AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
ENTAH BAGAIMANA PANDANGANMU TERHADAPKU KINI


__ADS_3

Alarm hapeku menyala beberapa kali. Pertanda sudah pukul 4.30 pagi. Aku bangun dari tidur. Terkejut melihat Vika tidur dibawah sofa tempatku tidur. Hanya beralas karpet kecil. Ia terlihat begitu nyenyak dibalik selimut tebalnya.


Kuangkat Vika kekamarnya. Membaringkannya diatas kasur busa. Vika terlihat pulas sekali hingga tak sadar aku memindahkannya.


Aku melangkah kekamar mandi. Berwudhu dan melakukan sholat subuh. Aku sudah terbiasa sejak masih kanak-kanak, hingga kini itu sudah menjadi rutinitas walaupun jam tidurku berkurang banyak. Badanku agak kaku karena semalaman meringkuk diatas sofa yang kecil.


Pas sekali setelah doa, hapeku berdering. Kuyakin ini Ranti. Dan benar saja, ia menelpon. Kuganti panggilannya dengan mode video call. Aku ingin ia melihatku langsung.


"Ya, sayang! Aku baru selesai subuh nih! Maaf semalam ga nelfon karena takut ganggu tidurmu danJingga." Aku tersenyum melihat istriku dengan mukena putihnya. Cantik sekali, membuatku ingin menciumnya.


"Mas, gimana Vika? Ga kenapa-napa khan?"


"Vika masih tidur dikamarnya. Aku semalem tidur disofa ini, yang! Dia mabuk sampe ga sadarkan diri. Terus dia kubawa pulang, ga lama malah nyerocos kalo dia kesel sama kita terutama kamu!"


"Kesel kenapa?"


"Karena kemaren itu adalah hari ulang tahunnya. Ga ada satupun yang mengucapkan selamat apalagi mengadakan pesta untuknya. Kamu juga katanya sekarang udah ga ingat ulang tahunnya."


"Astaghfirullaah.... maaas, aku lupa! Pantas dia keliatan sedih banget semalam!"


"Aku mana tau ulang tahunnya juga khan! Makanya, waktu aku mau pulang jam 3 kurang,... dia masih nangis ngurung diri dikamar. Aku jadi kuatir dia ngelakuin hal yang berbahaya karena pengaruh alkohol. Jadi aku mutusin tidur disofa sambil tunggu dia tidur."


"Iya mas, aku minta maaf ya....bikin kamu serba salah ga nyaman juga."


"Kamu ga berfikir macam-macam khan tentang aku nginap dirumah Vika?"


"Maksudnya, mas?"


"Iya.... Pandanganmu kini sama aku. Lelaki yang dengan cueknya nginap dirumah sahabat istrinya. Entah bagaimana pandanganmu terhadapku kini."


"Maaaas....! Aku justru senang, kamu mau berfikir panjang untuk keselamatan sahabatku. Vika itu sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Aku ga punya pikiran buruk tentang kalian. Jadi mas ga usah kuatir tentang pandanganku. Aku percaya mas!"


"Oiya, aku langsung berangkat ke kantor dari sini. Maaf ya, yang?! Abis kalo pulang dulu, muter jauh lagi ke kantor. Kemungkinan aku bisa ngajak Cecil ke kantor bareng."

__ADS_1


"Oke, mas! Ga papa! Aku tunggu kamu pulang kerja ya!"


"Oiya yang.... Sebelum kamu pergi ke travel yang kemarin kamu bilang, sebaiknya kamu kesini. Hibur temen kamu tuh! Aku ga bisa hibur dia, ga ngerti juga harus gimana. Kalian sesama wanita, pasti lebih faham gimana caranya saling menghibur. Ya?"


"Iya, mas! Nanti setelah Jingga selesai makan dan mandi, aku kesitu buat nengok Vika. Moga Vika udah ga marah lagi!"


"Kamu cantik sekali, yang! Aku koq kangen ya, pingin meluk kamu!" godaku menatap Ranti lekat membuat Ranti tersipu-sipu.


"Mas, ih.... kamu tuh yaaa! Hehehehe..!"


"Titip sun sayang aku buat Jingga, ya? Muacht...buat kamu juga. Selamat pagi bidadariku! Kututup ya teleponnya. Mau mandi dulu!"


"Iya, mas! Kalo ga sempet sarapan, nanti jangan lupa sarapan dikantor ya?"


"Oke sayang! Muacht...."


....


Aku termenung memandang layar hape yang sudah tertutup. Ranti disana tidak punya fikiran buruk tentang hubungan kami. Tapi kenapa justru perasaanku semakin tidak karuan. Rasa takutku menyeruak menendang akal sehatku. Aku ini bagaimana dengan Vika? Semalam bibirku kembali mengecup kening Vika. Belum lagi dada Vika terus menempel didadaku. Hangat dan penuh debaran. Juga jemarinya yang lembut, semakin sering menyentuh wajahku, tanganku, juga bagian tubuhku yang lainnya. Hubungan seperti apa itu. Hhhh.... Aku tak tahu. Kami bukan teman apalagi saudara. Tapi kenapa Tuhan seolah memudahkan jalan untukku dan Vika melakukan hal-hal yang tidak seharusnya seperti itu. Aku memeluknya. Merangkulnya. Bahkan menggendong tubuhnya. Harum aroma tubuhnya pun sudah tak asing dipenciumanku. Bagaimana ini? Mengapa semua seolah selalu ada jalan dan cara untuk kami selalu berinteraksi.


"Mas? Mau sarapan nasi goreng? Aku buatkan ya?" Aku melonjak kaget. Vika mengejutkanku dari lamunan. Wajahnya yang polos tanpa makeup begitu memancarkan kecantikan alaminya. Aku tak sadar menatap wajahnya yang begitu dekat dengan wajahku.


Ranti mencium pipiku. Mengusapnya pelan sambil tersenyum. Ia bangkit dan berjalan menuju dapur tanpa berkata lagi. Kudengar senandung indah dari bibirnya. Aku masih diam menatapnya hingga menghilang dibalik pintu dapur.


Aku menarik nafas dan teringat akan niatku ke kamar mandi.


Didekat pintu kamar mandi ada meja kecil. Diatasnya sudah tersedia handuk baru berwarna biru langit yang terlipat rapi. Ada sikat gigi baru dan pastanya juga. Aku tersenyum. Sepertinya Vika sudah menyiapkannya tadi. Mungkin ia sudah bangun sejak tadi. Dan mungkin saja Vika juga mendengarku video call-an dengan Ranti. Hhhh.... Terserahlah!


Aku merapikan pakaianku. Masih pakaian yang semalam. Vika tiba-tiba berdiri dihadapanku membuatku risih. Ada sesuatu ditangannya.


"Mas, pakai ini. Ini baru. Sengaja aku beli untuk mas! Mau kukasih tapi malu, takut mas marah juga. Coba dulu deh! Pakaian mas yang itu terlihat kusut. Kurang pantas mengingat jabatan mas dikantor yang harus jaga imej juga wibawa." Aku diam memandang baju yang Vika bawa. Mematut-matut diriku dipantulan kaca. Memang pakaian yang kukenakan ini terlihat kusut karena semalaman kupakai tidur juga. Tapi kalau kupakai, aku agak risih untuk menjelaskannya nanti pada Ranti. Tapi kata-kata Vika juga ada benarnya. Jabatanku dikantor kini bukanlah karyawan biasa. Selain dipandang bawahan, atasanku pasti ikut menilai penampilanku.


Vika membuka kancing kemejaku satu persatu. Aku berdebar hingga hampir sulit bernafas karena wajah Vika terlalu dekat dengan wajahku. Mengapa ia seberani itu. Menyentuhku tanpa ragu padahal aku bukan siapa-siapanya. Dan aku tak berbuat apa-apa karena otakku seperti membeku.

__ADS_1


Ia juga membuka kemejaku dan menggantinya memakaikan kemeja baru pemberiannya. Lagi-lagi ia mengancingkannya tanpa canggung.


"Apa perlu celananya juga kubantu ganti, mas?" tanyanya membuatku terkejut dan meloncat kaget. Vika tertawa puas. Melihat wajahku yang merah seperti udang rebus.


"Kenapa sih mas Dika imut banget? Aku makin gemes jadinya khan liat kepolosanmu, mas!"


Aku bergegas masuk kamar mandi. Mengganti celana bahan yang kupakai dengan yang baru.


Bagai bocah aku keluar dengan malu-malu. Memperlihatkan pakaian baru yang kupakai pada Vika. Dan Vika memandangku keseluruhan dengan wajah sumringah.


"Ukurannya pas! Masku makin ganteng dan keren deh!" katanya membuatku tersenyum kikuk berlalu kearah ruang tamu. Jujur aku juga suka dengan baju yang Vika beri ini. Warna dan modelnya juga membuatku terlihat lebih lumayan lah.


Dua piring nasi goreng tersaji dimeja ruang tamu. Harumnya membuatku lapar. Vika menyuguhkannya didepanku. Menyodorkan segelas air putih hangat sebelum aku makan. Entah darimana dia tau kebiasaanku yang satu ini. Harus minum dulu segelas air putih hangat sebelum sarapan. Mungkin ia tanya-tanya pada Ranti, begitu pikirku. Aku membaca doa dalam hati. Menyantap sesendok demi sesendok nasi goreng dihadapanku dengan antusias. Ini terlihat seperti nasi goreng biasa. Tapi rasanya begitu lezat dilidahku. Aku suka semua yang Vika masak sepertinya. Dan Vika terlihat tersenyum puas melihat responku akan masakannya.


Aku pamit pergi bekerja pada Vika. Layaknya seorang istri, Vika menemaniku hingga depan mobilku. Merapikan lipatan kemejaku dan tersenyum manis menggandeng tanganku. Aku menepis halus karena ada beberapa orang lalu lalang dijalan.


Aku mengambil hape dari saku celanaku. Mencari nomor Cecil dan menelponnya.


"Cecil? Kamu masih dirumah kah?" tanyaku langsung tanpa basa-basi begitu Cecillia mengangkat hapenya diujung sana.


"Oke, jangan naik kendaraan dulu. Aku ada disekitar perumahan Griya. Tunggu saja disitu, sebentar aku datang!" Kumatikan handphone dan masuk mobil.


Vika cemberut menatapku. Aku tersenyum melihatnya yang begitu terang-terangan cemburu pada Cecillia.


"Maaf Vika, aku harus berangkat. Cecil ada dihalte depan perumahan. Ga ada waktu untuk meredakan cemburumu itu. Pergilah bersenang-senang lagi! Hamburkan uangmu, cari teman kencan kalo perlu! Dan aku tak akan mau lagi membantumu kalau sampai kamu seperti semalam!" kataku tegas membuat raut wajahnya berubah khawatir.


"Ga lah maaas! Aku ga mau cari teman kencan! Ngapain juga!" katanya berusaha membela diri.


"Oiya, siang nanti kalau ada waktu kita harus ke bank buat rekening baru!"


"Maas! Biar kamu aja yang pegang!"


"Turuti perintahku, okey?" ancamku membuat Vika memanyunkan bibirnya. Aku tersenyum. Melambaikan tangan dan berlalu memacu kendaraanku. Sementara Vika masih melihatku dengan tatapan yang sedih.

__ADS_1


Hhhh.... Vika! Bagaimana aku harus berbuat padamu. Kau sungguh pengacau dihatiku kini. Dan aku tak mampu melepaskan jaring-jaringmu karena kamu selalu didekatku dan Ranti.


Bersambung-


__ADS_2