
"Mas, aku udah dilobi gedung. Jadi khan kita ke bank?"
Vika mengirimi pesan via WAnya.
Kulirik jam ditangan. Sudah jam 11 lewat. Pembukuanku belum selesai semua. Mungkin butuh waktu setengah jam lagi. Kubalas what'supp-nya agar ia menungguku setengah jam lagi. Dan Vika mengiyakannya.
Aku turun segera setelah menyelesaikan pekerjaanku. Satu lift bareng Cecil dan beberapa teman kantorku.
Kulihat Vika tersenyum seraya melambaikan tangannya padaku. Ia juga bercipika-cipiki dengan Cecil.
"Mau makan bareng kita, Cil?" ajakku pada Cecillia tapi langsung dipatahkan Vika.
"Maaf mas, waktuku terbatas. Sebaiknya langsung ke bank saja. Makan siang barengnya nanti saja. Maaf ya Cecil!?" katanya dibalas senyuman oleh Cecil.
"Ga apa, mbak! Saya bisa makan bareng temen. Terima kasih untuk tawarannya, pak!" Jawab Cecil lalu pamit pergi.
Vika tersenyum mengedipkan satu matanya membuatku curiga kelakuannya.
"Aku bisa cemburu buta kalo kamu terus-terusan deket sama Cecil!" bisiknya membuatku merinding.
"Dasar cewek gila!" gumamku membuatnya mencubit lenganku. Agak kesal juga aku dengan sikap posesifnya itu. Bahkan Ranti istriku tak pernah berbuat sejauh itu ketika cemburu.
"Kamu terlalu manis soalnya!" bisik Vika lagi tak kuhiraukan.
Kami langsung menuju bank Pemerintah tak jauh dari gedung kantorku. Aku sudah sepakat akan membuka beberapa rekening baru untuk menyimpan dan membaginya beberapa buku.
Vika tetap bersikukuh rekening baru atas namaku berisi hampir separuh uangnya. Aku menyarankan Vika menanam juga dideposito berjangka. Vika setuju saranku. Tapi ia tetap ingin semuanya itu atas namaku.
"Aku mau rekeningku disamakan dengan Ranti. Cukup mas transfer aku perbulan seperti mas transfer ke Ranti."
"Haah?"
"Kamu tiap bulan transfer gajimu ke Ranti 5 juta khan? Samakan aku juga."
"Hhhh..... Mana bisa begitu? Ini uang kamu semua. Kenapa kamu ingin aku yang mengaturnya. Hadeeeuh!"
"Potong uang mas yang sudah kupakai. Juga uang deposito mas yang diambil untuk uang muka rumahku!"
"Iya lah! Aku ambil lah. Itu uang tabungan hasil keringatku belasan tahun. Aku masukkan uang 100 juta ke rekening barumu."
"Jangan! Kebanyakan mas! Aku suka khilaf belanja ini-itu kalo liat uangku masih banyak."
"Kamu bisa beli barang-barang rumahtangga yang belum kamu punya. Tempat tidur, meja makan, lemari juga dan lain-lain. Kamu mau beli kendaraan ga?" tanyaku membuatnya diam berfikir.
"Mas aja deh yang atur itu! Aku ga bisa nyetir mobil juga ga bisa bawa motor. Gimana dong?" Hhhhhh..... Aku menarik nafas, menggaruk kepalaku walau tak gatal.
"Ampun deeeh, kamu ini! Waktu kamu sama Arif, kamu juga khan awal-awal punya banyak uang. Gimana pengaturannya?"
"Arif ga pernah ngajak diskusi masalah uang sama aku, mas! Dia cuma ngajak aku senang-senang aja, nikmati hidup hura-hura dari satu hotel ke hotel lain dari satu kota ke kota lain. Aku ga tau menau soal uang."
Aku menggelengkan kepala yang terasa mumet. Akhirnya kuputuskan, mengisi rekening tabungan Vika dengan 50 juta. Lalu kuambil uang depositoku dan juga uangku yang pernah Vika pakai dulu kurang lebih 10 jutaan. Vika juga menyuruhku mengambil uang komisi hasil penjualan rumah dan mentransfernya kerekening lamaku. Ia juga memintaku menstranfer beberapa juta ke rekening tabungan Ranti sebagai hadiah untuk Jingga putri kami. Sisanya, disimpan direkening baru atas namaku.
Hhh..... Lagi-lagi aku menarik nafas. Seperti beban berat bagiku. Kenapa harus aku yang mengelola keuangannya itu. Aku tak habis fikir.
"Mas? Kamu kenapa?" tanyanya melihatku seperti banyak termenung.
"Pusing aku! Uangmu kenapa harus aku yang pegang sih?" gerutuku membuatnya tertawa.
"Kamu itu pria langka, mas! Dikasih uang bukannya senang, malah pusing. Hehehehe!"
"Jelas pusinglah! Takut aku ga amanah! Takut aku berbuat salah! Takut aku banyak, tau!" semprotku membuat Vika menggelayut mesra dilenganku. Menggandeng pinggangku keluar gedung bank setelah semua urusan selesai.
Hampir 2 jam duduk diruangan teller bank. Walaupun nyaman tetap saja membuat pegang kaki dan bokongku.
"Mas, jam kerja kamu udah lewat nih! Ga apa-apa kah?" tanya Vika agak kuatir.
__ADS_1
"Aku udah ambil izin setengah hari. Jadi setelah jam makan siang, aku bebas pulang. Oiya, aku ke musholla dulu ya? Kamu cari makan aja dulu. Aku tinggal ya?" Aku pergi meninggalkan Vika yang termangu sendiri. Melaksanakan kewajibanku sebagai hamba Allah.
Selesai sholat aku menelfon Ranti. Menanyakan apa ia sudah mencari travel yang akan mengurus umroh ayah dan bapak mertuaku. Ranti bilang ia sudah ketempat travelnya. Tinggal mengurus surat-surat kelengkapan ayah dan bapak saja untuk visa nanti. Aku berjanji akan mampir kerumah ayah meminta beberapa dokumen untuk kelengkapannya. Ranti juga menanyakan uang yang masuk kerekeningnya. Aku bilang itu hadiah Vika untuk Jingga. Aku suruh ia menelpon Vika langsung untuk mengucapkan terima kasih.
Aku kembali ketempat Vika menunggu. Ia memandangku dari kejauhan disebuah kedai kecil. Senyumnya manis menyambut kedatanganku.
"Udah makan?" tanyaku dijawab gelengan kepalanya.
"Nunggu kamu, mas!"
"Ya udah, cari makan dulu yuk!" Vika menurut. Ia menarik tanganku dan menggenggamnya membuatku kikuk. Tapi Vika seolah tak menghiraukan perasaanku. Ia makin merapatkan jemarinya ke jemariku. Kami berjalan menyusuri area gedung-gedung perkantoran dan beberapa pertokoan serta resto dan cafe. Suasana sepi karena semua karyawan telah kembali ke kantor masing-masing untuk bekerja.
Kami memutuskan masuk satu resto yang lumayan cozy. Memesan beberapa menu makan siang. Lantunan musik indah menemani kami menunggu pesanan datang.
Vika masih menggenggam jemariku erat. Ia tak banyak bicara. Tapi gestur tubuhnya membuat ia terkesan manja padaku. Bahkan disaat makan, sesekali ia menawarkan makanannya dan menyuapiku.
Jujur aku gugup. Tapi tak bisa menolak. Kenapa aku jadi selemah ini pada Vika? Apakah kini ia berkuasa atas diriku? Apakah karena uang alasanku menjadi lembek tak punya pendirian seperti dulu? Memikirkan itu membuatku berkeringat dingin.
"Tolong jangan perlakukan aku seperti ini Vika!" ucapku ketika Vika melap keringat didahiku dengan tissue begitu lembut.
"Aku ingin menunjukkan betapa aku care sama mas!"
"Aku ga nyaman! Please... Gimana kalo atasan atau teman-teman kantorku liat? Aku ga mau jadi bahan gosip nantinya."
"Mereka sepertinya lagi sibuk kerja. Ga akan ada yang memperhatikan kita!" Vika terus berargumen setiap kali aku bicara. Akhirnya aku diam. Melanjutkan makan yang tak lagi senikmat tadi.
Vika membaca fikiranku. Ia pun ikut diam bahkan menghapus senyum diwajahnya menjadi ketenangan yang luar biasa.
Tapi situasi ini membuatku makin gugup. Aku bahkan seolah bisa mendengar detak jantungku sendiri saking tenangnya. Dan aku lebih menyukai Vika yang ramai dan penuh tawa dibanding Vika yang kini duduk manis diam menikmati makan siangnya.
"Kita ke toko furniture setelah makan!" kataku berusaha memecah kesunyian. Vika mengangguk. Aku merasakan aura dingin disekitarku.
Kami berjalan beriringan. Tapi tak sedekat tadi. Vika tidak lagi seenaknya menggandeng tanganku atau merangkul pinggangku seperti biasanya.
Kami menuju parkiran. Masuk mobil dan melaju menembus kemacetan menuju toko furniture yang cukup terkenal.
"Vika! Kamu mau yang model gimana?" tanyaku membuat Vika menatapku.
"Aku terserah mas aja!"
Hhh.... Aku menarik nafas. Beginilah kalau Vika lagi ngambek. Aku mulai terbiasa menghadapinya.
"Ini bagus, Vik! Coba sini duduk!" Vika menurut tapi tak tersenyum.
"Mau yang kayu apa yang besi?" tanyaku agak pelan.
"Terserah mas!"
"Vika! Jawab dong yang benar! Nanti kalo kadung beli tapi kamu kurang puas... ribet lagi!" kataku agak keras.
"Terserah mas!" Habis kesabaranku. Kutarik tangan Vika. Menatapnya setengah mengintimidasi.
"Kiss aku dulu!!" katanya membuatku terbelalak. Ia berlalu meninggalkanku yang masih kaget.
"Aku pulang deh kalo gitu!" ancamku berlalu meninggalkannya yang menghentakkan kakinya bagai bocah.
"Maaaas! Mas Dika!... Apa susahnya sih mengapresiasikan rasa sayang mu sama aku?" ucap Vika spontan. Aku dibuat tak waras olehnya.
"Ini tempat umum Vika!"
"Berarti kalo dirumah atau dikamar, mau?" godanya dengan senyuman nakal membuatku menarik nafas panjang.
Vika tertawa melihatku yang belingsatan. Ia seperti sengaja mengaduk-aduk perasaanku.
"Maaf, mas... Aku hanya menggodamu. Aku ga bisa marah lama kalo sama kamu. Maaf ya?" tuturnya lembut dengan tangan merangkul pinggangku. Aku merasa senang setelah itu. Kenapa aku jadi senang?... Aku pun tak tahu.
__ADS_1
Kami pun melanjutkan memilih ranjang dan perabot lain untuk melengkapi furniture dirumah Vika. Sampai tak sadar hampir 3 jam kami ditoko besar itu.
Setelah membayar semua dan memberikan alamat rumah Vika pada kasir toko, kami segera beranjak pergi.
Aku meninggalkannya lagi untuk mampir disebuah masjid dipinggir jalan. Waktu Ashar hampir habis. Aku bergegas masuk masjid.
"Vika! Maaf, kamu pulang naik taxi aja ya? Aku ga bisa antar kerumah. Harus kerumah ayah minta berkas dokumen kelengkapan buat visa. Ga apa ya?" ucapku membuatnya menatapku.
"Aku boleh ikut ya mas?"
"Jangan!"
"Aku ingin kenalan dengan ayahmu mas! Aku janji, akan jaga sikap didepan beliau. Janji! Boleh ya?"
Akhirnya aku mengalah. Membawa Vika ikut serta kerumah orangtuaku di Petamburan.
Seperti dugaanku. Ayah memandang kami dengan hubungan yang terlihat janggal ini.
"Maaf, ayah! Saya ini sahabatnya Ranti. Kebetulan tadi jumpa dijalan. Karena ada bisnis bersama, saya jadi ikut mas Dika. Maaf kalau ayah jadi bertanya-tanya!" Vika menjelaskan membuat ayahku tertawa melepas kecemasan yang tadi menggelayut diwajahnya.
"Oalaaaa....maaf ya, Nak! Mata tua ini, suka salah melihat dan menilai!" ayahku menjamu Vika dengan obrolannya yang ngalor ngidul. Sementara aku sibuk membongkar lemari mencari surat-surat pentin milik ayah.
"Ayah! Ranti sekarang sedang urus persiapan umroh ayah dengan bapak. Kemungkinan berangkat sekitaran bulan depan, yah!"
"Kamu dan Ranti juga ikut umroh, Dik?" tanya ayah kujawab dengan gelengan kepala.
"Aku dan Ranti belum siap ayah! Biar kalian aja dulu, pergi kerumah Allah. Setelah Jingga dewasa, kami juga akan pergi umroh nanti. Aamiin!"
"Aamiiin ya Allah. Alhamdulillah... Tabungan kalian memang udah cukup buat umrohkan kami, Dik? Jangan terlalu memaksakan diri. Melihat kalian hidup bahagia saja, ayah sudah sangat senang."
"Alhamdulillah ayah, Allah permudah jalan ayah untuk berkunjung ke Mekkah. Alhamdulillah...Bisnis kami berjalan sangat lancar! Bisa mengumrohkan ayah dan bapak."
"Mohon doanya ayah, semoga bisnis bersama kami berjalan baik." Vika ikut nimbrung diantara obrolanku dan ayah.
"Oiya tentu, Nak. Aamiin.... semoga Allah selalu melapangkan rezeki kalian. Memudahkan urusan kalian dan memberi kebahagiaan untuk kalian. Aamiin ya robbal'alamiin....!"
Aku dan Vika pamit pulang. Karena sebentar lagi hampir maghrib. Aku ingin segera mengakhiri kebersamaanku bersama Vika hari ini. Walaupun menyebalkan, tapi ada kebahagiaan terselip didada. Ada tawa canda juga diantaranya. Membuat hidupku terasa lebih berwarna.
"Bisnis bersama apaan?" ungkapku menggoda Vika. Vika tertawa malu.
"Kenapa ga beneran kita realisasikan bisnis bersamanya? Ayah udah doakan kita lho!?"
"Bisnis apa? Buka resto aja kamu ga minat."
"Asal kamu sama Ranti yang jadi ownernya. Aku bersedia."
"Aneh! Kenapa aku dan Ranti ownernya? Itu khan uang modal kamu."
"Aku ga bakat dibisnis. Ga ngerti bisnis. Dan aku trauma bangkrut seperti perusahaan papaku, mas!"
"Asal kamu bertanggung jawab pada perusahaanmu, mau bekerja keras dan pantang menyerah, siapa bilang kamu ga bakat berbisnis! Memang kalau kupikir, uang kamu kalau ga diputar, justru akan cepat habis. Apalagi kamu ga punya kerjaan. Siap-siap dalam beberapa tahun saja kamu kembali kere'!"
"Jangan dong, mas! Makanya bantu aku dong, biar ga kere' lagi. Kecuali kamu mau nyokong hidupku seumur hidupmu. Hehehe...aku sih pasrah kalo gitu!"
"Ya Allah ya Tuhanku...!" Vika tertawa renyah.
"Mas, ini waktu terlama kita bersama deh ya... Mirip kencan rasanya. Nano-nano perasaanku jadinya. Persis ABG yang lagi jatuh cinta!" kata Vika membuatku tertawa dan menjitak kecil keningnya.
"Aduh! Maaaaaas.....mulai berani ya jitak aku! Awas yaaa...!" gerutu Vika bercanda padaku. Ia menyenderkan kepalanya dibahuku.
Aku meraba dahinya dengan satu tangan. Mengelus halus anak rambutnya. Kurasakan kedamaian seiring bermekarannya kuncup-kuncup bunga dihatiku. Naluriku mencium keningnya bangkit kembali. Kulakukan itu kini dengan kesadaran penuh.
Hampir meledak dadaku yang berdebar kencang. Benar kata Vika! Seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta. Antara mau tapi malu. Tapi aku mengikat erat nafsuku untuk tetap sadarkan diri tak bertingkah lebih jauh.
Biarlah rasa ini perlahan dan lama menetap dihatiku. Tak perlu terburu-buru dan tak perlu terlalu jauh melangkah.
__ADS_1
Walau hati kecilku berontak dan sadar karena telah merajut baju dosa yang lebih panjang dan besar lagi. Hhhh..... Tuhan! Tolong aku! jerit hati kecilku.
Bersambung-