
Aku dan Ranti hanya bisa menangis meratapi keadaan. Aku sangat menyesali tingkahku ini yang membuat anak dan istriku jadi menderita. Aku terpuruk tak berdaya pada kenyataan ini. Hanya tangis kesedihan yang bisa kulakukan saat ini selain doa terus menerus didalam hati agar Allah menyembuhkan putri kami.
Pintu operasi terbuka. Dua orang perawat keluar mendorong kereta ranjang rumah sakit. Sesosok mungil didalam selimut terlihat pucat dengan mata tertutup. Selang infusan melingkar diatas jemarinya yang begitu kecil. Ia terlihat semakin kecil dengan beberapa alat didadanya yang tersingkap.
Ya Allah.... Kasihanilah, anakku!Aku menangis tanpa suara mendorong kereta dorong itu menuju ruang ICU. Sampai kondisinya stabil, Dokter baru akan memindahkannya ke ruang rawat inap.
Ranti juga berjalan disampingku masih dengan cucuran airmata.
"Mohon bapak ibu tenang yaa...! Pasien butuh istirahat pasca operasi!" kata seorang suster setelah menaruh dan memindahkan Jingga dari kereta dorong keranjang tempat tidur ICU.
Ada semacam alat pendeteksi yang aku kurang faham nama dan fungsinya melekat didada Jingga. Belum lagi selang infus yang terlihat besar ditangan mungilnya. Hidungnya juga dipasang alat bantu pernafasan.
Ya Allah... kenapa anak sekecil itu harus berjuang melawan kesakitan yang teramat sangat! Bantu ia melewati semua ini dengan kekuatan-Mu ya Allah! Tolong selamatkan anakku dari segalanya ya Allah!
Ranti duduk dikursi dengan tangan menggenggam jemari kanan Jingga. Wajahnya begitu lusuh dan pucat hanya menatap penuh harap kewajah Jingga.
Aku segera mencari dokter yang menangani Jingga. Menanyakan keadaan Jingga dengan teliti. Juga kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi pasca operasi.
Dokter menerangkan, kondisi Jingga kini sudah membaik. Hanya ada kemungkinan lukanya bisa sobek lebih besar jika Jingga berontak setelah siuman dari efek obat bius anestesinya. Dan karena usia Jingga yang masih teramat muda bisa membuat keadaan Jingga bisa lebih buruk. Itu hanya prediksi negatif saja. Kabar baiknya, luka diperut Jingga tidak terlalu besar dan tidak mengenai tulang rusuk serta tulang rawannya. Hingga diperkirakan pemulihannya akan lebih cepat.
Aku hanya menarik nafas dan menelan ludah. Fikiranku kacau hingga tak mampu berfikir jernih saat ini.
Siang berganti sore merayapi malam. Aku dan Ranti masih duduk terdiam dihadapan Jingga. Berharap Jingga segera sadar dan melihat kami berdua, mama papanya yang sangat menyayanginya. Aku ingin sekali mengucapkan kata padanya betapa aku menyayanginya. Mengatakan kalau dia adalah anugerah terindah yang Allah beri pada kami.
Kutanya lagi dokter mengenai kemungkinan waktu Jingga siuman. Dokter hanya berkata semua tergantung fisik dan psikis si pasien itu sendiri. Tidak bisa dipastikan kapan Jingga sadar.
Aku pamit keluar pada Ranti. Mencari minimarket disamping rumah sakit. Membeli beberapa botol air mineral, beberapa bungkus roti dan buah-buahan, serta obat herbal cair untuk menjaga kesehatan. Ranti belum makan sejak tadi siang. Begitu juga aku. Jangankan nafsu makan, nafsu bicara pun aku sudah tak punya. Tapi aku juga tak ingin kesehatan kami terutama Ranti juga terancam. Ranti harus tetap kuat dan tegar. Ia tak boleh sakit ditengah kondisi Jingga yang belum pasti.
__ADS_1
Aku membuka tutup botol air mineral dan memberikan botol air itu ke Ranti. Ranti menggeleng pelan.
"Minumlah! Kamu bisa dehidrasi. Bagaimana kalau Jingga terbangun, kamu malah lemas kurang cairan. Kasihan Jingga!" Ranti menurut padaku. Ia hanya minum seteguk.
Aku juga menyodorkan roti yang sudah kubuka kemasannya. Menyuapi Ranti tapi ditolak dengan mengambilnya dari tanganku.
"Makan,... tolong turuti aku lagi kali ini saja. Setengah pun tak apa! Setelah itu minum ini! Pleaseee...!" kataku dengan nada mengiba memberikan satu sachet obat herbal kemasan.
"AC ruangan ini terlalu dingin. Kamu bisa flu jika sepanjang malam terjaga tanpa makan dan minum apa-apa. Ini untuk Jingga, mengertilah! Aku memaksamu, maaf...!" Ranti kembali menuruti perkataanku. Aku senang sekali. Seperti angin segar bagiku, mendapati ia yang masih mengikuti seperti dulu. Walau tak manis dulu, tapi perlahan aku merasa bisa menaklukannya kembali.
Kami kembali terdiam dengan lamunan masing-masing. Suara detak jam didinding begitu jelas terdengar ditengah kesunyian malam. Kulirik jam ditangan, pukul 8.45 malam. Kutatap Jingga yang terlihat seperti putri tidur. Cairan infusannya terlihat sedikit lagi hampir habis. Aku bergegas menuju meja dokter jaga untuk memberitahukannya.
Seorang perawat tak lama kemudian mengganti cairan infus Jingga dan juga suhu tubuh serta alat-alat deteksi yang tertanam ditubuh mungil putriku. Aku tak tega melihat Jingga yang terkulai lemah tak sadarkan diri meski tubuh kecilnya dijamah dan diperiksa suster perawat. Aku keluar sebentar untuk mengambil udara segar agar fikiran jernihku kembali mengalir lancar.
Aku melihat seorang lelaki yang kukenal tengah berdiri didepan pintu kamar ICU dengan mata memandang kearah pintu. Aku menghampirinya.
Sofyan Ali. Berjalan cepat menghampiriku dengan bungkusan dijinjing tangan kanannya.
Aku hanya menarik nafas gusar tak menjawabnya. Untuk apa pemuda ingusan yang tak bisa apa-apa itu ada disini? gumam hati kecilku geram.
Aku menunduk saja pura-pura acuh dengan ucapannya.
"Mas Sofyan mau apa malam-malam kesini? Percuma, Jingga belum boleh dijenguk!"
"Iya, saya tahu. Tadi sempat what'sapp Ranti juga. Tapi saya cemas mas, makanya pulang kerja langsung kesini. Ranti pasti panik sekali, ya!?"
Hei, bocah! Jangan sok imut dihadapanku! Aku lebih dulu kenal Ranti dan lebih faham bagaimana caranya menenangkan mantan istriku itu! Tahu apa kamu, yang baru seumur jagung mengenal Ranti! Aku kesal dibuatnya. Tapi berusaha menahan karena ini rumah sakit, tempat orang sakit bukan tempat orang beradu jotos.
__ADS_1
"Sebaiknya mas pulang saja. Biar saya yang menunggui anak saya! Dan jangan telpon Ranti kalau mas disini. Dia sedang istirahat sambil menunggu Jingga didalam."
"Iya. Saya cuma bermaksud mengantarkan ini saja, mas! Ranti pasti tidak mau makan karena begitu sedih. Ini brownis kesukaan Ranti dan Jingga! Saya titip ya, mas!"
Waaah.... sweet sekali bocah ingusan ini! Dia pikir aku tidak mampu membelikan istriku sendiri kue brownis! Mantan istriku maksudnya. Aku masih mampu membelikannya bahkan sepuluh dus sekalipun, mas Sofyan Ali si babang tamvan! Jangan mentang-mentang kamu sekarang sedang pendekatan dengan Ranti, lantas kamu terlihat begitu manis kelakuannya kepada mantan istriku itu? Anjiiir! Belum tentu kau lebih setia dibanding aku, Sofyan! Aku meragukanmu, boy!... Apalagi kamu masih bujangan. Belum merasakan asam garam nikmatnya cinta *** kucing. Sedang Ranti itu seorang janda. Dan kau belum berpengalaman apa-apa! Minggirlah kau dari kehidupan wanitaku itu! Dibandingkan aku, kau itu tak ada apa-apanya, bro! Kau lebih pantas jadi pemanis etalase di toko baju saja. Belum bisa dibilang pria jantan nan perkasa!
Aku bergelut dengan suara hatiku sendiri. Merutuk dan mencaci Sofyan Ali karena panas terkena percikan api cemburu. Hhhh..... Aku ingin sekali menghilang disaat seperti ini. Malu pada diriku sendiri yang jadi seperti bocah 5 tahun yang begitu egois dan tak suka bila anak lain menyukai mainanku. Padahal kenyataannya aku adalah pria dewasa yang sudah matang berusia 42 tahun. Aisssssh...! Maluku bertambah menyebut angka usiaku.
Sofyan Ali menjabat tanganku hangat. Berpamitan padaku setelah menyerahkan bungkusan kotak kue brownis bawaannya.
Yaa.... pergilah sana! Aku sama sekali tidak membutuhkan jasamu. Ranti akan kuurus lebih baik lagi. Tak perlulah kau khawatirkan Rantiku! Aku lebih mengerti ketimbang kau, bocah ingusan!
Hatiku menghitam karena terbakar kecemburuan yang berkobar besar. Aku tak ingin hatiku hancur menjadi debu.
Untuk itu, aku bertekad akan mengibarkan bendera perang pada pemuda itu. Aku ingin bertanding satu lawan satu, untuk mendapatkan kembali hati dan cinta Ranti. Ranti tak boleh menjadi milik orang lain, termasuk si Sofyan Ali. Aku siap bertarung mati-matian demi Ranti.
Seingatku dulu cintaku pada Ranti tak sebesar ini. Karena ketika muda dulu, Ranti dan aku sama-sama karyawan diperusahaan resto waralaba tempatku bekerja. Kami lalu berteman karena satu jadwal yang sama. Saling bercerita dan bertukar fikiran. Dari satu pembicaraan ke pembicaraan lainnya membuatku merasa nyaman mengobrol bersama Ranti. Sampai Ranti sering membawa bekal lebih untuk berbagi denganku. Aku terpesona dengan kepribadian Ranti yang baik dan tak pandang bulu pilih-pilih teman. Kamipun semakin intens bersama. Aku makin terbuka bercerita tentang kehidupanku dan dia terlihat kagum sekali dengan cerita hidupku yang sebenarnya menyedihkan. Ranti semakin respek dan memberiku perhatian lebih. Memberiku semangat dan nasehat apapun untuk membuatku lebih kuat. Hingga suatu hari ia menangis menceritakan kalau keluarga besarnya sering mendesaknya segera menikah karena usianya yang sudah lewat 25 tahun, padahal ia sama sekali belum punya pacar. Secara keluarga besarnya hampir keseluruhan menikah muda.
Aku menghiburnya dengan mengatakan aku lebih tua lagi dan hampir dibilang bujang lapuk karena diusiaku yang 32 tahun belum pernah merasakan yang namanya pacaran beneran.
Aku lalu berkelakar bagaimana kalau kita pacaran saja. Menjalani hubungan lebih dekat lagi untuk menutup mulut sepupu-sepupunya yang sering menjahilinya dan menakutinya menjadi perawan tua.
Ranti menyetujuinya. Kami sepakat pacaran dan saling mengenal lebih dekat lagi satu sama lain. Setelah itu aku pun mendapat kesempatan dengan menerima beasiswa melanjutkan studi S2 ku dari kantor bersama Rosa. Dua tahun akhirnya aku meraih gelar magister dan memberanikan diri melamar Ranti padahal belum memiliki apa-apa.
Ranti menerimaku dengan ketulusannya dan sifat baiknya. Aku lebih dominan dan dia hanya followerku. Aku kepala keluarga yang tegas dan keras. Untuk mencapai tujuan kami memiliki kehidupan yang lebih baik lagi, aku mengatur ketat Ranti. Mendidiknya bak pendidikan militer. Bahkan seingatku selama kami menikah, Ranti tak pernah punya alat-alat make up lengkap layaknya wanita lain. Selain harus lebih mementingkan membeli yang lebih berguna, juga memang keuangan kami banyak tersalur untuk membayar cicilan rumah, motor hingga mobil. Intinya Ranti hanya memakai pelembab wajah dan itu pun dipakai irit sekali, bedak dan lipstik saja. Selain itu, Ranti baru bisa membelinya setelah aku naik jabatan menjadi supervisor yang kadang mengajaknya mendampingiku diacara-acara kebesaran kantor. Itulah Rantiku, yang penurut dan penuh kesederhanaan.
Bersambung-
__ADS_1