AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
AIR MATA RANTI


__ADS_3

Sejak pertemuanku dengan Arif Borne ditaman perumahan pak Anjar, aku teguhkan hati dan diri ini, bahwa aku harus sukses dan kembali menarik perhatian dan cinta Ranti kembali padaku.


Aku bertambah semangat membangun kembali usahaku lewat bantuan pak Anjar. Semakin bulat pula keinginanku membuat hubungan Ranti terjalin lagi denganku.


Entah bagaimana nanti caranya, masih kupikirkan karena Ranti bukanlah wanita sembarangan yang mudah meleleh hanya karena perhatian-perhatian ala-ala pemuda jaman sekarang.


Yang penting aku harus bisa memulihkan dulu perekonomianku. Harus kembali berkibar dengan bendera kejayaan usahaku.


Aku bersyukur memiliki Jingga. Secara tidak langsung Jingga-lah jembatanku menyebrangi hati Ranti dan menyelami perasaannya. Aku akan masuk perlahan dengan bantuan Jingga. Semoga Ranti bisa menerimaku kembali bersanding dengannya sebagai suami kebanggaannya, itu harapanku.


Aku hujani Jingga kiriman-kiriman setiap harinya kerumah Ranti. Pakaian, boneka, bahkan mainan barbie kesukaan anakku tercinta. Memang respon Ranti datar saja. Bahkan ucapan terima kasihpun tak ia kirimkan via wa. Mungkin karena sudah sewajarnya aku memberikan hadiah Jingga secara Jingga adalah anak kandungku. Hhh... Ranti,... semakin sulit aku menaklukanmu! Untuk bolak-balik Jakarta-Bojong adalah hal tersulit saat ini bila harus kulakukan mengingat pesanan sempolku yang semakin banyak.


Aku kewalahan membuat sempol seorang diri hingga akhirnya memutuskan mempekerjakan beberapa teman perempuan Hana yang tinggal tak jauh dari kontrakanku. Setelah beberapa hari aku memberi kursus kilat tentang cara membuat sempol, akhirnya mereka cukup bisa diandalkan.


Rosa menelponku memberitahukan kalau pak Anjar sudah menyiapkan dokumen pengalihan nama disurat sertifikat villa miliknya. Mereka akan bertemu besok dikediaman pak Anjar dengan disaksikan notaris wilayah setempat.


Aku senang mendengar kabar gembira dari Rosa. Akhirnya sedikit lagi keinginanku sukses akan terkabul dan aku dengan bangga akan mempersembahkannya pada Ranti dan Jingga. Alhamdulillaah.... semoga Allah melancarkan semua urusanku. Aamiin!


Pagi sekali aku sudah mandi dan berdandan rapi. Memakai stelan kemeja biru dan jas semi formal yang baru kubeli beberapa hari yang lalu membuat Hana, Irma dan Uci bengong melihatku. Mereka memang baru tiba dan akan mengadon sempol ayam pesanan para pelanggan.


"Bang! Keren banget dandanannye! Kaya orang mau walimahan!" ceplos Hana membuatku tertawa.


"Abang ada janji penting nih! Doain yaa...pertemuan abang sukses ga ada halangan!"


"Mau ketemuan sama calon istri bukan, bang? Widiiih... hihihihi, selamet ya bang!" Irma juga ikutan menggodaku. Mereka memang sering wara-wiri disekitar kontrakanku. Jadi sebelum bekerja padaku pun mereka telah kenal baik padaku.


Aku dan Rosa janjian diperempatan gunung sahari. Seperti biasa aku menumpang mobilnya untuk pergi bersama ke tempat pak Anjar.


Cukup butuh waktu lama untuk tiba disana karena jalanan benar-benar macet. Dan kami sudah ditunggu mereka sejak satu jam yang lalu.


"Maaf, pak.... kami terjebak macet parah di Summarecon. Sepertinya sedang ada acara gitu!" Rosa langsung meminta maaf karena tak enak hati. Aku menjabat tangan pak Anjar dan beberapa orang notaris yang hadir disitu.


"Santai saja! Kami sedang ngobrol sambil minum teh bersama. Bagaimana kabar kalian?"


"Alhamdulillah, pak! Saya sangat berterima kasih sekali, atas bantuan dan juga kebaikan bapak pada kami!"


"Kalian anak-anakku juga! Tolong, jaga nama baikku sebagai pengusaha! Aku sangat mengandalkan kalian. Maka dari itu, kalian harus lebih sukses dari aku!"

__ADS_1


"Aamiin, terima kasih pak!"


Aku tak menyangka, villa pak Anjar dibilangan Mega Mendung yang paling besar kini berganti nama dengan namaku. Aku gugup sekali ketika menandatanganinya. Rosa juga begitu antusias mensupportku. Senyumnya tak henti-henti merekah karena kami berbincang sesekali bersenda gurau.


Tiba-tiba handphoneku berdering. Sengaja aku tak angkat karena tidak enak hati ditengah pertemuan kami. Berdering lagi hingga beberapa kali.


"Angkatlah, Dika! Siapa tahu itu panggilan penting." Ujar pak Anjar membuatku tersenyum malu lalu meminta izin keluar sebentar untuk menerima panggilan tersebut.


"Ranti? Assalamualaikum? Ada apa?"


"Maaaas.... Jingga kecelakaan mas! Aku di RS Citama sekarang!"


"Jingga kecelakaan? Gimana keadaannya sekarang?"


"Perutnya sobek. Harus segera dioperasi! Maaas, cepat kesini maaaas! Hikhikhik..."


"Aku on the way sekarang!"


Tuut tuut tuut...


"Pak Anjar, bu Rosa, Pak Philip juga semuanya... saya mohon maaf, pamit lebih dulu. Anak saya kecelakaan!"


Semua terperanjat mendengar ucapanku. Rosa menawarkanku kendaraannya, tapi kutolak karena pasti akan lebih lama sampai karena terjebak macet.


Aku bergegas keluar. Berlarian disepanjang jalan perumahan. Menoleh kiri dan kanan, siapa tahu ada ojek motor yang mangkal. Setelah hampir seperempat jam terus berlarian dengan perasaan kacau, akhirnya aku dapati juga ojek yang sedang mangkal.


Aku menjelaskan tujuanku dengan terburu-buru sambil memberikan uang 500 ribu pada tukang ojek itu agar mau membawaku ke RS Citama diwilayah Bojong Gede.


Syukurlah tanpa banyak bicara, lelaki muda itu memberiku helm dan kami langsung meluncur ketempat yang disepakati.


Setelah hampir satu jam dengan kecepatan cukup tinggi, akhirnya aku tiba ditujuan. Mencari-cari Ranti diruang IGD, tapi tak dapat kutemukan. Aku menelponnya. Menanyakan posisinya saat ini. Ternyata Ranti ada didepan ruang operasi. Aku bertanya beberapa kali kepada suster perawat yang kebetulan melintas.


Kulihat Ranti yang terduduk lemas dengan tangan menutupi wajahnya.


"Ranti!"


"Mas Dikaaaa....!"

__ADS_1


Ia mengambur berlari kearahku. Menangis keras didadaku sambil memukul-mukul bahuku.


"Jingga, mas...Jingga!... Huhuhuhu..., aku salah maaas, maafin aku! Aku ga akan bisa maafin diriku sendiri kalau Jingga sampai.. sampai kenapa-napa, mas!"


Aku menelan ludah dengan wajah pucat pasi. Kubayangkan tubuh kecil bidadariku kini terbaring diruangan dingin dan menakutkan dengan dokter berpakaian serba putih lengkap dengan peralatan medis siap melakukan tindakan. Hhh... Jingga! Yang kuat ya, sayang!


Ya Allah, selamatkan anakku ya Allah! Kumohon... tolong anakku! Usianya baru saja 4 tahun 4 bulan yang lalu. Masih terlalu kecil untuk kau ganjar dia dengan cobaan menyakitkan. Kalau boleh bertukar, biar aku saja yang diganti dari pada harus Jingga yang merasakan.


Ya Allah....!! Lututku lemas. Kupeluk bahu Ranti sambil berjalan kearah kursi panjang diruang tunggu operasi. Kami duduk berdampingan dengan hati yang resah tidak karuan.


Ranti masih terus menangis menyesali diri. Sementara aku hanya diam mematung dengan tangan masih dibahu Ranti.


"Anak kita anak yang kuat, Ranti! Percayalah... Jingga akan baik-baik saja! Mari kita minta pada Allah Yang Maha Pengasih. Allah pasti beri kekuatan dan kesehatan pada Jingga kita. Kamu harus kuat, jangan sampai kamu lemah. Bila nanti Jingga sadar, cari mamahnya...bagaimana kamu bisa terus dampingi Jingga!" ucapku dengan suara pelan tapi jelas. Aku sejujurnya juga tak yakin, karena belum melihat kondisi Jingga yang terakhir. Tapi aku berusaha berfikir positif, memberi Ranti semangat dan harapan.


Sepertinya ucapanku agak mengena hatinya. Tangisnya mengecil seiring duduknya yang kembali tegak. Ranti berusaha tegar.


Sudah 2 jam putriku didalam ruangan operasi. Kenapa lama sekali? Jantungku berdetak cepat karena cemas dan gelisah. Sesekali aku berdiri, berjalan mondar-mandir sambil menengok pintu operasi agar cepat terbuka.


Tak lama seorang perawat keluar. Aku dan Ranti berlari memburunya dengan pertanyaan.


"Sabar ya pak, bu... pasien masih ditangani dokter. Keadaannya sekarang sudah lebih baik. Bantu kami dengan doa!" jawabnya membuatku lebih tenang sedikit.


Suster tadi pergi dan tak lama kembali dengan membawa beberapa barang yang dibutuhkan didalam ruangan operasi.


"Mas.... aku ga tau lagi, bila terjadi sesuatu pada Jingga. Baru sebulan yang lalu bapak pergi ninggalin aku! Ya Allah, jangan buat Jingga juga pergi dariku! Jangan ambil anakku ya Allah.... Aku bisa gila, bisa mati bila hidup tanpa Jingga!" lagi-lagi Ranti terisak sedih tak berdaya. Tangannya begitu dingin dan wajahnya merah basah penuh airmata.


"Maaas.... kenapa Allah mengujiku sedemikian berat maaas!... Ya Allaaaah.... Tolong anakku ya Allaaaah! Aku teledor, aku ibu yang buruk... tapi tolong jangan ambil dia dariku! Jangan buat aku jauh darimu ya Allaaah!!" Ranti kembali histeris karena fikiran yang negatif mengungkung diotaknya.


Aku kembali merangkulnya. Memegang kedua tangannya. Mencoba membaca surat al-Fatihah dan surat Al-Alaq berulang kali. Sesekali menarik kepala Ranti dan menutup bibirnya agar tidak semakin kacau ucapannya. Aku tahu Ranti sangat terpukul dan bingung. Tapi aku tak ingin kesedihannya membuatnya menyalahkan dirinya dan nasib yang Allah berikan pada kami. Aku takut Allah makin murka dan menambah penderitaan kami karena kami yang kurang bersyukur atas nikmat-Nya.


Ranti kembali memelukku. Menangis histeris menumpahkan semua kesedihannya didadaku. Aku juga terhanyut. Aku pun akhirnya ikut ambruk berlinang airmata membayangkan jika Jingga harus pergi dari sisi kami. Bagaimana kehidupan kami nanti? Bagaimana bisa Ranti melalui semua ini? Aku tahu sekali, Jinggalah kekuatan Ranti selama ini. Jinggalah cahaya kehidupan Ranti. Bahkan ketika hatinya hancur berkeping-keping karena kelakuan bejadku, Ranti masih tegar berdiri bahkan tak sekalipun menunjukkan airmata kesedihannya karena berpisah denganku. Ranti berusaha sekuat tenaga bertahan dari cobaan yang menghempasnya dan dia berhasil melewatinya karena Jingga. Aku tak bisa bayangkan bila hal terburuk terjadi pada Jingga.


"Aku yang salah, Ranti! Aku manusia hina! Aku yang membuat kalian jadi sengsara! Aku laki-laki bejad yang seharusnya disiksa, bukan kamu juga anakku! Aku mau menggantikan Jingga jika harus bertukar nyawa sekalipun. Aku yang harusnya mati! Bukan kalian! Kalian sama sekali tidak punya salah! Akulah biang keladi hingga semua ini terjadi. Perpisahan kita, kesedihanmu, juga kecelakaan Jingga... Ini semua salahku!" aku terus nyerocos memaki diriku. Menyalahi diriku yang memang benar aku biang keroknya.


Andai aku bisa menahan nafsu sedikit saja dan tidak tergoda oleh rayuan Vika. Semua ini tak mungkin terjadi. Istriku tak mungkin meminta cerai. Anakku tak mungkin ada diruangan operasi yang dingin dan gelap itu sekarang. Aku ini dalang dari semua penderitaan ini! Akulah biang semua ini! Harusnya Allah cabut saja nyawaku daripada aku harus melihat penderitaan Ranti dan Jingga yang bertubi-tubi! Aku ikhlas ya Allah, jika saat ini kau turunkan malaikat izroil untuk mencabut ruh dari ragaku demi bertukar dengan Jingga anakku! Aku akan memilih itu, jika bisa seperti itu!


Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2