AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
EPISODE TERAKHIR


__ADS_3

Aku bahagia merajut kasih kembali membangun biduk rumah tangga. Aku berhasil mengumpulkan pundi-pundi uang dari tetesan keringatku dan juga doa mustajab Ranti tentunya. Hingga kami bisa membeli rumah yang lebih besar didaerah Bogor Nirwana Resident. Ranti menolak pindah rumah dari Bojong. Meski rumah itu sederhana tapi memiliki kesan yang dalam baginya. Aku tak bisa memaksa. Ditambah lagi kini dia punya tetangga baru yang manis dan baik hati yaitu Nana istrinya Arif.


Setelah dua tahun pernikahan kami, Ranti melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan kami beri nama "Langit Biru Dirgantara". Seperti nama putri pertama kami, "Jingga Aulia Dirgantara".


Aku diberi kekuasaan oleh Ranti untuk memberi mereka nama. Sebenarnya namaku "Dika Dewantara". Dika nama pemberian ayah sedangkan Dewantara nama pemberian nenekku dari ayah. Karena nenek penggemar berat tokoh pewayangan Dewa BataraYudha kata ayah. Tapi, (maaf, nek) aku kurang suka nama Dewantara. Makanya aku mengganti nama belakang anak-anakku dengan Dirgantara karena aku ngefans berat nama itu. Ada cerita tersembunyi dinama itu, dimana aku pernah bercita-cita menjadi pilot pesawat perang TNI Angkatan Darat. Mengudara diangkasa bumi pertiwi dengan gagahnya.


Seperti malam ini, aku bermimpi indah sekali. Aku berseragam lengkap AURI membelah bumi dengan pesawat tempur yang keren dan bertehnologi tinggi. Subhanallah!!


Aku menceritakan mimpiku pada Rosa dan mas Anang sambil tertawa-tawa dijam makan siang. Mereka bilang, aku seperti bocah 12 tahun karena begitu bangga menceritakan mimpi yang hanya bunga tidur. Tak apalah. Meski cuma mimpi, tapi aku seperti merasakan nyata. Aku bahagia.


Aku mencuci tanganku di wastafel rumah makan tempat kami makan setelah makan siang. Aku tiba-tiba batuk dan bersin. Dan betapa terkejutnya aku melihat tanganku penuh darah segar yang ternyata terbawa keluar dari mulut dan hidungku. Ya Allah! Kenapa darah tiba-tiba bisa tersembur banyak begini?


Wajahku pucat pias. Berusaha berfikir tenang setelah masuk kedalam toilet hanya untuk duduk diwc duduknya menenangkan diri.


Apa yang terjadi padaku ya Allah? Padahal sudah satu tahun aku terbebas dari obat-obatan penunjang hidupku setelah aku dinyatakan bebas dari kanker. Ada apalagi dengan tubuhku?


Aku segera meminta izin pulang lebih cepat pada Rosa dan mas Anang. Tapi tidak memberitahukan rencanaku untuk pergi konsultasi kerumah sakit tempatku dulu dirawat.


Aku termangu mendengarkan dokter menjelaskan hasil labku setelah beberapa jam menunggu. Kanker paruku sudah stadium 4. Ya Allah! Ternyata selama ini akar sel kanker-nya masih menjalar dengan santuinya didalam paru-paruku. Aku hanya menarik nafas mencoba mengalirkan udara hingga membuat kesadaranku pulih lagi.


Ternyata meski telah operasi dan berhasil mengangkat sel tumor yang bersarang, tapi semua kembali lagi pada Kebesaran dan Kuasanya.


Aku hanya termenung dimusholla rumah sakit. Sendiri bercerita tentang penyakitku pada Allah, Sang Pemilik tubuh dan jiwaku.


Jingga baru saja berulangtahun yang ke-8 dan Langit Biru belum genap 1 tahun. Ya Allah! Haruskah aku meninggalkan mereka diusia mereka yang masih terlalu dini? Juga Ranti, entah bagaimana perasaannya jika tahu kenyataannya kalau penyakit kanker telah menggerogoti tubuhku dan kini bertarung memperebutkan nyawaku. Padahal kami kini tengah berada dipuncak kebahagiaan.


Aku berfikir cepat. Aku harus mengejar semuanya sebelum waktuku habis. Aku mendiskusikan semuanya dengan Rosa dan mas Anang. Segera menyuruh mereka mengganti nama perusahaan dan membalikkan namaku kenama mereka. Karena jika nanti waktuku habis, semua harus tetap berjalan dengan baik dan tidak menggoncang saham perusahaan. Aku juga membuat surat wasiat secepatnya. Aku menuliskan nama Ranti, Jingga dan Langit sebagai ahli warisku. Merekalah yang nanti meneruskan usahaku bersama Rosa dan mas Anang. Aku juga meminta Rosa dan mas Anang untuk menerima bang Sobri, guru sekaligus kakak bagiku yang satu tahun lagi akan keluar dari lapas rutan Salemba.


Rosa menangis sepanjang hari selama pertemuan serius kami. Aku memohon padanya untuk tidak membocorkan rahasia penyakitku pada Ranti dan juga keluargaku yang lainnya. Aku memohon sampai berlutut dikakinya agar bisa menjaga rahasia sampai aku dipanggil Yang Maha Kuasa. Mas Anang memintaku untuk melanjutkan pengobatan dengan kemotherapi dan juga radioterapi. Tapi sepertinya sudah terlambat bagiku. Karena dokter bilang sel kanker sudah merusak kelenjar getah bening dan juga liver serta ginjalku. Hhh...


Mas Anang dan Rosa kembali menyemangatiku jika dokter bisa saja salah diagnosa. Karena dokter juga manusia biasa. Aku faham. Aku mengerti maksud mereka. Memang benar, jodoh, umur tiada yang tahu. Baik dokter maupun paranormal. Semua kembali pada Takdir Allah. Semua Allah yang punya. Jika memang Allah sudah menghendaki, tiada yang dapat menghalangi.


Aku mulai sering pulang malam. Selain memang banyak kerjaan juga tapi aku sengaja menjauh dari Ranti dan juga anak-anak. Karena semakin sering aku berinteraksi dengan mereka, semakin mereka tahu akan kenyataannya.

__ADS_1


Bahkan kini hari Sabtu dan Minggu kadang aku pergi bekerja. Meski hanya lebih banyak melamun dipabrik ataupun kantor pusat.


"Mas! Cobalah untuk memperhatikan dirimu sendiri, mas! Kamu terlalu berat bekerja. Sampai lupa waktu dan lupa kesehatanmu!" Ranti mengingatkanku yang semakin workaholic. Ranti tidak tahu rahasia dibalik aku melakukan itu. Aku pun tak ingin melakukan itu. Apalagi berjauhan lama dengannya dan anak-anakku. Tapi apa daya. Jika aku terlalu lama bersamamu justru semakin sulit aku memendam rahasia ini. Aku takut, Ranti!


"Maaf, Ranti! Rosa dan mas Anang juga bekerja sangat berat akhir-akhir ini. Aku sering berbuat semauku dahulu. Hingga mereka lebih banyak mengorbankan waktunya. Maafkan aku, jadi mengabaikanmu dan anak kita!" Aku memeluk Ranti erat. Berusaha menenggelamkan wajahku yang sendu dibelahan dadanya. Aku tahu Ranti sangat mengkhawatirkan kesehatanku. Tapi aku tak bisa memberinya banyak waktu lagi.


Aku kini mulai pulang kerumah dua hari sekali dengan alasan harus bolak-balik Citayam-Cikini dan Bojong Gede sedang kami masih harus rapat lagi dimalam hari. Padahal aku bersembunyi dari Ranti karena mulai merasakan kesakitan yang teramat akibat penyakitku.


Malam ini aku pulang kerumah. Sudah pukul 11 malam dan Ranti bersama Jingga serta Langit sudah terlelap tidur. Aku memang memegang kunci serep rumah sehingga aku bisa masuk kedalam rumah tanpa mengganggu mereka.


Tak lama hujan dengan begitu derasnya ditambah petir yang menyambar. Aku berbaring disamping Ranti setelah mandi koboy dan berganti pakaian. Istriku cantik sekali meskipun tanpa make up dan tengah tidur nyenyak. Kupandangi wajahnya dengan penuh cinta.


Maafkan aku Ranti! Beberapa minggu ini kelakuanku mungkin mengecewakanmu! Aku pun sebenarnya tak ingin menjauhkan diri dari kalian. Tapi apadaya. Tubuh ini merapuh dan darah segar lebih sering keluar dari mulut dan hidungku. Aku tak ingin membuat kalian sedih dan khawatir dengan keadaanku. Maaf, Ranti!


Aku mengecup keningnya. Lalu pipi dan juga bibirnya perlahan. Anak kami tidur dikamar yang berbeda dengan ditemani suster yang memang sengaja kami perbantukan.


Aku memejamkan mata perlahan. Ya Allah! Jika memang aku harus pergi,... tolong jaga istri dan anak-anakku ya Allah! Aku meneteskan airmaya mengingat tulisan tanganku yang tadi kubuat dan kutitipkan pada Rosa dikantor.


Ranti!.. Istriku tersayang, istriku tercinta!


Ranti....!


Ketika kamu membaca suratku ini mungkin aku sudah tenang disisi-Nya. Aku sudah bahagia dialam sana. Sungguh aku bahagia, Ranti! Teramat bahagia. Bahkan disisa umurku aku begitu bahagia! Terima kasih! Allah akan membalas kebaikanmu.


Ranti.....!


Menikahlah lagi, jika Allah memberimu jodoh yang baik. Anak-anak kita masih sangat kecil. Mereka membutuhkan figur seorang ayah hingga mereka dewasa.


Menikahlah lagi, ini amanatku. Untuk biaya sekolah Jingga dan Langit, aku sudah meminta bantuan Rosa untuk mengurusnya. Kamu bisa ikut andil juga mengurus perusahaan kami. Rosa dan mas Anang juga sudah mengurus itu semua.


Ranti......!


Aku mencintaimu. Teramat mencintaimu.

__ADS_1


Suamimu,


Dika Dewantara


Hujan begitu deras dan petir masih menyambar dilangit malam yang hitam. Dadaku terasa sesak membuatku sulit bernafas. Aku membolak-balikkan tubuhku agar bisa kembali bernafas dengan nyaman.


Keringat dingin mengucur ditubuhku. Wajahku basah dengan keringat yang nyaris sebesar biji jagung.


Kubangunkan Ranti perlahan.


"Ranti!...Ranti!"


"Mas? Kamu sudah pulang? Sejak kapan kamu pulang?" katanya tersentak kaget melihatku yang sudah terbaring disampingnya.


"Tolong peluk aku, Ranti!"


"Kenapa, mas?"


"Aku takut petir!" kataku agak berbisik membuat Ranti tersenyum dan memeluk tubuhku erat.


"Sejak kapan mas takut petir!" Aku memeluknya. Mencium wangi tubuhnya membuatku merasa lebih baik.


"Ranti! Boleh aku berbaring dipangkuanmu?" aku berusaha mengucapkan kalimat itu. Ditengah-tengah usahaku mengambil oksigen dan bernafas. Ranti mengusap wajahku. Ia mulai terlihat cemas melihat keringatku yang banyak.


"Mas? Kamu sakit, ya? Kamu kehujanan ya, tadi waktu pulang?" tanyanya memberondongku.


"Tidak, Ranti! Tolong...bantu aku, bertasbih!"


"Ranti memeluk wajahku. Masih sambil mengelap keringat yang terus mengucur dari kening dan leherku. Ia menuruti permintaanku.


Laa ilaaha illallah Muhammaddarrosulullaah


....................................................................................................................................................................................................................................................

__ADS_1


Dua tahun berselang, Ranti menikah lagi dengan Sofyan Ali. Ternyata pemuda itu hanya menikah dalam kurun waktu 1 tahun saja. Dan cukup lama menduda. Rupanya ia kembali berhubungan bisnis dengan Ranti membuatnya kembali mengejar Ranti, cinta pertamanya.


SEKIAN


__ADS_2