu. Hatiku hancur menyaksikan sendiri anakku satu-satunya yang menangis keras karena harus berpisah lagi denganku. Aku tak sanggup berlama-lama disana. Aku bukan juga tak peduli perasaan Jingga meski usianya masih teramat muda. Aku hanya tak bisa berbuat lebih untuk Jingga. Hanya berharap, setelah ia dewasa kelak, ia akan mengerti kenapa papanya tidak bisa berlama-lama menemuinya lagi. Andai waktu cepat bergerak dan Jingga sudah berumur 14 atau 15 tahun, aku akan mengajaknya sesekali menginap ditempatku. Aku yakin ketika usianya telah mencapai itu, Jingga lebih dewasa dan mandiri. Dan kami bisa bersama walau hanya untuk beberapa hari. Aku memimpikan mengajak anakku traveling keliling tempat-tempat indah seperti naik gunung dan menyebrangi lautan. Alangkah senangnya!
Aku duduk sendirian menunggu kereta datang. Arif memintaku menunggunya diperon. Ia mengirimiku pesan sebelumnya.
"Lama ya nungguin?" Arif setengah berlari menghampiriku dengan nafas terengah.
"Santai aja," jawabku dengan senyum tipis.
"Masalahnya kita datang barengan, pengennya sih pulang juga barengan lah!" katanya seraya duduk sisampingku.
Arif mengatur nafasnya kembali. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Dik! Gue mau minta tolong boleh ya?"
"Minta tolong apa, Rif?"
"Bentar, kereta datang!"sela Arif.
Tak lama kamipun masuk kedalam kereta yang tidak terlalu padat karena belum jam pulang kerja. Kami bisa duduk setelah berjalan menyusuri gerbong demi gerbong.
"Aku mau minta tolong,... tolong dirawat rumah yang kubeli dari bu Hafsah selama setahun. Mau ya? Aku harus nunggu istriku lahiran dulu sampai anak kami beberapa bulan, baru bisa pindah nempati rumah itu."
Aku menelan ludah terkesima. Jantungku berdebar.
"Ga harus mikirin sewa lah! Cukup ditempati saja. Paling kalau ada genteng bocor atau tembok lembab, tolong dibenerin aja! Mau ya?"
Aku menatap Arif seperti tak percaya. Anak ini,.... ternyata berniat menolongku. Tapi dia tidak ingin terlihat seperti dewa penolong.
__ADS_1
"Hanya setahun. Oke! Aku numpang dirumahmu, hehehe....!" Kami tertawa lepas bersama. Kugenggam erat kepalan tangannya. Mengangguk dan mengerjapkan mata. Arif pun melakukan hal yang sama denganku. Seperti telepati, aku mengucapkan banyak terima kasih dan Arif mendengar kata hatiku mengangguk dan tersenyum.
Kami tidak mengumbar kata-kata pujian secara nyata. Tapi entah mengapa, aku bisa klop dengannya. Padahal kami baru akrab beberapa hari saja. Aneh memang! Subhanallah!
"Bu Hafsah bilang, ia akan pindah lusa. Nanti kunci rumahnya beliau taruh didalam pot tanaman hias yang ada dibawah jendela. Itu katanya. Aku ga bisa kerumah itu untuk setahunan. Jadi, rumah itu sementara ini kupasrahkan sama kamu ya, Dik! Terserah kamu mau pindah kapan. Pokoknya, itu urusan kamu!"
Hatiku berbunga-bunga. Aku tidak sedih lagi mengingat tangisan Jingga tadi.
Jingga,...sebentar lagi papa akan selalu ada didekatmu, nak! Kamu bisa menginap bersama papa kapanpun kamu mau.
Ya Allah! Terima kasih atas segala karunia-Mu padaku!
Kami berpisah distasiun Gondangdia. Arif meluncur ke Bungur sedang aku ke Gunung Sahari. Arif melambaikan tangannya sebelum mengatakan kalau minggu ini akan mengadakan selamatan empat bulanan istrinya dan aku diundang datang kerumah mertuanya. Aku berjanji akan mengusahakan untuk datang bersilaturahim kekeluarga kecilnya.
Aku sudah merencanakan banyak sekali planning dikepala. Saat ini aku teringat, aku butuh kasur untuk pindah nanti. Kalau aku membawa dari rumah kontrakan yang di gunung sahari, kasihan juga dengan Jabrik nanti. Secara anak itu tidur sekasur denganku. Dan aku sudah bertekad tidak akan membawa perabotku yang ada dikontrakan itu.
Aku pulang dengan diantar mobil barang belanjaanku. Setelah menurunkan semuanya didepan gang yang tak terlalu jauh juga dari rumah kontrakanku, lalu memberi ongkos pada abang pengantarnya, akupun agak kerepotan juga. Untunglah banyak orang yang kukenal disini membantuku membawa masuk sampai kontrakan.
"Bang Dika mau besanan!" goda beberapa ibu yang melihatku dengan barang perabotan. Aku tertawa tak mengiyakan juga.
Hati ini benar-benar senang. Hingga tak sabar rasanya menanti untuk cepat pindah ke Bojong. Aku teringat, kalau aku harus mengurus surat kepindahanku dari RT setempat. Aku akan pergi kerumah pak RT untuk minta dibuatkan surat keterangan dari beliau bahwa aku benar hampir setahun lebih lamanya mengontrak dan mendiami wilayah gunung sahari ini.
Malam ini malam pertama terawihku dimesjid Suhada dekat kontrakanku. Aku sebenarnya ingin terawih bareng ayah, tapi waktunya tidak cukup untuk mengejar kereta ke Depok sementara aku baru pulang pukul 4 dan langsung belanja keperluan untuk nanti. Aku hanya menelpon ayah setengah jam berbincang mengatakan kalau aku akan mulai pergi bekerja lagi besok. Aku meminta doanya untuk setiap langkahku. Ayah mendoakanku dan mensupportku sepenuhnya.
Aku sangat bahagia. Tahun lalu aku menjalani kewajibanku berpuasa didalam rutan Salemba. Kini aku sudah bebas dan bisa melakukan aktivitas bersama orang-orang tercinta. Sholat tarawihku bersama Mul, Jabrik dan warga sekitar begitu terasa hangat dan indah. Aku sangat mensyukuri hidupku kini. Semua terasa nikmat.
Tidak seperti tahun lalu. Tahun terburuk dalam hidupku. Tahun dimana penuh dengan dosa-dosa kemaksiatanku. Tahun terpurukku dengan hanya memikirkan Ranti dan Vika melulu. Kalau tak ada bang Sobri yang menggemblengku disana, entah apa jadinya aku. Hhhh.... Aku belum menengoknya dilapas saking sibuknya.
__ADS_1
Aku ingin tidur cepat tapi tak bisa. Akhirnya aku bercerita tentang niatku pindah dari sini ke Bojong dalam beberapa hari lagi. Jabrik sedih mendengar aku akan pindah ke Bojong. Aku mengajaknya untuk ikut. Mul juga. Tapi mereka tidak terlalu antusias dan ada beberapa alasan yang aku mengerti. Aku juga tidak bisa memaksa mereka tinggal bersamaku. Tapi aku juga tak bisa terus bersama mereka karena aku ingin fokus pada anakku.
"Abang tinggal sendirian nanti?" tanya Jabrik.
"Iya. Anakku tinggal sama mamanya disebelah rumahku koq, Brik!"
"Tetanggaan gitu, bang? Bisa celebekan dong, lu!" kata Mul dengan wajah menggoda.
"Apaan celebekan?"
"CLBK!! Huh nora' ga tau celebekan!" jawabnya kesal. Aku dan Jabrik hanya tertawa mendengar ucapan Mul.
"Huss, ga boleh CLBK. Udah jadi milik orang!"
"Haah??? Na lu ngapain pindah deketan gitu, kalo ude jadi milik orang? Tiati lu bang! Bagai pungguk panuan tuh peribahasanye!"
"Pungguk merindukan bulan!!!" Aku dan Jabrik berbarengan sambil memukul kaki Mul bercanda.
"Yaiya lah! Orang ude jadi milik orang, masih lu pepet. Gue nasehatin lu bang, kudu bisa nahan diri ma nafsu yee... Jangan sampe lu ditegor lakinye gegara masalah ini!" Mul terus nyerocos menasehatiku seperti orangtua. Tapi aku tersenyum dan mengangguk. Omongannya semua benar.
"Niatku cuma kepingin dekat dengan Jingga, anakku, Mul! Anakku cuma satu. Usianya sekarang sudah 5 tahun. Sudah pintar ngomong juga. Dia udah bisa protes karena aku selalu jauh darinya. Mungkin ini jalan Allah untukku mendekatkan diri pada anakku. Aku juga ga tau, kenapa semua seperti ini. Seperti dimudahlan untukku bisa melihat anakku setiap hari. Aku rindu celotehan lucu anakku!"
Jabrik dan Mul tersenyum. Seperti bisa melihat sisiku yang kesepian dan begitu mendamba untuk mendapatkan cinta dan perhatian anakku. Aku hanya ingat diriku. Aku sempat begitu lama memendam kecewa pada ayah hanya karena ia terlihat cuek padaku meski kami bertemu setiap hari, pagi dan malam. Aku berfikir bagaimana nanti perasaan Jingga padaku sedang aku jangankan tiap hari, tiap bulan pun waktu kami terbatas. Hanya hitungan jam bahkan menit saja. Hhh... Pasti Jingga akan terus mengingat kekecewaannya dan memburuk menjadi luka dihatinya. Aku tak ingin itu terjadi. Meski keadaan memisahkan kami untuk tidak bersama, tapi setidaknya aku ingin Jingga merasakan betapa aku mencintainya. Menyayanginya teramat sangat karena dialah satu-satunya hadiah terindah Allah untuk hidupku. Aku ingin Jingga tahu, bukan hanya mamanya saja yang membutuhkannya. Tapi papanya juga. Papanya juga ingin cinta dan kasih sayangnya. Karena papanya juga punya segudang bahkan mungkin bergudang-gudang kasih sayang yang ingin aku tumpahkan padanya sebagai rasa penyesalanku menelantarkannya selama ini. Aku ingin Jingga tahu isi hatiku. Hhhh.... Tak terasa lelehan airmata jatuh dipipiku membuat Jabrik dan Mul menubruk memelukku hangat.
Hhhh.....
Bersambung-
__ADS_1