
"Iyakah, mas?...." Ranti mendengus pelan.
"Kalau kamu mencintaiku sepenuh hati, kamu tidak akan tergoda secantik apapun Vika, seseksi apapun dia. Terlebih dia memberimu segalanya. Uang dan kekuasaan! Membuat alam bawah sadarmu mengikutinya. Menuruti semua keinginannya."
"Dia yang selalu mengikutiku! Aku bukan lelaki haus kekayaan dan uang. Aku lebih suka bekerja keras dengan hasilku sendiri. Kamu mengenalku bukan setahun dua tahun!" Aku meradang. Aku marah Ranti salah menilaiku.
"Ya, itu memang benar. Tapi alam bawah sadarmu meyakini, kalau ada kesempatan mengapa harus dilewatkan? Begitu khan?" Lagi-lagi aku hanya terdiam.
"Kau juga tidak mencintaiku sepenuh hati, ketika kau tak berfikir panjang bahkan tak berusaha mencegahku minta cerai, mas!"
"Itu karena aku tidak ingin lebih lama menyakitimu. Aku sadar akan kesalahanku yang begitu besar padamu, Ranti!"
"Benarkah? Bukankah karena kau masih berharap memulai hidup yang baru dengan Vika, mas? Aku tidak salah tebak khan? Kau mengkhayal akan hidup bahagia setelah kamu menerima hukuman dipenjara karena Vika akan tersenyum manis menyambut kepulanganmu bak pangeran berkuda. Begitu khan?"
"Kamu salah Ranti! Aku memang belum bisa memutus hubungan dengan Vika karena posisiku yang dipenjara. Dan aku juga sudah berjanji akan menyelesaikan masalah kita tanpa ada yang tersakiti, baik kau maupun Vika. Aku ini lelaki yang berpegang teguh pada janji, Ranti! Aku tidak ingin ingkar janji pada Vika yang ingin hubungan kita bertiga baik-baik saja!"
"Begitu, mas? Kamu adalah lelaki sejati yang memegang teguh janjimu pada Vika? Yang memberimu mimpi untuk hidup bersama dengan izinku? Lalu kita bertiga hidup bahagia berdampingan selamanya? Itu maksudmu, mas?"
Lagi-lagi aku tersudutkan. Ucapan Ranti persis seperti fikiranku.
"Dan mas,... kalau kau begitu kuat mengingat janjimu pada Vika untuk bisa menyelesaikan masalah kalian hingga bisa tinggal bersama dengan ikatan pernikahan, bagaimana dengan janjimu padaku, mas?... Kamu ingat janjimu pada Vika, tapi apa kau ingat janjimu padaku? Ingat?"
Aku tak bisa menjawab. Selain lupa aku janji apa pada Ranti. Aku takut bila menjawab justru akan jadi bumerang bagi diriku sendiri.
"Ingat janjimu padaku, mas? Janjimu dihadapan Allah, disaksikan wali nikahku yaitu bapak dan ibu, disahkan oleh penghulu dan juga banyak saksi yang menghadiri pernikahan kita! Bukankah janjimu padaku lebih sakral dibanding janjimu pada Vika yang mirip bualan cinta monyet anak-anak ingusan? Mana yang lebih penting bagimu mas? Jawab, mas! Aku meminta pertanggungjawaban janjimu padaku dulu."
Lagi-lagi palu besar itu menghantam kepalaku hingga pening. Membuat airmata perih tanpa sadar menetes dikedua pipiku.
"Kau seorang yang beriman. Kamu juga tidak suka orang-orang bergajul yang liar diluaran sana. Tapi kamu dengan mudahnya melupakan janjimu yang Allah tulis dibuku catatanmu sebagai amal baikmu karena menikah sejatinya mencari pahala syurga bukan? Kamu selalu menyebut Allah, tapi kamu juga meremehkan-Nya karena sesungguhnya janjimu padaku adalah atas izin dan ridho Allah, mas!"
__ADS_1
Aku menangis tak bisa mengendalikan emosiku. Ranti benar-benar mengulitiku habis-habisan. Dan kata-katanya semua itu adalah kebenaran.
Ya Allah..... Ternyata semua yang Ranti ucapkan tiadapun salah. Aku sungguh baru menyadari diriku sendiri yang sebenarnya. Tetapi Ranti sudah lebih dulu mengenal kepribadianku ketimbang diriku sendiri. Ya Allaaaah......!!! Lagi-lagi aku limpung. Tersungkur dengan deraian airmata dilantai.
Aku ternyata lebih hina dari keset dapur yang kotor dan bau. Aku lebih rendah dari para perampok dan pembunuh sadis yang kejam. Aku benar-benar menyedihkan!
"Kamu ingat mas? Baru sadar? Baru engeh? Kemana saja kamu selama ini? Berjuang keras berusaha mengangkat diri dan derajatmu hingga sejajar dengan manusia lain dengan doa-doa dan airmatamu agar Allah memberimu kesempatan membalaskan semua rasa sakitmu dan dendammu pada orang-orang yang dulu pernah menghina dan melukai perasaanmu? Iya khan?.... Tapi kamu lupa, Allah-lah pemegang semua hak dan hidup setiap mahkluk ciptaan-Nya! Bahkan kamu lupa hal yang justru harus bagian terpenting yang harus selalu kamu ingat seumur hidupmu. Karena janjimu bukan hanya padaku saja! Tapi pada Allah, pada kedua orangtuaku, pada orang-orang yang menghadiri walimahan kita, mas!"
Aku menangis sesegukan semakin jauh kedalam lubang kegelapan.
"Maaf, mas.....bila kata-kataku menyakiti hatimu. Aku awalnya tak pernah ingin berkata kasar padamu karena aku sadar ini takdirku. Tapi kamulah yang akhirnya membuatku berkoar kasar, mengeluarkan sumpah serapah dan unek-unekku selama ini. Kamu menyudutkan aku terus dan terus! Padahal selama ini aku telah menerima takdirku dengan lapang dada karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik hingga akhirnya kehilangan dirimu yang semakin jauh berubah, mas! Aku kini bukan Rantimu yang dulu lagi, mas! Aku telah berubah, mas!"
Aku bersujud dikaki Ranti. Menangis, meraung memohon ampunannya. Aku menggapai kaki Ranti tapi ia menghindar menjauhiku.
"Kecilkan suaramu! Aku tak mau anakku yang baru sembuh terbangun dan shock melihat papanya yang menyedihkan seperti ini. Dan aku juga tak ingin ditegur tetangga karena bikin keributan ditengah malam buta."
"Ranti.......maafin aku, Ranti! Maaf! Aku malu pada diriku sendiri. Malu padamu kalau ternyata sikap dan tingkahku begitu besar efeknya padamu dan orang-orang yang kusayangi. Aku ingin menebusnya dengan berusaha membahagiakanmu dan Jingga!"
"Aku akan menuruti semua keinginanmu dan Jingga, Ranti! Aku akan selalu ingat kesalahan fatalku hingga tak lagi dan tak akan pernah aku tersandung kedua kali. Beri aku kesempatan, Ranti! Demi Jingga, buah hati kita. Kebanggaan kita!"
"Kamu masih mencintai dirimu sendiri, mas! Kamu hanya ingin kehidupanmu kembali stabil seperti dulu bukan? Bahkan saat ini pun kamu hanya menganggapku satu tongkat saja yang bisa menyangga mejamu yang timpang karena kurang satu kakinya. Benar khan? Kamu membutuhkanku untuk kembali merajai hidupmu dengan berjalan pongah dan sombong, membuktikan bahwa kamu adalah manusia istimewa yang meskipun Allah menghukummu tapi kamu masih bisa bertahan dan kembali menjadi manusia yang dipandang sempurna. Itu maumu khan, mas? Bukan untuk membangun kembali rumah tangga kita yang porak poranda. Niatmu bukan itu!"
"Tidak benar, Ranti! .... Aku ingin memulai lagi denganmu. Merajut kembali cinta kita yang terputus karena keegoisan dan kesombonganku. Mari kita bangun lagi semua dari awal! Dengan pribadiku yang baru dan pribadimu yang baru juga. Semua untuk kebahagiaan Jingga. Maukah? Mari kita satukan kembali visi dan misi kita, Ranti!Untuk sebuah cinta sejati."
"Rumah tangga yang seperti apa? Yang bagaimana, mas?... Aku sudah hopeless! Aku kini menyadari bahwa rumah tangga yang kita bangun dulu itu adalah suatu kesalahan, suatu kegagalan. Kurang persiapan dan juga pemahaman!"
"Kenapa kamu bilang begitu, Ranti? Itu artinya kamu juga mengingkari kehadiran Jingga ditengah-tengah kita!"
"Tidak! Jingga satu-satunya keberhasilan dalam hidupku, mas! Jingga adalah anugerah terindah yang Allah persembahkan kepadaku. Tapi bangunan fondasi rumah tangga kita yang memang sudah salah sejak semula. Karena rumah tangga sejatinya dibentuk oleh dua orang dengan pribadi yang berbeda. Mau memahami karakter dan sifat pasangan kita dengan berani menerima kekurangannya. Bukan dengan niatan merubahnya menjadi seseorang yang sesuai dengan keinginan kita. Jika kamu masih menganut faham itu,...semua akan kembali hancur dan percuma."
__ADS_1
"Kamu tahu, mas? Cinta sejati itu adalah ketika kita melihat wujud asli pasangan kita tanpa ada niatan menghakiminya dan merubahnya seperti kemauan kita. Bukan mas! Cinta sejati itu adalah tetap berdiri kuat sampai akhir, meski apapun cobaan dan rintangannya. menerima segala kekurangannya dan siap berkomitmen dengan diri sendiri seburuk apapun sifat dan tabiat pasangan. Itu cinta sebenarnya, mas! Kalaupun pasangan itu berubah kearah lebih baik dan sesuai standarmu, itu adalah perubahan dari dirinya sendiri yang memang ingin berubah karena menghargai cinta."
"Cinta sejati itu saling menghargai dan saling memberi. Bukan sibuk memikirkan hak yang harus kita terima hingga yang terlihat hanyalah keburukan dan kejelekan pasangan kita. Itu menurutku, mas! Entah menurutmu!"
"Aku semakin mencintaimu, Ranti!"
"Buktikan cintamu padaku! Bukan hanya dengan hiasan kata manis yang terlontar ringan dari bibirmu!"
"Aku akan membuktikannya, Ranti! Tunggu aku!"
"Oke!... Dan sekarang, maaf...aku mengusirmu pergi dari rumahku!"
"Ranti!...Ini sudah mau jam 3 pagi. Bagaimana aku bisa pergi dari sini ditengah malam buta begini?"
"Kamu punya akal. Kamu punya otak. Dan kamu adalah pria berpendidikan tinggi jauh dariku yang hanya tamatan SMA. Pasti kamu lebih tahu caranya kamu pulang kerumahmu. Terserah, itu bukan urusanku! Dan kalau kamu tidak ingin aku marah hingga menutup aksesmu dengan Jingga, sebaiknya turuti kata-kataku! Kamu boleh mengunjungi Jingga lagi setelah 4 minggu kemudian!"
"Empat minggu? Terlalu lama Ranti! Aku tidak bisa menahan rindu pada Jingga!"
"Kamu menyetujuinya, atau aku tutup aksesmu selamanya. Aku bisa saja membawa Jingga pergi menjauh darimu. Toh selama ini pun aku bisa!"
"Baik. Aku menyetujuinya."
Ranti membukakan pintu rumahnya untukku yang masih duduk dilantai keramiknya.
Aku hanya menarik nafas panjang. Menurutinya yang kini ternyata jauh berubah. Rantiku kini benar-benar berubah. Tapi aku mencintainya dan akan kubuktikan cintaku padanya. Aku harus berjuang lebih keras, bagaimana pun caranya.
Aku menelan ludah berjalan keluar dengan perlahan. Ranti menutup pintu rumahnya dengan cepat. Kakiku basah menginjak sesuatu yang bau dan menjijikkan. Bekas muntahanku. Oeeekkk!!!
Aku berjinjit mencari sebelah sandalku. Sambil menutup hidungku. Hhhhh.....
__ADS_1
Bodohnya kau Dika hari ini! Sungguh bodoh maksimal karena tingkah lakumu yang memalukan. Mirip setan alas yang tak punya tujuan hingga merasuki tubuh orang yang kurang iman. Mungkin aku sebelas-dua belas dengan setan alas itu. Astaghfirullaaaah! Ya Allah, ampuni aku yang lemah iman ini ya Allah!
Bersambung-